Presentasi Publik GSMS: SELF-CRITICAL

Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) adalah salah satu program yang digagas oleh Direktorat Kesenian, Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan ini membuka peluang seniman dan sekolah bersinergi dalam pendidikan kebudayaan melalui kesenian. Dalam program ini salah satu seniman yang terlibat adalah Albert Rahman Putra, salah seorang pegiat seni di Komunitas Gubuak Kopi. Dalam kesempatan ini Albert, mengajak siswa mengenal praktek seni multimedia, serta mengalami proses produksi, hingga pameran. Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak 27 kali pertemuan, bersama 20 siswa di SMA N 2 Sumatera Barat.

Sabtu, 2 Desember 2017 lalu, telah digelar pameran multimedia dalam format open-lab, dengan tajuk SELF-CRITICAL. Dalam pameran ini, Albert mengajak para partisipan untuk mengembangkan teknologi media yang akrab dengan partisipan, seperti kamera, diberdayakan untuk mengkritisi diri sendiri, terutama mengkritisi pemahaman fotografi dan video yang selama ini berkembang di Sumatera Barat.

Mentor/seniman: Albert Rahman Putra
Asisten: Bana Barani, M.Sn

Partisipan:
TKP Studi Club (Anggi, Anggun Zaus, Ahmad Fajri, Alyara, Aura Salsa Bila, Bunga, Eys Anggraini, Felliade, Ilham Firdaus, Khalit, Liony, Meyriska, Nadia, Nastiti, Nurul, Novellya, Novita, Putri Handayani, Rahmadina, Riskayana, Salsa NP, Taskia)

_______________________________


Pameran

This slideshow requires JavaScript.


Proses “Gerakan Seniman Masuk Sekolah”

This slideshow requires JavaScript.


Poster

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *