Category Archives: Galeri Gubuak

Galeri Gubuak: Program pameran tiga bulanan di Galeri Gubuak Kopi, mengundang para seniman dan warga masyarakat. Kuratorial pameran selalu berfokus pada pembingkaian isu-isu terkini dan kesejarahan yang ada di Solok, dikemas dalam kerangka seni, untuk memberikan tawaran pembacaan atau spekulasi bagi pengembangan kesadaran kebudayaan masyarakat lokal.

BERTUMPUK-TUMPUK PLAKAT MEMINANG TUAN

Pengantar Buku Kurun Niaga: Kala Negeri Dikelola Pemodal*

Melalui perperangan, membangun benteng pertahanan yang sulit direbut, dan memonopoli perniagaan, orang-orang Eropa berhasil menguasai beberapa bandar pelabuhan dan hasil bumi penting yang sebelumnya mempertemukan kawasan ini dengan perekonomian dunia yang sedang berkembang. Peran mereka tetap kecil, pemain-pemain di pinggiran kehidupan kawasan yang berjalan tanpa henti, namun mereka telah mengubah keseimbangan yang rapuh antara perniagaan dan kerajaan.[1]

Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Anthony Reid.

Sejak awal Agustus 2019 lalu bersama tiga belas orang partisipan kami membaca ulang sejumlah rujukan sejarah dan koleksi-koleksi arsip sejak tahun 1600-an hingga akhir 1800an. Bagi kami pembacaan ini adalah sebuah studi yang menarik, melihat kembali sudut pandang Eropa mencatat Sumatera Barat. Melihat bagaimana perniagaan membuka akses persilangan budaya, sekaligus melihat perniagaan menguasai sebuah tatanan politik. Peristiwa-peristiwa ini, saya kira membantu untuk memperkaya pandangan kita memahami situasi Indonesia hari ini.

Sejak abad 15, telah banyak kapal-kapal pelancong, datang ke pantai barat Sumatera, mulai dari Aceh, Arab, China, Portugis, Belanda, Inggris, Prancis, dan Amerika. Ada banyak hal yang bisa kita catat dari sumber-sumber yang terbatas itu. Keterbukaan masyarakat Minangkabau yang terpusat di pebukitan pada masa itu, menjadi sebuah hal yang unik. Ia berkembang dengan persilangan budaya internal Sumatera maupun eksternal yang difilter terlebih dahulu di pinggiran kawasan, di pantai barat, dan pangkalan-pangkalan besar di timur.

Sekilas para pemimpin terlihat menikmati posisi nyamannya dalam waktu yang sangat panjang di pebukitan, sekalipun bergantung besar pada produksi-produksi pertanian, pertambangan, dan segala aktivitas warga di nagari. Namun, perhatian dan kekawatiran mereka terhadap negeri-negeri tetangga tak pernah lepas. Mereka selalu memikirkan apa-apa yang terjadi di kawasan-kawasan pintu masuk, kawasan perniagaan besar, kawasan saingan.

Minangkabau sebagai sebuah ekosistem kebudayaan besar pada masa lampau hampir tidak terjangkau oleh publik Eropa. Sebelum terjadinya perang saudara, Padri, konflik antar bangsa tetap dikelola di wilayah pesisir barat. Salah satu catatan awal menyinggung Minangakabau ditulis oleh Henrique Dias, seorang ahli obat-obatan yang menompang di kapal portugis Sao Paulo. Kapal ini diriwayatkan terseret badai hingga Sumatera pada 21 Januari 1561. Beberapa bulan mereka yang selamat harus membangun kembali kapal untuk berlayar ke tujuan lain. Beberapa kapal bantuan datang untuk mendampingi.

Raja berjarak kurang lebih dua hari dari lokasi itu. Suatu kali putra raja datang, para awak Portugis memberikan beberapa hadiah untuk raja, tapi ia sedikit tersinggung mengetahui kaptennya malah makan ketika ia sedang menampakkan diri. Raja mengatakan bahwa ia bersedia mengawal jika kapten ingin mengirim orang melalui jalur darat, dengan durasi 10 hari. Dan raja ternyata berkeinginan memiliki artileri-artileri milik kapten itu. Raja bersedia menukarnya dengan kapal-kapal besar yang bisa mengantarkan mereka pulang. Tetapi kapten menolak permintaan itu, bahwa artileri itu harus diserahkan pada raja muda di India. Raja merasa puas dengan jawaban itu, dan meminta izin untuk melihat lebih dekat artileri itu.

Warga sekitarpun menukarkan beberapa barang pangan dengan sejumlah peralatan seperti pisau dan paku milik rombongan kapten itu. Semua terkesan cair dan membaur, mereka pun melonggarkan pengamanan. Tapi ia tidak menyadari 5 hari terakhir sampan-sampan berdatangan membawa orang-orang bersejanta, bersembunyi di pohon-pohon dan kemudian menyerang mereka, lebih dari 70 rombongan portugis terbunuh. Sementara yang selamat berhasil menaiki kapal dan pergi.[2]  

Sketsa Dika Adrian (Kurun Niaga, 2019)

Sebelum Thomas Dias pada tahun 1684 dan dilengkapi Raffles pada tahun 1818 yang memasuki pusat Minangkabau, tidak sedikit yang percaya pada narasi Marcopolo, yang menggambarakan Sumatera sebagai negeri yang dihuni oleh masyarakat kanibal. Terlihat banyak catatan-catatan pejalan Eropa kesulitan menggambarkan Minangkabau dan Batak. Negeri yang memiliki konsep pemerintahan yang cukup berbeda dengan negeri lainnya yang berbasis kerajaan seperti Jawa, atau raja-raja di Sriwijaya, Aceh, dan lainnya.[3]

Di Minangkabau, raja adalah pemimpin-pemimpin kecil yang setara dengan penghulu, dan jumlahnya sangat banyak. Menurut Anthony Reid, ketika Sriwijaya tidak lagi disebut-sebut pada abad 14, beberapa reputasi kerajaan tersebut bergeser ke hulu Sungai Batang Hari. Di sana terdapat patung dan prasati tertanda 1347. Menurut Reid, kemungkinan kerajaan Budha Raja Adhitiawarman (diduga adalah Dharmasraya) memulai tradisi kekuasaan “raja nan agung” di Sumtera Barat bagian tengah, dimana tradisi tersebut hidup berdampingan tetapi kurang harmonis dengan masyarakat Minangkabau yang matrilineal dan pluralistik.

Raja-raja Minangkabau bagi Reid memiliki kharisma yang sangat kuat di seluruh pulau Sumatera pada abad 17 sampai 18. Tapi kharisma itu hanya terpapar oleh pengaruhnya di setiap pusat niaga di Sumatera.

Pada tahun 1684 Gubernur VOC di Malaka mengirim Thomas Dias menemui “Raja Minangkabau” di Pagarayung. Menurut Reid, tujuannya sederhana agar Belanda dapat berdagang langsung dengan penyedia emas, lada, dan timah Minangkabau, menjadikannya sekutu yang potensial di tengah konflik yang terus menerus terjadi antara Siak, Johor, Jambi, Palembang, dan Malaka.

Dias memulai misinya dengan mengirimkan utusan ke “Raja Minangkabau” untuk memberi tahu rencana kedatangannya. Direspon oleh Raja Minangkabau dengan mengirim 9 orang utusan untuk menjemput Thomas Dias. Ia mencatat total 37 orag termasuk timnya melakukan perjalanan ke pusat Minangkabau. Ia mengaku dibawa melewati jalur-jalur yang tidak lazim dilewati warga. Menghindari beberapa “kerajaan kecil” yang bisa saja curiga dengan kedatangan mereka. Selain itu, ia juga mendapat respon yang tidak baik dari warga, sebab takut akan adanya eskpedisi lanjutan dari Eropa untuk menaklukkan mereka. Beberapa kali harus tidur di bawah pohon. Thomas Dias mengaku disambut dengan baik di Pagaruyung, dan pulang membawa sejumlah kesepakatan. Perdagangan emas di jalur timur, terbuka untuk Malaka.

Hal serupa diupayakan Raffles atas inisiatifnya. Kebesaran pengaruh Minangkabau di sepanjang pesisir Sumatera dan pangkalan-pangkalan mengantarkannya ke sebagai bangsa Eropa pertama yang menaiki pebukitan Padang menuju pusat Minangkabau pada tahun 1818. Ia bertaruh pada momen-momen yang sempit dan sekaligus strategis. Pada masa itu, dikenal dengan masa interregnum Inggris. Napoleon menguasai sebagian besar Eropa dan mengambil alih kerajaan Belanda. Pimpinan Belanda mengungsi ke Inggris, dan sejumlah wilayah kekuasaan Belanda melalui sebuah perjanjian akan dikelola oleh Inggris, salah satunya adalah Sumatera Barat.

Raffles membuat kesepakatan dengan sejumlah pemimpin adat yang juga terdesak oleh Padri. Dengan tidak begitu rumit, ia memperoleh kesepakatan dan surat untuk Raja Inggris agar tidak membiarkan Belanda kembali ke Padang. Sebagai gantinya, Raffles meninggalkan sejumlah pasukannya di Simawang, menjaga warga dari Padri Lintau, dan memastikan agar jalur penting antara pusat Minangkabau, menyeberangi Singkarak, melalui Solok (Kubuang Tigo Baleh) ataupun Koto Tangah tetap  terbuka untuk Inggris. Niat Raffles tidak berjalan dengan baik. 1819, Sumatera Barat kembali dikuasai Belanda.

Sebelumnya, pada tahun 1600an Belanda memulai peniagaanya dengan setara. Pelakat dan pertukaran utusan menjadi seni politik yang lazim pada masa itu. Di Pantai Barat, Belanda dan Aceh tidak menjadi mesra dengan plakat semata. Setelah mendapati pintu masuk ke pantai barat, Belanda membuat sejumlah perjanjian dengan penguasa-penguasa lokal. 1663 para petinggi adat di Painan dan VOC menyepakati “Painansche Contract[4]. Kesepakatannya ini memberikan perdagangan secara bebas dan tanpa pajak di wilayah Tarusan dan Air Haji, dan kemudian mendirikan Loji[5] di Salido. Tapi VOC selalu menginginkan Padang yang menjadi sentra strategis.

Sketsa Hafizan (Kurun Niaga, 2019)

Pada tahun 1667, loji dipindakan ke Padang. Tapi kota ini tidak begitu aman bagi Belanda, sebab Aceh masih memiliki pengaruh yang kuat di sana. Loji kembali dipindahkan ke Painan, tepatnya di Pulau Cingkuak. Di saat yang sama, loji-loji kecil dibangun di Pariaman dan Tiku. Tahun 1668, Belanda mematangkan niatnya. Aceh berhasil dihalau. Sebagian dari orang-orang Aceh yang berpengaruh pindah ke Pauh. Tapi untuk wilayah pantai barat Sumatra, Padang terlalu strategis untuk dilepaskan begitu saja. Keberadaan Aceh di Pauh dan Koto Tangah, mengerakan semangat perang warga lokal melawan VOC.[6]

Sejak tahun 1669 hingga 1750an lebih dari 20 kali perang besar terjadi antara Pauh dan Aceh. 1679 Pauh mulai berkoalisi dengan para pemimpin Tiga Belas Kota (Kubuang Tigo Baleh, yang sekarang disebut sebagai wilayah Kota dan Kabupaten Solok) yang merupakan produsen rempah utama. Tahun 1688, 5 orang penghulu Pauh tunduk, dan 9 penghulu masih rewel. Berbagai serangan kembali terjadi, walau sering kali “marasai” Pauh tak henti-henti memperlihatkan ketidak-taatannya. Tahun 1713, sekitar 500 pasukan, termasuk pemuka agama, di bawah pimpinan Rajo Putiah dan Rajo Saruaso berada di Padang untuk menghadang, tetapi “Padang” dibantu oleh para awak kapal Belanda dan 120 awak Bugis berhasil menghalau mereka. [7]

Tahun 1716 Pauh bersedia bekerja sama dengan VOC dan menetap di wilayah yang ditentukan Belanda. Tapi, 1720, Pauh diam-diam kembali ke tanah asal. Tahun 1724, VOC mengeluarkan perjanjian dengan Pauh bahwa, wilayah itu tidak boleh dihuni. Beberapa warga berusaha kembali dan diusir paksa. Beberapa penghulu, menaiki pebukitan membangun kerja sama dengan Kubuang Tigo Baleh. [8]

Pada 1726, Pauh dan warga Kubuang Tigo Baleh menuju Padang, namun bantuan militer Belanda dari Batavia datang. 1727, para pemimpin Pauh dan Kubuang Tigo Baleh datang ke Padang untuk bernegosiasi, dan akhirnya meminta maaf pada Belanda. Salah satu alasan utama permintaan maaf ini adalah karena Belanda menyetop penjualan garam. Tapi, rupanya itu tidak berlangsung lama, 1728 Pauh menduduki tempat-tempat yang dilarang VOC, melakukan sabotase dengan mengeringkan air sawah dan membuat perdagangan dengan Kubuang Tigo Baleh menjadi lebih sulit.[9]

Pauh memang pintu perdagangan hasil alam penting. Ia berada di lembah barat Minangkabau yang menghadap ke pelabuhan, di belakangnya membentang wilayah Kubuang Tigo Baleh, produsen rempah yang tidak bisa diakses Eropa hingga Raffles menaikinya pada tahun 1818 tadi.

Secara bertahap, setelah segala bunyi plakat dan perjanjian, VOC mulai mendirikan loji-loji, mengusasai bandar-bandar pelabuhan besar. Memberikan gelar-gelar tertentu pada pimpinan-pimpinan adat yang bisa diasuh. Menanjak 1700an hubungan dagang yang setara mulai berganti dengan monopoli yang dikuasai VOC. Ketimpangan. Pada tahun 1668 VOC menandatangi perjanjian kerjasama dengan penghulu di Barus, tak lama setelah Pauh bergolak, Rajo Lelo di Barus diasingkan karena mulai menyadari dampak negatif dari VOC terhadap tatanan ekonomi-sosial-politik kerajaannya.

Melalui para pemimpin lokal yang bisa diasuh, Belanda memulai permainannya dari pesisir yang terus bergerak. Pola-pola di atas hanyalah salah satu contoh tentang bagaimana VOC mengambil peluang dari kerapuhan antara perniagaan dan kerajaan, seperti yang digambarkan dikutipan awal. “Negara-negara baru” muncul di 1600-1800an. Ibu kota yang sebelumnya di pedalaman kini bergeser ke pesisir pantai, sesederhana VOC mendirikan pusat administrasi di sana. Kota-kota dibangun kembali dengan titik nol yang dekat dengat akses pelabuhan dagang dan askes bantuan militer.

Sejak 1660 Belanda sudah mulai memberikan gelar Opperkoopman kepada daerah-daerah yang dianggap betul-betul bisa dijadikan wilayah perdagangan. Pemimpin operasinya kebanyakan berasal dari saudagar dagang dan ada pula beberapa saudagar kecil. 1691 Belanda juga menunjuk Maharaja Indra sebagai penghulu regen baru Belanda. Proses-proses seperti ini sering terjadi, Belanda menunjuk perwakilan-perwakilan Penghulu dengan dalih mempermudah administrasi, satu persatu Belanda berhasil mendirikan “badan”nya di Minangkabau.[10]

Pintu semakin lebar setelah Padri mulai bergolak di wilayah perbukitaan Minangkabau. Satu persatu wilayah penghasil Akasia dan Cangkeh dikuasai Padri. Rajo Alam dikudeta. Padri mulai membentuk sebuah administrasi baru yang menyerupai sebuah “negara” atau badan yang berbeda dengan prinsip egaliter tradisional Minangkabau. Kudeta Padri dengan cara yang keras membuat sebagian besar masyarakat yang merasa terancam mengundang keterlibatan Eropa.

Du Puy, residen Belanda di Padang mendesak pemerintah di Batavia supaya mengerahkan Garnisum Simawang kembali. 1820 Du Puy membuat perjanjian dengan kepala-kepala di pusat atau “pedalaman” untuk penyerahan tanah mereka pada pemerintah Hindia Belanda. 1821 Padri diusir dari Sulik Aia oleh garnisum Belanda, dan berlanjut ke daerah-daerah lainnya, hingga Belanda menguasai dan mengambil alih pemerintahan.[11]

“Negara” atau badan legal untuk memunguti pajak, membuat tentara, mensakralkan bendera, membuat penjara, dan mencetak uang. Hadir menggantikan Padri yang belum mendapatkan posisi nyamannya. 1825 Belanda sudah mulai memberlakukan pajak 5% dari bahan yang dijual di 34 pasar di Tanah Datar dan 14 pasar di Agam. Nederlansche Handle Maatscappij (NHM) mendirikan pabriknya di Padang. 1831 Pengumpulan pajak dilakukan melalui para penghulu yang ditunjuk. 1834 Januari, sebuah kontrak yanag berlaku selama tiga tahun ditandatangani oleh Gebernur Jenderal dan wakil NHM di Padang, tentang pendirian dua depot besar di wilayah Minangkabau, dan terus berlanjut.

Membangun Negara dari prespektif niaga tentunya manyisakan banyak resiko dan keuntungan, mengabaikan aspek-aspek lingkungan dan kebudayaan, mengantarkan pertanyaan untuk siapa nagara ini dibangun?

Pertanyaan menggebu-gebu ini, saya kira tidak ada salahnya kita lontarkan agak sering. Tidakpun menjadi prioritas, hasrat menguasai ini harus tetap dibentengi dengan nilai-nilai kemanusiaan, atau sekedar jadi lalat di ekosistem perniagaan besar yang kompleks.

Selain itu, Akbar Yumni, seorang kawan pernah menuliskan, bahwa selama ini pengertian sejarah sosial-politik yang berlangsung selalu sejarah yang dibangun oleh negara atau para akdemisi. Sementara warga negara yang sebenarnya adalah subjek sejarah dan sering kali mengalami dampak langsung dari konstruksi sejarah tersebut, tidak diberikan peluang untuk dilibatkan dalam merumuskan sejarah.[12] Kolaborasi ini adalah aksi alternatif dalam mengembang wacana sejarah publik. Melibatkan sejumlah partisipan dari generasi hari ini, dari beragam sudut pandang menafsirkan peristiwa sejarah yang tidak ia alami secara langsung. Mengabaikan ataupun merespon sejarah yang ditata oleh negara ataupun akademisi.

Berbekal bagasi situasi sosial-politik-ekonomi hari ini, sejumlah pemuda ini meminjam lagi sejumlah arsip, meminjam sudut pandang para pencatat, menganalisanya kembali untuk memahami peristiwa hari ini yang seolah kita lepaskan dari masa lampau, membaca pola-pola perisitwa memperkaya sudut pandang. Dalam diskusi lain, saya juga ingat Akbar menekankan, ketika kita membaca ulang sejarah, dalam sudut pandang tertentu kita juga tengah berada dalam situasi sejarah itu sendiri. Secara performatif kita menghubungkan diri secara horizontal dari sejarah yang selama ini berjarak.

Solok, Oktober 2019


* Artikel ini sebelumnya telah dipublikasi di Buku Kurun Niaga: Kala Negeri Dikelola Pemodal, diterbitkan oleh Gubuak Kopi – Art and Media Studies (2019)

[1]               Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Anthony Reid.

Komunitas Bambu, 2019, hlm. 4

[2]               Sumatera Tempo Doeloe, Anthony Reid, Komunitas Bambu, 2010. Dalam buku ini Reid mengkurasi sejumlah catatan petulang yang menarasikan Sumatera pada masa lampau, dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Komunitas Bambu.

[3]               Ibid, hlm 186-212; lihat juga: Memoir of the Life and Public Service of Sir Thomas Stamford Raffles by His Widow. Vol. I, London, 1835.

[4]               Pemerintahan Daerah Sumatera Barat Dari VOC Hingga Reformasi, Gusti Asnan, Yogyakarta, 2006. Hlm, 20-21.

[5]               Loji (loge, factory, atau facrorij) berasal dari kata Portugis feictoria yang berarti tempat tinggal, kantor, atau gudang tempat bangsa tersebut melakukan kegiatan perdagangan di kota-kota seberang laut. Fetoria bisa berupa benteng (kubu pertahanan) dan bisa juga berupa gedung biasa. (Wikipedia – Ensiklopedia Bebas Bahasa Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Loji) diakses pada September 2019)

[6]               Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang, Rusli Amran. Jakarta, 1981. Hlm 171-188

[7]               Ibid.

[8]               Ibid.

[9]               BIJDRAGEN Tot de Taal Land Em Vlokenkunde vam Nederlandsch-Indie, 1887.Hlm 538-541

[10]             Op cit.

[11]             Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri, Christine Dobbin. Komunitas Bambu, 2008. Hlm. 185-225.

[12]             Golden Memories, Forum Lenteng, 2018.

__________________________________________________________

Foto sampul:

Masyarakat Padang di pelabuhan pantai barat Sumatera dengan latar belakang kapal pengantar surat ‘Insulinde’ yang sedang bertolak bersama Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum.
Koleksi Tropenmuseum

Silek dalam Medium Baru

Catatan pameran Lapuak-lapuak Dikajangi 2

Lapuak-lapuak Dikajangi(LLD) adalah sebuah perhelatan dari kegiatan studi pelestarian tradisi melalui platform multimedia. Kegiatan ini pertama kali digagas oleh Gubuak Kopi melalui program Lokakarya Daur Subur pada tahun 2017, sebagai rangkaian presentasi publik dalam membaca tradisi masyarakat pertanian. Presentasi publik ini dihadirkan dalam bentuk kuratorial pertunjukan dan open lab/pameran multimedia. Tahun ini LLD mengangkat tema silek, dan bermitra dengan Silek Arts Festival sebagai rangkaian festival.

Pagelaran seni multimedia LLD #2 dimulai dari tanggal 1-4 November di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Solok. Bagi saya, pameran yang digarap oleh Komunitas Gubuak Kopi bersama partisipan dari beberapa daerah ini sangat memecahkan beberapa kebuntuan pandangan terhadap silek di Minangkabau.

Di malam yang gerimis itu, turut hadir sejumlah pemangku kebijakan baik itu daerah dan pusat. Malam itu diawali oleh pengantar oleh Albert Rahman Putra selaku ketua Komunitas Gubuak Kopi dan kurator dari pagleran seni media LLD #2 ini. Tidak lupa Albert juga memperkenal para partisipan dan menjeleskan aktivitas para partisipan lebih dari dua minggu di Solok. Para partisipan diajak untuk mengikuti sejumlah kuliah umum untuk mengenal pemahaman tentang silek dan kebudayaan Minangkabau secara umum melalui para guru-guru silek di Solok yang diundang oleh Gubuak Kopi, juga Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Solok, Dr. Hasanuddin, seorang akademisi peneliti silek, hingga Ery Menfri, pegiat seni senior yang mendalami silek bertahun-tahun sebagai materi garapannya. (lihat juga: Portofolio Lapuak-lapuak Dikajangi 2)

Malam itu turut memberikan sambutan, Kepala Dinas Pariwisata Kota Solok, yang mengaku pertama kali terlibat dalam kegiatan yang digagas oleh Gubuak Kopi; Hadir pula malam itu memberi sambutan Kasubdit Seni Media, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Andre Tubagus. Beberapa tahun terkahir, ia baru tahu ada aktivitas seni media di Solok, sebuah kota kecil, dan beruntung malam itu ia dapat hadir. Turut memberi sambutan Walikota Solok yang diwakili oleh Asisten/ajudannya bapak Jefri, yang menyambut kegiatan ini dan berharap kegiatan ini dapat diapresiasi lebih jauh.

Malam itu, pameran dibuka oleh perawakilan Walikota Solok, didampingi Albert, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, dan perwakilan seniman partisipan, sembari membunyikan gendang bertalu-talu. Di sela tepuk tangan yang meriah, muncul Ethnic Percussion dari sisi kiri kanan lobi pameran, memainkan pukulan-pukulan gendang yang memukau malam itu.

Setelah pertunjukan pembuka oleh Ethnic Percusision, para tamu diajak memasuki ruang pamer dan dipandu oleh Albert menjeleskan setiap karya yang ditampilkan bersama para seniman. Karya pertama adalah kita temui ketika kita masuk adalahRunciang Indak Manusuak (Runcing Tidak Menusuk), karya performance art oleh Ragil Dwi Putra, salah satu seniman partisipan dari Jakarta yang berkegiatan di 69 Performance Club dan Klub Karya Bulu Tangkis (KKBT) ini. Karya inimerespon tentang bagaimana intimnya sebuah proses pembelajaran silek di Minang dan juga membicarakan permasalahan “Tamaik Kaji” (Khatam).

Sementara kita menikmati karya Ragil, ruang pamer masih dibiarkan gelap. Karyanya ia sajikan secara performatif, dalam ruang persegi tanpa pintu dan ditutupi oleh kain hitam, serta bertuliskan kata-kata kiasan yang selalu muncul ketika para tuo silek memberi pemahaman tentang silek. Kalimat dan ruang gelap dalam galeri ini memperkuat pemaknaan betapa intimnya sebuah kegiatan tamaik kaji pada silekMinang. Dalam karya ini juga menjelaskan bagaimana susahnya dan perlu usaha untuk belajar silek di Minang yang di gambarkan dengan cara masuk kedalamnya ini dengan menyeruak menunduk untuk memasukinya. Didalam ruangannya juga terdapat dua kursi berhadapan.Sekitar sepuluh orang pengunjung diundang untuk memasuki ruang persegi itu dan diberikan satu lilin. Satu persatu lilin itu menyala, dari luar sekilas ia terlihat seperti lampion. Tulisan-tulisan menjadi seakan menyala.

Dalam performannya, Ragil berusaha duduk di atas sandaran kursi dengan kaki sebelah sambil memegang lilin dan disaksikan oleh beberapa pengunjung pameran yang diundang masuk pada kubus yang sakral itu.

Setelah lampu menyala, pengunjung digiring ke sisi kiri melihat karya Hafizan yang berjudul Tagak Itiak. Hafizadalah seniman partisipan dari Kota Padang.Ini mencoba mengungkap makna ketelitian dan kesabaran melalui karya instalasinya yang terangkai dari ranting-ranting pohon yang disatukan dengan ikatan benang sehingga membentuk sebuah gesture dan gerakan silekyang juga biasa disebut “tagak itiak” (berdiri sebelah kaki). Karya ini memliki dimensi 3.5m x 1.5m x 1m, dengan tembakkan lampu bayangan ranting instalasi menjadi dua kali lebih besar.

Masih membicarakan konteks tertutupnya silek di Minangkabau. Arum Tresnaningtyas Dayuputri salah seorang seniman partisipan dari Bandung yang aktif berkegiatan di Omnispace, ini menampilkan beberapa karya foto yang ia kolase diatas sejumlah koleksi arsip masa lampau, mengenai transisi silek mejadi ajang olah raga. Dari karyanya ini pada dasarnyaArum mencoba menghadirkan sosok perempuan dalam dunia persilatan di tanah matrilineal ini. Di mana biasanya silek ini didominasi oleh laki-laki di Minang, dan kali ini Arum mencoba menjawabnya dengan karya foto yang mempresentasikan “Silek Batino”(Silat Perempuan), di Minagkabau. Dalam karya ini ia berkolaborasi degan Dewi Safrila, dari Pekan Baru, yang selama riset juga aktif berlatih gerak pencak silek batino di Sasaran Limbago Budi, Solok.

“foto pesilat perempuan ini menjadi relevan dengan koleksi arsip yang melatar belakanginya. Silek sebagai olah raga pada dasarnya memberikan dampak buruk, pada pendangkalan makna silek itu sendiri.” Jelas Albert

Ia menambahkan, tapi dengan masuknya ia pada cabang olah raga pada Pon tahun 1950an di Makassar, dan gencar perkembangan silek di Eropa, yang bahkan sempat menggeser polpularitas karate dan tekwondo, juga memunculkan banyak pesilat perempuan di berbagai belahan dunia. Sebenarnya bukannya tidak ada pesilat perempuan di Minangkabau, tapi itu privat sekali, biasanya hanya dari paman ke kemenakan atau ayah ke anak. Sementara tidak semua perempuan seberuntung itu. Karena tidak pernah melihat itu, menjadi pesilekperempuan seakan tidak lazim. Menghadirkannya ke hadapan publik, juga sebagai penegasan akan kesempatan yang sama, dan memecah ketabuan akan pesilek tradisi perempuan itu sendiri.

Berlanjut pada karya Zekalvel Muharram salah seorang seniman partisipan asal Solok. Ia mengadirkan sejumlah komik strip buatannya dalam lembaran A3 dan satu ia lukiskan di dinding dalam ukuran 2 x 3 meter.Komik-komik itu ia beri tajuk “Raso Pareso”. Komik-komik berkarakter khas itu, menegaskan sejumlah persoalan adab yang selama ini jarang kita kritisi. Dalam karyanya mural misalnya, ia juga menjelaskan sebuah pergeseran makna dan mencoba masuk melalui cerita lucu yang sebenarnya menyuruh pembaca lebih otokritik kepada diri sendiri, dimana tradisi lisan kita yang sering menambah-nambahkan atau mengurangi segala sesuatu informasi.

Dari karya Zekalver, kita berajang pada ruang presentasi kelompok”Untempang Club”, sekelompok remaja yang dibina oleh Komunitas Gubuak Kopi sejak awal Oktober lalu dalam program Remaja Bermedia. Kehadirnya menambah warna dan menunjang semangat generasi muda untuk terus berkarya dan memanfaatkan teknologi media yang akrab dengan keseharian kita sebagai alat untuk berkarya. Karya foto yang mereka tampilkan tidak hanya berbicara garis, warna, tekstur, kedalaman, pola, dan cahaya. Melalui pelatihan yang mereka dapatkan di Gubuak Kopi dan bersama beberapa seniman partisipan LLD, hasil karya mereka mampumenghadirkan pemaknaan silek dalam medium kekikinian tanpa menghadirkan silek itu sendiri. Detil, intensitas, dan kepekaan. Demikian yang dihadirkan remaja yang tak memiliki kesempatan belajar silek ini.

Dari ruang remaja bermedia itu, kita berlanjut pada kumpulan skesta yang dipajang di dinding dan sebuah meja kerja. Karya itu berjudul “Berburu Gerak”. Proyek skesta ini dikerjakan oleh Hujatul Islam alias Dokter Rupa dari Yayasan Pasir Putih, Lombok, sebagai studi gerak melalui skesta bersama sasaran-sasaran silek tuo di Solok, seperti Limbago Budi, Sinpia, dan Silek Tuo Kinari. 50 karya skesta ini sekaligus menjadi sebuah aksi pengarsipan gerakan-gerakan khas di masing-masing perguruansilek yang mungkin cukup jarang ditemukan.

Setelah menyimak karya Hujatul para pengunjung diajak untuk menyimak performance oleh Dewi Safrila. Dewi salah seorang seniman dari Riau ini menjelaskan sebuah perlawanan terhadap ego, kelembutan, dan sebuah ketegasan dalam diri seorang pesilat. Karya yang menggunakan teknik maping, menghadirkan Dewi yang berdialog melalui gerakan dengan bayangan ataupun imajinasinya yang terpanggung di sebuah skesel ini cukup membuat penyegaran dalam dunia seni media maupun seni pertunjukan tari di Sumatera Barat.

Tidak hanya persoalan visual, berikutnya kita digiring pada karya bunyi: The Sound Of Silek. Karya ini disajikan dalam bentuk playlis dalam sebuah TV oleh Palmer Keen, salah seorang peneliti musik asal Amerika yang kini berdomisili di Yogyakarta. Dalam residensi LLD #2 Palmer mencoba meneliti keterkaitan gandang sarunai dengan silek di minang. Karyanya ini mencoba menjawab apakah silek itu sunyi. Dalam karyanya Palmer juga melakukan recording di mana silek itu sebenarnya penuh dengan bunyi, bunyi gerak, gesekan kain, tepukan paha, dan serta hembusan nafas dari pesilat itu sendiri, dan disini Palmer mencoba membuat karya dari bunyi dari gerakan dari dua tuo silek yang tengahbasilek di sasaran Limbago Budi.

Di seberang karya palmer kita dihadapkan pada pengembangan bunyi dalam sebuah TV yang terhubung earphone: Virusakita. Karya ini digarap oleh Ade Jhori mencoba memperpadukan bunyi “Pupuik” dengan distorsi  digital. Dalam karyanya ini Ade mencoba mengangkat sebuah suara kegelisahan dari bunyi pupuik itu sendiri dan mencoba mempertegas bunyi-bunyi kegelisahan itu sendiri dengan sentuhan digital.

Dibelakangan juga terlukis karya Hujatul yang tergambar impresif diatas tempelan arsip koran tentang silek pada media skesel seluas 2 kali 3 meter. Demikian kita dihantarkan pada karya terkahir di ruang pamer, yakni“Setitik Jadikan Laut” karya Prashasti Wilujung Putri.

Karya ini menhadirkan menangkap gerak pesilat dari berbagai arah. Karya Asti yang melihatkan gerakan pesilat bukan hanya dari sudut pandang penonton saja tetapi juga dari pesilat itu sendiri. Terlihat para penonton silat dan pesilat solo di sebuah ruang latihan yang dilengkapi kamera di kepalanya. Dalam karyanya ini Asti mencoba membingkai sebuah proses di mana ia menegaskan “menjadi pasilek bukan berarti tunggal dan besar, namun menjadi tetap kecil, banyak, dan memasyarakat”. Karya Asti ini berkolaborasi dengan Sasaran Silek Limbago Budi di sisi lain mengajak kita mengalami sesansi basilek melalui mata-mata yang hadir dalam ruang yang telah lewat itu.

Dari pameran seni media Lapuak Lapuak Dikajangi #2 bertemakan silek yang digarap rekan-rekan Komunitas Gubuak Kopi bersama seniman partisipan ini,bagi saya memperkaya dan menambah pengetahuan tentang bagaimana silek itu sendiri. Hasil dari karya para seniman ini juga memecah kebuntuan kita selama ini mengenai bagaimana silek di Minangkabau. Dan juga menjelaskan pendangkalan makna, pergeseran kebudayaan, dan kurang pedulinya generasi muda saat ini tentang bagaimana pentingnya melestarikan budaya itu sendiri.

Pembukaan Lapuak-lapuak Dikajangi 2 – Silek

Silek adalah sebuah tradisi beladiri masa lampau yang tidak hanya soal pertarungan, di dalamnya terkandung pendidikan karakter, ketelitian, filosofi, dan sebagainya. Ia bukan sekedar olah raga, tapi juga olah rasa, dan olah pikiran.” Jelas Albert.

Ia menambahkan, selayakanya silek yang berkembang pada kesenian tradisi lainnya, seperti tari dan randai oleh generasi jauh sebelum kita. Ia tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan pada medium baru oleh generasi kini. Tentunya tidak hanya sebagai objek bingkaian semata, tetapi juga di-reinterpretasi nilai-nilainya.

Malam itu turut hadir Jumail Firdaus Project yang mempresentasikan karya komposisi musiknya yang berjudul Basikencak, dan Orkes Taman Bunga yang menghangatkan malam.

*Artikelnya sebelumnya dipublis di Kolom Budaya, Koran Haluan, edisi Minggu, 11 November 2018 dengan judul: Tanya Berjawab Tentang Silek. Dipublikasi kembali sebagai distribusi arsip.

Memaknai Ulang Kekuatan Masa Lampau

Catatan Editorial Buku Kumpulan Tulisan: Bakureh Project

Masih terus terngiang di ingatan kita, seorang dokter dipersekusi karena cuitannya di media sosial. Lalu, tak lama, postingan itu tersebar–baik itu berupa hasil screenshoot ataupun di-share ulang–dengan tambahan kalimat oleh sejumlah akun, yang kemudian menggerakan beberapa orang ikut menghujat si dokter. Sejumlah kelompok yang mengaku organisasi Islam mendatangi si dokter. Memaksa si dokter meminta maaf, dengan segala teror yang tidak mereka akui. Intervensi sampai ke tempat kerjanya, bahkan menurut si dokter, teror juga menimpa anaknya yang masih duduk di sekolah dasar. Continue reading

Membaca Kembali Bakureh

*Pengantar kumpulan tulisan Bakureh Project #1

Kamis, 7 Juni 2018 lalu, telah selesai dilaksanakannya lokakarya Daur Subur sebagai tahapan awal dari rangkaian Bakureh Project. Pada dasarnya proyek seni ini merupakan proyek seni ke #4 dari Program Daur Subur yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi sejak tahun 2017. Proyek kali ini dipimpin oleh Delva Rahman, salah seorang pegiat media di Gubuak Kopi. Dalam proyek ini Delva melanjutkan temuan Elfa Kiki Ramadhani yang belum sempat dibahas mendalam pada Lokakarya Daur Subur #2 – Lapuak-lapuak Dikajangi, yang digelar September-Oktober 2017 lalu. Delva melihat sejumlah poin menarik dari isu ini, yang kemudian ia usulkan untuk dibahas lebih lanjut dalam bersama Program Daur Subur. Presentasinya kemudian diperkaya dengan masukan teman-teman lainnya di Gubuak Kopi, dan kemudian kita putuskan untuk merancang proyek ini semaksimal mungkin, dan Delva pun juga berhasil menggalang dukungan dari Cipta Media Ekspresi. Continue reading

Pengantar Bakureh Project

Bakureh Project adalah sebuah studi nilai-nilai kebudayaan lokal melalui tradisi “masak bersama”. Bakureh secaha harfiah dalam Bahasa Indonesia berarti ‘berkuli’, namum dalam konteks ini defenisi bakureh merujuk pada ‘gotong-royong masak’ yang dikomandoi oleh ibu-ibu dalam satu kampung. Pada dasarnya kegiatan ini dilakukan oleh ibu-ibu, namun, dalam kondisi tertentu juga terbuka pada keterlibatan laki-laki. Ia hadir dalam konteks pesta nagari (kampung), seperti pernikahan, pengangkatan pimpinan adat di tingkat nagari, upacara kematian, perayaan panen, dan lainnya.
Continue reading

Lingkung Singkarak dalam Retrospeksi

Hampir keseluruhan fenomena sosial dalam catatan Albert Rahman Putra di buku Sore Kelabu di Selatan Singkarak (Forum Lenteng, 2018) dekat dengan saya secara personal. Saya menghabiskan masa kecil hingga dewasa di nagari Saniangbaka, bagian selatan Danau Singkarak. Saya masih bisa mengingat amis ikan Bilih yang baru dikeluarkan dari lukah, mengingat bagaimana bentuk putaran arus di muara pertemuan Batang Lembang dengan Danau Singkarak, dan merasakan manisnya limau dari Kacang yang dibawakan teman-teman saya sewaktu sekolah menengah atas di daerah Singkarak. Continue reading

Kuratorial Open Lab: Mamboncah

Mamboncah: Membasahi yang kering, memulai kembali. Demikian kami generasi kini memahami aktivitas yang biasa dilakukan petani setelah panen dan hendak menanami sawahnya kembali. Bagi kita, ia adalah kerangka filosofis yang merujuk pada aksi untuk terus berbenah dan memperbaharui ruang, atas nama masa depan yang lebih baik serta keseimbangan yang berlanjut. Continue reading

Lokakarya Daur Subur di Padang Sibusuk

Padang Sibusuk adalah salah satu nagari di Kabupaten Sijunjung, yang beberapa tahun terakhir belakangan mengalami sejumlah perubahan dalam bidang pertanian. Persoalan tersebut antara lain, banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi area pertambangan emas. Hal ini dilatari oleh sejumlah soal, baik itu keinginan masyarakat sendiri, pendidikan, infrastruktur pendukung pertanian, dan kebudayaan agraria itu sendiri. Menarik untuk melihat lebih jauh persoalan ini sebagai bagian dari studi perkembangan budaya agraria terkini di Padang Sibusuk. Continue reading

Equality

Pengantar kuratorial pameran EQUALITY – Minang Young Artist Project 2017

…hanya sayang dalam fase perubahan jiwa ini, mereka terlalu disilaukan oleh kemenangan mengejar keuntungan materi sebanyak‐banyaknya, sehingga banyak menjelma jadi manusia materialistis
yang tak “sedia berbagi” dengan kaum,itu suatu sifat luhur dari  nenek  moyangnya, sedapat  mungkin  dalam  penjelmaan  baru  ini  dihindarkan.
– Oesman Effendi (1976)-

Continue reading