Tag Archives: Buruh

Katalog Moods of May

*Moods of May, adalah sebuah rangkaian pagelaran seni oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam memperingati hari buruh nasional. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 05-07 Mei 2016 ini respon atas minimnya pemberitaan mendalam media terkait isu mengenai buruh di Sumatra Barat. Pemberitaan yang menim tersebut membuat publik masih bergantung dan tekatung dalam konstruksi menganai buruh dan peringatan hari buruh; pembangkangan, penolakan, dan penindasan. Kegiatan ini dihantar oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam agenda “menolak kontruksi media: menjadikan seni sebagai media” dengan tujuan utama mengajak warga dan seniman profesional memperkenalkan seni sebagai media bagi setiap persoalan dan spirasi disekitar mereka.

Direktur Kegiatan: Muhammad Riski.
Kurator Pameran: Fadlan Fahrozi //

Download Katalog “Moods of May” Gubuakkopi

Downoad Pengantar Ketua Organisasi Gubuakkopi (Albert Rahman Putra)

Download Pengantar Kurator Undangan (Fadlan Farozi)

Postingan Terkait

MENOLAK KONSTRUKSI MEDIA

*Artikel ini diperuntukkan sebagai pengantar Pagelaran Seni Moods of May selaku Ketua Komunitas Gubuak Kopi,serta pengantar diskusi seni Kelas Warga.

Di sebuah pertualangan, di tengah rimba raya, saya ingat seorang teman yang bertanya heran, “kenapa tiba-tiba rimba ini menjadi diam?” seorang teman lainnya yang baru saja sadar, meloncat dan melihat sekitar. “predator”, begitu tegasnya, tak lama seekor ular besar lewat. Ia terus melintas dihadapan kami dengan seekor tikus besar di mulutnya, pergi, dan menghilang. Rimba kembali bernyanyi. Pengalaman ini mengingatkan saya pada narasi mengenai Orde Baru, ketika kemegahan pembangungan, sepinya hiruk-pikuk rakyat kecil, ataupun kestabilan sebuah Negara bersemi karena mereka yang kecil ketakutan. Mungkin banyak sebab, tekanan, tidak ada suara, takut atau merasa percuma berteriak. Awalnya, saya tidak tahu persis apa yang terjadi pada rezim itu, saya belum terlalu dewasa untuk memahami apa yang yang tertulis “di buku sejarah sekolahan”. Belakangan baru saya menemukan banyak literature mengenai itu. Laporan KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) setidaknya menyebutkan Soeharto bertanggung jawab atas pembunuhan masal (1965), penggusuraan, manipulasi sejarah, pembredelan media, korup, dan banyak lainnya. Sebuah kekuatan besar, yang membuat takut banyak orang untuk menolak, demikian saya memahaminya. Continue reading

Postingan Terkait

MERENUNGKAN JEJAK KAPITALISME

Dalam perhelatan “Moods of May”, Komunitas Gubuak Kopi mengundang Fadlan Fahrozi, salah seorang kurator muda Padang, untuk mengkurasi pameran seni rupa yang beraitan dengan isu buruh. Berikut pengantar dari kurator, silahkan dibaca: 

Pengantar Kurator: Pameran “Moods of May”*

MERENUNGKAN JEJAK KAPITALISME**

Oleh: Fadlan Fahrozi***

Asalamualaikum Wr.wb

Semangat budaya!

Penetapan 1 Mei sebagai hari buruh dunia diawali dengan berbagai rentetan aksi perjuangan kelas pekerja di dunia sebagai bentuk pemberontakan terhadap kapitalisme industri yang mewarnai kondisi ekonomi-politik pada awal abad ke-19. Perjuangan kelas pekerja yang pertama dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers yang melakukan mogok kerja untuk menuntut penurunan jam kerja. Aksi perjuangan hak buruh selanjutnya dilakukan di berbagai belahan dunia (yang dipelopori oleh Peter Mc Guire dan Matthew Maguire) dengan gerakan-gerakan terorganisir, yang pada intinya menuntut kenaikan upah dan penurunan jam kerja. Pada tahun 1886, Federation of Organized Trades and Labor Unions menetapkan 1 Mei sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia. Tanggal 1 Mei dipilih karena  terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, yang menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat. Selain untuk memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, peringatan ini juga memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Continue reading

Postingan Terkait

Gubuak Kopi: Apa Kabar Buruh

Komunitas Gubuak Kopi Gelar Pagelaran Seni Memperingati Hari Buruh Dunia

dilansir dari minangsedunia.net – Pada tanggal 05 hingga 07 Mei 2016 mendatang, Kolompok studi seni dan media, Gubuakkopi akan menggelar serangkaian kegiatan seni yang mengajak kita melihat dan mengenal situasi buruh di Sumatra Barat. Kegiatan yang berjudul Moods of May ini akan berlangsung di Gallery dan Taman Belajar Gubuakkopi, di Jalan Yos Sudarso, 427, Kelurahan Kampung Jawa, Solok. Diantaranya penghadirkan, pameran seni rupa, penayangan filem, dan pertunjukan. Continue reading

Postingan Terkait

“MOODS OF MAY” PAGELARAN SENI SPESIAL HARI BURUH

Pagelaran Seni Spesial Hari Buruh Internasional

Dalam rangka memperingati Hari Buruh pada 01 Mei mendatang, Komunitas Gubuak Kopi mengajak teman-teman: warga, aktivis, dan seniman berpatisipasi untuk membaca persoalan terkait keadaan buruh disekitar kita, dengan segala kemungkinan prespektif untuk dituangkan dalam berkesenian. Tujuanya sederhana, dukungan untuk buruh yang sejahtera. Tentu ouput dari kegiatan ini bukanlah hal-hal yang bersifat finansial, melainkan sebuah dukungan dan pernyataan tegas bahwa kita berdiri bersama untuk keadilan warga, terutama buruh.

Mari berpartisipasi dengan mengusulkan karya anda dengan tema terkait pembacaan dan dukungan keadilan terhadap Buruh, khususnya di Sumatra Barat.


 

Latar Belakang

Praktek berkesenian di Indonesia hadir dalam beragam dimensi ruang, waktu, dan konteks. Kadang ia membatasi diri dari komunitas di luar mereka, kadang mereka melebur dengan segala elemen di sekitar mereka. Kita sebagai “warga biasa” pernah merasa minder memasuki ruang pameran, atau komplek Taman Budaya, yang seakan kita tidak akan mampu ikut campur di dalamnya, membaca bahasa visual “para seniman besar” yang begitu metaforis dan sebagainya. Beberapa juga kita temukn di perhelatan musik, tari teater, dan sebagainnya. Baik itu seni-seni tradisi, klasik, modern, kontemporer, dan seterusnya yang dipahami masyarakat sebagai ‘misteri’.

Komunitas Gubuak Kopi, sebagai salah kelompok studi yang berfokus pada pengembangan pengetahuan/literasi seni dan media, berupaya mendekatkan seni pada setiap kalangan masyarakat. Melebur batas-batas konvensional yang membuat seni terpisah dari masyarakat atau komunitas lain di sekitarnya. Hal tersebut telah diaktualkan sejak tahun 2011, dengan menghadirkan beragam praktek berkesenian yang terbuka untuk setiap lapisan masyarakat, bahkan melibatkan masyrakat itu sendiri. Seni, kita perkenalkan tidak mentok untuk dikonsumsi orang-orang sekolah seni, ataupun kritikus saja, melainkan juga milik warga. Seni, kita perkenalkan sebagai media bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap ‘media massa’ – yang banyak diantaranya hanya menyuarakan kepentingan pemilik modal.

Pada tahun 2016 ini, adalah kali pertama Komunitas Gubuak Kopi, mengagendakan sebuah rangkaian pagelaran seni peringatan Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 01 Mei. Agenda ini merupakan respon ataupun perayaan atas minimnya praktek berkesenian yang bergaul dikalangan ini. Kita tidak tahu persis, minimnya pemberitaan media mengenai buruh di Sumatra Barat adalah petanda sesuatu yang baik-baik saja, keterbatasan dalam beraspirasi, atau hal lain. Kali ini, masyarakatlah yang akan menjawabnya. Kita mengajak warga, termasuk seniman, sastrawan, aktivis, dan buruh itu sendiri untuk mengumpulkan karya mereka, sebagai “pembacaan” atas situasi buruh di sekitar mereka.


sampul katalog 1

Poster design: Sandy

PAMERAN, KURASI FILM, PERTUNJUKAN dan DISKUSI.

Dengan Rincian Sebagai Berikut:

  • Pameran: memamerkan karya seni lukis, fotografi, pahat, patung, dan sebagainnya. Karya yang masuk dikurasi berdasarkan kesesuian tema. Pameran yang akan berlangsung selama tiga hari ini, akan diiringi dengan kegiatan lainnya, yakni: Pembagian Katalog, Dikusi Seni: Pengatar oleh Kurator dan Presentasi Pengkarya.
  • Kurasi Film: Komunitas Gubuak Kopi melalui program Sinema Pojok akan menayangkan pilihan film yang dianggap menarik sebagai pengantar persoalan buruh dunia dan diiringi dengan agenda diskusi.
  • Kurasi Pertunjukan: kita mengajak para pegiat seni pertunjukan untuk mempresentasikan sebuah karya yang mampu mewakil tema kegiatan. Kita menyediakan empat pertunjukan untuk diisi oleh setiap partisipan.
  • Diskusi Seni: persentasi tema kegiatan dihadapan publik, dalam agenda mengembangkan pengetahuan seni sebagai bagian dari setiap lapisan masyarakat.

Kontribusi dan Karya dapat berupa:
A. Seni Pertunjukan:
– peformance art
– tari kontemporer
– monolog
– Pembacaan Puisi
– Pantomime


*durasi karya maksimal 15 menit, berkaitan dengan tema: pembacaan mengenai situasi buruh di sekitar kita.
*silahkan kirimkan konsep, deskripsi, atau naskah melalui email gubuakkopi@gmail.com dengan Subjek “Moods of May” (termasuk kebutuhan perlengkapan). 
*karya yang memungkinkan untuk tampil adalah karya yang dianggap mewakili tema kurasi dan dihubungi panitia paling lambat seminggu sebelum acara.

B. Pameran/seni rupa 
– Foografi
– video art
– lukis
– grafis
– patung
– instalasi
– dll
*karya yang dikirimkan adalah karya yang siap untuk dipajang (sudah dibingkai), dikirimkan ke Gallery Gubuakkopi disertai donasi minimal 20K IDR. Setiap pengirim berhak mendapatkan tanda terima.
*karya yang akan dipamerankan diseleksi oleh kurator. Karya yang dipajang ataupun tidak dipajang akan dikembalikan oleh Panitia, paling lambat seminggu setelah pameran.

Download Formulir: 

FORMULIR PESERTA PAMERA N – MOODS OF MAY (FORMAT DOC)

FORMULIR PESERTA PAMERA N – MOODS OF MAY (FORMAT PDF)


 

Peluang Sponsor dan Partner

Kita sangat terbuka, malah dengan senang hati, mengajak teman-teman untuk berdonasi atau mensponsori kegiatan ini. Namun perlu ditekankan, pastikan instansi/lembaga/usaha anda tidak terlibat dalam praktek diskriminasi, ketidakadilan atau kekerasan terhadap buruh.

  • WAKTU KEGIATAN

Hari/tanggal: 5-7 mei 2016

Waktu: 09.00 : selesai

  • TEMPAT PELAKSANAAN

Kegiatan ini bertempat di Gallery Gubuakkopi, Jalan Yos Sudarso, no 427, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok.


 

Kontak:
gubuakkopi@gmail.com atau telpon/WA 085355348539

Alamat Kantor/Gallery: GALLERY GUBUAKKOPI (Jalan Yos Sudarso, no 427, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, Sumtara Barat/bekas TK Alquran)

info update di:
www.gubuakkopi.wordpress.com
fb: Komunitas Gubuak Kopi / page: Gubuakkopi Community
ig: @gubuakkopi

(*informasi ini di-update terbaru pada 10 April 2016)

Kapal-kapal Yang Tidak Pernah Berangkat

Sejarah Perjuangan Buruh Dunia di Australia Untuk Indonesia Merdeka. 

1942 Jepang menduduki Indonesia. Pemerintahan Kolonial Belanda membentuk pemerintah pengasingan di Australia. Sebagai bagian dari Sekutu, Pemerintah Belanda di pengasingan waktu itu mendapatkan kekuasaan ekstra teritorial yang didukung oleh Pemerintah Australia.

Selama masa penjajahan Jepang, banyak pengungsi Indonesia yang berkumpul di Australia. Di antara mereka adalah pelaut dan buruh-buruh Indonesia yang bekerja di kapal Belanda. Pada tahun 1943 Belanda mengangkut 500 orang lebih ke Australia, baik pria, wanita dan anak-anak, dari perkampungan tawanan di Tanah Merah. Belanda juga bermaksud mengasingkan para tawanan ini di Australia. Para tawanan tersebut berhasil menyampaikan surat kepada seorang Australia pekerja pelabuhan dan kemudian juga kepada seorang pegawai kereta api. Surat-surat ini berisi penjelasan mengenai maksud Belanda yang hendak mengasingkan tawanan tersebut. Serikat Buruh Australia mersepon dengan cepat, mereka berkampanye secara bersemangat dan berhasil membebaskan para tawanan.[1] Continue reading

Postingan Terkait