DOC. SINEMA POJOK 8

Demokrasi di SMU 31 Peking

Sabtu, 12 Maret 2016 lalu Komunitas Gubuak Kopi di Sinema Pojok menayangkan sebuah filem dokumenter pendek karya sutradara Joris Ivens. Ini adalah kesekian kalinya Sinema Pojok memutarkan karya-karya sutradara brilian berkebangsaan Belanda ini. Ivens dari banyak karyanya itu sering menjadikan filem sebagai alat melancarkan misi propagandanya, dan tentu dengan muatan estetika yang menarik. Di tangan Ivens, filem menjadi bahasa yang puitis dalam menyajikan realitas. Realitas yang ia rasa penting untuk diketahui publik. Malam itu di Sinema Pojok filem Ivens “The Football Incident; Highschool no 31 Peking” ditayangkan dan memberi pelajaran yang cukup menarik.

Seperti halnya Indonesia Calling, The Football Incident adalah rekaman real time yang sarat dengan konsep ideologi. Filem ini merekam apa yang terjadi setelah seorang murid SMU 31 Peking (Cina), menendangkan bola pada gurunya yang telah membunyikan Bell (tanda masuk kelas). Cameraman yang mengaskan kehadirannya menemui siswa tersebut menanyai kejadian itu. Tidak hanya Si Murid, ia juga menemui Si Guru. Keduanya saling memberi tanggapan soal kejadian itu, dan kemudian dua pembelaan itu bertemu dalam diskusi sebuah kelas.

Dalam pertemuan dengan guru, Cameraman melontarkan beberapa pertanyaan menarik, dan barang kali sangat ideologis. “apakah murid-murid ini dikenai hukuman?”, Guru tersebut menjawab “tidak,”. Guru itu pun menjelaskan, saat ini situasinya sangat berbeda, kalau dulu dalam kejadian seperti ini jangankan dihukum, murid tersebut bisa saja dikeluarkan. Namun sekarang zaman segera berubah, hal itu tidak lagi sesuai dengan apa yang dia ajarkan ketua Mao Zedong, REVOLUSI BUDAYA.

***

Pihak guru menilai tindakan yang dilakukan muridnya itu adalah kesengajaan atas kekesalan. Begitu juga beberapa murid lainnya, tapi ada juga yang membela murid penendang bola ini, dan menilai kejadian itu sebagai ketidak-sengajaan. Mereka secara terpisah, masing-masing menilai secara subjectif, di sinilah barang kali kita bisa melihat betapa besar peran Mao merevolusi Tiongkok pada masa itu.

Sejumlah literatur mencatat Mao tidak memiliki record revolusi yang sempurna. Revolusi yang disebutnya “Lompatan Jauh Kedepan” telah membuat ratusan masyarakat meninggal dunia. Tapi kita tidak akan membahas persoalan itu panjang lebar. Sumbang terbesar Mao terhadap masyarakat Cina modern, bagi saya salah satunya bisa kita lihat dalam praktik revolusi yang diabadikan Ivens kali ini. Mao percaya segala sesuatu harus dinilai secara objectif. Setiap kebenaran harus dinyatakan dengan fakta-fakta yang mendukung kebenaran, itu artinya tidak ditentukan dengan “prasangka kebenaran”. Untuk itu perlu adanya sebuah diskusi yang memberikan analisa-analisa objektif mengenai kebenaran itu.

Dalam kebudayaan masyarakat Tiongkok sebelumnya, seorang guru yang tidak menerima perlakukan tersebut dengan mudah saja mengklaim persoalan itu sebagai sebuah kesalahan, lalu menguhukum murid tersebut. Tapi bagi Mao, tindakan tersebut tak lain usaha melestarikan dogma sebagai kebenaran yang tak perlu dipertanyakan. (baca juga: Merubah Pelajaran Kita, Mao Zedong 1941) Sekalipun guru tersebut dapat menjelaskan alasan-alasan bahwa yang dilakukan murid tersebut adalah salah, ia tetap saja meniadakan kenyataan adanya penyebab lain kenapa anak ini berbuat salah. Artinya terdapat kebenaran lain yang dibiarkan menjadi misteri. Inilah yang menjadi persoalan banyak kasus di berbagai tempat, termasuk di Solok.

Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman. Sewaktu sekolah, salah seorang guru sedang memaparkan pada kami cara kerja petani dalam mengolah padi. Di papan tulis ia menuliskan “rice milling” lalu menjelaskan “rice” itu padi, “miling” itu susu (mungkin maksudnya milk), susu itu putih, maka rice miling adalah menjadikan padi menjadi putih itu artinya menjadi beras. Seluruh murid tertawa termasuk saya. Saya sadari waktu itu saya tidak sedang “menjadi siswa yang baik” mungkin bisa dibayang situasi belajar dalam kelas yang dipimpin guru ini, isinya kurnag lebih menjabarkan isi buku kemudian analisa-analisa sekenanya, itu adalah hal yang membosankan.

Guru itu menunjuk saya dan teman sebangku saya, melempari kami dengan spidolnya. Waktu itu dari sekian banyak orang yang tertawa sepertinya memarahi saya memang memiliki potensi aman bagi guru tersebut untuk mengalihkan analisanya yang ia sendiri sebenarnya sadar itu keliru. Ia memarahi saya karena tertawa dan terus bicara dengan teman sebangku sedari tadi ia perhatikan, dan saya akui itu. Tapi pengakuan itu ternyata tidak cukup barang kali ia punya masalah lain yang semakin buruk dengan tertawaan tadi. Ia menjadi-jadi memarahi saya, menyebut hari-hari sebelumnya, kemudian merembes membaca segala kekeasannya terhadap sisa di kelas. Guru ini keluar kelas dan tidak kembali, konon ia pingsan, dan besoknya kepala sekolah memanggil orang tua saya dan teman saya ke kantor. Kepala sekolah lebih tertarik menasehati saya dihadapan orang tua ketimbang membongkar kenapa saya bersikap demikian. Di situasi sebelum Mao, barang kali saya sudah dikeluarkan dari sekolah.

***

vlcsnap-2016-03-09-11h13m55s129

dicapture dari filem “The Highschool Incident” Joris Ivens

Kembali pada cerita yang direkam Ivens. Guru dan murid-murid berkumpul dalam kelas untuk membicarakan persoalan bola yang ditendang itu. Setidaknya pada masa itu terlihat bagaimana guru dan murik memiliki hak yang sama. Setiap murid, termasuk guru, memberikan analisa dan padangannya dalam mengamati persoalan ini. Ada yang membela temannya karena itu sebuah ketidak sengajaan, namun muncul analisa lain murid tersebut sengaja menhentikan bola ketika bell berbunyi segera setelah itu ia menendangkan bola dengan keras pada guru tersebut. Beragam pendapat terucapkan, sampai akhirnya murid yang menendang bola itu menganalisa sendiri apa yang dilakukannya dan mengakui, bahwa yang terjadi adalah benar ia menendang bola ke arah guru itu dengan sengaja.

Dengan jiwa besar guru tersebut mulai memahami ketidaksabaran selama ini, seperti yang ajarkan ketua Mao. Tanpa sadar ia membuat dirinya terlihat bersikap kurang adil. Diskusi selesai tanpa ada yang mendapat hukuman dan semua saling berjabat tangan. Contoh kecil ini adalah pelajaran penting dalam revolusi yang dikampanyekan Mao.

Postingan Terkait

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *