Rembuk Pengembangan Daur Subur bersama Balai-balai Pertanian

Semestinya Desa

Kita mendengar ciloteh apak-apak di lapau tapi sawah
Perihan padi nan ditanam
Perihal sayur menjadi pagar parak
Perihal riuh masa depan anak, hendak sarjana muda
Deru nan candu hayunan tajak dan cangkul
Kita inapkan sebagai orkes masa depan
Petani dalam doa baik memahat lenganya
Untuk mengangsur puing lumbung agar memanen lambang
Sesekali burung-burung memanggil apak-apak
Bersenda gurau bersama urang-urang sawah

Di masa depan
Padi-padi, ladang-ladang dan parak-parak
Jangan hilang jadi pabrik, jadi modern,
jadi cerobong penuh udara kelam
biar menjadi semestinya sawah
desa dengan siul pupuik batang padi
kubangan kerbau dengan sarang bangau
biar dengan desanya berundak sawah,
ayunan cangkul dan bangunan lumbung pangan

Rozi Erdus aka Tuan Kembara 
Solok 2025

Demikian puisi singkat oleh Rozi Erdus, jejaring Daur Subur yang juga bertugas selaku pembawa acara pada diskusi ini. Pada pembukaannya Rozi menyampaikan bahwa diskusi ini adalah sebuah keberlanjutan dalam mempertalikan inisiatif warga untuk mencapai tujuan bersama. Selain kerja-kerja seni-budaya dan produksi artistik yang selama ini ditempuh oleh Komunitas Gubuak Kopi, upaya mengarusutamakan kerja-kerja kebudayaan dalam pembangunan ini sudah ditempuh sejak tahun 2022, FGD Daur Subur #1 di Kota Padang, waktu itu difasilitasi oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Kemdikbudristek. Diskusi ini melibatkan sejumlah narasumber ahli seperti Yudi Ahmad Tajudin, Arief Yufi, Dr. Sri Setyawati, perwakilan komunitas dan Dinas Pariwisata Kota Solok. FGD tersebut dilanjutkan di Markas Komunitas Gubuak Kopi bersama Dinas Pariwisata Kota Solok, Dinas Pertanian, Dinas Pendidikan, dan sejumlah pelaku budaya Solok. 

Pada tahun 2023, wacana ini dikembangkan lagi di Forum Pembangunan yang diselenggarakan oleh Bappenas dan Jatiwangi Art Factory; masih pada tahun 2023 dilanjutkan dengan Kongres Kebudayaan Indonesia di Kemdikbudristek dengan tema Melambungkan Tanah dan Ruang. Dan Oktober 2024 lalu diselenggarakannya dialog publik “Jalan-jalan Kecil, Menuju Jalan Kebudayaan” di Taman Pulau Belibis, Kota Solok, bersama Dinas Pariwisata Kota Solok, Bappeda Kota Solok, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III, dan Akbar Yumni, selaku tim diskusi Dirjen Kebudayaan untuk Wilayah Pemajuan Kebudayaan. 

Pengantar dari Rozi dilanjutkan oleh Volta Ahmad Jonneva dan M. Biahlil Badri dari Komunitas Gubuak Kopi memaparkan project-project Daur Subur dan turunan programnya, serta apa-apa potensi dan persoalan yang telah dihimpun. Terdapat sepuluh serial proyek Daur Subur; empat Proyek Kurun Niaga; empat proyek Lapuak-lapuak Dikajangi; Lima Proyek Remaja Bermedia; dan kegiatan bersama jejaring Lumbung Indonesia. Paparan ini menghadirkan latar belakang bagaimana Solok sebagai hub untuk kebudayaan pertanian muncul dari perspektif Komunitas Gubuak Kopi dan jejaring yang terlibat.


Sesi ini berlangsung sampai masuknya jam istirahat makan siang. Sesi berikutnya Rozi Erdus mengajak para peserta diskusi untuk melakukan “check in”. Istilah untuk upaya mencairkan suasana yang biasa kami pakai dengan jejaring Lumbung Indonesia dan Klasmiting. Rozi Erdus memberikan klu: Jika saya adalah tanaman obat maka saya adalah? Di mulai dari tuan kembara “saya adalah sereh saya digunakan di dalam makanan, dan saya adalah bagian dari keharuman” semua bersorak “aseekk”. Berikutnya Biki “saya adalah cikarau dan cikumpai (cocor bebek) saya hadir sebagai penawar demam”. Lanjut dengan ibu Sofni dengan tanaman kembang sepatunya “saya adalah bunga yang elok dipandang dan saya adalah penangkal panas dalam”.  dan dilanjutkan oleh semua peserta, menjadi jahe, kunyit, lengkuas, cengkeh bahkan jengkol sebagai obat selera. 

Pada sesi selanjutnya Rozi Erdus memberikan mic kepada Albert Rahman Putra. Albert mengantar, bahwa program/project yang telah disampaikan oleh Badri dan Volta tadi memberikan Komunitas Gubuak Kopi banyak pengetahuan tentang kebudayaan pertanian. Pada project-project tersebut pun, biasanya kami selalu melibatkan orang-orang di sekitar, tetangga, teman-teman kelompok tani, komunitas kuliner, ibu-ibu pkk, tetua adat, dan komunitas warga lainnya. Untuk itu pula beberapa bulan terakhir, Komunitas Gubuak Kopi mengunjungi kembali kelompok-kelompok tersebut, maupun kelompok baru, untuk saling berbagi pandang apakah kita berada di tujuan yang sama. Kunjungan-kunjungan itu pula yang mendorong Komunitas Gubuak Kopi menginisiasi sebuah ruang diskusi bulanan untuk mempertemukan inisiatif-inisiatif ini, percakapan-percakapan, dan imajinasi teman-teman untuk kita perkuat bersama. Ruang diskusi tersebut kami namai Daursubur Akhir Bulan. (Baca juga: Tumbuh di Tanah yang Sama)

Komunitas Gubuak Kopi juga mengelola Vlog Kampuang, sebagai salah satu metode mengajak warga memproduksi informasi dan pengetahuan yang dekat di masing-masing warga. Bentuknya bisa jadi seperti workshop dengan ibu-ibu di dapur dan rekaman aktivitas warga hari hari. Sejauh ini, yang terlibat mungkin masih terbatas di Kampung Jawa, Solok, kelurahan domisili Komunitas Gubuak Kopi. Kemudian ada @solokmilikwarga, sebuah akun Instagram seperti yang kita semua tahu ada platform media Infosumbar. Infosumbar platform media warga yang mungkin berfokus pada peristiwa-peristiwa besar, peristiwa penting. Pada solokmilikwarga kita coba mengadvokasi peristiwa yang lebih dekat dengan warga,  seperti memori mereka tentang sebuah pohon, memori tentang sebuah ruang, dan mungkin saja memori tentang kontur dengan berbagai narasinya. 

Albert menyampaikan hasil dari pemetaan sementara terkait strategi pengembangan ekosistem kebudayaan pertanian di Solok, hasil pertemuan dan diskusi teman-teman Daur Subur Akhir Bulan. Apa yang kita punya di Solok, siapa aktor-aktornya, apa permasalahan dan pertanyaan dari teman-teman lainnya. Pada Daursubur Akhir Bulan kita mencoba menghimpun tokoh masyarakat, para UMKM, coffee shop, kelompok tani, seniman, baik itu komposer, sutradara film, dan sanggar kesenian di Solok untuk berbagi apa saja persoalan dan cita-cita kita sebagai masyarakat pertanian di Solok. Kemudian apa sih yang kita imajinasikan tentang Solok? hari ini dan nanti. Kita membayangkan Solok sebagai salah satu hub dari kebudayaan pertanian ditambah dengan instrument tiga balai penelitian perpanjangan dari Kementerian Pertanian, yang juga berkantor dan labor di Solok. 


Albert menyampaikan bahwa Daur Subur juga merupakan metode bagi kami untuk mengumpulkan yang ada di masyarakat baik itu tentang pengetahuan tradisional, pengetahuan ilmiah yang di empu oleh Balai Penelitian akademisi, dan kemudian pengetahuan yang ada di memori warga yang kami coba dokumentasikan dalam bentuk sketsa, dan ada beberapa  buku yang diproduksi oleh komunitas Gubuak Kopi yang merupakan kumpulan dari proses-proses dan pencatatan  yang kami temui selama riset berlangsung. 

Dari program Daursubur Akhir Bulan, koleksi arsip proyek Daur Subur, solokmilikwarga, dan Vlog Kampuang, semua ini kita sebut sebagai langkah untuk riset dan menyusun perencanaan awal, kemudian kita kembangkan di FGD kali ini. Sebenarnya kami juga membayangkan FGD ini bukan yang terakhir, setelah ini akan berlanjut dengan nanti ada FGD dengan institusi lainnya dan diskusi setiap bulannya, kita juga menyusun lini masa kegiatan dan menggalang dukungan dan keterlibatan institusi lain.

Kemudian ada fase Residensi. Istilah ini mungkin belum populer, bahasa lainnya adalah seniman mukim, ia menjadi kegiatan aktivasi atau diversifikasi produk. Di sini kita mengundang seniman, penulis, dan peneliti selama dua minggu sampai satu bulan di Solok, atau lebih. Mereka kita pertemukan dengan komunitas warga, yang mana mereka akan berdialog, bertukar pengalaman dan pengetahuan, dan melakukan sesuatu yang terjangkau, sebagai respon atas persoalan sekitarnya. Proses ini sebenarnya menarik dan mungkin karena memang sebelumnya di lingkungan kesenian kita terdengar bahwa seni cukup berjarak dengan aktivitas warga. Kalau dulu biasanya kesenian itu di produksi di studio, kemudian panggil ke Taman Budaya, lalu yang nonton seniman juga. Sering kali warga dan persoalannya hanya sebagai objek tontonan. Dalam hal ini, kegiatan residensi kita berharap aktivitas berdaya dapat teraktivasi. Baik itu seniman belajar siasat warga ataupun warga turut mengadopsi ide-ide atau semangat kesenian untuk menjadikan proses berdaya menjadi lebih efektif.

Proses ini nantinya akan berlanjut pada proses Simposium, sebagai upaya mempertemukan wacana diberbagai daerah, dan bagaimana pemangku kebijakan lokal dapat mengambil peran. Selain itu juga proses pameran atau festival, sebagai etalase perkembangan dari proses ini dan perayaan untuk mengikat semangat ini terus bertumbuh.

Untuk memenuhi imajinasi itu kami coba memetakan kita punya resource apa, kita ada sumber daya alam yang cukup, sumber daya manusia yang cukup lengkap dengan keahlian dan lembaganya. Kebudayaan pengetahuan lokalnya yang kaya, walau akhir-akhir ini ada jarak dengan itu tapi masih mungkin kita jemput karena masih dekat. Bersamaan dengan kekayaan itu juga ada persoalannya. Seperti pertanian yang tidak dianggap sebagai pilihan generasi sekarang, distribusi hasil produksi yang terbatas, produk yang tidak terserap, hukum pasar yang tidak konsisten, dan sederet persoalan lainnya. 

Dari pemetaan dan pertemuan-pertemuan itu, ada sejumlah nilai-nilai yang coba kita angkat sebagai pewaris kebudayaan pertanian, nilai-nilai juga sejalan dengan nilai UU Pemajuan Kebudayaan yang diterapkan Pekan Kebudayaan Nasional antara lain kolektivitas, kolaborasi bukan kompetisi, inklusif dalam arti kita menghargai perbedaan status tapi tidak lantas salah satu lebih buruk, kemudian ada mental role model, progresif dan istiqomah, semangat berbagi, bermartabat, kemandirian yang dirawat dengan jaringan antar pelaku. Semua ini masih dalam bentuk catatan dan akan terus berkembang diskusi berikutnya. Proses imajinasi kolektif ini adalah proses bagaimana menciptakan ekologi budaya yang mendukung kebudayaan pertanian di Solok, yang berpihak pada keberlangsungan hidup antar manusia, lingkungan adil dan lestari. 

Pada Daursubur Akhir Bulan kemarin kita juga ada beberapa agenda bersama yang coba kita catat ada kebutuhan museum budaya pertanian, ruang publik daur subur, pasar budaya atau pasar produk sehat lokal, pasar kreatif, ada pemanfaatan limbah, dan lainnya. Itu beberapa aspirasi yang kita tampung, tapi tentunya masih banyak. Dari satu sisi kita juga menyadari ada problem, yang selama ini dimana pemangku kebijakan, atau negara selalu berperan sebagai subjek dan warga sebagai objek. Paradigma ini tentu tidak lagi relevan. Warga berdaya adalah subjek dari pembangunan masa depan dan negara atau pemerintah bertindak selaku fasilitator. Persoalan umum lainnya adalah sikap inferior kita sebagai warga yang pernah dijajah, dan kebiasaan kita yang selalu memakai hal-hal berbau “Eropa” sebagai validasi kebenaran, yang belum tentu cocok dengan nilai-nilai dan modal kita.

*** 


Selanjunya ada  Ibu Dini dari Balai penelitian Standar Instrument Tanaman Buah Tropika. Ibu Dini menyambut baik semangat yang coba dihimpun oleh Komunitas Gubuak Kopi, ia berharap dapat banyak terlibat namun tetap harus menyesuaikan di tengah efisiensi anggaran, seperti yang banyak terjadi diinstitusi pemerintahan lainnya pada periode ini. Ibu Dini memperkenalkan institusinya, program-programnya dan kemungkinan komunitas warga untuk mengakses balai tersebut. Balai ini  sudah tiga kali berganti nama yang awalnya pada tahun 1984 -1994 bernama Balai Penelitian Hortikultura (Balihor) Solok; kemudian berganti nama pada tahun 1994 menjadi Balai Penelitian Tanaman buah (Balitbu) dan pada tahun 2006 berganti nama lagi menjadi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika; pada tahun 2023, berganti nama lagi menjadi Balai penelitian Standar Instrumen (BSIP) Tanaman Buah Tropika, menurut Ibu Dini akan berganti nama lagi pada waktu dekat. Balai penelitian ini langsung dinaungi oleh Kementrian Pertanian yang berkantor pusat di Aripan Solok. 

Ibu dini menerangkan bahwa penelitian buah tropis untuk Indonesia dilakukan di lab yang berada di Solok terlebih dahulu, setelah lolos uji, benih-benih iduk tersebut didistribusikan ke kebun-kebun penelitian baik yang  berada di Solok,  Jawa, dan provinsi lainnya di Indonesia setelah itu baru di rilis kepada petani. Adapun komoditi benih buah tropika dari Unit Pengelola Benih Sumber yang tersedia di perkebunan Solok adalah Pokat, Manggis, Durian Pisang, Mangga, dan Sirsak dengan luas tanah 96 hektar dan 1585 tanaman. Dengan jumlah tanaman dan kebun seluas itu, tahun ini anggaran pengelolaan kebun dan bibit kurang lebih sekitar 20 juta saja, oleh karena itu kita sudah jarang sekali merilis langsung ke masyarakat, dan hanya memproduksi benih sesuai permintaan saja. Jika itu berlebih baru kita bagikan ke masyarakat. Kemungkinan yang produksi banyak dan harus segera dibagikan adalah tanaman buah di bagian Kultur jaringan seperti pisang. Selain fokus di lab dan kebun, kita juga memproduksi berbagai olahan dari kebun, ada yang berupa minuman dan makanan di samping itu kita juga menerima adik-adik dari kampus atau sekolah untuk magang dan praktek kerja lapangan. 

Berikutnya ada bapak Zul dari Balai Pengujian Standar Instrumentasi Rempah, Obat dan Aromatik. Beliau menyampaikan bahwa balai ini juga dibawah naungan Kementrian Pertanian yang berfokus pada Rempah tanaman obat dan atsiri kita punya lahan 72 hektar dan hanya sebagian yang tergarap. Selain lab dan kebun, kita punya tempat dan alat penyulingan sereh wangi, karena kita punya kebun sereh wangi  yang cukup luas. Dari tahun 2023 lalu kita tidak lagi punya peneliti di sin,i sama seperti di tempatnya ibu Dini semua peneliti kita ditarik ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Untuk keadaan disini kurang lebih sama dengan cerita ibu dini tadi. 

Maka dari itu sesuai yang kita kerjakan di sini, Pak Zul berbagi pemetaan kandungan dan manfaat sejumlah tanaman yang ada di sekitar kita atau tanaman obat keluarga, mungkin namanya saja yang berbeda-beda. Ribuan tahun lalu, kata Pak Zul, nenek moyang kita sudah punya pengetahuan tentang obat yang bersumber dari tanaman yang tersedia di sekitar mereka. Hari ini orang menyebutnya obat herbal. Nah, herbal ini penyembuhannya memang butuh kesabaran karena sifatnya mengendalikan, memperbaiki dengan perlahan. Ada juga beberapa pendapat mengatakan herbal itu memperbaiki imun, karena secara lahirnya tubuh kita bisa menyembuhkan sendiri dan imun-lah yang harus kita tingkatkan. Seperti tanaman akar wangi untuk bau mulut, ada adam hawa yang sering ditanam sebagai bunga di pekarangan ini adalah obat, rematik, batuk darah begitu juga dengan tanaman andong yang banyak ditanam sebagai bunga di pekarangan khasiatnya mirip.

Temu lawak juga berkhasiat untuk penambah nafsu makan dan juga obat limpa, asma sakit pinggang dan juga bisa untuk sembelit. Lengkuas juga ampuh untuk rematik, panu, juga bisa untuk ketahanan pria dewasa. Kemudian ada jahe merah selain menghangatkan badan jahe merah juga berkhasiat untuk penyakit asma, encok radang tenggorokan, anemia, dan penyakit lambung. Ada belimbing wuluh atau kita disini menyebutnya asam tunjuk bisa obat diabetes dan untuk penyakit yang kekurangan vitamin C. Jadi jika kita hanya sakit ringan seperti demam dan segala rasa nyeri seperti rematik dan penyakit jamur pada kulit obatnya ada di sekitar kita bahkan cancer pun bisa diobati dengan herbal. Mengenai yang kawan-kawan Komunitas Gubuak Kopi lakukan hari ini kami sangat mendukung inisiatif ini silahkan saja setelah ini apa yang mungkin bisa kami bantu silahkan datang ke sini.

Diskusi ditutup dengan membicarakan kemungkinan-kemungkinan kolaborasi yang bisa dipertautkan dalam agenda “Daur Subur” ini. Ada banyak kemungkinan sebenarnya, baik itu memperkaya literasi tentang tanaman sekitar dari sudut pandang penelitian ilmiah, manfaat dan resiko setiap prosesnya, berbagi eksperimentasi bibit, dan akses ke teknologi-teknologi balai tersebut. Diskusi ini akan berlanjut besok, yang menghadirkan narasumber tamu Wening Lastri dari Pasar Papringan, Arief Yudi dari Jatiwangi Art Factory, dan pemangku kebijakan seperti Bappeda Kota Solok, Dinas Pertanian, dan Dinas Pariwisata yang memayungi kebijakan bidang kebudayaan di Kota Solok.

Biki Wabihamdika (Tanggerang, 1996). Biasa disapa Biki menetap di Gantuang Ciri, Solok. Ia adalah lulusan ISI Padangpanjang dengan studi Seni Karawitan. Selain proyek-proyek musik, ia juga sibuk berkegiatan bersama Gubuak Kopi. Sebelumnya, Biki juga aktif di beberapa kelompok musik seperti Ethnic Percussion Padangpanjang, Bangkang Baraka, dan Autotune Production. Selain itu ia juga pernah terlibat di ruang diskusi dwi-mingguan Otarabumalam. Ia juga merupakan kolaborator proyek seni Kurun Niaga (2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.