Tag Archives: Tradisi

Bertanam Niat

Ini adalah hari ke-8 dari Lokakarya Daur Subur di Kampung Jawa. Seperti hari sebelumnya, partisipan akan langsung ke lokasi riset mereka masing-masing sedari bangun tidur. Kemudian akan kembali ke Rumah Tamera pada jam makan siang. Banyak hal-hal menarik yang ditelusuri partisipan di Kampung Jawa, khususnya di RW 6. Alfi misalnya, ia terus berkeliling dan menemukan berbagai jenis peliharaan dan ternak warga sekitar untuk diketahui dan pelajari. Aldo, berjalan sendirian menemukan aliran-aliran air pada sawah, ladang, dan pemukiman warga. Arfan, juga tertarik pada kondisi bangunan tinggi yang terletak di belakang Rumah Tamera, yakni rusunawa. Begitu juga pada Nanduik, Hatta, Nora, Amel, dan Alif  mereka terus berjalan menemukan bagian-bagian menarik di sini, di Kampung Jawa, Solok.

Continue reading

Lebaran Bakajang

Bulan ramadhan telah berakhir, maka datanglah hari Raya Idul fitri. Berbagai kegiatan dilakukan oleh warga dalam rangka merayakan hari kemenangan ini. Dari mendatangi sanak keluarga di luar kota, di kampung halaman, dan pergi berlibur ke tempat-tempat wisata. Namun di beberapa daerah warga memiliki cara sendiri menyambutnya. Nagari Gunuang Malintang adalah salah satu contohnya,  Nagari yang terletak di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limpuluh Kota ini melalukan tradisi  tahunan pada hari ke -4 setelah lebaran, yang disebut “Alek Bakajang”.

Continue reading

Tolak Bala

Tolak Bala adalah tradisi yang biasa dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Minangkabau pada masa lampau untuk berdoa agar pertanian mereka mendapat hasil yang baik dan tercegah dari hama maupun hal-hal yang merusak lainnya. Pada Mei 2018 lalu, sebagian besar masyarakat Batu Bajanjang, Solok, melakukan tradisi ini merespon rencana proyek Geotermal di kampung halaman mereka. Proyek ini menurut sejumlah pakar lingkungan dan hukum seperti WALHI dan LBH berpotensi untuk merusak lingkungan sekitar dan lahan pertanian, selain itu juga berdampak pada munculnya konflik sosial di kalangan warga, maupun pihak perusahaan. Continue reading

Janang

Catatan Observasi Awal bersama Bakureh Project

Selasa 05 Juni 2018 sekitar pukul 14.30 WIB, saya bersama salah seorang fasilitator dan dua orang partisipan kegiatan bakureh Project yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi menuju Jorong Pamujan di Kecamatan Kinari, Kabupaten Solok. Bu Eva salah seorang warga di sana yang saya temui. Dia mengatakan bahwa bakureh di daerahnya lebih dikenal dengan kegiatan pergi bekerja. ”misal ibuk sadang di heler, itu ibuk pai bakarajo namonyo kalau di siko”, Kata Bu Eva. (Misalnya ibu sedang di penggilingan padi, itu ibu sedang pergi bekerja maksudnya jika di daerah sini). Di daerahnya, Bu Eva mengatakan bahwa kegiatan bakureh dalam konteks Kota Solok dikenal dengan istilah gotong royong memasak, disini disebut manolong mamasak (membantu memasak) saja. Continue reading

Bakureh hingga Adab Berpakaian

Catatan Observasi Awal bersama Bakureh Project

Sore itu, Senin, 4 Juni 2018, saya bersama beberapa kawan melakukan observasi pertama mengenai isu-isu bakureh yang ada di Kelurahan Kampai Tabu Karambia (KTK), Kota Solok. Observasi ini bagian dari Lokakarya Daur Subur, sebagai tahap awal dari Bakureh Project. Sebuah upaya yang digagas oleh Gubuak Kopi, sebagai penelusuran dan mengembangkan nilai-nilai gotong royong masyarakat pertanian di Solok. Sebelum observasi, menjelang siang, sekitar pukul 11.00 WIB kami diberi materi bakureh oleh narasumber bersama Buya Khairani, beliau adalah salah satu pemuka adat di Kota Solok. Sayangnya saya tidak bisa mengikutinya karena saya masih berada di kantor dan saat itu belum mendapatkan izin untuk pulang. Sekitar jam setengah satu siang barulah saya kembali ke Kantor Gubuak Kopi untuk melanjutkan ketertinggalan saya. Hal pertama yang saya cari adalah meminta rekaman materi kuliah Buya Khairani kepada Ogy, ia adalah salah seorang fasilitator dalam Lokakarya Bakureh Project, lalu memfoto hasil catatan teman sesama partisipan lokakarya. Continue reading

Bararak Bersama Datuak Bandaro Hitam

Minggu, 1 Juni 2018, Bakureh Project kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Markas Komunitas Gubuak Kopi. FGD ini bertujuan untuk mengulas dan memperdalam materi masing-masing partisipan Bakureh Project, yakni sebuah proyek penelitian yang difasilitasi oleh Gubuak Kopi melalui program Daur Subur. Sebuah upaya membaca dan mengkaji kebudayaan masyarakat pertanian di Solok secara khusus, dan Sumatera Barat secara umum. FGD ini diselenggarakan untuk mempertajam sudut pandang mereka dalam membingkai isu. Kita juga mengundang narasumber untuk memberikan pembahasan dan materi.  Continue reading

Nostalgia Bakureh bersama Tek Yuni

Catatan Observasi Awal bersama Bakureh Project

Kegiatan Lokakarya Daur Subur dalam rangkaian Bakureh Project dari tanggal 1-7 Juli 2018 yang di fasilitasi oleh Komunitas Gubuak Kopi, mengantarkan saya pada tradisi bakureh. Bakureh yang saya temukan dalam sebuah blog yang mempublikasi Kamus Minang adalah jadi kuli[1]. Lain halnya kalau kita pergi ke Solok. Pertemuan saya dengan beberapa warga di Nan Balimo, Solok, mengantarkan saya pada makna lain dari istilah bakureh. Continue reading

Pertemuan dengan Bakureh

Catatan Observasi Awal bersama Bakureh Project

Tradisi dan budaya memang selalu menarik untuk dibahas mengingat dirinya yang terus berkembang. Sumatera Barat dengan berbagai tradisi yang ada juga memungkinkan siapa saja untuk mendalaminya. Saya yang notabenenya tidak dibesarkan di Ranah Minang, sangat tertarik untuk mempelajari dan mendalami berbagai tradisi-tradisi yang ada. Salah satu tradisi yang akan dibahas dalam salah satu proyek penelitian yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi, yakni Bakureh Project. Proyek ini berupaya mendalami dan mengkaji nilai-nilai yang terkadung dalam tradisi bakureh di Solok, maupun dengan penamaan yang berbeda di daerah lainnya di Minangkabau. Continue reading

Kabar Buruk Dihambaukan

Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang kaya akan kegiatan kebudayaan di Indonesia. Budaya masyarakat Minang yang sangat menyukai pesta dapat dilihat dalam kesungguh-sungguhan masyarakat ketika melakukan perayaan-perayaan adat seperti  pernikahan, gotong royong, dan akikah, bahkan kematian pun diselenggarakan dengan berbagai acara besar serta melibatkan masyarakat banyak. Dalam pelaksanaanya, alek nagari biasanya dilakukan secara komunal yang menandakan bahwa nilai gotong royong di daerah tersebut masih sangat tinggi. Salah satu hal yang menarik untuk dibahas dalam tradisi gotong-royong masyarakat Minang yaitu tradisi bakurehContinue reading