Presentasi karya “Basuo jo Babagi”

Basuo jo babagi adalah bahasa Minangkabau yang berarti “bertemu lalu berbagi”. Project ini dikerjakan oleh Taufiqurrahman atau yang biasa disapa Kifu, dalam rangkaian Lapuak-lapuak Dikajangi (LLD) #3. Sebuah perlehatan dari studi nilai-nilai tradisi yang digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi melalui proyek seni berbasis media. Pada tahun ini kuratorial LLD #3 mengundang para seniman merespon fenomena “silaturahmi” baik dalam konteks tradisional maupun di situasi normal baru. Para seniman melakukan riset dan residensi singkat secara daring, diskusi terarah, kolaborasi, dan presentasi karya.

Menanggapi isu-isu seputar silaturahmi, Kifu mempelajarinya secara performatif bersama sejumlah anak muda Solok pengguna media sosial. Mereka berkumpul dalam sebuah grup media sosial yang difasilitasi Komunitas Gubuak Kopi. Para anggota grup mengagendakan sebuah silaturahmi “daring” sederhana. Mereka diminta menyeleksi benda di sekitarnya, dan membawakannya dalam bentuk foto secara “japri” kepada Kifu sebagai buah silaturahmi. Proses ini berlangsung selama satu minggu. Kifu menerima “benda” itu, kemudian mengintervensi dan mereproduksinya menjadi sebuah imajinasi benda baru yang “entah”. Dan kini ia bagikan kembali ke publik media sosial.

Karya-karya ini akan dipresentasikan melalui feed instagram @gubuakkopi secara berkala dalam rentang 19-26 September 2020, selain itu bingkaian artisitik proyek ini juga disajikan dalam halaman gubuakkopi.id/basuojobabagi. Halaman ini sudah bisa diakses sejak 19 September 2020, pukul 20.00 WIB.

Salah satu karya kolase “Basuo jo Babagi” (Taufiqurrahman, 2020)

 “Dalam tradisi Minangkabau, beragam perlakuan khusus diberlakukan dalam merayakan silaturahmi. Kita mengenal penamaan-penamaan spesial untuk aktivitas ini, seperti manjalang mintuo (mengunjungi mertua), manjalang induak bako (mengunjungi keluarga ayah), pulang basamo (mudik), dan lainnya. Semua ditata sebagai bahasa untuk tradisi menunjukan martabatnya. Mulai dari penetapan hari khusus, simbol makanan, pakaian, dan seterusnya. Simulasi sederhana ruang silaturahmi “Basuo jo Babagi”, mengajak kita melihat kembali serta mengalami secara singkat, berspekulasi tentang bagaimana praktik tradisi itu muncul, beradaptasi pada situasi zaman dan kesadaran pelakunya. Tentang “benda-benda” yang menjadi sakral dengan perlakuan khusus terhadapnya,” Albert Rahman Putra.

Menarik mengundang teman-teman seniman muda ini, yang dalam catatan kami memiliki prespektif menarik dalam merayakan dan merespon kehadiran teknologi ini dalam bingkaian kesenian, merespon nilai-nilai tradisi, serta menghadirkan bahasa-bahasa artisitik yang lebih segar dalam konteks publik Sumatera Barat. LLD #3 juga berupaya melihat bagaimana “normal baru” dan platform teknologi komunikasi, mampu mengakomodir pertukuaran pengetahuan serta kebutuhan artisik para seniman.

Selain Kifu, seniman lain yang terlibat adalah Theo Nugraha, seniman sound dan seni perfromans asal Samarinda;  Siska Aprisia, penari, koregrafer, dan pegiat budaya asal Pariaman dan kini berdomisili di Yogyakarta; Avant Garde Dewa Gugat a.k.a AGDG, komposer dan sound artist asal Padangpanjang; Robby Ocktavian, pegiat budaya dan seniman performans asal Samarinda; dan Utara Irenza, penari dan aktor asal Agam. LLD #3 sudah berlangsung sejak 5 September 2020 dan para partisipan secara bergantian mempresentasikan karyanya hingga 26 September nanti.*

Portofolio dan kuratorial project: Lapuak-lapuak Dikajangi #3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.