Kota Kecil Pinggiran Bukit

Secangkir Kopi Hangatkan Kota Kecil Pinggiran Bukit

Kerinduan mendalam akan kota kecil dipinggir bukit
Bentangan hijau sawah seolah menjemputku dalam mimpi
Aku terbangun mengakhiri mimpi
Memulai pagi dengan membentangkan harapan

Secangkir kopi dipagi itu
Aromanya begitu hangat,  kalahkan pagi dikota sunyi
Sungguh sempurna
Nyanyian alam dan aroma kopi membuatku hanyut
Hanyut menyusuri kepingan masa lalu, masa lalu dikota kecil
Pahit dan manis namun wangi seperti aroma kopi dipagi ini
Semua menyatu dalam satu denyut yang namanya takdir
Berjalan seaarah mengikuti arah angin bertiup
Menyongsong pagi mengejar bayang, hilang dalam mimpi

Seduhan pertama,
Adalah untuk keindahan dan kesempurnaan nyanyian alam pagi ini
Adalah pahit dan manis yang akan selalu menyertai derap langkah
Adalah wangi yang membawa awan memecah hingga embun datang dan merekah

Seduhan kedua,
Adalah tempat dimana aku menghabiskan masa lalu
Adalah tempat dimana aku berharap melalui masa kini
Adalah tempat dimana aku berjanji mengakhiri sisa masa depan
Disanalah letak kesempurnaan tercipta
Alam dan rasa menyatu dalam sebuah cangkir
Lidah merasa dan kulit meraba
Tiap tetes adalah makna
Dan aku kembali terbangun
Kembali kerindu yang sesungguhnya
Kerinduanku akan kota kecil dipinggir bukit
Ya, kota kecil dipinggir bukit

Oleh: Gebri Ela Melisa
(Jakarta, 09 Maret 2012)

Postingan Terkait

Gabriella Melisa, atau biasa disapa Igeb, adalah seorang petualang dari Nagari Cupak, Solok, yang juga aktif memproduksi karya-karya fotografi dan catatan perjalanan. Kini Igeb menetap dan bekerja di salah satu perusahan audit di Jakarta, dan terus bertualang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *