Category Archives: Solok Milik Warga

#SolokMilikWarga: Program pendayagunaan hashtag #SolokMilikWarga di media sosial dalam rangka mengumpulkan image-image yang berhubungan dengan Kota Solok, sebagai bagian dari penelitian untuk membaca perkembangan kota sekaligus untuk mengarsipkan peristiwa-peristiwa kontemporer yang terjadi. Secara khusus, hashtag #SolokMilikWarga akan difokuskan pada Instagram.

Singkat cerita dia menjadi ingatan banyak orang…

Tokyo Drift adalah budaya jalanan di Kota Tokyo yang berawal dari balapan ilegal di perbukitan Jepang, yang kemudian terus berkembang menjadi balapan yang diakui global.  Teiichi Tsuchiya dijuluki “Drift King” atau “Dorikin” pembalap Jepang pertama yang mempopulerkan seni drift, kemudian mempopulerkannya pada pertengahan 1980-an.  Teknik balapan ini dibawa ke Jerman yang kemudian menarik banyak orang akan balapan asal Jepang ini. Kita pernah sangat akrab dengan narasi ini dari media dan film-film bioskop, sebut saja The Fast and The Furious: Tokyo Drift (Justin Lin, 2006) yang sempat populer di Indonesia. Salah satu Film balapan mobil yang merupakan sekuel dari film The Fast & Furious, produksi Universal Picture. Ya, kepopuleran ini juga semacam bonus dari intensnya aksi itu dilakukan. 

Continue reading

Landik, Sebuah Perlombaan Layangan

Mungkin hampir tiap minggunya, perhelatan layangan digelar di lokasi ini. Adalah sebuah lapangan yang berukuran setengah lapangan bola kaki.  Terletak di Jalan Lingkar Utara, Solok, di pinggir jalan sebuah lahan yang sepertinya akan dibangun sebuah bangunan besar atau mungkin perumahan. Jalan Lingkar ini, sering kali menjadi jalur pilihan warga sekitar untuk sekedar jalan-jalan santai di sore hari. Sejumlah kendaraan akan terparkir di sepanjang jalan kawasan ini. Mereka tidak meninggalkan motornya seperti orang-orang memarkirkan kendaraan mereka di toko-toko atau pusat perbelanjaan. Mereka mendudukinya selama menonton perlombaan layangan berlangsung dari pinggir jalan.

Continue reading

Membayangkan Perayaan Berikutnya

Belakangan, di media muncul kembali banyak pernyataan yang tidak menyukai permainan seperti panjang pinang, pacu karung, pukul bantal, dan berbagai jenis permainan yang biasa kita mainkan para perayaan kemerdekaan. Biasanya muncul dengan kalimat, bahwa itu tradisi yang dibangun penjajah untuk merendahkan kita. Terutama sejak berita mengenai pemerintah kota di Aceh melarang permainan ini. Konteks yang hampir mirip pernah saya temui di Jujuhan, Muaro Bungo, kala pengusaha tambang batu bara menyelenggarakan pesta untuk para buruhnya, berupa panjang pinang dan nonton orgen. Tapi saya kira mereka tidak melakukannya dengan terpaksa, barang kali memang menginginkan hadiah, unjuk kebolehan, bersenang-senang, dan lainnya. (Baca juga: Bagai Pinang Dipanjat Pemuda, 2014; Pesta Pemuda, 2014; dan Nonton Orgen, 2014)

Continue reading

Kabar Menghimpun Perjuangan

Geothermal atau pembangkit listrik yang bersumber dari panas bumi, pada dasarnya adalah salah satu sumber energi yang cukup baik jika kita bandingkan dengan batu bara. Namun hal ini tidak berarti Geotermal tidak memiliki dampak buruk. Geotermal juga menghasilkan karbondioksida dan metan dalam jumlah yang sangat besar, selain itu ia juga menghasilkan zat kimia berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan mayarakat sekitar berupa mercuri, boron dan arsenik. Sejak pertengahan 2017 lalu, proyek ini menghantui warga di sekitaran Gunung Talang, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Proyek yang dicanangkan berada di sekitaran pemukiman dan lahan pertanian warga, dan mendapat penolakan dari sebagain besar warga. Hal ini sebenarnya tidak jarang pula disalah-pahami oleh perantau, yang menyayangkan penolakan terhadap proyek tersebut dan disebut-sebut sebagai agenda politik. Hal ini tentu berbeda kondisi dengan Geotermal di Solok Selatan yang tidak berada di sekitaran perkampungan. Continue reading

Silang Kuliner

Masyarakat Minangkabau ataupun masyarakat timur pada umumnya, yang akrab dengan pertanian, juga terkenal memiliki beragam kuliner. Hal ini tentu berkaitan juga dengan ketersedian aneka bahan yang disediakan alam dan proses medalami sifat-sifatnya. Dengan eksperimentasi dapur, evaluasi lidah, kini ia menjadi tradisi dan milik bersama. Selain itu, tidak dipungkiri pula terbukanya akses karena hubungan dagang masa lalu, kita mendapat kesempatan untuk mengadopsi teknik maupun racikan dari berbagai kebudayaan asing, seperti dari etnis China, India, Bugis, dan lainnya. Seperti lapek bugih, salah satu makanan yang diadopsi dari negeri bugis, atau konon dulu diperkenalkan oleh pelaut-pelaut dari Makasar, yang kini sudah disesuaikan dengan lidah lokal. Continue reading

Merekam Teknologi Pertanian

Jauh sebelum Eropa datang ke Sumatera, negeri ini telah terlibat sebagai produsen dalam perdagangan hasil pertanian dunia. Hal ini tentu didukung dengan keadaan alamnya yang subur. Saya membayangkan, adaptasi dan usaha memeras otak untuk bertahan hidup, memicu munculnya kesadaran untuk memahami sifat dan manfaat yang disediakan alam di sekitar kita. Semakin hari semakin baik, dan menjadi ahli. Juli 1818, Sir Thomas Stamford Raffles, menjadi orang Eropa pertama yang menginjakan kakinya di pusat negeri Minangkabau, dan menyaksikan langsung kehidupan pertanian yang didistribusikan keberbagai belahan dunia itu. Dari Padang, ia menaiki pebukitan yang membatasinya dengan Solok, dari Solok menyeberangi Singkarak dan ke Tanah Datar (baca juga: Jalan Panjang Hingga Tuan Merebut Wilayah, 2017). Dalam catatannya, Raffles menyampaikan kekagumannya akan keindahan alam dan cara-cara pertanian yang sangat maju. Kemudian meyakinkan raja Inggris penting untuk menguasai negeri ini dan tidak menyerahkannya pada Belanda. Continue reading

Pahlawan Tikungan Maut

Profesi sederhananya bagi saya adalah suatu kegiatan intens untuk sesuatu yang bermanfaat bagi negara ataupun publik, baik itu dari azas saling ketergantungan, membantu orang lain, dan sebagainya. Profesi ini di antaranya, seperti bertani, berdagang, pegawai pemerintahan, pekerja sosial di lembaga nirbala, peniliti, penulis, relawan sosial, relawan kesehatan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Salah satu contoh yang sering saya temui dan menarik perhatian saya, adalah orang-orang yang mengatur lalu lintas di tikungan-tikungan tajam, di jalur lereng jalan lintas utama Solok-Padang. Sitinjau Laut, adalah lereng yang paling curam. Pekerjaan ini saya kira juga berbahaya bagi keselamatan mereka yang melakoni pekerjan tersebut, tapi tidak dipungkiri pula, apa yang mereka kerjakan sangat membantu keamanan banyak pengguna jalur tersebut. Continue reading

Permainan Lintas Zaman

Kemajuan teknologi pada saat ini menawarkan banyak kemudahan dalam berbagai aktifitas manusia. Begitu juga dalam soal permainan, diantarnya, sekarang ini semakin banyak permainan anak-anak yang berbasis perkembangan teknologi terkini, mulai dari gedget, komputer, game online, dan mainan elektronik lainnya. Kenyataan tersebut, beberapa diantara barang kali baik bagi perkembangan anak, dan tidak jarang pula berdampak buruk bagi perkembangan anak. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, generasi saya di kampung jarang sekali  dapat bermain game online. Akes internet sangat terbatas waktu itu, begitu juga untuk menggunakan handphone atau pun computer. Hanya anak-anak dari kelas ekonomi tertentu saja yang bisa mendapatkannya. Tapi ada juga beberapa orang tua yang mampu, memilih untuk tidak membelikan itu pada anak-anaknya. Lain halnya sekarang, hampir semua orang memilikinya, tidak terkecuali anak-anak. Continue reading

Dinego Tengkulak

Pertanian merupakan salah satu komoditi unggulan di Solok. Selain terkenal dengan persawahan yang luas, Solok juga dikenal dengan hasil sayuran dan buah-buahan yang melimpah, dan juga memiliki hasil yang baik jika disandingkan dengan sayuran atau buah-buahan di pasar-pasar modern seperti foodcourt. Namun, hasil tersebut tidak menggambarkan keberhasilan petani-petaninya dalam segi penghasilan. Nyatanya saja, pendapatan petani di daerah Solok masih sangat kecil dikarenakan banyaknya tengkulak atau pedagang yang membeli hasil pertanian dengan harga yang sangat rendah. Contohnya saja untuk jenis sayuran bunga bawang atau di daerah lokal disebut tombak bawang yang sering kita temui di pasar tradisional dengan harga penjualan sekitar dua sampai tiga ribu per-ikat atau kurang lebih seperempat kilogram. Sayuran ini dibeli kepada petaninya langsung oleh tengkulak seharga 10.000 per karung ukuran besar, dan itu sudah termasuk biaya transportasi yang harus dikeluarkan petaninya. Continue reading

Malamang

Di Minangkabau sangat banyak Alek atau perhelatan yang diadakan baik itu untuk menyambut hari besar keagamaan atau kegiatan adat istiadat. Alek atau perhelatan ini tentunya butuh persiapan yang ekstra agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Seperti diantaranya kegiatan malamang yang dilakukan dalam menyambut lebaran Maulid Nabi, menyambut bulan suci Ramadhan atau kegiatan lainnya. Dalam tradisinya, kegiatan malamang membutuhkan proses yang sangat panjang diantaranya dimulai dari proses pemilihan bambu yang akan digunakan sampai dengan proses pemanggangan yang menghabiskan waktu berjam-jam. Di Minangkabau, setiap proses dalam proses malamang ini memiliki makna atau arti di dalamnya. Continue reading