Merespon Jalanan Kita

Tidak lama lagi, ada dua agenda yang membuat kita akan menyoroti situasi fisik lalu lintas di Sumatera Barat, dan tidak terkecuali Solok. Dua agenda yang saya maksud yang pertama adalah ramadhan dan lebaran, dan yang kedua adalah Tour de Singkarak. Di lalu lintas Solok-Padang, kita masih melihat beberapa titik longsor dan lubang yang dibiarkan dengan garis polisi saja. Di jalan Solok-Padangpanjang, jalanan bergelombang belum juga teratasi, beberapa sudah dimulai diperbaiki. Untuk sementara dibiarkan berlobang hingga nanti ditambal aspal, tanpa plang pemeritahuan, tidak jarang kendaraan kita tersentak. Para pembayar pajak yang baik tidak jarang hanya bisa bacaruik-caruik menyaksikan ban-nya yang kempes, pelek menjadi baliang, maupun dan kerusakan fisik kendaraan lainnya. Beberapa kita pengguna lalu lintas yang awam, tidak jarang memasalahkan cara pemerintah itu. Ya, sering kali meluapkannya di media sosial. Baik itu melemparkan pertanyaan-pertanyaan, kenapa harus tunggu Tour de Singkarak dan ramadhan dulu? kenapa tunggu jalan putus dulu? kenapa tidak pakai kualitas aspal terbaik saja yang tahan puluhan tahun?

Lelucon ini jadi semakin ramai digunjingkan, baik itu di bangku diskusi pinggir jalan, di kedai-kedai kopi, dan sebagainya. Apa lagi semenjak di media sosial viral soal Jepang yang berhasil memperbaiki jalan yang runtuh parah dalam dua hari saja. Di sini, beberapa warga juga mersopon persoalan lalu lintas dengan sangat performatif, ada juga yang mengatasinya bersama-sama, ada yang meresponnya dengan merekam, dan sebagainya. Ada banyak foto sebenarnya yang merekam kondisi fisik jalanan kita, antar kota maupun antar desa, di antaranya saya memilih tujuh foto yang diunggah oleh para pengguna media sosial instagram, dan di repost oleh akun @solokmilikwarga:

 

Paninggahan. . From @ririnnovia0811 – Semangat uda fadli. 30 Desember 2016 . . #paninggahan #solokmilikwarga #singkarak

A post shared by solokmilikwarga (@solokmilikwarga) on


@solokmilikwarga: Program pendayagunaan hashtag #solokmilikwarga di media sosial. Program ini dikembangkan dalam rangka mengumpulkan image-image yang berhubungan dengan Solok, sebagai bagian dari penelitian untuk membaca perkembangan kota sekaligus untuk mengarsipkan peristiwa-peristiwa kontemporer yang terjadi. Secara khusus, hashtag ini akan difokuskan pada Instagram.

Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *