Pada video tayangan ulang di bawah, karya dimulai pada menit 02:47

Tentang karya "Kabar"

Terlepas kaitannya dengan agama, silaturahmi bertatap muka menjadi ritual penting bagi masyarakat kita. Karenanya, tak heran ketika banyak orang merasa harus pulang ke kampungnya dengan berbagai cara pada hari raya, meskipun teknologi komunikasi telah semakin berkembang untuk memangkas jarak dan waktu.

Silaturahmi bertatap muka diniscaya akan memberikan banyak kebaikan dan keuntungan di masa mendatang bagi yang mengamalkannya. Namun, pada kondisi belakangan, ketika bertatap muka memiliki resiko dan bencana, silaturahmi dipaksa dilakukan jarak jauh dengan menggunakan teknologi yang ada. Tapi dalam praktik penggunaannya, terdapat beberapa hal yang menjadi hambatan dalam komunikasi. Selain pengguna yang gagap terhadap teknologinya, sering pula teknologi yang menjadi gagap karena keadaan dan bergantung pada kualitas jaringan. Hal ini dapat dijumpai dalam obrolan daring di mana pesan yang disampaikan bisa terputus atau teracak akibat jaringan di suatu wilayah yang belum mumpuni.

Pesan yang terputus atau teracak berpeluang menciptakan makna lain dari pesan yang ingin disampaikan. Pesan yang teracak atau terputus itu diinterpretasikan ulang oleh Robby menjadi permainan kata pada sebuah pertemuan maya.

Pada karya ini seniman mengajak beberapa partisipan untuk terlibat dan berkomunikasi satu sama lain dengan kata-kata yang sudah ditentukan. Para partisipan memiliki kesempatan untuk mengeskplorasi sendiri intonasi dan susunan kata yang telah ditentukan tersebut, baik menjadi kalimat yang memiliki nilai mau pun tidak. Karya ini akan dipresentasikan dengan siaran langsung pada halaman ini.

Tentang Seniman

Robby Oktavian
Samarinda
Robby Oktavian, seorang seniman dan organisator seni kelahiran Samarinda. Gemar menanyangkan filem di celah-celah kota Samarinda bersama kawan Sindikat Sinema. Direktur MUARASUARA-Sound Art Festival dan Neladeva Film Festival di Samarinda. Salah satu tim kurator di Kultursinema 2019 – Gelora Indonesia yang dipresentasikan di Museum nasional Indonesia. Menyelesaikan studi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman, Samarinda, dan kemudian belajar memahami dan memproduksi visual di Forum Lenteng dalam program Milisifilem Collective. Karya-karya visualnya telah dipamerkan di Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD) 2018, Pameran Fiksimilisi di Orbital Dago, Bandung (2019), serta Pameran Manifesto: Pandemi di https://galnasonline.id/ (2020).

Kolaborator/Partisipan Meeting

Alifah Melisa (Jakarta); Charderry Pratama (Samarinda); Dini Adanurani (Jakarta); Faturrahman Arham (Samarinda); Hilary Pasulu (Jakarta); Jaeffri Kaharsyah (Bekasi); Pychita Julie (Jakarta); Syahrullah Ule (Samarinda); Niskala Utami (Tangerang); Ogy Wisnu S. (Bukittinggi); Panji Anggira (Jakarta); Prashasti W. Putri (Jakarta); M. Risky (Solok); M. Biahlil Badri (Solok); Biki Wabihamdika (Solok); Veronica P. Kirana (Padang); Zekalver Muharam (Solok); Raenal (Batusangkar); Mak Ben (Padang); Valencia Winata (Jakarta).

Produksi

Komunitas Gubuak Kopi, September 2020

____

Tim Kuratorial: Albert Rahman Putra (Kurator), Biahlil Badri, Volta A. Jonneva.

Fasilitator: Biki Wabihamdika, Zekalver Muharam, Veronica Putri Kirana, Verdian Rayner, Muhammad Riski “Layo"

Design Publikasi: Teguh Wahyundri

____

Tentang LLD #3

Lapuak-lapuak Dikajangi (LLD) adalah sebuah perhelatan dari kegiatan studi nilai-nilai tradisi melalui proyek seni berbasis media yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi.

Terima kasih telah berkunjung

Tinggalkan kesan kamu di bawah ^^

Terima kasih telah berkunjung

Tinggalkan kesan kamu di bawah ^^

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.