Pengantar Kuratorial: Video Out OK. Pangan

Pada perhelatan OK. Video – Indonesia Media Arts Festival 2017 yang bertajuk OK. Pangan ini, Gubuak Kopi bersama OK. Video berkolaborasi menyelenggarakan sub-program festival: Video Out. Melalui program ini kita melakukan penayangan dan diskusi film. Film-film yang ditayangkan dalam program ini merepresentasikan persoalan pangan, mulai dari diskursus kebijakan hingga persoalan-persoalan yang dekat dengan kejadian sehari-hari, dalam konteks estetika. Berikut teks kuratorial yang ditulis oleh Manshur Zikri.

Mari Mengkritisi Pangan Lewat Estetika Gambar Bergerak

Dalam tradisi teorinya dan perkembangan praktiknya, pergantian antara satu shot ke shot yang berikutnya adalah kerja paling dasar “mesin sinema” (atau “mesin film”) dalam menciptakan ilusi visual—inilah sebuah kerja gaib yang menghadirkan makna tertentu kepada penonton. Dan dalam upaya manusia memahami kerja mesin sinema itu, semangkuk sup adalah salah satu objek yang gambarnya dipasangkan dengan gambar wajah manusia dalam suatu uji coba empiris; uji coba itu bertujuan untuk melihat se-efektif apakah mekanisme editing film bekerja—sejauh apa penonton dapat menangkap makna dari gambar-gambar yang disusun secara sequensial. Teori ini yang kemudian juga sering disebut dengan istilah “montase”.

Kuleshov, teoretikus yang melakukan eksperimen montase itu di kisaran 1910-1920-an, memilih objek makanan dengan menyadari jaringan sosiologis dan kultural yang melekat pada objek tersebut sehingga ketika ia ditempatkan dalam susunan gambar, makna yang dihasilkan berhubungan dengan konteks masyarakatnya. Dari poin ini, Kuleshov “mengolah” makanan (yang juga disebut dengan istilah “pangan” ketika diucapkan dengan maksud menyertakan aspek sosiokulturalnya) sebagai image (citra) dalam rangka estetika.

***

Ada dua pandangan ekstrem yang saling bertentangan dalam menilai film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) karya Arifin C. Noer. Pandangan yang pertama mengamininya sebagai sebuah kebenaran—sebagaimana tujuan propaganda Orde Baru (Orba)—tentang kejahatan PKI, sedangkan pandangan kedua menilai film itu sebagai salah satu cara keji Orba dalam mengubah narasi sejarah dari peristiwa yang sebenarnya terjadi. Apa pun alasannya, kedua pandangan ini memposisikan film tersebut sebagai semata perpanjangan tangan atau alat Orba untuk mengontrol pemahaman masyarakat.

Jika kita memanfaatkan “mata estetik” atau “wawasan estetik”, daripada sekadar “mata fungsional”, tafsir yang muncul agaknya akan berbeda (atau terbalik). Dalam suatu diskusi yang pernah dilakukan di Jakarta beberapa tahun yang lalu—dan juga terjadi lagi tahun ini—antara beberapa pengamat film, muncul sebuah pandangan yang mencoba melihat posisi Noer sendiri sebagai sutradara dalam menyikapi peristiwa di tahun 1965 itu. Tinjauan atas montase yang dibangun di dalam film itu, dengan sudut pandang tertentu, menunjukkan adanya indikasi tentang kritik Noer sendiri terhadap kebenaran sejarah versi Orba. Dengan kata lain, meskipun film tersebut dipesan oleh Negara, agaknya secara subtil Noer tetap menanamkan kritisismenya terhadap penguasa yang memesan pembuatan film itu.

***

Kuratorial ini berangkat dari dua premis di atas. Program “Video Out”, bagian dari rangkaian pelaksanaan OK. PANGAN, tema dari OK. Video – 8th Indonesia Media Arts Festival pada tahun ini, bertujuan untuk mengamplifikasi kepekaan kita terhadap isu-isu pangan lewat suatu pendekatan estetik. Penayangan film-film yang dipilih ke dalam kuratorial ini diharapkan dapat menawarkan cara pandang baru kepada kita semua dalam memahami esensi makanan, aspek sosiokultural dari makanan, dan konteks-konteks sosiopolitik yang melingkungi makanan, sehingga bisa dijadikan pintu untuk mengkritisi sistem-sistem sosial yang lebih luas.

Lima karya video dokudrama—bagian dari seri video dokudrama yang diproduksi oleh Studi Audio Visual Puskat (Yogyakarta) dalam suatu kerja sama dengan Departemen Pertanian pada kisaran tahun 1990-an—dipilih untuk kuratorial ini guna melihat bagaimana pemerintahan pada masa itu melancarkan semacam advokasi di tingkat masyarakat petani; advokasi tersebut dalam rangka menanggapi masalah hama yang melanda kaum petani, sebuah masalah yang merupakan buah busuk dari kebijakan revolusi hijau. Dengan menggunakan pendekatan “mata estetik” yang sudah saya sebut di atas, yang mencoba menilai film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI dengan cara pandang kritis, kita bisa menyikapi bagaimana karya-karya dokudrama ini secara subtil merepresentasikan suatu kritik atas kebijakan revolusi hijau meskipun secara permukaan, video dokudrama ini juga bisa dibilang merupakan strategi “cuci tangan” Orba dalam rangka menutupi kegagalan arah kebijakan politik pangannya. Visual-visual yang ada di dalam lima karya dokudrama ini berbeda coraknya dengan visual-visual yang acap kali kita temui di TVRI (stasiun televisi tempat Orba menyalurkan agenda propagandanya). Dengan kata lain, meskipun karya ini mewakili “kata-kata pemerintahan Orba”, lewat perbedaan visual itulah sesungguhnya kita bisa menemukan kritik jenial atas Orba itu sendiri.

Di samping kelima karya dokudrama tersebut, juga dihadirkan beberapa karya dokumenter berbasis proyek lainnya dalam rangka melihat inisiatif-inisiatif lain di tingkat masyarakat yang mencoba merekam berbagai isu atau peristiwa yang berkaitan dengan fenomena makanan/pangan. Sejumlah karya tersebut mewakili gambaran tentang estetika yang berasal dari masyarakat—sebagai subjek-subjek di luar pemerintah—dalam membingkai masalah pangan yang dekat dan ada di lingkungan terdekat sehari-hari, juga tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lokasi-lokasi yang letaknya jauh dari pusat pembangunan.

***

Video Out adalah program fringe event yang menjadi bagian dari OK. PANGAN, OK. Video – Indonesia Media Arts Festival 2017, berupa acara penayangan film-film yang berkaitan dengan isu pangan di beberapa lokasi di Indonesia. Program ini berkolaborasi dengan beberapa komunitas lokal yang dalam waktu lima tahun terakhir ini giat mengadakan program-program pemutaran film di tingkat lokal. Film-film yang ditayangkan dalam program ini merepresentasikan persoalan pangan, mulai dari diskursus kebijakan hingga persoalan-persoalan yang dekat dengan kejadian sehari-hari, dalam konteks estetika.

_______________

Silahkan check list film di sini

Lahir di Pekanbaru, 1991. Seorang peneliti sosial, pegiat media alternatif, dan penulis/kritikus. Anggota Forum Lenteng. Meraih gelar S1 Ilmu Sosial dari Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, pada tahun 2014. Ia memiliki perhatian pada isu-isu seputar media, seni, dan sinema. Saat ini ia juga merupakan salah satu kurator film di ARKIPEL - Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *