Pahlawan Tikungan Maut

Profesi sederhananya bagi saya adalah suatu kegiatan intens untuk sesuatu yang bermanfaat bagi negara ataupun publik, baik itu dari azas saling ketergantungan, membantu orang lain, dan sebagainya. Profesi ini di antaranya, seperti bertani, berdagang, pegawai pemerintahan, pekerja sosial di lembaga nirbala, peniliti, penulis, relawan sosial, relawan kesehatan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Salah satu contoh yang sering saya temui dan menarik perhatian saya, adalah orang-orang yang mengatur lalu lintas di tikungan-tikungan tajam, di jalur lereng jalan lintas utama Solok-Padang. Sitinjau Laut, adalah lereng yang paling curam. Pekerjaan ini saya kira juga berbahaya bagi keselamatan mereka yang melakoni pekerjan tersebut, tapi tidak dipungkiri pula, apa yang mereka kerjakan sangat membantu keamanan banyak pengguna jalur tersebut.

Salah satu ‘relawan’ yang melakoni bidang ini adalah Buyuang. Menurutnya pekerjaan ini sangat membutuhkan kecermatan mata dan konsentrasi yang tinggi. Kalau kurang fokus maka bisa mengakibatkan kecelakaan, konflik antara pengguna jalanan, maupun kemacetan. Pekerjaan yang dilakoni Buyuang tersebut, kira-kira seperti ini: Ia akan memberi aba-aba untuk mobil yang datang dari atas, menunggu sebuah truk atau bus besar agar didahulukan untuk menyelsaikan pendakian ditikungan. Karena, kondisi jalan, dan beratnya muatan truk membuat truk ini sedikit lebih banyak memakan ruang jalan. Kalau tidak dibantu, sering kali truk akan kaget dengan kedatangan mobil dari atas, terhenti dan kemudian susah untuk naik kembali. Ketika itu terjadi tidak jarang terjadinya kecelakaan, truk yang mundur tanpa terkontrol masuk jurang, atau melindas kendaraan dibelakanganya, dan sebagainya.

Pekerjaan ini sudah di lakoni Buyuang baru beberapa tahun yang lalu, dia bisa mendapatkan uang dalam sehari kisaran Rp. 60.000 hingga Rp. 100.000. Kadang tidak hanya uang yang diberikan kepada Buyuang, ada yang meberinya makanan, buah-buahan dan rokok, dia tidak memaksa orang untuk memberinya imbalan, yang merasa kendaraanya tertolong dan seikhlasnya saja. Pekerjaan ini terorganisir cukup rapi. Ada pergantian pergantian tugas jaga. Satu titik biasanya terdiri dari 3 orang anggota. Per-orang bekerja 5-6 jam per hari. Pekerjaan ini pun sudah mendapat izin atau diakui oleh pihak Kepolisian dan pemuda sekitar. Para pelakon akan melapor dan meninggalkan KTP sebagai jaminan akan bekerja dengan baik. Lalu bertugaslah mereka sepanjang hari, secara bergantian, di jalanan nan lengang itu.

Beberapa waktu lalu, akun @solokmilikwarga me-repost beberapa gambar terkait aktivias ini, yang sebelumnya telah didokumentasikan netizen melalui akun media sosal masing-masing, diantaranya sebagai berikut:

From @rza_212 – Panorama sitinjaulauik #repost #sitinjaulauik #jalurlintassumatera – #solokmilikwarga

A post shared by solokmilikwarga (@solokmilikwarga) on


@solokmilikwarga: Program pendayagunaan hashtag #solokmilikwarga di media sosial. Program ini dikembangkan dalam rangka mengumpulkan image-image yang berhubungan dengan Solok, sebagai bagian dari penelitian untuk membaca perkembangan kota sekaligus untuk mengarsipkan peristiwa-peristiwa kontemporer yang terjadi. Secara khusus, hashtag ini akan difokuskan pada Instagram.

Muhammad Riski (Solok, 20 November 1995), adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *