Penayangan Indonesia Calling dan Lahirnya Kelompok Baraja Filem

Beberapa waktu lalu, melalui program penayangan filem reguler “Sinema Pojok” Komunitas Gubuak Kopi bersama kelompok anak-anak di Aia Mati, menayangkan filem Indonesia Calling atau Indonesia Memanggil. Sebuah dokumenter karya Joris Ivens yang dirilis pada tahun 1946. Filem ini merekam penggalangan solidaritas buruh pelabuhan di Australia, membantu buruh Indonesia dalam mempertahankan negara baru Indonesia.

Informasi yang disajikan Ivens melalui filem ini sebenarnya jarang kita temukan dan diulas lanjut dipelajaran sejarah sekolahan. Disekolahan sering kali kita mendapatkan cerit-cerit heroik para pahlawan nasional maupun militer Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, di rentang tahun 1945-1949. Filem ini memberikan kita pencerahan lain, kekuatan besar yang bisa dilakukan kaum buruh tanpa ada pembunuhan dan tembak menembak, dan sayang sekali sebenarnya persoalan ini tidak sampai kepada anak-anak dan warga Indonesia sendiri.

vlcsnap-2015-10-19-08h27m44s127

vlcsnap-2015-10-19-08h22m42s174

 

Capture dari filem Indonesia Calling (Indonesia Memanggil) karya Joris Ivens, 1946. Didistribusikan dalam subteks Bahasa Indonesa oleh program DVD Untuk Semua, Forum Lenteng, 2012.

Capture dari filem Indonesia Calling (Indonesia Memanggil) karya Joris Ivens, 1946. Didistribusikan dalam subteks Bahasa Indonesa oleh program DVD Untuk Semua, Forum Lenteng, 2012.

Sinema Pojok bersama kelompok Barajafilem kelurahan Aia Mati, Solok.

Sinema Pojok bersama kelompok Barajafilem kelurahan Aia Mati, Solok.

Filem ini sengaja kita tayangkan selain mengisi kekosongan pelajaran sejarah kita juga menyegarkan kesadaran masyarakat kekuatan solidaritas mampu mengalahkan kekuatan militer. Waktu itu, solidaritas buruh pelabuhan di Australia, yang melibatkan buruh Indonesia, India, Cina, dan berbagai negara lainnya, berhasil membatalkan keberangatan kekuatan besar (kapal-kapal yang berisi tentara dan senjata milik Belanda) yang hedak merebut kembali Indonesia ketika mendengar Jepang kalah.

Penayangan ini dihadiri oleh kurang lebih 10 orang anak-anak SD di Aia Mati, dan juga beberapa orang dewasa setempat. Gubuakkopi tidak lupa mempresentasikan motif penayangan ini dan mengajak anak-anak untuk mengenal lebih dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Malam itu, kelompok anak-anak ini menantang Gubuakkopi untuk membuat filem juga. Tantangan ini sebenarnya agak sulit kita terima, terutama karena kita sebenarnya bukan pembuat filem yang baik, apa lagi mengajarkan. Tapi kita sadar semangat mereka juga harus dikelola dan diarahkan pada kesadaran yang lebih baik.

Maka kita sepakat besok kelompok yang dinamai Kelompok Baraja Filem ini akan segera belajar bermedia. Dalam hal ini kita akan mengajak mereka mengenal proses produksi informasi, sebagai gambaran awal bagi mereka dalam bermedia. Kegiatan ini nantinya akan terdiri dari rangkaian pelatihan dan permainan yang bisa menjadi alternatif mereka untuk mendapatkan pengetahuan media.

(GBK)

Postingan Terkait

Tiara Sasmita (Solok, 31 Desember 1991) adalah mahasiswi di Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Inggris. Saat ini aktif di Gubuak Kopi sebagai Bendahara Umum. Ia juga aktif di Komunitas Cermin, sebuah komunitas teater di Fakultas Ilmu Budaya di kampusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *