Enam Hari Belajar Bersama

Kamis pagi, 15 Juni 2017 ini, adalah hari keenam Lokakarya “Kultur Daur Subur” di Gubuak Kopi. Para partisipan memulai kegiatannya seperti biasa, membahas perkembangan observasi, dan mencari data-data tambahan. Hari sebelumnya, kita melakukan kegiatan produksi film di Taman Bidadari, seluruh partisipan maupun fasilitator turut terlibat dalam pengerjaannya. Kegiatan bermedia sambil bermain ini, secara performatif merespon situasi taman, fasilitasnya, kolam yang suda kering, tempat sampah, wc, kantor kosong yang kotor dan lainnya. Malam harinya, seluruh peserta kegiatan, partisipan dan fasilitator, diundang untuk berbuka bersama di rumah salah satu pegiat Gubuak Kopi, yakni Albert Rahman Putra. Di sana kita sempat berbincang dengan bapak Elhaqi Effendi, orang tua dari Albert, mengenai sejarah perkembangan pertanian di Solok, sebelum ia dimekarkan menjadi tiga kabupaten atau kota.

Evaluasi tulisan sebelum melanjutkan riset lapangan

Kamis itu, sebelum turun ke lapangan, para partisipan menyiapkan catatan-catatannya. Tidak lupa sebelumnya, Albert selaku ketua fasiltator menyampaikan evaluasi tulisan para partisipan yang ditulis hari sebelumnya. Mulai dari cara penulisan, isu yang akan dikembangkan, dan data yang harus ditambah pada riset di lapangan nanti.

Rizaldi Rizky, memanfaatkan waktu di lapangannya untuk mengambil foto taman atau melakukan ‘sensus tanaman’, serta menemui ketua RT/RW setempat. Mecari data terkait kegiatan gotong royong warga maupun Dasa Wisma. Sementara itu, Joe Datuak melanjutkan risetnya mengenai proses perawatan pinang sampai memanen pinang dan proses pemanenan pinang. Lalu, Intan menyusuri rel kereta api dari Perpustakaan Nagari Kampung Jawa, sampai ke jembatan gantung yang ada di Galanggang Batuang. Tidak lupa pula ia sempatkan mewawancarai warga yang melakukan inisiatif untuk memanfaatkan lahan PT KAI yang sedang tidak berfungsi. Di lain tempat, Ogy Wisnu mencari demografi pengunjung Taman Bidadari yang ada di Kampung Jawa.

Pak Suardi saat memanggil ikan larangan di telaga pacuan kuda Apang Kualo

Pak Suardi saat memanggil ikan larangan di telaga pacuan kuda Apang Kualo

Sore harinya, setelah partisipan selesai riset kelapangan, para partisipan dan fasilitator bersih-bersih taman di halaman Galeri Gubuak Kopi. Mereka menanam beberapa tanaman yang diberi Pak Basri, salah seorang warga yang memiliki tanaman obat cukup lengkap, yang kebetulan menjadi salah satu narasumber Intan saat riset. Tanaman yang dibawa Intan diantaranya, jenis tanaman obat seperti bawang tiwai untuk obat kanker, dan juga tanaman yang bernama ‘seribu penyakit’. Sembari membenahi taman, tidak terasa waktu berbuka pun tiba.

Setelah berbuka puasa kegiatan dilanjutkan dengan ngobrol- ngobrol santai di halaman depan kantor Gubuak Kopi. Perbincangan kami tidak lepas dari cerita-cerita terkait pengalaman partisipan selama di lapangan. Zekalver dan Rizaldi Rizky, menceritakan keasikannya tadi siang bersama Bapak Suardi, Ketua Rt 01/ Rw 06 memberi makan ‘ikan larangan’ di sebuah telaga di tengah-tengah pacuan kuda Ampang Kualo. Bapak Suardi memberi ikan tersebut dengan Pelet, awalnya hanya beberapa ikan saja yang datang, lalu ia menepuk tangan berkali-kali, semacam kode berkumpul. Dan benar, kata Zaekal, ratusan ikan-ikan langsung berkerumun mendekati Pak Suardi.

Postingan Terkait

Volta Ahmad Jonneva (Kinari, 16 Mei 1995) adalah mahasiswa Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Saat ini aktif sebagai salah satu anggota Komunitas Gubuak Kopi. Sehari-harinya, ia juga aktif di Komunitas Seni Belanak, serta terlibat mengelola Layar Kampus, sebuah inisiatif ruang tonton alternatif di kampusnya. Tahun 2017, ia juga terlibat dalam open studio "Di Rantau Awak Se" oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *