Ruang Alternatif Sinema

Teks ini merupakan tulisan pengantar dalam simposium yang bertajuk Ruang Apresiasi Alternatif dan Penontonnnya dalam rangkaian Andalas Film Exhibition – Denyut Baru yang digagas oleh Relair.

Untuk memberikan pandangan terkait ruang apresiasi alternatif, saya akan menjabarkannya melalui apa yang saya dan kawan-kawan di Komunitas Gubuak Kopi lakukan di bidang itu. Sejak tahun 2015, Komunitas Gubuak Kopi mengusung sebuah program studi kebudayaan melalui film dan studi film itu sendiri, yakni: Sinema Pojok.  

Sinema Pojok dikembangkan menjadi program regular berupa pengadaan aktivitas  dan ruang tontonan alternatif, dengan menanyangkan filem-filem dunia yang berkualitas. Dalam hal ini, adalah film yang dimaksud adalah film yang diakui secara kritik maupun penelitian. Beberapa di antaranya kita dapatkan melalui program DVD Untuk Semua (Forum Lenteng), dan melalui beberapa jaringan Komunitas Gubuak Kopi lainnya. Kegiatan ini dikelola oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam rangka studi media dan filem, serta mendiskusikan relevansinya dengan situasi terkini di lingkup local, di Solok.

Sinema Pojok pada awalnya hadir untuk merespon minimnya distribusi pengetahuan film di Sumatera Barat. Bahwasanya saya tidak pernah mendapatkan pengetahuan film atau pun sinema secara formal di Sumatera Barat ataupun di sekolah – sekolah. Sekalipun ada institusi – institusi kesenian, seperti ISI Padangpanjang yang mempunyai jurusan perfilman, tapi pemahaman tersebut tidak tersebar luas pada masyarakat, kemudian untuk sementara kita dapat melihat pemahanan aktivitas sinema yang dikembangkan oleh institusi ini masih terbatas, bahwa seolah – olah film itu hanya bermuara pada industri hiburan semata, serta prakteknya menunjukan arah untuk mendapatkan tempat di ruang – ruang tertentu, seperti bioskop. Kesimpulan ini kita tarik berdasarkan sejumlah riset kurikulum, melihat sejumlah karya, serta wawancara bersama beberapa pembuat filmnya. Dalam hal ini, Sinema Pojok menegaskan posisinya menggali pengetahuan di luar itu. Untuk itu selain sebagai studi kebudayaan melalui film Sinema Pojok juga berupaya mempelajar tentang film itu sendiri dan kaitan estetikanya dengan kebudayaan itu sendiri, budaya sinema, budaya lokal ataupun media.

Di sinilah kita melihat komunitas harus menentukan posisi. Komunitas dengan adalah wadah mengisi kekosongan tersebut. Di sinilah pentingnya komunitas pegiat film memberi alternatif, yakni industri pengetahuan sinema melalui penayangan dan diskusi. Namun pengertian alternatif dalam hal ini pun perlu dipertegas, bahwa yang menjadi alternatif adalah ketika komunitas diposisikan menjadi ruang studi. Institusi – institusi besar seperti kampus yang ada di Sumatera Barat dianggap belum bisa menjembatani pengetahuan sinema tersebut. Maka dari situ komunitas juga perlu menjadi alternatif, tapi alternatif disini bukan berarti kita memposisikan diri sebagai pilihan yang kedua. Karena dalam hal ini alternatif bukan berarti kita mengakui sinema yang lainnya sebagai pilihan utama. Atau dalam konteks ini, yang menjadi alternatif tersebut bukan Sinema Pojok, tapi posisinya mennggali pengetahuanlah yang kita sebut sebagai alternatif, karena Institusi formal atau pun kampus – kampus belum memberi edukasi sinema dengan baik.

Saat ini, banyak yang menyebut dirinya sebagai alternatif seolah – seolah mereka kalah pada arus utama, padahal di sisi lain pergerakan ini bisa dilihat sebagai pilihan saja. Maksudnya, biarpun hiburan yang dalam pengartian umum disebut arus utama, ataupun aktivisme atau tempat studi disebut sebagai alternatif padahal itu sama saja. Sekitar satu tahun terakhir sudah mulai banyak muncul komunitas – komunitas film yang melakukan penanyangan film ataupun produksi film, tapi sayangnya masih banyak yang memposisikan komunitas sebagai batu loncatan untuk jenjang menuju industri yang lebih besar atau jenjang untuk dilirik oleh komunitas – komunitas yang berada di pusat, idealnya kita juga perlu membangun di daerah. Jika diposisikan seperti itu, ketika salah satu tokoh dari komunitas tersebut dipanggil untuk ke Ibu Kota  akhirnya komunitas tersebut mati dan iklim perfilman di Sumatera Barat pun jadi semakin lamban untuk maju. Jadi penting bagaimana memposisikan komunitas ini tidak hanya sebagai batu loncatan. Untuk itu komunitas pegiat film perlu menyusun program, menyesuaikannya dengan situasi lokal, dan strategi – strategi untuk jangka panjang.

Sinema Pojok dalam hal ini melepaskan pengertian apakah mengembangkan film sebagai studi kebudayaan ataupun industri hiburan, tetapi melihat dua hal ini telah hadir di Sumatera Barat, dan saya kira penting untuk mengimbangi sikap kritis tentang film itu sendiri maupun kebudayaan film.

 

___________

foto: dokumentasi AFE

Postingan Terkait

Delva Rahman (Solok, 29 April 1993) adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam loakarya literasi media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan "Perempuan Membaca Kartini" karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *