Catatan Diskusi Terpumpun – Pengembangan Platform Daur Subur sebagai Strategi Penguatan Ekosistem Kebudayaan Pertanian di Solok. Diskusi ini diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi di Aula Balittro, Laing, Kota Solok pada 24-26 Februari 2025. Diskusi ini diikuti oleh anggota Komunitas Gubuak Kopi, Jejaring Daursubur, Balai Standar Instrumen Penelitian Tanaman Buah Tropika, Balai Standar Instrumen Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bappeda, Dinas Pariwisata (Bidang Kebudayaan), dan Dinas Pertanian kota Solok.
Memasuki hari ketiga residensi Daur Subur, saya bersama teman-teman Komunitas Gubuak Kopi melakukan perjalanan singkat ke beberapa tempat, kali ini menuju beberapa kedai kopi yang ada di Kota Solok. Meskipun terkendala cuaca yang gerimis, saya bersama dengan Biki dan Irvan terus menunggu sampai hujan mereda. Hingga pukul 13.15 WIB kami segera bergerak dari Rumah Tamera, markas Gubuak Kopi, menuju Naluri Coffee untuk bertemu pemiliknya, Ari. Sampai di sana ia telah menunggu kedatangan kami. Biki kemudian menjelaskan masksud sore itu, bahwa Daur Subur sedang mengumpulkan wadah tambahan untuk kompos, yang nantinya akan dibuat bersama warga Kampung Jawa. Kemudian setelah perbincangan singkat itu kami membawa sekitar 10 box bekas ice cream. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Satu Satu Sembilan Coffee, bertemu Asep yang menyambut hangat kedatangan kami, mereka menyumbangkan 7 box serupa. Jadilah Saya, Biki dan Irvan membawa total 17 box bekas ice cream dengan gembira.
Sejak 2017 lalu, Komunitas Gubuak Kopi menginisiasi proyek Daur Subur, sebuah platform kolaborasi dan jaringan kerja untuk membaca kebudayaan masyarakat pertanian di Sumatera Barat. Pembacaan ini mencoba memetakan kembali dan mengumpulkan aspek pengetahuan kearifan lokal, untuk merespon persoalan hari ini, terutama terkait wacana ketahanan pangan dan diskusi publik mengenai warga yang berdaya.
Tahun ini Daur Subur mengusung lokakarya di lingkup Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Membaca inisiatif-inisiatif warga, persoalan ketahanan pangan, sirkulasi air dan sampah, pengetahuan mengenai tanaman, serta fenomena terkait Daur Subur lainnya di tengah-tengah warga.
Lokakarya ini diikuti oleh 10 partisipan, yakni: Alif Ilham Fajriadi dari LPM Suara Kampus, Padang; Khairul Hatta dari Padang Panjang; Lingga dari Padang; Nanda dari Surau Tuo, Bukittinggi; Arfan Nanda dan Salistio Erisa Putra dari Solok; Amelia Putri, Noura Arifin, dan Alfin Zernindo Prima dari Orangufriends Padang; dan Alfi Syukri dari Sekolah Gender, Padang.
Lokakarya ini berlangsung selama 12 hari, 30 Mei – 10 Juni 2021, dengan menerapkan protokol kesehatan. Lokakarya ini menghasilkan 10 artikel panjang dan ditindaklanjuti dengan kolaborasi pengelolaan taman warga RW 06 yang diisi dengan berbagai tanaman sumbangan warga.
Tahun 2020 ini, Tenggara Street Art Festival membuka peluang untuk para street artist untuk terlibat dalam festival ini. Para seniman dari berbagai kota diundang untuk mengisi sesi ini melalui skema panggilan terbuka dan kurasi. Pendaftaran terbuka untuk setiap street artsit, baik itu mural, stensil, bom benang, wheatpaste, dan medium baru yang relevan dalam konteks street art sekalipun. Dari 85 peserta yang mendaftar panyelenggara menerima 47 peserta untuk terlibat dalam sesi ini. Tim kurasi berfokus untuk menemukan street artist muda yang potensial dan memiliki cara pandang yang menarik dalam merespon konteks ruang dan waktu. Para peserta yang lolos merupakan kelompok dan individu, mendapatkan fasilitas dinding, cat, akses area kemah, makan, dan kebutuhan protokol kesehatan Covid-19.
Sejak awal Juli 2020, Komunitas Gubuak Kopi berkolaborasi bersama 8 komunitas lainnya dari berbagai kota di Indonesia yang difasilitasi Akademi Arkipel. Sebuah program khusus yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Forum Lenteng sebagai bagian dari ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival. Program ini bertujuan untuk meluaskan fungsi festival sebagai institusi pendidikan sinema.
Catatan Proses Residensi Lapuak-lapuak Dikajangi #2
Malam itu (19/11/2018) hari kelima residensi, para partisipan Lapuak-lapuak Dikajangi #2 berkumpul untuk berdikusi dan saling meng-update temuan-temuan observasi selama beberapa hari ini. Berdasarkan lokasi, malam itu ada dua cerita perjalanan dari teman-teman partisipan. Cerita pertama itu dari rombongan yang berangkat ke Kinari. Sebuah kampung kecil di Kabupaten Solok, dengan durasi tempuh sekitar 30 menit dari markas Gubuak Kopi. Rombongan ini terdiri dari Asti, Dewi, Ragil, Jatul, Hafiz, dan dipandu oleh Volta. Continue reading →
Selasa, 16 Oktober 2018 menjadi hari yang tidak bisa dilupakan oleh para partisipan Lapuak Lapuak Dikajangi (LLD) #2 beserta rekan-rekan Komunitas Gubuak Kopi. Pagi hari itu menjadi pagi yang sangat melelahkan untuk bangun, disebabkan pada dini hari sekitar jam 3, para partisipan dan penghuni kamar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Solok, dibangunkan oleh kehadiran maling yang kepergok memasuki salah satu kamar dari partisipan LLD #2, sontak membangunkan orang seisi SKB dan berhamburan berlari mengejar maling tersebut. Karenakan bangun dalam posisi terkejut para partisipan dan rekan-rekan Gubuak Kopi yang ikut mengejar masih sedikit kebingungan mencari ke mana arah maling itu lari. Continue reading →
Lapuak-lapuak Dikajangi (LLD) #2 adalah project lanjutan dari project Lapuak-lapuak Dikajangi tahun 2017 lalu. Secara garis besar project ini berupaya melestarikan nilai-nilai tradisi yang terdapat dalam aktivitas masyarakat melalui platform multimedia. Kalau sebelumnya partisipan yang dihadirkan hanya dari Sumatera Barat, Project LLD #2 melibatkan 9 orang seniman yang berasal dari luar dan dalam Sumatera Barat. Para partisipan akan diajak untuk membaca dan merespon persoalan silek di Sumatera Barat dan Solok secara khusus. Teman-teman seniman ini akan riset, berkolaborasi, dan memproduksi karya di Solok selama 21 hari kedepan. Continue reading →