Adu Kekuatan Koneksi Internet bersama Robby Ocktavian

Transkrip Live Talk LLD #3 – Robby Ocktavian

Senin, 21 September 2020 lalu, Veronica Putri Kirana berbincang-bincang dengan Robby Ocktavian seputar proses berkaryanya dalam rangkaian Lapuak-lapuak Dikajangi (LLD) #3. Sebuah proyek seni berbasis media yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam studi mengenai nilai-nilai tradisi di Sumatera Barat. Proyek ini melibatkan seniman muda dari dalam atau luar Sumatera Barat, untuk menemukan pandangan kritis dari generasi kini mengenai isu-isu tradisi dan modernitas yang terus berkembang. Artikel ini merupakan transkrip perbincangan Vero dan Robby di fitur siaran langsung instagram, teman-teman juga bisa menonton ulang obrolan di instagram @gubuakkopi. Beberapa kalimat diselaraskan sesuai kebutuhan bahasa teks, tanpa mengurangi esensi dari isi perbincangan.

Vero           :  Bisa diceritakan sedikit ngga robb, bagaimana awalnya bisa tergabung menjadi salah satu partisipan LLD #3?

Robby         :  Aku mengenal LLD dari LLD yang kedua, walaupun aku ngga terlibat tapi beberapa teman menjadi senimannya. Waktu aku di Jogja aku ditelepon Albert Rahman Putra (kurator project) terus diajakin untuk ikut LLD #3. Aku diceritakan sedikit abstraksi kuratorialnya, karena covid jadinya online. Padahal aku juga mau ke sana (Solok). hahaha.. Tapi, ya ngga apa-apa,seru ada ajakan untuk LLD. Yang jadi kendala adalah, kali ini kan online, sedangkan LLD merupakan suatu perhelatan yang dari awal sifatnya adalah residensi, berarti seharusnya aku yang terlibat bisa lebih mendalami Sumatera Barat khusunya Solok kemudian dipresentasikan.

Dari abstraksi yang aku tangkap adalah tentang silaturahmi, bagaimana silaturahmi di Solok dan kaitannya dengan Covid-19 atau situasi pandemi sekarang. Jadi dari kata kunci itu yang aku olah silaturahmi Solok. Jadi sepengetahuan aku saja, karena aku tidak berada di lokasi (Solok), dan Covid-19 membuat segala sesuatu banyak menjadi berjarak dan terbatas. Dan beberapa bulan terakhir aku banyak memproduksi karya-karya dalam bentuk video walaupun ada yang perfomance tapi itu sifatnya juga melibatkan video. Jadi untuk pertama kali terbesit walaupun belum tahu mau bikin apa, yaudah video aja. Waktu ditelpon, Albert juga kasih tahu waktu seleksi seniman, kalau Gubuak Kopi tertarik dengan karya-karya video performance aku di 69performance Club dan lainnya. Karena terbatas pengetahuan tentang Solok dan Sumatera Barat, tapi aku sedikit mengetahui dari kuartorial dan diskusi bersama teman-teman (Gubuak Kopi). Jadi aku ngerisetnya dari apa-apa yang pernah diproduksi oleh orang-orang Solok dan Sumatera Barat.

Screen Capture proses residensi karya “Kabar” (Robby Octavian, 2020)

Pernah kepikiran waktu itu sama aku adalah akan mengolah salah satu karya sastra. Karena setahu aku di Sumatera Barat itu banyak menghasilkan orang-orang hebat sastrawan, politikus, cendikiawan dan segala macam. Salah satu dari mereka ada cerpen yang ingin aku olah, dari cerpen  itu aku bisa mempelajari bagaimana orang-orang Sumatera Barat menanggapi silaturahmi, jadi aku minta ke Albert cerpen yang punya konten silaturahmi. Yang dikasih waktu itu cerpennya ‘’Tamu yang Datang di Hari Lebaran (AA  Navis, 1998)’’, karena konteksnya ada di tahun 90an masa-masa Orde Baru, pada saat itu komunikasi sangat terbatas dan aku membayangkan bagaimana seandainya internet sudah ada waktu itu. Karena di cerpen itu ada orangtua yang merindukan anak-anaknya yang sudah sukses di rantau, yang mana kondisi itu sangat mirip dengan kondisi saat ini yang dipaksa untuk berjarak. Beberapa karakter itu diceritakan bahwa tidak bisa berkunjung karena keterbatasan dana, kesibukkan masing-masing dan kepentingan lainnya.

Sebenarnya teknologi informasi diciptakan untuk memangkas jarak dan waktu, dan yang bisa memangkas itu adalah teknologi telepon. Karena telepon saat itu tidak bisa melihat ekspresi antara komunikan dan komunikator, kalau sekarang teknologi video call bisa menjadi alternafif yang paling relevan untuk bertatap muka. Dan saat inipun teknologi menjadi kebutuhan terdepan dibanding infrastruktur dan hambatan-hambatan. Itu yang aku olah buat presentasi dan yang aku bayangkan bagaimana teknologi informasi saat ini ada pada waktu itu. Dan saat ini seperti aku malas teleponan, aku katakan jaringan tidak stabil lalu apakah alasan itu juga dikatakan anak-anak yang di cerpen untuk menunda komunikasi bersama orang tuanya.

Robby              :  Hallo.. hallo.. Jelas ngga Vero?

Vero           :  Ya seperti Robby katakan tadi bahwa koneksi yang tidak stabil membuat keterbatasan kita berkomunikasi.

Robby              : Iya, Gitu vero. Hahaha…

Vero           :  Untuk karya teman-teman sebelumnya itu kan menggunakan Bahasa Minang, untuk Robby sendiri kenapa tidak menggunakan Bahasa Minang untuk judul karyanya? Hahaha..

Robby         :  Sebelumnya sempat kepikir untuk menggunakan Bahasa Minang, tapi aku kan gak tahu Bahasa Minang, jadi aku tanya sama Zekal, katanya ngga perlu pakai Bahasa Minang katanya. Jadi, kalau pakai Bahasa Indonesia, karya ini tetap relevan aku gunakan di mana saja nantinya. Sebetulnya karyaku juga tidak ada membicarakan Minang, walaupun Silahturahmi yang diangkat dipantik dari kultur Minang, tapi silahturahmi ini juga aku pakai dalam konteks masyarakat Indonesia. Jadi ketika ini dipresentasikan di luar helatan ini akan tetap relevan. Aku juga minta saran ke Albert untuk ngasih judul, bagaimana nantinya walaupun dipresentasikan di luar (LLD) masih ada bekas-bekas Lapuak-lapuak Dikajangi-nya. Ya, teman-teman Gubuak Kopi juga bilang kalau judulnya Bahasa Indonesia tidak apa-apa.

Vero           :  Bagaiamana sih pengalaman Robby saat residensi online yang bisa dibilang singkat ini?

Robby         :  Ya, kalau residensi yang bagaimana biasanya kan kita berinteraksi dengan teman-teman yang ada di Solok. Jadi karyaku ini bentuknya kolaborasi, jadi aku banyak melibatkan teman-teman yang dipertemukan oleh Gubuak Kopi untuk presentasi besok. Biar rasa residensinya ada aja. Hahaha… Karena ini juga berhubungan dengan online, bagaimana teman-teman yang ada di Solok juga bisa terhubung dengan yang di Medan, Samarinda, Jakarta, dan lain-lain. Jadi, ya, saling bersilaturahmilah di situ. Ya, buat aku ini residensinya terlalu singkat ya. Ya meskipun aku dihubungi Albert pertengahan Agustus kemarin (dua minggu sebelum kegiatan) dan akan dipresentasikan di bulan sekarang. Ya, karena residensinya online, jadi residensi yang home schooling. Tapi untuk bisa relate dengan kuratorial ya, aku tetap meriset Sumbar dan Solok.

Screen Capture, salah satu halaman partitur karya “Kabar” (Robby Ocktavian, 2020)

Vero           :  Apa sih temuan-temuan baru atau pengalaman baru Robby di LLD ini?

Robby         : Kalau pengalaman baru, aku jadi banyak berkolaborasi dengan teman-teman dari berbagai daerah dan juga ini interaksinya secara daring. Ada beberapa bagian ketika briefing yang harus diulang-ulang, karena berbeda ketika komunikasi berhadapan langsung, bisa kita lakukan dengan gerak tubuh atau dengan gambar-gambar. Ketika berinteraksi di grup whatsapp, itu kan teks banget ya, itu yang belum pernah aku lakukan. Karena, sebelumnya aku juga pernah beberapa kali mengeksplor keterlibatan internet dalam karyaku di Studio Hanafi, dan +62 Tour, tapi di sana belum ada mengeksplor hambatan-hambatan internet. Jadi pengalamannya di sini adalah itu.

Pada karya sekarang aku sengaja menampilkan teman-teman di satu ruangan pertemuan online, yang mana sudah cukup akrab di beberapa waktu terakhir ini, sudah cukup akrab di sebagian teman-teman itu di meeting online dan aku pertemukan di situ, sengaja untuk mengadu kekuatan koneksi internet. Karena ketika audio dan visual dihidupkan pasti beban koneksinya akan banyak, nah itu sebetulnya yang ingin aku olah.

Audience    :  Konteks kuratorialnya Sumbar, terus residensinya daring atau dirumah sendiri. Kurator/Gubuak Kopi kasih pengantar konteks lokasinya nggak? Kalau ada apakah itu menurut Robby cukup?

Robby         :  Ada, bukan lokasi, tapi tentang kultur Solok. Seperti ketika menantu datang ke mertua membawa bingkisan. Menariknya bingkisan yang diberikan pengunjung ke tuan rumah itu bisa jadi bahasa simbolik di silahturahmi. Dan apakah bingkisan tersebut adalah sesuatu yang instan atau diolah sendiri akan berbeda maknanya, nah, ini kan menarik. Awalnya, ini yang ingin aku olah, aku mencari-cari bahasa simbolik yang bisa digunakan di internet, namun kemudian akhirnya diputuskan menggunakan “bahasa manusia” yang udah jelas, tentang basa-basi. Sebelumnya aku mau pakai bahasa simbolik.

Di internet itu kan ada emoji, sekarang kan ada teman-teman yang merangkai emoji yang dirangkai menjadi sebuah kalimat, seperti kerja filem yang membuat montase. Dan sebetulnya aku tidak banyak waktu untuk mengeksplor bagaimana menghadirkan emoji ini secara signifikan di pertemuan online. Akhirnya aku mengubah dari eksplorasi hambatan internet ini setelah aku membaca cerpen A.A Navis walaupun di ceritanya tidak ada relevansinya dengan hambatan internet.

Audience    :  Terus kenapa tidak jadi?

Robby         :  Ya, aku belum sempat menemukan bagaimana menghadirkan simbol-simbol yang biasa di percakapan internet menjadi penting. Nah, aku belum menemukan itu.

Vero           :  Bagaimana dengan proses karyanya Robby apakah masih dalam pengerjaan atau sudah selesai?

Robby         :  Udah selesai, tapi aku ngerasa punya potensi lagi untuk dikembangkan dan dilanjutkan. Itu kenapa aku tadi tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Kalau pun dipresentasikan di luar helatan ini, masih tetap relevan.

Vero           :  Bagaimana karya Robby sebelumnya, dan karya sekarang apakah menggunakan metode-metode berbeda dalam pengerjaannya.?

Robby         :  Kalau dalam metode aku mencari inspirasi apa yang mau kerjain dalam karyanya. Sebetulnya dari hal-hal yang aku tahu, apa yang dekat, dan apa yang ada di lingkungan aku. Jadi terkiat karya online ini, karena beberapa waktu belakangan ini karena pertemuan online ini aku mengalami kejenuhan, ya, enaknya ketika rapat online itu kita bisa matikan video, terus kita bisa aja ngapa-ngapain, enaknya gitu sih. Itu beberapa contoh relevansi dengan motode aku berkarya. Kalau karya yang sebelumnya seperti di karya video aku yang dirilis di Galeri Nasional (2020), ketika aku mengelap kaca terus aku muncul di dalam TV. Itu karena pengalaman aku selama Covid kebanyakan menonton TV. Aku melihatnya tontonan di TV ini punya subjektivitas yang sangat kencang dari pemilik media yang menurut aku harus ‘’dibersihin’’. Terus ada beberapa karya bersama 69performans Club, aku keluar masuk rumah/ruangan itu juga dari pengalaman pribadi, selama Covid aku mondar-mandir gak jelas. Terus permasalahan estetika bagaimana eksekusinya itu referensi dari seni video, yang aku sendiri tertarik dengan seni video di beberapa tahun terakhir ini.

Audience    :  Kabar apa yang Robby harapkan dari Solok, jika residensinya di Solok?

Robby         :  Aku baru menginjak Pulau Sumatera itu, yang benar-benar aku merasakannya itu di tahun 2018 lalu. Eh atau 2019? 2019 awal mungkin. Sebelumnya kan aku mengetahuinya dari bacaan aja. Yang aku tahu  banyak gejolak, pemberotakan, cendikiawan, dan banyak permasalahan yang melahirkan orang-orang hebat. Dan aku ingin sekali merasakan tanah Sumatera. Sayang sekali aku tidak bisa ke Solok. Sebetulnya aku ingin merasakan atmosfir yang sama dirasakan yang orang Sumatera, menurut aku sih inspiratif. Terlepas dari gejolak-gejolak politik sosial. Karena orang Sumatera, baik itu orang Minang, orang Medan, dan lainnya, mereka tersebar di berbagai daerah dan bisa bertahan. Tidak hanya bertahan, sebagian besarnya sukses ya. Dan aku ingin merasakan gairah itu. Dan kalau di Solok, ya,tadi juga bilang, teman-teman di sana salah satu yang menginspirasi aku berkolektif. Aku ingin merasakan pengalaman berkolektif di sana bersama program-programnya.Ya, kalau ada kesempatan ke Solok, aku ingin dapat pengalaman bagaimana Gubuak Kopi merespon masyarakat di sekitar mereka, memetakan perilaku di sekitarnya, dan mengadaptasinya ke tempat aku.

Oh, ini ada Dahri Dahlan (menyapa salah seorang penonton). Ia adalah salah seorang dosen Sastra Indonesia di Samarinda. Saya juga sering berkegiatan dan berdiskusi dengan dia, soal sastra dan budaya.

Screen Capture Live Talk LLD #3 bersama Robby Octavian

Vero           :  Terus apa sih yang membedakan karya sekarang dengan karya Robby sebelumnya?

Robby         :  Ini karya yang benar-benar dipresentasikan secara online, sebelumnya ada, cuma penontonnya hadir langsung untuk menyaksikannya. Kalau karya sekarang, pnenontonya fisiknya ngga ada. Terus pada karya ini, aku juga melibatkan banyak orang. Sebelumnya juga ada, paling banyak dua orang, sebagai grup. Sedangkan yang ini, aku dan kolaborator meminta bantuan pada mereka sesuai dengan instruksiku.

Vero           :  Se Indonesia ya,?

Robby         :  Tadi maunya, iya.Tapi bisanya cuman setengah Indonesia, sampai Samarinda doang. Hahaha…

Audience    :  Bagaimana caranya Robby mengkomunikasikan idenya sama kolaborator, kan jauh-jauh. Terus dikasih paham dulu atau disuruh ikut-ikut aja dulu?

Robby         :  Awalnya aku kasih abstraksi karyaku ke kolaborator. Itu adalah abstraksi yang sama, yang aku kirim ke Gubuak Kopi. Kemudian aku juga kasih abstraksi kuratorial dari Gubuak Kopi tentang Lapuak-lapuak Dikajangi ini. Aku rasa dengan dua abstraksi itu sudah bisa ditangkap teman-teman. Terus juga aku berikan teknifikasinya seperti apa. Beberapa teman langsung menangkap, beberapa masih bingung. Dan kalau teman-teman masih bingung aku ajak simulasi, jadi seperti latihan. Dan dari awal aku bilang harusnya karya ini nggak rumit. Sepertinya semua sudah paham.

Vero           :  Terus dari kapan (proses) karya ini sudah dimulai?

Robby         :  Kan aku baru memutuskannya sekitar seminggu, ya. Karena minggu sebelumnya aku masih menimbang-nimbang bentuk presentasinya akan seperti apa. Awalnya kepikiran untuk mengirimkan apa yang sudah aku rekam saja. Tapi setelah menimbang, karena ini ngomongin jaringan, yaudah, aku putuskan ini live. Itu sekitar satu minggu. Tapi syukurlah, mereka (kolaborator/partisipan meeting) bisa langsung paham, dan terima kasih juga mereka sudah mau membantu.

Kamis malam (lima hari) lalu, aku baru mengumpulkan semuanya dalam satu grup Whatsapp. Tapi beberapa hari sebelumnya itu aku sudah menghubungi beberapa kelompok teman-teman. Sebelum satu kelompok dan kelompok yang lain tidak begitu saling mengenal. Satu kelompok ada di Jakarta, misalnya, satu di Solok, satu di Samarinda. Aku komunikasikan sama mereka bagaimana konsep dan cara kerjanya, dan aku satukan mereka di hari Kamis itu. Ya, sambil mereka bersilaturahmi. Di situ (Grup Whatsapp), aku perkenalkan mereka masing-masing.

Vero           :  Bagaimana nih menurut Robby, karya partisipan yang sudah dipresentasikan sebelumnya?

Robby         :  Beberapa karya yang menarik ya menurut aku, ada karyanya Theo Nugraha. Bentuk residensinya melibatkan teman-teman di Solok, untuk menangkap suara-suara yang mereka kenal. Karena waktu residensinya tidak terlalu panjang, jadi aku pikir Theo menyiasati bagaimana mengenali ruang dan lingkungannya. Kemudian ia mengajak teman-teman di Solok untuk merekamnya, ya, karena memang mereka yang lebih tahu lokasinya. Dan keterlibatan Theo adalah mengolahnya dengan mengkomposisinya sesuai subjektifitasnya dia. Entah di komposisinya itu ada filosofi tentang masyarakat Melayu atau tidak, tapi di situ dia mengkoposisi dari tangkapan-tangkapan yang diambil dari teman-teman di Solok. 

Dan itu juga sama dengan yang dilakukan oleh Ufik (Taufikurrahman/Kifu), melibatkan teman-teman dari Solok sebagai (partisipan kolaborasi), bernegosiasi dengan keaadaan yang jauh ini. Karena fisiknya Ufik kan tidak mengalami langsung apa itu Solok. Dan teman-teman ini diminta mengirimkan “barang-barang”, berupa foto benda yang mereka temukan. Nanti dipertemukan lagi oleh Ufik menjadi kolase. Praktek yang kurang lebih sama seperti Theo.

Sebenarnya Theo udah cukup sering juga melakukan ini. Ia juga pernah residensi Pasirputih (Lombok Utara) dia memetakan suara-suara sekitar. Tapi aku lupa apakah waktu itu ia mengkomposisinya atau tidak, tapi praktiknya kurang lebih sama.

Kalau aku, dari awal, aku ingin memusingkan diri sendiri untuk mencari sesuatu yang baru. Jadi, Theo mungkin karena waktu residensinya lebih singkat, jadi dia melakukan hal yang biasa dia lakukan, tapi, ya, menarik.

Kalau Ufik dalam presentasinya ada sesuatu yang baru dari sebelumnya. Karena sejauh aku kenal Ufik, ia kebanyakan melakukan produksi apa-apa, yang benar-benar dari dia sendiri. Sebagai seniman dia jarang juga melibatkan banyak orang di karyanya. Dia pernah berkolaborasi, tapi satu atau dua orang. Jadi menurutku praktiknya Ufik sekarang, dalam kekaryaan dia sendiri, ini jadi lebih segar.

Kalau Avant Garde Dewa Gugat, ide yang dia bawa tentang masker, komunikasi yang terbatas. Presentasinya, permainan soundart atau noise, ya, sama dengan apa yang dia lakukan sebelumnya. Jadi sebenarnya pemaparannya tentang komunikasi (selama berdiskusi dalam LLD), itu salah satu yang menginspirasi aku untuk membahas tentang keterbatasan teknologi dan jaringan komunikasi hari ini.

Vero           :  Bagaimana menurut Robby karya-karya yang muncul di Normal Baru ini? Kalau bagi Robby sendiri ada kendala, ngga?

Robby         :  Kendala produksi kali, ya. Ya,kita ditantang untuk menguasai ruang–ruang yang terbatas. Menjelajahi ruang virtual, menjadikannya signifikan untuk karya ini. Dan untuk produksi juga terbatas dalam kesiapan fisik, mental, dan juga dana. Kita benar-benar di dorong untuk memanfaatkan yang “terbatas”, untuk kita genggam secara utuh. Kalau internet di Indonesia, kan kita cenderung masih sebagai pengguna, apalagi aku.  Kalau penjelajah, kan kita bisa membuat ruang dan membagunnya. Ruang virtual itu mungkin terbagung dari kode-kode. Tantanganya menaklukan virtual, tapi tidak sekedar client. Sekarang ada isitilahnya, internet art. Ada yang membangun ruangnya, membangun interaksinya, sedang aku belum mampu membangun dari kode-kode itu. Jadi, mentalku untuk memasuki dunia virtual itu, masih dengan mental fisik. Seperti aku merespon jaringan yang tidak stabil itu kan masalah material juga, masalah fisik.

Vero           :  Terakhir, selain di LLD #3, lagi sibuk project apa? Atau mungkin ada kegiatan lain.

Robby         :  Oh, iya. Ada sih beberapa kegiatan, bersama kolektif Milisifilem dan Forum Lenteng. Nah.. menariknya, residensi daring ini kalau di ruang fisik, kita cuma bisa mengikuti satu reisendi saja, kan? Sedangkan sekarang ini sebenarnya aku sedang mengikuti tiga residensi online. Kan, secara fisik kita tidak bisa membagi diri di tiga tempat yang berbeda. Tapi internet memungkinkan kita untuk memasuki tiga ruang dalam satu waktu.

Vero           :  Kedepannya ada rencana apa? Project selanjutnya?

Robby         :  Ada beberapa project dengan Muarasuara, platform yang saya, Theo, dan satu kawan di Samarinda kembangkan. Kita merespon isu-isu bunyi. Kebetulan Theo dan kawan-kawan Samarinda, orang-orang yang aktif di seni bunyi, ada Faturrahman, ada Sarana, yang udah banyak terlibat di pentas-pentas seni bunyi di Asia Tenggara. Dan beberapa kawan juga pernah beberapa kali mempresentasikan karyanya di Eropa. Dalam proyek ini kami mencari tahu, apa itu seni bunyi. Karena selama ini kita melihat ini sebagai genre ya, yang datang dari luar. Sedangkan kita dari Samarinda berangkat dari Dayak dan Dayak Kutai.

Kita ingin mengskplor lagi, apa sih bunyi-bunyi Dayak, apa yang memantik mereka membuat alat musik Sampe’ dan alat musik lainnya, skala-skala yang mereka buat, dan irisannya terhadap pelaku musik kontemporer, baik itu eksperimental ataupun populer. Itu secara kolektif. Kalau secara pribadi, aku lagi mengulik-ulik video dan internet. Terutama internet. Karena menurutku yang paling kontemporer, atau yang berpeluang untuk di eksplore sekarang ini adalah internet. Apakah nanti aku akan terlibat membuat ruang dari kode-kode atau tidak, itu masih aku pertimbangkan. Kemaren kebetulan di Samarinda kita sempat bikin wokrshop coding itu. Ini bahasa yang cukup asing, jadi adaptasinya masih butuh waktu.

Vero           :  Bagaiamana buat presentasi besok?

Robby         :  Oh iya. Besok kita akan mempresentasikannya secara live, dari rumah masing-masing. Bisa disaksikan di halaman gubuakkopi.id/kabarkabar pukul 20.00 WIB

Vero           : Oke, terima kasih Robby atas bincang-bincangnya. Sampai ketemu di lain kesempatan, dan sukses buat presentasinya.

Robby         : Oke, terima kasih juga teman-teman semua.


Portofolio dan kuratorial project: Lapuak-lapuak Dikajangi #3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.