Catatan Tentang “Sampah dan Orang Sisa-sisa”

Berangkat dari pengantar kuratorialnya, Ronny Agustinus menekankan pergulatan yang tak terelakan oleh semua negara di dunia dengan latar belakang ekonomis apa pun, yakni masalah sampah sebagai sisa-sisa kapitalisme industri. Pemimpin redaksi penerbit Marjin Kiri tersebut mempersembahkan dua filem dalam program kuratorialnya, Sampah dan Orang Sisa-sisa, di Kineforum pada hari Senin, 22 Agustus, 2016  pukul 13:00. Seperti pada program kuratorial ARKIPEL Ronny Agustinus pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Latin kembali diangkat sebagai latar tempat dan budaya.

dscf6327

Ilha Das Flores (1989) merupakan filem pembuka program kuratorial ini dengan durasi 13 menit. Hasil garapan Jorge Furtado, sutradara Brasil, filem ini menggunakan objek tomat sebagai media pengantar penonton menelusuri tahap-tahap kapitalis menuju apa yang disebut kurator sebagai residu lain dari kapitalisme industri, masyarakat yang hidup dari sampah. Ilha das flores memiliki arti harfiah “Pulau Bunga”, namun jauh dari makna denotasi namanya, nama tersebut mengandung sarkasme karena tempat tersebut tidak lebih dari sekedar tempat pembuangan sampah akhir.

Ronny Agustinus.

Ronny Agustinus.

“Deus não existe”, begitulah kalimat pembuka dari filem yang ekuivalen dengan kalimat “Tuhan tidak ada”. Ilha das flores adalah tempat yang penuh keputusasaan tanpa secercah harapan. Filem ini mengandung rasa yang sangat pesimis, tidak ada antusiasme untuk mencari solusi. Narator yang sarkastik mengalienasikan dirinya dari manusia dengan kian menyebut manusia sebagai pihak ketiga dan dengan sengaja tidak ada usaha untuk menarik penonton sebagai bagian dari manusia yang tampak pada layar.

dscf6319

Hal di atas sangat kontras dengan filem kedua. Landfill Harmony (2015) adalah filem kedua yang diputar dengan durasi 101 menit. Disutradarai oleh sutradara asal Amerika Serikat, Brad Allgood, filem ini merupakan produksi Paraguai yang menunjukkan perjalanan sekelompok pemusik anak-anak. Hal yang membuat mereka berbeda ialah latar belakang mereka sebagai anak-anak dari para tukang sampah atau gunchero di sebuah kota tempat penampungan sampah bernama Cateura, serta pemanfaatan sampah yang didaur ulang sebagai alat musik.

_abe7704

_abe7695

_abe7690

_abe7689

Bertolak belakang dengan filem sebelumnya, Landfill Harmony bernada jauh lebih optimis sekaligus memberikan inspirasi. Pendekatan artistik yang terdapat dalam filem menunjukkan tahap yang berlawanan arah dari filem pertama. Ditampilkan secara kronologis, keterpurukan diangkat menjadi titik berangkat. Dipupuk oleh kerja keras dan semangat, hasil akhirnya adalah sesuatu relatif jauh lebih pantas dari sebelumnya. Pada awal filem, anak-anak tersebut tidak lebih dari pemusik amatir yang bahkan masih gemetar menyentuh alat-alat musik daur ulang, namun pada akhirnya mereka berhasil bersanding dengan pemusik internasional

Di hadapan dua belas penonton lainnya, Albert dari Forum Lenteng memberikan tanggapan, khususnya terhadap filem kedua. Bagi Albert, perspektif dari filem kedua cukup kapitalis. Pengakuan media-media besar seperti yang ditunjukkan dalam filem tentang eksistensi para tokoh adalah salah satu kode kapitalisme. Ronny Agustinus menyetujui pendapat tersebut dan demikianlah yang ingin ia tunjukkan, bahwa ada dua sikap dalam membahas wacana antroposen ini.

Antroposen sendiri merupakan istilah yang kerap digunakan kurator dan sesungguhnya merupakan istilah yang terhitung baru dan belum cukup populer. Antroposen merujuk pada kondisi dan situasi perubahan yang berlangsung di bumi yang kian dipengaruhi manusia. Melihat ke belakang, alam telah berjuta-juta tahun lamanya berperan dalam menentukan nasibnya, namun sejak tahun 1950-an, manusialah yang memiliki pengaruh ekstrem.

Mungkin memang kurang adil membandingkan kedua filem tersebut mengingat keadaan demografis Brasil dan Paraguai jauh berbeda. Sebagai negara terluas kelima di dunia, Brasil mengalami kesulitan dalam meluruskan sistemnya. Meskipun demikian, Ronny Agustinus memang menyajikan kedua filem yang kontras ini sebagai bahan pertimbangan dan refleksi.


Artikel ini sebelumnya pernah dipublikasi di arkipel.org dengan judul Catatan Tentang “Sampah dan Orang Sisa-sisa”

oleh Aprilia Agatha Gunawan.

Aprilia A. Gunawan

Aprilia A. Gunawan

 lulusan Sastra Prancis, Universitas Indonesia, tahun 2012. Selain mengajar, saat ini ia juga aktif berkegiatan di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Menggemari filem, bahasa asing, dan kebudayaan Irlandia.

Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *