Tumbuh di Tanah yang Sama

Pada pukul 09:00 di Rumah Tamera sudah tersedia kopi dan teh panas ditemani makanan olahan tanaman lokal yang dibuat oleh Ibu Sofni, tetangga kami. Satu persatu teman-teman berdatangan sambil berkenalan dan mengambil posisi ternyaman di halaman belakang Rumah Tamera. Pertemuan ini dibuka oleh Biahlil Badri memperkenalkan Komunitas Gubuak Kopi, yang difokuskan pada platform Daur Subur yang awalnya dimulai dengan lokakarya Kultur Daur Subur pada 2017 dan berkembang menjadi platform dan serial project seni hingga saat ini. Pada tahun ini, Komunitas Gubuak Kopi membuat satu lagi program turunan dari platform ini, yakni “Daursubur Akhir Bulan”. 

Daursubur Akhir Bulan adalah sebuah ruang dialog bulanan warga dan komunitas warga, baik itu komunitas tani, tetangga, kreatif, dan seni-budaya. Dialog ini dirancang untuk yang membicarakan tentang kelokalan dan menyusun imajinasi bersama, Solok sebagai Hub Pertanian di Sumatera. Imajinasi ini tentu tidak sekedar angan-angan kosong yang tiba-tiba datang sendirinya. Bagi kami, imajinasi ini adalah akumulasi dan sebuah keniscayaan dari temuan kerja-kerja Komunitas Gubuak Kopi 13 tahun terkahir. Di samping itu, beberapa bulan terakhir, Komunitas Gubuak Kopi juga bertemu-kunjung ke komunitas-komunitas warga lain, berbagi cerita, cita-cita, dan menemukan imajinasi yang sama.

Tahun ini, Komunitas Gubuak Kopi segera menginjak usia 14 tahun, dan ini membawa kesadaran yang sama bergaul, berproses, melihat dan merekam, mengkritisi Solok, dan memilih Solok sebagai sebagai ruang hidup kami. Melihat cita-cita dan inisiatif yang dilakukan oleh teman-teman komunitas lain turut memberi kontribusi penting untuk kelangsungan dan kebertahanan Solok hingga hari ini, kami mengajak dan mencoba membagikan wacana ini untuk direspon bersama-sama: “apakah mungkin Solok menjadi Hub Pertanian? apakah kita pada imajinasi yang sama? dan apa yang bisa kita lakukan bersama-sama?”

Diskusi dimulai, dibuka dengan sesi perkenalan praktik masing-masing dan pandangan teman-teman komunitas terhadap wacana ini. Dihadiri oleh 119 Coffee dan RN Coffee sebagai kedai kopi yang menampung dan memasarkan kopi lokal Solok; ada Ahlan yang aktif di percetakan dan juga sebagai kurator independent Solok, yang juga memiliki ketertarikan pada isu-isu pertanian dan lingkungan. Bobi seorang pemusik yang aktif di Sanggar Alang Bangkeh dimana musik dan karya mereka banyak terinspirasi dari kebudayaan pertanian dan kearifan lokal Solok. Boy Nistil dari Komunitas Kadai Loket, yang aktif mendokumentasikan lanskap alam dan aktivitas warga Solok dalam sketsa ataupun lukisannya.


Turut hadir juga Jumaidil Firdaus, yang akrab kami sapa Da Jum, dari Nagari Sirukam, seorang Komposer musik kontemporer, dimana musiknya mengadopsi dialektika nilai-nilai tradisi Minangkabau yang didominasi oleh kebudayaan pertanian. Dari petani muda turut hadir juga Kelompok Tani Bukik Gompong Sejahtera. Bukik Gompong sampai hari ini mereka sedang mengupayakan hulu dan hilir dari hasil pertanian mereka, dan juga memiliki sejumlah perkebunan organik, produksi pupuk organik, dan menginisasi sekolah pertanian alternatif di kebunnya. Selanjutnya, Albert Rahman Putra dari komunitas Gubuak Kopi, selaku ketua kelas ia juga mempertebal wacana dan menyampaikan pemetaan sementara dari Komunitas Gubuak Kopi terhadap wacana kebudayaan pertanian hari ini. 

Perkenalan dilanjutkan oleh Satria Arjuna seorang pelaku budaya yang aktif juga dalam kelompok bonsai. Menurut beliau, praktik ini salah satu upaya untuk membuat bertani menjadi salah satu jadi praktik yang menyenangkan, di tengah paradigma yang melelahkan dari pertanian. Selanjutnya ada Mimi Batik Tarancak Solok, sebuah kelompok usaha tekstil berfokus dalam memproduksi batik, studi pewarna alami dan praktik ecoprint yang memanfaatkan tanaman. Lalu ada Komunitas Badaceh, sebuah kelompok kuliner yang berfokus pada pengolahan bahan pangan lokal terutama yang dipanen sekitar. Kelompok Badaceh diwakili oleh Ibu Sofni, yang juga aktif memandu kelompok Dasawisma di sekitar komplek rumahnya untuk berkebun di pekarangan dan ruang-ruang sekitaran komplek. Tanaman yang mereka tanam tidak hanya tanaman sayuran, tetapi juga buah, herbal dan ditata dengan kesadaran estetis. Beberapa tahun terakhir kami sering diajak memanen.

Berikutnya ada Mas Tomy dari Parak Batuang Space, seorang ASN, kata beliau “saya stres dengan pekerjaan di kantor, maka saya mengaktivasi tanah di sebelah rumah saya, yang kebetulan di pinggiran sungai, yang saya upayakan menjadi ruang publik yang ramah”. Diskusi ini juga turut dihadiri oleh Jufri dari Fataya Ecoprint Sijunjung, ia memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai pegawai negeri dan kini aktif mengarsipkan tanaman di sekitarnya lewat praktik ecoprint, selain itu jufri juga aktif mengkritisi maraknya tambang ilegal di kabupaten Sijunjung. 

Lalu ada Ibu Yanti, seorang ibu rumah tangga yang memproduksi keripik dari pisang yang tumbuh di sekitar rumahnya. Keripik tersebut ia kembangkan menjadi sejumlah varian rasa dan dikemas dengan baik untuk dipasarkan. Lalu ada Ibu Vivi dari Randang Hj. Fatimah, bercerita bahwa mereka pernah ditawari beberapa orang untuk produksi rendang berton-ton, ia tidak menyanggupi, sebab keterbatasan ketersedian bahan baku. Ia bercerita Solok yang dipenuhi pohon kelapa, malah terjadi kelangkaan kelapa. Konon banyak kelapa Sumatera Barat dijual dalam jumlah yang banyak ke provinsi lain dan diekspor ke Malaysia dan Singapore, sehingga di Solok menjadi langka dan harganya menjadi tinggi. Selain membuat rendang, Ibu Vivi juga aktif di Rumah Inovasi dengan pertanian “semi” organiknya, yang terintegrasi dengan peternakan, perkebunan, dan produksi pupuk.

Juga hadir Melya Fitri dari Gajah Maharam Photography, sebuah komunitas foto yang aktif mendokumentasikan peristiwa budaya, khususnya yang berkaitan dengan alam dan pertanian di Solok. Ada Deni Leonardo akrab disapa Pak Raka, seorang sutradara film dan Guru yang mengajar perfilman di SMK N 1 Kota Solok. Ia aktif membicarakan potret-potret kebudayaan pertanian di filmnya. Sebagai seorang pendidik Pak Raka juga memiliki keresahan pada rendahnya pengetahuan anak didiknya terhadap pengetahuan lokal dan terutama terkait kebudayaan pertanian, yang menjadi akar kehidupan di tempat mereka berasal. Ada Uda Dori, dari Hanum Ecoprint, seorang aktivis kampung dari Nagari Rangkiang Luluih, bersama pemuda lokal kampungnya yang juga tengah aktif mempelajari dan memproduksi ecoprint sebagai upaya dalam merekam tanaman pewarna di kampungnya. 

Uda David dari Kopi Amak, kedai kopinya juga menjadi titik kumpul kawan-kawan di Koto Baru, Solok. Selain menyediakan seduhan kopi, ia juga melakukan perendangan kopi-kopi secara manual dan mempackingnya untuk siap disebar. Uda David datang bersama Miko dari Kukuak Balenggek Creative City Network, secara personal ia kini tengah berupaya dan mengambil posisi di pemasaran produk lokal Solok. Kemudian ada Ibu Santi dari Sanggar Tari Galatiak, dimana Sanggar Galatiak Aktif dalam pelatihan tari tarian tradisional untuk anak di Kota Solok. Randang Ni Yas, Solok, yang kini dikelola oleh Gita. Randang Ni Yas sering mendapat penghargaan juara pertama di sejumlah kompetisi rendang, baik itu di Solok maupun di tingkat Provinsi Sumatera Barat. Produk kemasan rendang dan bumbu rendangnya telah tersebar ke berbagai kota. Selanjutnya ada Hendra dari kelompok tani Galanggang Raya Farm, yang aktif dalam pertanian terintegrasi dengan peternakan, produksi susu kambing, pupuk, dan menyediakan jasa “bengkel ternak” terkhusus sapi dan kambing.


Setelah sesi perkenalan sebelum makan siang kita disuguhi kuliah singkat tentang pertanian sebagai ikhtiar bersama yang dipandu oleh tokoh masyarakat Solok, Buya Khairani. Buya menghimbau teman-teman untuk menjalankan peran manusia sebagai manusia yang bijak, dipenuhi rasa syukur terhadap tanah sebagai anugerah dari tuhan. Beliau juga menyampaikan bahwa bertani adalah bentuk perencanaan kehidupan untuk generasi yang akan datang, karena itu adalah hutang kita untuk masa depan dan dosa apabila itu dilalaikan. Cermah singkat Buya Khairani, menjadi pengantar untuk agenda Halal Bi Halal, menyambut bulan Ramadhan dan mendoakan niat bersama pada pertamuan ini. Setelah berdoa, teman-teman yang hadir melanjutkan makan siang dengan hidangan yang dimasak oleh Ibu Lek Muh, yang merupakan tetangga Komunitas Gubuak Kopi. 

Setelah istirahat dan shalat, sesi berikutnya dipantik oleh Albert dan Badri: kita dianugerahi tanah yang luas, subur dan beragam tanaman dan praktik yang tumbuh diatasnya. Di samping itu, kita juga dibekali pengetahuan dari orang terdahulu maupun keilmuan baru sebagai modal dan siasat dalam mengelola tanah ini. Keberlangsungan dan ketahanan juga menjadi tugas kita bersama untuk masa depan yang lebih baik. Selain itu kita ternyata juga punya sejumlah balai penelitian, yang merupakan perpanjangan tangan dari Kementerian Pertanian di wilayah kita, seperti balai penelitian tanaman obat, rempah, buah tropika, dan pangan. Dengan segala yang kita punya apakah mungkin kita menjadi salah satu pewaris dan pusat dari kebudayaan pertanian? Walaupun kita menyadari terdapat berbagai permasalahan dan kekurangan, maka dari itu kami ingin berbagi niat baik ini dan membersamai untuk pertanian yang bermartabat di masa mendatang.

Pantikan ini ditanggapi oleh Buya yang membawa kami ke situasi pada masa Orde Baru. Buya menyampaikan salah satu komoditi unggulan seperti cengkeh pada masa dahulunya menjadi kejayaan pertanian seperti Nagari Koto Anau yang hari ini mengalami penurunan eksistensi, baik pasar maupun geliat petani yang hanya menjadi musiman. Kasus ini hampir terjadi disemua komoditi tanaman yang awalnya dijamin alur pasarnya oleh pemerintah. Kemudian Buya juga bercerita di masa orde baru para penyuluh pertanian dinamai sesuai komoditi yang difokuskannya karena beberapa komoditi populer pada waktu itu, untuk izin pembudidayaan harus mendapatkan perizinan dari penyuluh pertanian. Efeknya ini menjadi terkelola dan terdata, tapi itu berbanding lurus dengan pasar yang ditawarkan waktu itu. 

Kemudian ada Satria Arjuna atau biasa disapa Kak Ad, ia memberikan pandangan rusaknya pemahan tentang pertanian sudah berlangsung lama, petani hanya dilihat sebagai target pasar. Sekarang para negara gurun bisa ekspor produk pertanian. Apa yang terjadi? Kak Ad juga mengkritisi kebijakan dari pemerintah dan narasi yang berkembang di masyarakat berdampak pada pengkerdilan petani, yang akhirnya pertanian tidak menjadi pilihan dan menjadi profesi dengan kasta terendah dalam pandangan pemuda hari ini. Kak Ad juga menyampaikan salah satu yang mungkin kita kerjakan adalah mengurusi hulu-hilir dari tanaman yang tumbuh secara sehat, baik, dan mandiri. Hari ini sangat susah mencari tanaman yang sehat dan kita bisa meminjam terminologi “pertanian organik” yang mungkin sampai hari ini adalah pilihan yang relevan untuk menghasilkan pangan yang baik karena bagi saya organik adalah kesinambungan jika ingin bertahan dan berlanjut maka beorganik. 


Wahyu dari BukiK Gompong Sejahtera menanggapi, menurutnya memang pembunuhan karakter pertanian sudah berlangsung lama, maka dari itu kita harus menumbuhkan karakter baru. Salah satu yang mematikan pertanian adalah tengkulak. Jika kita akan melawan tengkulak, maka kita harus menjadi “tengkulak” itu. Lalu tengkulak yang bagaimana? Pada masa “Revolusi Hijau” pemerintah Orde Baru berupaya membuat pembasmi hama yang kita kenal dengan pestisida, dan ternyata itu tidak lagi efektif hari  ini. Kita sadari bahwa pestisida itu merontokkan ekosistem alami itu sendiri, maka dari itu kami di Bukik Gompong Sejahtera berupaya membuat pengendalian hama terpadu. Untuk strategi ekonomi yang mungkin kita kerjakan hari ini adalah memulai dengan paling bawah, yakni membangun jaringan edukasi dan saling memasarkan. Kemudian fakta organik adalah fakta pasar, dimana sewaktu-waktu hukum pasar akan berlaku, ketika banyak dia akan menjadi murah, saya lebih setuju dengan pertanian sehat. 

Albert Badri mencatat poin-poin penting dari pandangan khalayak diskusi. Albert menegaskan istilah pertanian sehat atau yang lebih sehat menjadi terminologi yang bisa kita gunakan dalam pertemuan-pertemuan ini. Sebab, terminologi “pertanian organik” yang telah diformulasi oleh akademisi membuat standar-standar ukuran, yang mungkin menghukum keterlanjuran yang sudah terjadi. Faktanya, menurut BPSIP Sumbar, hampir tidak ada pertanian yang layak disebut organik di Solok, bahkan tanahnya sudah terkontaminasi zat mercury yang berbahaya bagi kesehatan. Wilayah pertanian Alahan Panjang pun disebut-sebut sebagai penyumbang kanker terbesar. Hal ini tidak luput dari proyek revolusi hijau masa lalu, yang membuat kita ketergantungan pada pupuk kimia, tanpa terliterasi akan dampak-dampaknya. Yang penting kita lakukan sekarang adalah bagaimana membangun kesadaran dan literasi soal apa-apa yang kita gunakan, yang berubah ke pertanian yang lebih sehat. Sesi ini ditutup oleh Ibu Vivi dengan sebuah statement: tidak semua bisa diukur karena keterukuran adalah bagian dari usaha menjadi lebih baik, dan hasil adalah rezeki yang sudah gariskan.  

Biki Wabihamdika (Tanggerang, 1996). Biasa disapa Biki menetap di Gantuang Ciri, Solok. Ia adalah lulusan ISI Padangpanjang dengan studi Seni Karawitan. Selain proyek-proyek musik, ia juga sibuk berkegiatan bersama Gubuak Kopi. Sebelumnya, Biki juga aktif di beberapa kelompok musik seperti Ethnic Percussion Padangpanjang, Bangkang Baraka, dan Autotune Production. Selain itu ia juga pernah terlibat di ruang diskusi dwi-mingguan Otarabumalam. Ia juga merupakan kolaborator proyek seni Kurun Niaga (2019).

One comment

  1. kereen, program button up yang lahir dari keinginan memperbaiki cara pandang terhadap bumi yang ramah dan sehat untuk hidup yang menyenangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.