Aku Kita Dan Kota : Cerita Deski

Cerita Deski :

Deski saat pelatihan bersama adik-adik peserta
Deski saat pelatihan bersama adik-adik peserta

Manusia yang sadar adalah manusia yang sadar kebersiahan

Oleh: Deski Wiri Yendra

Nama saya deski, selain beraktivitas kuliah di Universitas andalas, saya juga aktif di Komunitas Gubuak kopi, solok. Alhamdullah acara yang  diadakan oleh komunitas gubuak kopi solok (GBK) “ aku, kita, dan kota  ”pada minggu 22 april 2012 kemarin berjalan dengan baik (walau dalam prosesnya panitia menemukan berbagai kendala). Kegitan tersebut bertujuan membuat masyakat lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan kota. Bentuk kegiatannya seperti marathon bersih, talkshow bersama dinas kebersihan dan tata lingkungan hidup, diskusi dan pemutaran film.

Komunitas Gubuak Kopi tidak hanya berjalan sendirian, mereka melakukan kerjasama juga dengan komunitas lain yakni Komunitas Sarueh Padangpanjang. Dengan adanya kerjasama ini bisa membuat acara berjalan dengan lancar. Tetapi ada satu hal yang aneh, kenapa pada saat hari H walikota tidak mengizinkan  untuk melakukan marathon bersih dan membuka acara tersebut, padahal sebelum acara kita sudah kirimkan proposaldan undangan resmi. Bagi saya,  hal ini menggambarkn pemimpin yang tidak bijaksana. Apalagi kita melakukannya untuk kebersihan dan lingkungan kita. Apakah yang berhak membersihkan sampah hanya untuk “pemungut sampah” saja?, Tentu tidak. Tetapi mulai lah pada diri kita sendiri.

Marathon bersih, kegiatan maraton sambil memungut sampah dengan kata lain dihentikan. Kami tidak putus asa atas kejadian itu, kami mencari anak-anak yang pergi bermain di Ruang terbuka Hijau (RTH) atau Taman kota Solok. Kami mengajak mereka untuk berkumpul disana kita belajar bersama betapa pentingnya kebersihan, mebuat film, Vidio wawancara, dan lain-lain. Kemudian kami memungut sampah bersama anak- anak tersebut dengan menyebut “ manusia yang sadar adalah manusia yang sadar kebersihan“. Itu lah yang kamii sebut bersama-sama saat memungut sampah.

Setelah talkshow, dan siskusi yang kita habiskan bersama anak-anak taman kota tersebut, Rangkaian kegitan terkhir pada malam hari adalah pemutaran film. Kerjasama salah satu program dengan komunitas sarueh, yaitu Becak Bioskop. Acara ini begitu ditunggu-tunggu pengunjung yang hadir. karena acara pemutaran film ini merupakan acara puncak. Film ayang diputarkan berjudul max havelaar (1976) karya sutradara fons rademakers. Film dengan durasi kurang lebih dua setengah jam, bercerita tentang kehidupan masyarakat indonesia pada masa kolonial belanda.

Pada acara pemutaran film, kita sedikit terkendala dengan sumber listrik. Salah satu kelalaian kami dari panitia, yang ternyata kapasitas lkistirik pada satpam tidak memungkinkan unutk itu. Akhirnya malam itu kita meminjam genset ke salah satu tempat jualan yang ada di taman kota tersebut. Dan Filempun bisa dimulai, alhmdulillah hadir banyak penonton malam itu. Dipertengahan film jinset minyaknya habis, duhhh,,, panitia tidak menyangka ternyata minyak yang full tersebut hanya mampu bertahan dua jam. Penonton kesal dan merasa tergantung gantung menonntonnya.  Tapi yang menariknya mereka mengumpulkan sedikit uang unutk bantuan membeli bahan bakar, dan dedi salah satu penonton juga ikut menujuki kami tempat dimana kita bisa mendapatkan jerigen unutk membawa bensin tersebut.

Penonton pemutaran film di taman kota (RTH) Solok
Penonton pemutaran film di taman kota (RTH) Solok
Penonton pemutaran film di taman kota (RTH) Solok
Penonton pemutaran film di taman kota (RTH) Solok

Setelah mendapatkan minyak, kami bergegas ketaman untuk menghidupknnya kembali, alhamdullh pemutran film dilanjutkan kembali. Setelah pemutran film selesai, kami menutup acara. Dengan susah payah kami mencari kesana kesini perlengkapan dari pagi sampai malam telah terobati oleh kegitan siang itu hingga pemutaran film malam. Saya merasa bangga, rasa yang tak terbayarkan oleh materi.

Kalau itu boleh saya daa sedikit Saran buat masyarakat kota solok dan sekitarnya. Saya berharap masyarakat untuk dapat menjaga kebersihan lingkunganya baik dirumah maupun lingkungan sekitar diluar rumah, karena kalau tidak kalian harus minta maaf pada rahmat (peserta 12 tahun) dan kawan-kawannya yang telah berjuang seharian membersihkan kota ini. Dan selain itu tentu karena menambah banyak penyakit yang ada dilingkungan sekitar.

Kebersihan tidak hanya mencerminkan sehat jasmani, namun juga rohani. Dan buat walikota solok, perhatikan lah lingkunganmu, jangan kamu hanya bisa berbica saja di depan orang banyak, tapi fakta yang dibicarakan tidak ada. kebohongan semata. Dan terima kasih buat Komunitas Sarueh Padangpanjang, kaula muda, dan pihak lainnya yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Semoga tidak akan berhenti disini saja kerjasamanya. Mudah-mudahan Komunitas gubuak kopi dan Komuitas atau kelom,pok-kelompok lainya dapat berkerjasama kembali pada momen selanjutnya. TERIMA KASIH…salam sejahtera..!!! (DWY/GBK)

Dokumentasi

Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *