Sinema di Pojok Kampung Kita

Pada 25-26 Maret 2017 lalu, di beberapa titik, di Kelurahan Kampug Jawa, Solok, berlansung kegiatan “Sinema di Pojok Kampung Kita” Penayangan ini diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi, bersama Pusat Pengembangan (Pusbang) Film, Kementrian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam rangka merayakan Hari Film Nasional 2017.

Kegiatan ini dibuka dengan penayangan Darah dan Doa, karya Usmar Ismail (1950), pada pukul 16.00 WIB di Galeri Gubuak Kopi, di Kelurahan Kampung Jawa. Darah dan Dan adalah film yang pertama kali dibuat (diproduseri dan disutradarai) oleh orang Indonesia. Usmar Ismail sendiri adalah seorang kelahiran Bukittinggi, 21 Maret 1921. Ia dikenal sebagai pelopor perfilman Indonesia. Pada tahu 1950, ia mendirikan PERFINI (Perusahaan Film Nasional), serta memproduksi film pertama, yakni Darah dan Doa di bawah nama PERFINI pada tahun yang sama. Tanggal 30 Maret 1950, adalah hari pengambilan gambar pertama dari film Darah dan Doa, yang kini disebut sebagai Hari Film Nasional oleh Dewan Perfilman Nasional pada taun 1962.

Seperti yang dinarasikan Albert Rahman Putra dalam pembukaan itu, bahwa ini adalah kali kedua Komunitas Gubuak Kopi merayakan Hari Film Nasional. Sebelumnya, tahun 2016, Komunitas Gubuak Kopi mengangkat tema “Sinema di Pojok Pasar Kita”, sebuah upaya untuk mengajak masyarakat untuk membaca ulang perkembangan kebudayaan sinema, kebudayaan menonton, dan perfilman Indonesia. Di Solok, film hampir hanya dipahami sebagai produk hiburan dan bisnis semata. Hal ini salah satunya ditandai dengan dirubuhkannya dan dialih fungsikannya bioskop-bioskop di Solok karena dianggap kalah dalam pasar. Tidak ada upaya dari pemangku kebijakan untuk mengambil alih “bioskop” sebagai sebuah ruang kebudayaan. Seterusnya, beberapa masyarakat juga mengamini kehancuran bioskop karena selama ini dianggap sebagai tempat mesum semata. Tapi hal ini cukup dimaklumi, sebelumnya memang tidak ada infrastuktur yang mengembangkan pemahaman film sebagai sebuah kebudayaan di Solok, bahkan di sebagian besar kota-kota kecil lainnya di Indonesia. Termasuk Gubuak Kopi sendiri, yang baru memulai riset terkait bioskop setelah bioskop itu mati (bioskop terakhir mati adalah Bioskop Karia, pada tahun 2012, dirubuhkan pada tahun 2014 menjadi bangunan toko) dan Gubuak Kopi pun saat itu tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan itu.

Doc. Bioskop terakhir di Kota Solok dan Sinema Di Pojok Pasar Kita, oleh Komunitas Gubuak Kopi dan Rumah Kreatif Solok, di Pasar Semi Modern Kota Solok. 30 Maret 2016

Komunitas Gubuak Kopi sendiri, secara intens mengembangkan kesadaran menonton sebagai ruang apresiasi dan kajian kebudayaan baru pada September 2015. Upaya itu ditandai dengan dihadirkan program Sinema Pojok, sebuah ruang menonton regular per dua minggu. Menayangkan film-film yang diakui secara kritik dan penelitian sebagai film penting dunia. Hal ini diupayakan untuk menyajikan titik-titik capaian perkembangan sinema dunia, mengisi kekosongan pengetahuan yang sangat lama tidak tersedia dan sulit untuk diakeses. Selain itu Komunitas Gubuak Kopi juga menyajikan penayangan khusus berupa layar tancap di kampung-kampung, untuk menarik atensi publik terhadap budaya sinema.

Sore itu, menurut Albert, film Darah dan Doa sengaja kembali dihadirkan, terutama sebagai salah satu titik tolak membaca perkembangan perfilman Indonesia. Hari Film Nasional, bagi Komunitas Gubuak Kopi tidak hanya perayaan semata, tetapi juga sebagai titik untuk mengukur perkembangan pemahaman kita terhadap film, baik itu soal produksi, apresiasi, dan kajian. Usmar Ismail, mendirikan PERFINI dengan kesadaran film sebagai sebuah misi kebudayaan. Bagaimana Usmar Ismail merespon situasi perfilman sebelumnya, maupun bagaimana ia merespon situasi sosial, budaya, dan politik di ‘Negara baru’ saat itu melalui film-filmnya adalah hal yang menarik juga untuk dibahas.

Sore itu, setelah menonton Darah dan Doa dan berdiskusi, penayangan dilanjutkan pada malam hari di Lapangan Pacuan Kuda, atau lapangan pemuda RW VI, di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Penayangan ini diharapkan dapat menarik atensi publik di perkampungan atau di tingkat kelurahan terhadap kebudayaan Sinema.

Akhir-akhir ini, memang sering kali kita kebudayaan menonton bioskop ataupun alternatif berbasis di pusat-pusat kota, pusat-pusat kebudayaan, maupun kampus-kampus. Penayangan secara tidak sengaja hanya terbatas pada kalangan komunitas film, seniman, budayawan, atau orang-orang tertentu saja. Dulu di Solok, sebelumnya memang sering kali terdapat penayanga layar tancap. Lalu kemudian hilang dengan berbagai alasan. Satu-satu layar tancap juga muncul tapi hampir tidak ada yang melakukannya secara intens. Kali ini Komunitas Gubuak Kopi sengaja mengkonsep kegiatan ini untuk dirayakan di tingkat kelurahan. Dalam hal ini, kebudayaan sinema di kampung ataupun kelurahan juga merupakan bagian wajah kebudayaan sinema nasional. Perhelatan sinema nasional juga berhak dirayakan di pedalaman sekalipun. Pada bulan-bulan berikutnya, Komunitas Gubuak Kopi sendiri, menargetkan penayangan juga dilakukan di kelurahan-kelurahan lain.

Malam itu 25 Maret 2017, tiba-tiba hujan mengguyur lapangan pacuan kuda tempat penayangan dilakukan. Malam itu kita menayangkan program film pendek “Mencari Indonesia”. Program film ini sebenarnya telah disiapkan oleh panitia Hari Film Nasional dari pusat, untuk dibagikan pada kelompok yang ingin merayakan Hari Film Nasional. Kita ikut megambil pilihan film itu, sembari melihat bagaimana ‘pusat’, atau panitia yang ditunjuk— merepresentasikan film nasional hari ini dengan tajuk “Mencari Indonesia”. Warga yang sudah mendekati mobil Bioskop Keliling pun satu-satu berpencar mencari tempat berteduh, ketika hujan semakin deras. Pedagang, roti bakar, sate, dan kacang pun kebingunan mencari tempat berteduh. Satu-satu warga muncul dan ikut berteduh di bawah terpal yang tidak seberapa besar, beberapa juga berusaha menikmati film dari kejauhan sembari berteduh. Di bawah hujan itu penayangan tetap dilakukan, untung saja mobil Bioskop Keliling yang kita berdayakan untuk kegiatan ini memiliki kualitas audio dan gambar yang bagus. Meskipun tidak senyaman menonton dari dekat, warga pun tetap menikmati.

Sebenarnya menonton di Lapangan ini bukan pula hal yang baru bagi warga RW VI Kelurahan Kampung Jawa, Solok. Meskipun jarang, sempat beberapa kali ada kegiatan penayangan di sini, yaitu film-film kampanye KB. Tidak jarang, selama menyebarkan poster dan undangan, warga bertanya-tanya, “film KB, lagi?”. Beberapa warga terlihat antusias mendengar film yang kita tayangkan bukan film KB, ada pula warga yang menanggapinya dengan datar. Selain warga, dan pegiat komunitas film, malam itu juga terlihat hadir beberapa ketua RT dan RW di Kelurahan Kampung Jawa, Solok.

Pada hari berikutnya, sekitar 5 menit dari Lapangan Pacuan Kuda. Penayangan dilakukan di RW V, tepatnya di lapangan Badminton. Di sini, kita menayangkan film “Tiga Djanggo” salah satu karya Nawi Ismail, diproduksi pada tahun 1976, yang dibintangi oleh Benyamin S. Film ini mengisahkan tentang parodi Janggo, tokoh film koboi “Spagethi” yang dahulunya cukup popular di Indonesia. Para penonton yang menyaksikan film ini tertawa terbahak-bahak, karena memang ini adalah film yang bergenre komedi. Jumlah penonton yang ikut dalam pemutaran kali ini lumayan banyak dari pada jumlah sebelumnya yang kita lakukan di tempat yang sama, sekitar empat puluh orang, teridiri dari orang tua, anak-anak, pemuda, dan RT. Pemutaran diadakan dari pukul delapan malam sampai jam sepuluh malam.

Para penonton tetap bertahan, meski sempat gerimis dan kilat mengawatirkan kita. Para penonton terpingkal melihat aksi Benyamin, Gombloh, Manshur Syah, dll. Film ini sengaja ditayangkan oleh Komunitas Gubuak Kopi, menarik untuk melihat cara Nawi Ismail merespon fenomena di Indonesia di tahun-tahun itu yang di bioskop-bioskop, termasuk di Solok, muncul banyak film-film heroik dari Amerika , India, dan lainnya. Dari sini terlihat kontras antara Janggo ala Amerika (Hollywood) ketika konsep yang sama dilakukan pula di Indonesia yang berbeda geografis maupun kultur. Di tangan Nawi Ismail, komedi ini malah terlihat sebagai caranya untuk menertawakan film asing dan menertawakan “diri sendiri”.

 

Postingan Terkait

Tiara Sasmita (Solok, 31 Desember 1991) adalah mahasiswi di Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Inggris. Saat ini aktif di Gubuak Kopi sebagai Bendahara Umum. Ia juga aktif di Komunitas Cermin, sebuah komunitas teater di Fakultas Ilmu Budaya di kampusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *