Dinamika Kultur Tani

Sore itu, setelah melihat beberapa aktivitas pertanian di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, saya kembali ke kantor Gubuak Kopi. Di sana telah duduk Bapak Elhaqki Effendi. Ia hadir untuk membagi memberi kami sedikit materi dan berbagi pembacaannya tentang perkembangan pertanian di Solok. Sebelumnya, memang kami sudah mengundang beliau untuk mengisi diskusi kali ini, dan Jumat ini adalah hari yang tepat. Bapak Elhaqki atau yang akrab disapa Pak El adalah pernah bekerja di Dinas Pertanian sejak tahun 1976, dan sempat pindah ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan, lalu pada 2015 ia pensiun sebagai pegawai Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Ini bukan perjalanan yang pendek untuk diceritakan, lebih kurang 29 tahun beliau menggeluti pekerjaan tersebut. Sempat belajar di sekolah kejuruan pertanian waktu itu bernama Sekolah Pertanian Menengah Pertama (SPMP) setara SMP, dan dilanjutkan di Sekolah Pertanian Menengah Akhir (SPMA) setara SMA. Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia pertanian. Setamat SPMA ia lanjut mendalami pertanian di akademi khusus pertanian. Sembari bekerja di pemerintahan, Pak El juga gemar mendokumentasikan kegiatannya melalui fotografi. Selain itu, ia juga sempat berkerja sambilan sebagai kontributor tulisan terkait pertanian dan kehutanan untuk beberapa media. Selain itu di beberapa daerah ia juga biasa dipanggil mantari (mantri) dan Panji Alam. Waktu itu, di kediamannya kita mendapat kesempatan untuk melihat beberapa koleksi arsipnya, dan beberapa dipinjamkan untuk kita teliti di Gubuak Kopi.

Kuliah bersama Bapak Elhaqki Effendi. Foto: Daur Subur-Gubuak Kopi, 2017

Sore itu Pak El mengawalinya dengan penjabaran situasi pertanian pada zaman Orde Lama dan masa transisi ke Orde Baru. Waktu itu padi diproduksi hanya satu sekali setahun, irigrasi pun yang belum maksimal, begitu juga dengan alat bajak atau peralatan lainnya yang belum memadai. Indonesia saat itu masih membeli beras ke Thailand untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat se Indonesia. Bahkan, waktu itu beberapa masyarakat kita yang makan nasi dicampur dengan jagung. Sekitar tahun 1970-an barulah masuk berbagai teknologi yang memadai untuk menunjang sektor pertanian. Pada masa ini, program-program pemerintah berfokus pada peningkatan produksi, sebelum berfokus pada peningkatan keuntungan. Kalau, biasanya padi dipanen satu kali setahun, saat itu secara perlahan ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali setahun. Mesin bajak yang memadai dan sistem irigrasi yang baik, kemudian mendorong peningkatan produksi masyarakat, hingga mencapai swasembada.

Sementara giatnya usaha peningkatan produksi pertanian, di akhir tahun 60-an hingga tahun 70-an pemerintah merancang Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang kemudian memunculkan program-program seperti Panca Usaha dan lima sektor teknis untuk peningkatan produksi pangan. Di antaranya muncul Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) yang waktu itu berfokus pada pemunculan bibit pangan baru, lalu ada Pertani, kemudian di bidang perbangkan mencul BRI Unit Desa, kemudian kegiatan Bimbingan Massal (BIMAS), yang pertama Koperasi Unit Desa (KUD) untuk pengadaan sarana, dan dari pihak dinas muncul program Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL). Dan masih banyak program lainnya.

Saat ini, program terbaru dari Dinas Pertanian yang masih kita tunggu dampaknya yaitu Pertanian Salibu. Ini sebenarnya sudah pernah dilakukan pada beberapa puluh tahun sebelumnya, berganti, dan kemudian dikembangkan lagi. Teknisnya, padi yang sudah dipanen atau dipotong dibiarkan tumbuh lagi dengan cara memberi pupuk secara teratur. Pak El baru saja tahu tentang pemberlakukan program ini dari kabar Whatsapp salah seorang mantan anggotanya yang saat ini bekerja di Dinas Pertanian, Kabupaten Solok. Program ini baru diterapkan pada daerah Saok Laweh, dan masih dalam tahap percobaan. Kita masih menunggu hasil dari percobaan Dinas Pertanian ini.

Sebelum masuknya teknologi yang serba mesin dan pestisida, masyarakat di Solok, dahulunya masih menjaga pertaniannya serta mengusir hama, dengan cara-cara tradisional, contohnya, Biasaya para petani mengambil darah sapi dan dioleskan ke ujung daun yang berada di sekitar ladang tersebut, agar kandiak (babi) tidak masuk ke ladang, memelihara burung hantu, itik, ular. Atau bisa juga dengan membakar rambut yang biasanya diambil dari sisa tukang cukur. Rambut yang dibakar tersebut mengeluarkan bau yang tidak disukai kandiak tadi. Lalu, untuk mengusir hama seperti pianggang(walang sangit) biasanya para petani akan menuliskan beberapa ‘kalimat arab’ semacam doa di daun kelapa. Cara-cara tradisional ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat pertanian itu sendiri, yang terus berkembang dari ekspermen dan pengalaman-pengalaman.

Sekarang ini kepercayaan seperti itu sudah sangat jarang kita temui, karena masyarakat telah diarahkan untuk menggunakan pestisida atau racun untuk mengusir hama. Tapi cara-cara terbaru ini, tidak jarang pula bisa berdampak negatif bagi kesehatan kalau pemakaian yang salah dan berlebihan. Pak El juga menceritan, di Nagari Kubang Duo pernah racun ini membunuh babi, yang kemudian babi itu hanyut dan membusuk di sungai. Alhasil, sungai tercemar, warga yang minum air dari sungai tersebut terkena penyakit begitu pula ikan-ikan yang berada di sekitar sana. Bahkan tidak jarang racun hama ini digunakan orang-orang yang depresi untuk bunuh diri.

Waktu itu kuliah rasanya begitu singkat, masih banyak narasi-narasi terkait pertanian masa lampau yang menarik untuk dibaca kembali. Jumat 16 Juni 2017, saya dan Kak Depa menemui Pak El di kediamannya untuk melengkapi catatan saya  dan menyambung diskusi. Terakhir, selain persoalan kebijakan, kearifan lokal, Pak El sempat menyingung beberapa poin terkait kebutuhan dasar manusia yang turut membentuk menekankan posisi pertanian sekarang.

Setidaknya ada delapan poin kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya untuk membaca kultur pertanian ini, pertama yaitu, persoalan pangan. Sama-sama kita ketahui setiap manusia yang lahir di bumi pasti membutuhkan pangan, kalau kita pertajam pangan ini adalah makan. Manusia yang lahir pasti akan membutuhkan makan untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau kita analisis dari segi pertanian, sediet-dietnya manusia makan satu setengah kilogram per-hari, Sedangkan masa panen itu 120 hari, dikali setengah kilogram berarti 60 kg. Jadi manusia wajib makan 60 kg per orang untuk satu periode tanam, kalau di rumah itu ada lima orang, maka persediaan berasnya harus 300 kg untuk satu periode panen.

Kalau itu sudah cukup maka sumber pangan kita terpenuhi, seandainya kebutuhan pangan tidah terpenuhi, maka kita harus mendatangkan sumber pangan dari lintas Provinsi. Ini diperankan oleh Badan Urusan Logistik (BULOG), badan yang dibentuk oleh pemerintah untuk menjamin ketersediaan beras bagi masyarakat. Ada cara menghitung atau menebak hasil panen dengan teknik UBIN, semacam tebak hasil pada hitungan rata-rata atau presentase. Teknik ini mendekati kebenaran hasil panen. Percobaannya dengan menanam padi dengan diameter 2,5 meter masing-masing sisi. Setelah panen kita timbang dan kita dapatkan hasilnya dengan perkalian yang telah diperhitungkan. Contoh, luas sawah di Koto Baru 1.000 hektar, dengan hasil panen 4.000 kilogram dikali 1.000 hektar sawah maka hasilnya 40.000 ton beras. Jadi kira-kira sebanyak itulah hasil padi yang ada di Koto Baru.

Dalam hitungan produksi jangka panjang dalam pandangan pemerintah maka kita harus tingkatkan produksi padi. Seperti yang dimbarkan Pak El, beberapa prioritas dan hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara memberi pupuk yang teratur, mengganti dengan benih yang bagus, pengolahan tanah harus baik, kalau dari segi hama, kita memakai Burung Hantu untuk mengendalikan tikus, supaya jangan membunuh tikus dengan cara pemakaian Pestisida. Kalau dari segi perairan, kita datangkan Pekerjaan Umum (PU), untuk melancarkan irigasi ke sawah-sawah dan memperbaiki parit yang debit airnya kurang. Kalau sumber airnya kurang, kita lihat pula penyebabnya. Sumber air utama yang kita harapkan berkaitan dengan keberadaan hutan. Pak El memberi gambaran, kalau Air danau itu datangnya dari sekitar bukit di sekeliling danau, di sekeliling danau itu pohon tidak ada lagi, atau sudah gundul. Kalau terjadi hujan maka air lansung permukaan ke tanah hanya sedikit yang diserap oleh tanah, dan air mengalir ke tempat yang rendah, maka terjadilah banjir atau air bah. Kalau ada pohon, air akan diserap oleh akarnya semakin besar pohonnya maka semakin banyak air yang diserapnya. Kalau terjadi kemarau, maka air ini akan dilepaskan melalui mata-mata air yang ada di sekeliling danau tersebut. Tapi nyatanya pohon-pohon di tepi hulu ini ditebangi untuk kepentingan semata dan tidak memikirkan dampaknya, tak heran kita terjadinya tradisi baru: banjir tahunan Batang Lembang di Solok.

Melihat koleksi arsip foto Bapak Elhaqki Effendi. Foto: Daur Subur-Gubuak Kopi, 2017

Melihat koleksi arsip foto Bapak Elhaqki Effendi. Foto: Daur Subur-Gubuak Kopi, 2017

Kebutuhan yang kedua yaitu, papan. Salah satu wujudnya adalah rumah. Setelah manusia lahir dan tumbuh dalam tuntutan sekarang, maka manusia ia membutukan perlindungan, dari angin, hujan, panas matahari dan lainnya. Sudah seperti konstruksi yang ideal dari seorang manusia kalau mereka harus memiliki rumah. Baik itu karena kebutuan dasar maupun demi status sosial. Sekarang banyak jenis rumah yang menggunakan bahan selain kayu untuk membangun rumahnya. Dahulu rumah masih dibuat dari bahan kayu, saat persedian pohon masih banyak, jumlah penduduk masih sedikit. Sekarang seiring pertumbuhan manusia dan pertambahan penduduk untuk memenuhi kebutuhan papan seperti tadi, maka hutan ditebang untuk bahan pembuatan rumah, dan perluasan lahan pemukiman. Penebangan hutan secara liar (ilegal loging) pun marak. Lalu, untuk kita di Sumatera Barat, rumah itu memerlukan tanah dan halaman, maka terpakailah lahan pertanian yang produktif untuk membangun rumah tersebut. Tapi seiring perkembangannya, sekarang sudah ada upaya menggantikan kayu, dengan pemakaian besi baja ringan untuk skor atap rumah, dan tembok sebagai dinding rumah. Semuanya adalah kebutuhan, tinggal bagaimana kita bisa tetap bijak dengan alam, agar sumber dayanya tetap lestari.

Ketiga adalah kebutuhan sandang. Misalnya pakaian, ia juga memerlukan lahan, contohnya, pakaian dulu orang memakai benang yang dihasilkan dari pohon kapas, kapas ini memerlukan lahan, produksi kapas ini juga memakai lahan pertanian. Sekarang sudah banyak pakaian yang terbuat dari bahan sintetis. Layaknya seorang manusia normal pasti memerlukan pakaian, bahkan ini dianggap sebaga ukuran status sosal bagi beberapa orang.

Keempat adalah kebutuhan pendidikan. Sepert yang sebutkan Pak El, agama pun memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, ada hadist nabi mengatakan “tuntulah ilmu dari ayunan sampai liang lahat” dan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Ini memberi bukti bahwa pendidikan itu adalah proritas bagi kehidupan kita, begitu pula bagi agama lain maupun orang-orang yang tidak beragama. Dulu semasa Pak El remaja rata-rata pendidikan masyarakat hanya Sekolah Menengah Pertama (SMP), lalu bertani, seiring perkembangan zaman naik menjadi minimal Sekolah Menengah Atas (SMA), sedikit sekali yang berani untuk sarjana. Untuk kuliah dan mencapai sarjana kita pasti memerlukan banyak uang, kita ambil contoh di daerah Koto Baru, rata-rata penghasilan  orang Koto Baru dari sawah, sedangkan sawah yang produktif sudah dipakai untuk pembangunan rumah, jadi untuk mencapai pendidikan yang tinggi atau sarjana bahkan doktor di daerah Koto Baru, bersumber dari padi. Sementara setelah kuliah tuntutannya adalah bekerja, dalam era sebelum sekarang kebanyakan orang d kampung berfikir, setelah tamat SMA mending langsung bekerja dan bertani. Maka tidak heran banyak orang mengaggap perkejaan bertan sebagai pekerjaan rendah, belum lagi prespetif media arus utama kita yang sering memposisikan petani sebagai ‘profesi yang dikasihani’. Sekarang kita memerlukan akademisi-akademisi untuk memkirkan bagaimana aktivitas pertanian tetap sejahtera.

Berikutnya adalah pekerjaan. Untuk memenuhi kebutuhan yang pertama tadi, manusia dituntut untuk bekerja untuk mendapatkan uang, sedangkan kalau tidak punya uang, tidak bisa makan. Ada pameo Minang menyebutkan, “dari pado cakak jo kalang-kalang, bialah cakak jo urang” (dari pada berkelahi dengan perut, biarlah berkelahi dengan orang). Dalam situasi sekarang, pekerjaan menjadi hal pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, sandang dan banyak lainnya. Yang bahayanya lagi, orang yang mempunyai pendidikan tapi tidak memiliki pekerjaan. Contohnya, orang yang membobol Bank, karena dia bisa ilmu komputer tapi tidak memiliki pekerjaan, dia melakukan hal itu untuk memenuhi kebutuhannya, yang disebut masalah sosial.

Lalu kebutuhan akan Kesehatan, kalau kesehatan ini tidak terpenuhi, maka akan menjadi beban orang lain. Contohnya, seseorang yang tidak terpenuhi kesehatannya, maka akan sakit. Ada pribahasa mengatakan “pemikiran yang sehat berada di atas tubuh yang sehat”. Kalau sakit, dia tidak bisa melakukan pekerjaan, jadi dia harus sehat untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau ilmunya hebat, uangnya banyak, tapi dia tidak sehat, akan sia-sia saja.

Setelah kesehatan, berikutnya adalah keamanan. Kalau pekerjaan sudah ada, pendidikan sudah tinggi dan memiliki kekayaan yang banyak, dia harus memiliki keamanan supaya kehidupannya aman dari ancaman. Kalau keamanan ini terganggu, maka akan mempengaruhi aktifitas yang lain. Contoh, ada kejadian huru-hara di sekitar rumah, ini bisa menghambat mereka untuk pergi ke sekolah, bekerja dan melakukan aktifitas sehari-hari. Seperti khasus perang di Palestina, kemananya tidak menjamin kehidupan orang-orang di sana, tempat itu sedang bergejolaknya perang, dan aktifitas terbatas selalu merasa waspada setiap saat. Jadi keamanan ini sangat penting untuk melakukan aktifisas sehari-hari. Dan tugas negara wajib menjamin keamanan rakyatnya.

Dan terakhir kebutuhan pokok manusia itu, dalam konteks kita Sumatera adalah Agama. ini juga sangat penting, menyangkut dan mengatur hidup manusia. Kalau manusia tidak ada yang ditakutinya, dan hukum yang akan mengatur, maka dia akan menjadi manusia yang akan mengganggu keamanan orang lain. Karena tidak ada yang mengaturnya dan tidak ada yang ditakutinya. Ini menyangkut masalah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan tuhan.

Ada banyak kesalingkaitan yang berasal dari kebutuhan manusia yang turut membentuk kita hari ini. Sore itu kami membawa pulang beberapa pemikiran yang harus kita sadari lebih dalam, terutama untuk membaca perkembangan pertanian dan kebudayaannya.***

 

Postingan Terkait

Muhammad Riski (Solok, 20 November 1995), adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *