Tag Archives: Singkarak

[PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU] – “SORE KELABU DI SELATAN SINGKARAK”

AKUMASSA BERNAS #1
“SORE KELABU DI SELATAN SINGKARAK”
penulis: Albert Rahman Putra
penerbit: Forum Lenteng
Rabu, 21 Februari 2018
Pukul 19.30 WIB
di Galeri Kubik Koffie
narasumber:
Andini Nafsika (Moderator), Otty Widasari (Editor/direktur program akumassa), Albert Rahman Putra (Penulis), Esha Tegar Putra (Pembahas)
Dalam buku kumpulan tulisan berjudul SORE KELABU DI SELATAN SINGKARAK ini, Albert merekam fragmen-fragmen kejadian dan kisah yang bergulir di sekitaran Danau Singkarak. Albert mengamati situasi ini sejak tahun 2010 yang kemudian dibingkai ke dalam 11 tulisan. Isu-isu tersebut antara lain tentang kondisi lingkungan, peseteruan warga, keberadan tambang dan dampaknya pada situasi sosial masyarakat, kebijakan dan respon pejabat pemerintah, serta jalur dagang warisan kolonial melalui penelusuran sejumlah arsip sejak tahun 1818.
penyelenggara:
Komunitas Gubuak Kopi adalah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok. Kelompok ini berdiri pada tahun 2011, befokus pada pengembangan pengetahuan seni dan media di tingkat lokal, melalui kegiatan lokakarya literasi media, kolaborasi seni lintas disiplin, dan pengarsipan alternatif berbasis komunitas.
informasi:
0813 6543 9027 (Delva)
@gubuakkopi
___________________
Makalah Esha Tegar Putra: Lingkung Singkarak dalam Retrospeksi

PROFIL NARASUMBER

Andini Nafsika (Moderator)

lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang (UNP). Penulis puisi dan aktif berkegiatan di Teater Serunai Laut, dan Ruang Diskusi Shelter Utara Kota Padang.

Otty Widasari (Editor/direktur program akumassa)
Seorang seniman, kurator, dan penulis yang berbasis di Jakarta. Dia juga merupakan salah satu pendiri dari Forum lenteng, dan Direktur AKUMASSA, program pengembangan masyarakat  yang menggunakan media (video, fotografi, gambar, dan teks) sebagai alat untuk mengungkap masalah sosial budaya, dan juga Pemimpin Redaksi masyarakat secara online di jurnal www.akumassa.org. Otty juga salah satu pendiri Footage Journal (www.jurnalfootage.net), sebuah jurnal tentang video dan filem. Sejumlah karya filem dan idenya telah dipresentasikan diberbagai festival nasional dan internasional.

Albert Rahman Putra (Penulis)
Biasa disapa Albert, lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik tradisi, dan sejarah lokal Sumatera Barat. Selain itu, ia juga aktif mengkuratori sejumlah pameran dan pagelaran seni di Sumatera Barat.

 Esha Tegar Putra (Pembahas)
Biasa disapa Esha, merupakan seorang sastrawan, penyair, dan kritikus sastra. Lulusan Pascasarjana program Sastra Indonesia, di Universitas Indonesia (2018). Ia dan beberapa kawan merupakan penggagas Padang Literary Biennale (2014). Beberapa buku yang telah ia lahirkan antara lain: Pinangan Orang Ladang (2009); Sarinah (2016). Selain itu, sejumlah karya puisi, cerpen, dan esainya telah dipublikasi di sejumlah media lokal dan nasional, seperti harian Kompas dan koran Tempo. Ia juga sering diundang selaku narasumber di sejumlah iven sastra tingkat nasional

_____

Orkes Taman Bunga, adalah sebuah kelompok musik yang mengusung tema keseharian dalam syair-syairnya, yang dibalut manis dan satir dengan irama orkes dangdut minang. Kelompok ini beridiri pada tahun 2012, berbasis di Padangpanjang, dan telah mempertunjukan karya di berbagai kota di Sumatera Barat dan Riau.

Letusan di Riaknya Danau

Kira-kira dua minggu setelah lebaran (2015), suasana Singkarak yang sebelumnya ramai sudah berangsur normal. Jalanan sudah mulai sepi lagi, hanya sampah-sampah yang bertambah banyak. Siang hari, saya mampir di sebuah kedai nasi di tepian Danau Singkarak di daerah Tikalak. ‘Riak Danau’, begitu tertulis di depan warungnya. Di sana, saya bertemu seorang perempuan paruh baya. Dia adalah pemilik warung itu. Continue reading

Menjaring Ikan Di Muara Sumpur

Menjaring adalah cara yang biasa digunakan oleh penangkapo bilih di Sumpur. Namun sekarang aktivitas ini mulai berkurang karena susahnya untuk mendapatkan ikan sejak dua tahun terakhir. Ikan bilih berkurang secra drastis, menurut para nelayan hal ini diakibatkan oleh praktik-praktik ilegal fishing disekitar lokasi ini.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Processed with VSCOcam with g3 preset

Suasana menjaring ikan bilih di Muaro Sumpur.

silahkan baca artikel terkait di akumassa :

Bilih: Ikan Kecil  Kita yang Hampir Habis, dan Keluarganya Di Perairan Toba

___________________________________

Koleksi foto: Albert Rahman Putra (2015) | akumassa bernas

Bilih: Ikan Kecil Kita yang Hampir Habis, dan Keluarganya Di Perairan Toba

Bilih adalah nama jenis ikan langka yang konon hanya hidup di perairan Danau Singkarak. Baru pada kisaran 2000-an, peneliti dari Pusat Riset Perikanan Tangkap, Badan Riset Kelautan Dan Perikanan, Departemen Kelautan Dan Perikanan, mengintroduksi spesies ini ke perairan Danau Toba. Di sana, bilih berkembang menjadi dua bentuk. Yang satu, berukuran lebih besar, sekitar dua sampai tiga jari orang dewasa. Yang lainnya berukuran biasa, satu sampai dua jari orang dewasa, mirip dengan bilih Singkarak, namun untuk dimakan rasanya jauh berbeda. Bilih yang berkembang di Toba tersebut, oleh masyarakat lokal disebut ikan Pora-pora, diambil dari nama ikan yang telah punah di sana. Ikan Pora-pora ini kemudian dijual lagi ke kampung halamannya, Singkarak. Di sini, keluarga yang berkembang biak di Toba itu lebih akrab disebut Bilih Medan. Rasanya lebih pahit, kadang hambar, dan ia juga beredar dalam kemasan berlabel Bilih Singkarak. Continue reading

Lukisan Lampau: Kabar Indah di Singkarak

Tahun 1905, Eugen Koehler dan putranya Woldemar Koehler pemilik sebuah penerbitan di Jerman, menerbitkan beberapa karya lukis Earnts Haeckel dengan judul Wanderbilder, atau dalam bahasa Inggris “Travel Images”. Haeckel adalah seorang profesor biologi di University of Jena. Ia juga dikenal sebagai pelukis naturalis berkebangsaan Jerman yang juga pengikut setia, pelestari, dan pengembang filsafat Darwinisme di Eropa. Wanderbilder adalah sebuah kumpulan lukisan pemandangan dari tempat-tempat indah yang pernah ia kunjungi di daerah tropis selama melakukan pendataan spesies makhluk hidup. Salah satu dari banyak lukisan itu, terselip sebuah pemandangan kampung di tepian danau dengan latar bukit yang berdempetan. Saya menemukannya secara terpisah di internet. Danau itu adalah Danau Singkarak, tertulis di sisi kiri lukisannya dengan tanda tahun 1901.1 Kalau ditanya, sejak kapan masyarakat dunia mengenal Singkarak, mungkin itu adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi setidaknya publikasi lukisan Haeckel ini menunjukan bahwa keindahan visual danau Singkarak sudah terkabar hingga Jerman sejak 1905.2 Continue reading

Muara Lembang

I – Pak Mali

Di sebuah sisi danau seekor bangau terbang tanpa koloninya. Sepertinya dia tengah tersesat. Danau diselimuti kabut, seberang tak tampak. Tapi seskali hembusan angin menyibak, orang-orang diseberang sepertinya baru saja panen dan membakar tumpukan jerami mereka. Di dekat saya, sorang wanita terlihat anggun dengan sapu lidinya yang seakan tengah mendayung tanpa sampan. Dia dia tidak sedang berandai-andai mendayung sampan, apa lagi memparodikan cerita nenek sihir yang terbang dengan sapu lidinya. Perempuan ini tengah menyapu sampah yang melayang-layang di perukaan danau Singkarak. Continue reading