Author Archives: Albert Rahman Putra

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Membaca Kembali Pertanian Dulu dan Kini

Editorial Kumpulan Tulisan: Daur Subur

Ibaraiknyo tanah: nan lereng tanami padi, nan tunggang tanami bambu, nan gurun jadikan parak
nan bancah jadikan sawah, nan padek kaparumahan, nan munggu jadikan pandam, nan gauang ka tabek ikan, nan padang tampek gubalo, nan lacah kubangan kabau, nan rawang ranangan itiak
. Continue reading

Postingan Terkait

Dendang Memaknai Perjalanan

Suatu hari dalam sebuah bus dari Solok menuju kota Padang, bersama kami naik seorang laki-laki yang tidak mau duduk dan memilih berdiri di depan pintu. Setelah beberapa menit perjalanan, pria ini menyampaikan isyarat pada sopir bus, lalu pak sopir mematikan musiknya. Laki-laki ini mengeluarkan rabab (rebab) dari kantong plastik yang ditentengnya. Dengan sedikit kesulitan dalam posisi berdiri dan mobil bergoncang, ia mulai menggesek rebabnya. Continue reading

Postingan Terkait

Pengantar Kuratorial: Daur Subur

Pengantar Kuratorial:

Daur Subur adalah pengembangan media dalam mengarsipkan dan membaca perkembangan kultur pertanian di lingkup lokal. Program ini digagas oleh Gubuak Kopi dengan mengembangkan pembacaan melalui pendekatan jurnalisme warga, aksi performatif, serta praktik media alternatif dengan memberdayakan teknologi yang dekat dengan kita.

Konten pameran pada dasarnya bukanlah hasil akhir, melainkan sketsa awal dari persoalan yang dibingkai selama lokakarya Kultur Daur Subur, yang dilaksanakan pada tanggal 10 – 20 Juni 2017 lalu. Melalui pameran dalam bentuk open lab ini, menarik membaca kembali proses para partisipan, sebagai pilihan bermedia di era millennial. Kebebasan dan kebanjiran informasi, berpotensi akan kerancuan informasi, sebaliknya dengan sikap kritis dan kesadaran akan cara kerja media, ia juga berpotensi sebagai penunjang kesetaran dan alat desentralisasi pengetahuan.

Selain itu, pemanfaatan teknologi media ini merupakan satu usaha alternatif mendefensikan dan membicarakan diri sendiri, serta merangkum narasi-narasi yang tersebar di kalangan warga sebagai sebuah pengetahuan, yang kali ini kita rayakan dengan peristiwa kesenian.***

Solok, 7 Juli 2017

 

Postingan Terkait

Kreasi Sore Buya Khairani

Vlog Kampuang – Kreativitas Sore Buya Khairani

Suatu sore kami menemui Buya Khairani di rumahnya. Seorang tokoh masyarakat di Kelurahan Kampung Jawa, yang selalu berbagi pengetahuan-pengetahuan adat bersama kami. Kami mendapati dirinya dengan sibuk mengasah yang akan menjadi sarung sebuah keris katanya. Keris, gagang dan sarungnya ia buat sendiri dari material yang ada disekitarnya. Sore itu ia juga mengeluarkan beberapa kerajinan lainnya, seperti kapal-kapal yang ia buat dari kayu-kayu sisa pagar, pesawat-pesawat, mobil-mobilan, dan lainnya. Ia sewaktu muda sebelumnya juga sering melakukan ini, dan baru akhir-akhir ini ia kembali mengasah kemampuannya ini, sembari menghabiskan sore. Continue reading

Postingan Terkait

Letusan di Riaknya Danau

Kira-kira dua minggu setelah lebaran (2015), suasana Singkarak yang sebelumnya ramai sudah berangsur normal. Jalanan sudah mulai sepi lagi, hanya sampah-sampah yang bertambah banyak. Siang hari, saya mampir di sebuah kedai nasi di tepian Danau Singkarak di daerah Tikalak. ‘Riak Danau’, begitu tertulis di depan warungnya. Di sana, saya bertemu seorang perempuan paruh baya. Dia adalah pemilik warung itu. Continue reading

Postingan Terkait

Balanjo Pabukoan

Vlog Kampuang – Balanjo Pabukoan:  Setiap Ramadhan, beberapa titik strategis di Solok, seperti persimpangan jalan yang banyak dilewati warga ngabuburit, serta tempat bermain-main sore, atau tempat remaja-remaja berfoto dan sebagainya, akan diramaikan oleh kehadiran para pedagang takjil. Video ini merekem suasana warga sekitaran Solok yang berbelanja pabukoan (takjil) di Simpang Pustaka Nagari, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Sebelumnya, selain bulan puasa, biasanya di lokasi ini hanya terdapat dua dagangan di sini. Continue reading

Postingan Terkait

Gang Rambutan

Akhir April 2017 lalu, saya berkunjung ke rumah bapak Irwin. Beliau adalah seorang ketua RT di RT 03/RW 01, Kelurahan Pasar Pandan Airmati, Kota Solok. Memasuki gang menjelang rumah Pak RT sungguh menarik. Di sana ada satu gapura, yang terlihat belum lama dibuat. Keberadaan gapura ini, membuat gang sedikit menonjol dari gang-gang yang ada di sekitar sana. Di sepanjang gang, mata saya disegarkan dengan tanaman-tanaman jenis sayur maupun tanaman hias yang berderat di atas got gang. Gang itu bernama Gang Rambutan. Continue reading

Postingan Terkait

Merespon Jalanan Kita

Tidak lama lagi, ada dua agenda yang membuat kita akan menyoroti situasi fisik lalu lintas di Sumatera Barat, dan tidak terkecuali Solok. Dua agenda yang saya maksud yang pertama adalah ramadhan dan lebaran, dan yang kedua adalah Tour de Singkarak. Di lalu lintas Solok-Padang, kita masih melihat beberapa titik longsor dan lubang yang dibiarkan dengan garis polisi saja. Di jalan Solok-Padangpanjang, jalanan bergelombang belum juga teratasi, beberapa sudah dimulai diperbaiki. Untuk sementara dibiarkan berlobang hingga nanti ditambal aspal, tanpa plang pemeritahuan, tidak jarang kendaraan kita tersentak. Para pembayar pajak yang baik tidak jarang hanya bisa bacaruik-caruik menyaksikan ban-nya yang kempes, pelek menjadi baliang, maupun dan kerusakan fisik kendaraan lainnya. Beberapa kita pengguna lalu lintas yang awam, tidak jarang memasalahkan cara pemerintah itu. Ya, sering kali meluapkannya di media sosial. Baik itu melemparkan pertanyaan-pertanyaan, kenapa harus tunggu Tour de Singkarak dan ramadhan dulu? kenapa tunggu jalan putus dulu? kenapa tidak pakai kualitas aspal terbaik saja yang tahan puluhan tahun? Continue reading

Postingan Terkait

Layangan Menghitung Sore Berakhir

Vlog Kampuang – Layangan Menghitung Sore Berakhir adalah rekaman suasana perlombaan layangan di Ampang Kualo, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Perlombaan ini diselenggarakan oleh pemuda setempat setiap sore selama lebih dari satu bulan. Perlombaan ini juga menjadi alternatif hiburan bagi warga setiap sore hingga magrib menjelang.
Continue reading

Postingan Terkait

“yang penting caritonyo jaleh…”

Vlog Kampuang – “yang penting caritonyo jaleh…”

Vlog Kampuang – “yang penting caritonyo jaleh…” adalah rekaman suasana workshop komik oleh Zekalver Muharam, di Galeri Gubuak Kopi, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Zekalver mengajak beberapa remaja di Kota Solok untuk menceritakan keseharian mereka, fantasi, maupun mitos-mitos unik di sekitar mereka. Continue reading

Postingan Terkait