Tag Archives: Kultur Sinema

Diskusi Sinema, Roda dan Gerakan

Pada Rabu, 12 April 2017 lalu, Delva Rahman salah seorang pegiat Komunitas Gubuak Kopi menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian Malang Film Festival 2017. Dalam hal ini Delva mengisi diskusi umum, panel Sinema: Roda dan Gerakan, sebuah pengembangan wacana sinema sebagai kebudayaan dalam upaya memahami persoalan di sekitar. Selain Delva, dalam diskusi ini juga terdapat seorang pembicara lainnya yakni, Ramadhani Fauzi, pegiat komunitas Layar Kemisan (Jember), dan dimoderatori oleh Baruna Ary Putra (Kine Klub UMM). Continue reading

Postingan Terkait

Sinema di Pojok Kampung Kita

Pada 25-26 Maret 2017 lalu, di beberapa titik, di Kelurahan Kampug Jawa, Solok, berlansung kegiatan “Sinema di Pojok Kampung Kita” Penayangan ini diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi, bersama Pusat Pengembangan (Pusbang) Film, Kementrian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam rangka merayakan Hari Film Nasional 2017.

Kegiatan ini dibuka dengan penayangan Darah dan Doa, karya Usmar Ismail (1950), pada pukul 16.00 WIB di Galeri Gubuak Kopi, di Kelurahan Kampung Jawa. Darah dan Dan adalah film yang pertama kali dibuat (diproduseri dan disutradarai) oleh orang Indonesia. Usmar Ismail sendiri adalah seorang kelahiran Bukittinggi, 21 Maret 1921. Ia dikenal sebagai pelopor perfilman Indonesia. Pada tahu 1950, ia mendirikan PERFINI (Perusahaan Film Nasional), serta memproduksi film pertama, yakni Darah dan Doa di bawah nama PERFINI pada tahun yang sama. Tanggal 30 Maret 1950, adalah hari pengambilan gambar pertama dari film Darah dan Doa, yang kini disebut sebagai Hari Film Nasional oleh Dewan Perfilman Nasional pada taun 1962. Continue reading

Postingan Terkait

Tentang Terminal dan Bioskop yang Konon Pernah Ada di Solok

Siang  itu, 7 Maret 2017, sekitar jam 10.20 di Terminal Angkot Kota Solok, cuaca sangat bersahabat. Tampak suasana terminal yang sudah ramai dan menimbulkan kebisingan akibat suara mesin angkutan kota (angkot). Tidak hanya angkot yang ada di terminal itu, tetapi banyak juga ojek dan pedagang d ipinggiran Terminal Solok yang mengisi ruang-ruang di area tersebut. Kurang-lebih sudah 50 tahun terminal ini berdiri dan menampung ribuan kendaraan bermotor yang melewatinya. Di dalamnya, banyak juga gedung-gedung tua berdiri di sekitar Terminal Angkot Kota Solok. Ada sebuah gedung di tengah terminal yang dulunya merupakan tempat menjual karcis angkutan bus kota, tapi sekarang sudah menjadi toko-toko kecil, terlihat dari tekstur bangunan yang berada di tengah-tengah Terminal Angkot Kota Solok. Dan juga pos penjaga terminal, yang menjadi saksi bisu dari kerasnya kehidupan di terminal. Sementara itu, gedung pertokoan yang berada di sebelah pos penjaga Terminal Angkot Kota Solok tersebut, dahulunya adalah sebuah bioskop lokal di Kota Solok. Warga menyebutnya “Bioskop Karia”. Continue reading

Postingan Terkait

Rapat Koordinasi Komunitas Film Indonesia

Berkaitan dengan peringatan Hari Film Nasional 2017, Pusat Pengembangan (Pusbang) Film, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, menggelar Focus Grup Discussion (FGD) dan rapat koordinasi komunitas film Indonesia di Hotel Akmani, Menteng, Jakarta Pusat pada tanggal 16-18 Maret 2017. Kegiatan ini mengundang 30 perwakilan kelompok/komunitas/organisasi yang aktif berkontribusi dalam perkembangan film di Indonesia. 30 Kelompok ini terdiri dari 3 panel FGD yakni, forum produksi; forum eksibisi dan festival, serta forum apresiasi dan kajian. Dalam hal ini, Albert Rahman Putra mewakili Komunitas Gubuak Kopi, ikut mengisi bagian forum apresiasi dan kajian filem. Dalam forum ini, diksusi difokuskan pada pembacaan tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap budaya sinema di berbagai daerah, serta strategi-strategi yang dilakukan oleh tiap-tiap kelompok untuk mengembangkan pengetahuan sinema sesuai dengan situasi kebudayaan lokal. Kegiatan ini di antaranya juga ditujukan untuk menemukan rekomendasi kebijakan yang berkaitan dalam pengembangan pengetahuan sinema dan perfilman di Indonesia. Continue reading

Postingan Terkait

Apresiasi Film Indonesia 2016

Pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 2016 lalu, Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menggelar rankaian roadshow Apresiasi Film Indonesia (AFI) di beberapa titik di Kota Padang, Sumatera Barat. Roadshow ini adalah bagian dari rangkaian ajang Apresiasi Film Indonesia 2016. Selain di Kota Padang, Roadshow juga diselenggarakan di beberapa kota lain di Indonesia. Di Kota Padang sendiri, roadshow dilaksanakan di dua titik. Pertama, di Kampus Universitas Andalas, pada tanggal 30 September; dan yang kedua, pada tanggal 1 Oktober dilaksanakan di RRI Padang. Continue reading

Postingan Terkait

Literasi Komunitas Filem

Perkembangan aktivisme dan aktivitas seputar sinema di daerah-daerah tidak lepas dari peran komunitas yang ada di dalam dan sekitarnya. Adalah tugas komunitas untuk membaca dan memahami persoalan yang ada di sekitar mereka: menemukan referensi sinema yang berkualitas, dan menggiring diskusi yang produktif di antara masyarakat, baik itu dalam melihat persoalan sosial politik, ekonomi, dan sebagainya. Entah itu akan bermuara pada produksi-distribusi atau dalam bentuk aksi-aksi publik lainnya. Sebelum itu, tentu setiap pelaku komunitas harus memiliki bekal pengetahuan sinema itu terlebih dahulu. Hingga saat ini, umumnya produksi dan distribusi pengetahauan sinema, secara dominan, masih terpusat di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja. Tapi kita tidak boleh lupa, ia nyatanya juga dapat tumbuh dan hidup di kawasan yang sangat kecil, contohnya adalah kawan-kawan di Purbalingga yang telah melakukanya dengan sangat baik (Festival Film Purbalingga). Di tangan pegiat filem Purbalingga, aktivitas dan aktivisme sinema tumbuh menyatu dalam kehidupan masyarakatnya. Continue reading

Postingan Terkait

Komunitas dalam Pengembangan Pengetahuan Sinema

Pada tanggal 20 Agustus 2016 lalu, ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival menggelar program Forum Festival, Panel ke-5 yang bertajuk “Komunitas dan Pengembangan Pengetahuan Sinema”. Pada bagian forum festival ini, salah satu pembicaranya adalah Albert Rahman Putra.

Albert adalah salah satu pegiat Gubuak Kopi, dalam forum ini ia mempresentasikan aktivitas yang dilakukan bersama Gubuak Kopi di Solok, serta pandangannya terkait aktivitas komunitas film di Indonesia. Selain Albert, materi dalam panel ini juga diisi oleh yaitu Dimas Jayasrana, Fauzi Ramadhani, dan Yuli Lestari. Forum ini dimoderatori oleh Hafiz Rancajale, salah satu pendiri Forum Lenteng dan ruangrupa.

Continue reading

Postingan Terkait

Catatan Tentang “Sampah dan Orang Sisa-sisa”

Berangkat dari pengantar kuratorialnya, Ronny Agustinus menekankan pergulatan yang tak terelakan oleh semua negara di dunia dengan latar belakang ekonomis apa pun, yakni masalah sampah sebagai sisa-sisa kapitalisme industri. Pemimpin redaksi penerbit Marjin Kiri tersebut mempersembahkan dua filem dalam program kuratorialnya, Sampah dan Orang Sisa-sisa, di Kineforum pada hari Senin, 22 Agustus, 2016  pukul 13:00. Seperti pada program kuratorial ARKIPEL Ronny Agustinus pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Latin kembali diangkat sebagai latar tempat dan budaya.

dscf6327

Ilha Das Flores (1989) merupakan filem pembuka program kuratorial ini dengan durasi 13 menit. Hasil garapan Jorge Furtado, sutradara Brasil, filem ini menggunakan objek tomat sebagai media pengantar penonton menelusuri tahap-tahap kapitalis menuju apa yang disebut kurator sebagai residu lain dari kapitalisme industri, masyarakat yang hidup dari sampah. Ilha das flores memiliki arti harfiah “Pulau Bunga”, namun jauh dari makna denotasi namanya, nama tersebut mengandung sarkasme karena tempat tersebut tidak lebih dari sekedar tempat pembuangan sampah akhir.

Ronny Agustinus.

Ronny Agustinus.

“Deus não existe”, begitulah kalimat pembuka dari filem yang ekuivalen dengan kalimat “Tuhan tidak ada”. Ilha das flores adalah tempat yang penuh keputusasaan tanpa secercah harapan. Filem ini mengandung rasa yang sangat pesimis, tidak ada antusiasme untuk mencari solusi. Narator yang sarkastik mengalienasikan dirinya dari manusia dengan kian menyebut manusia sebagai pihak ketiga dan dengan sengaja tidak ada usaha untuk menarik penonton sebagai bagian dari manusia yang tampak pada layar.

dscf6319

Hal di atas sangat kontras dengan filem kedua. Landfill Harmony (2015) adalah filem kedua yang diputar dengan durasi 101 menit. Disutradarai oleh sutradara asal Amerika Serikat, Brad Allgood, filem ini merupakan produksi Paraguai yang menunjukkan perjalanan sekelompok pemusik anak-anak. Hal yang membuat mereka berbeda ialah latar belakang mereka sebagai anak-anak dari para tukang sampah atau gunchero di sebuah kota tempat penampungan sampah bernama Cateura, serta pemanfaatan sampah yang didaur ulang sebagai alat musik.

_abe7704

_abe7695

_abe7690

_abe7689

Bertolak belakang dengan filem sebelumnya, Landfill Harmony bernada jauh lebih optimis sekaligus memberikan inspirasi. Pendekatan artistik yang terdapat dalam filem menunjukkan tahap yang berlawanan arah dari filem pertama. Ditampilkan secara kronologis, keterpurukan diangkat menjadi titik berangkat. Dipupuk oleh kerja keras dan semangat, hasil akhirnya adalah sesuatu relatif jauh lebih pantas dari sebelumnya. Pada awal filem, anak-anak tersebut tidak lebih dari pemusik amatir yang bahkan masih gemetar menyentuh alat-alat musik daur ulang, namun pada akhirnya mereka berhasil bersanding dengan pemusik internasional

Di hadapan dua belas penonton lainnya, Albert dari Forum Lenteng memberikan tanggapan, khususnya terhadap filem kedua. Bagi Albert, perspektif dari filem kedua cukup kapitalis. Pengakuan media-media besar seperti yang ditunjukkan dalam filem tentang eksistensi para tokoh adalah salah satu kode kapitalisme. Ronny Agustinus menyetujui pendapat tersebut dan demikianlah yang ingin ia tunjukkan, bahwa ada dua sikap dalam membahas wacana antroposen ini.

Antroposen sendiri merupakan istilah yang kerap digunakan kurator dan sesungguhnya merupakan istilah yang terhitung baru dan belum cukup populer. Antroposen merujuk pada kondisi dan situasi perubahan yang berlangsung di bumi yang kian dipengaruhi manusia. Melihat ke belakang, alam telah berjuta-juta tahun lamanya berperan dalam menentukan nasibnya, namun sejak tahun 1950-an, manusialah yang memiliki pengaruh ekstrem.

Mungkin memang kurang adil membandingkan kedua filem tersebut mengingat keadaan demografis Brasil dan Paraguai jauh berbeda. Sebagai negara terluas kelima di dunia, Brasil mengalami kesulitan dalam meluruskan sistemnya. Meskipun demikian, Ronny Agustinus memang menyajikan kedua filem yang kontras ini sebagai bahan pertimbangan dan refleksi.


Artikel ini sebelumnya pernah dipublikasi di arkipel.org dengan judul Catatan Tentang “Sampah dan Orang Sisa-sisa”

oleh Aprilia Agatha Gunawan.

Aprilia A. Gunawan

Aprilia A. Gunawan

 lulusan Sastra Prancis, Universitas Indonesia, tahun 2012. Selain mengajar, saat ini ia juga aktif berkegiatan di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Menggemari filem, bahasa asing, dan kebudayaan Irlandia.

Postingan Terkait

Peran Komunitas dalam Pengembangan Pengetahuan Sinema

Perkembangan sinema sampai sekarang tak luput dari pihak-pihak yang berkontribusi untuk mengembangkan pengetahuannya, salah satu pihak yang memegang peran penting dalam hal ini adalah komunitas. Meskipun bukan organisasi resmi, komunitas kerap dijadikan wadah untuk melakukan aktivitas di bidang perfileman sebagai sarana apresiasi, eksibisi, forum diskusi, dan lain-lain. Dalam realitanya, program yang dijalankan oleh komunitas sering kali memiliki tantangan tersendiri baik dalam konteks eksternal maupun internalnya.

_ABE6839

Bertempat di GoetheHaus, Jakarta, pada tanggal 20 Agustus 2016 ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival menggelar program Forum Festival, Panel ke-5 yang bertajuk “Komunitas dan Pengembangan Pengetahuan Sinema”. Pada bagian terakhir dari forum festival ini hadir deretan panelis penggiat filem dalam komunitasnya, yaitu Albert Rahmat Putra, Dimas Jayasrana, Fauzi Rahmadani, dan Yuli Lestari, dan dimoderatori oleh Hafiz Rancajale, salah satu pendiri Forum Lenteng dan ruangrupa.

Dimas yang pernah mendirikan filmalternatif.org dan menjadi programer di IFI Jakarta, dan kini adalah pegiat Festival Film Purbalingga menyebutkan kegiatan utama komunitas adalah berdiskusi dan berdialog untuk menyebarkan pengetahuan mengenai sinema. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat masyarakat Indonesia masih minim exsposure kepada sinema karena terbatasnya jangkauan kepada media tersebut. Sebagai alternatifnya, perlu diadakan festival filem, lokakarya, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menyebarkan pengetahuan mengenai sinema, seperti sejarah dan wacana estetika. Dimas juga merasa terbantu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga arus pertukaran informasi terkait filem menjadi cepat dan mudah.

Kemudian, Fauzi yang pernah menjabat menjadi Direktur Program Layar Kamisan Jember, Koordinator JAFF Community Forum, serta Ketua Divisi Litbang UKM Dewan Kesenian Kampus, menceritakan keadaan komunitas produksi filem di Jember yang menjamur, namun masih sulit ditemui komunitas yang menyediakan ruang putar filem bagi masyarakat. Sedangkan di Banyuwangi, pemutaran filem dijadikan sebuah sarana untuk diskusi suatu isu yang sensitif bagi kalangan tertentu. Tak jarang, kegiatan ini ditekan oleh pihak-pihak yang merasa terancam. Fauzi  berpendapat bahwa perlu adanya diskusi terarah dan struktur untuk membahas suatu isu tersebut.

Albert, yang merupakan pendiri dan penggiat komunitas Gubuak Kopi dan aktif berkegiatan di Solok, Sumatera Barat, menyebutkan bahwa tugas utama komunitas adalah memahami persoalan yang ada dan menemukan referensi sinema yang cocok untuk dijadikan umpan dalam diskusi. Komunitas harus pintar dalam menggiring perhatian publik untuk sadar akan kebudayaan sinema, tak terkecuali di daerah. Pengalaman Albert sendiri adalah membuat layar tancap di daerah-daerah dan melakukan diskusi ringan pasca menonton untuk menyalurkan pengetahuan sinema kepada masyarakat setempat. Namun, hal ini bukanlah mudah karena sebagian penonton akan enggan untuk berdiskusi. Adalah tugas besar dari komunitas sinema untuk menyadarkan bahwa filem bukanlah sekadar hiburan, tetapi juga sebagai teks yang perlu diuraikan.

Di Malang, realita kegiatan produksi filem kebanyakan dilakukan oleh pelajar untuk melengkapi tugas sekolah. Oleh karena itu, Yuli beserta komunitasnaya, Kine Klub UMM, membuat acara yang bertujuan untuk menanamkan kecintaan dan apresiasi terhadap filem, salah satunya eksibisi filem. Namun, kegiatan-kegiatan seperti ini ditanggapi kurang baik oleh pihak eksternal. Sekolah-sekolah, misalnya, menentang siswanya untuk mengikuti karena dirasa tidak akan memberikan manfaat baik kepada siswa maupun sekolah. Padahal, dengan mengadakan screening dan apresiasi, ada umpan balik yang diberikan oleh penonton yang bisa membantu membangun karya di masa depan.

Dari kiri ke kanan: Hafiz Rancajale (moderator), Yuli Lestari (Malang Film Festival), Fauzi Rahmadani (Layar Kamisan Jember), Dimas Jayasrana (Festival Film Purbalingga), Albert Rahman Putra (Komunitas Gubuak Kopi, Solok).

Dari kiri ke kanan: Hafiz Rancajale (moderator), Yuli Lestari (Malang Film Festival), Fauzi Rahmadani (Layar Kamisan Jember), Dimas Jayasrana (Festival Film Purbalingga), Albert Rahman Putra (Komunitas Gubuak Kopi, Solok).

Forum Festival ARKIPEL social/kapital, Panel 5 kala itu, dikunjungi oleh 50 peserta yang mempunyai antusiasme dan keingintahuan tinggi. Itu ditandai dengan total 8 pertanyaan yang diajukan. Topik modal materiil untuk keberlangsungan komunitas disinggung dalam pertanyaan, dan kemudian ditanggapi oleh penanya selanjutnya dengan menanyakan bagaimana menjaga keberlangsungan komunitas itu sendiri. Dimas memberikan strategi seperti donasi, sinema berbayar, program sekolah sinema jangka pendek bertarif. Yuli menambahkan bahwa perlu mendekati birokrat dan menyisihkan uang pribadi. Sementara itu, untuk masalah keberlansungan, Albert menyatakan perlu bagi komunitas untuk melakukan penelitian dan evaluasi, dan Dimas lebih menekankan kepada inisiatif dan intensitas kegiatan yang dijalankan. Moderator kemudian menambahkan bahwa modal materiil bisa dilakukan dengan metode alternatif. Bagian terpentingnya adalah bagaimana membangun kepercayaan di tingkat lokal dan masyarkat.

Salah seorang peserta Forum Festival yang bertanya tentang strategi bertahan komunitas.

Salah seorang peserta Forum Festival yang bertanya tentang strategi bertahan komunitas.

 

Oka, dari Komunitas Pasirputih (Lombok Utara) turut berbagi pengalaman mengenai pengelolaan komuitas di daerahnya.

Oka, dari Komunitas Pasirputih (Lombok Utara) turut berbagi pengalaman mengenai pengelolaan komunitas di daerahnya.

Masalah regenerasi juga disinggung dalam pertanyaan, karena regenerasi juga menjadi faktor utama untuk keberlanjutan komunitas itu sendiri. Fauzi menyebutkan bahwa belum ada jawaban yang tepat untuk mengatasi masalah regenerasi. Poin menarik dari Dimas adalah komunitas mempunyai hak untuk mempertahankan status quo karena komunitas bukanlah badan resmi. Semua hal diserahkan kepada kesadaran dari komunitas itu sendiri. Forum ini kemudian ditutup dengan kesimpulan dari Hafiz bahwa yang menentukan identitas komunitas adalah kepublikannya, yang bisa dihitung secara kuantitatif dengan jumlah orang yang berpartisipasi dalam kegiatan yang ada, ataupun kualitatif dari isu-isu yang ditawarkan dan dianggap penting. Banyak cara alternatif untuk menjaga komunitas sekaligus menyebarluaskan pengetahuan mengenai sinema, seperti lokakarya, dan proyek bersama dengan pihak-pihak eksternal. Saat Forum Festival Panel 5 ini ditutup oleh moderator, tampak beberapa peserta masih ingin bertanya dan berdiskusi, namun urung karena waktu yang telah usai.

 


Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di arkipel.org dengan judul Festival Panel 5 oleh Nadia Adilina
Nadia Adilina
(lahir di Jakarta, 18 Maret 1996), mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Aktif di Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Menaruh perhatian pada bidang seni visual

Postingan Terkait

Di Pasar, Kita Bersinema

Sinema di Pojok Pasar Kita, adalah perayaan sinema yang bertepatan di Hari Film Nasinonal. Dalam hal ini, Komunitas Gubuak Kopi, menjadikan perayaan Hari Film Nasional ini, sebagai check poin untuk mengevaluasi perkembangan sinema kita dari tahun ke tahun. Sinema di Pojok Pasar Kita, adalah perayaan pertama yang dilakukan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Kali ini Komunitas Gubuak Kopi merealisasikan kegiatan ini bersama Rumah Kreatif, salah satu kelompok yang juga berbasis di Solok.

Doc. Ngobrol Santai Soal Film Bersama Paul Agusta, kuliah umum Kelas Warga, masih bagian dari perayaan "Sinema di Pojok Pasar Kita di Gubuak Kopi, 24 Maret 2016. (foto: dokumentasi Komunitas Gubuak Kopi)

Doc. Ngobrol Santai Soal Film Bersama Paul Agusta, kuliah umum Kelas Warga, masih bagian dari perayaan “Sinema di Pojok Pasar Kita di Gubuak Kopi, 24 Maret 2016. (foto: dokumentasi Komunitas Gubuak Kopi)

Dalam kesempatan pertama ini, kita mengajak masyarakat para pecinta film ataupun umum, untuk membaca kembali situasi perkembangan kebudayaan sinema di Solok, secara khusus, dan Sumatera Barat, secara umum. Kita mengajak publik menyoroti keberadaan bioskop terakhir di Kota Solok, yakni Bioskop Karia yang telah dirubuhkan pada tahun 2014, dan kini telah berganti dengan bangunan toko. (baca juga: Nostalgia Layar Kejayaan, 2014) Bioskop ini dirubuhkan atas rembukan berbagai pihak, baik itu dari si pemiliki perusahaan, pegawai, investor, dan pemberi subsidi. Bioskop Karia Solok, dalam hal ini hanyalah salah satu bioskop yang kalah dalam monopoli distribusi film di Indonesia. Menarik pula, tidak ada keinginan dari pemerintah untuk mengambil alih gedung ini.

Dalam hal ini kita tidak pula ingin menyebut-nyebut bioskop yang tua ini adalah ‘barang antik’, ataupun dulu bioskop ini lah sumber pendapatan terbesar di Solok, seperti yang sering disebut orang yang menyayangkan keruntuhan bangunan itu. Berdasarkan wawancara saya bersama bapak Haji Nasionalis, seorang projectionis Bioksop Karia Solok, sempat ada usaha negosiasi dari pihak perusahaan bersama pemerintahan untuk mengambil alih gedung ini. Namun, pemerintah atau pemangku kebijakan saat itu, menilai bahwa Bioskop ini tidak lagi memiliki lagi nilai ekonomis, malah sering kali disebut sebagai tempat maksiat. Saya sendiri, menilai persitiwa ini pertanda ketidak-berpihakan pemerintah terhadap kebudayaan sinema, dan yang lebih malang lagi adalah ketidaksadarannya pemerintah untuk melihat sinema sebagai sebuah kebudayaan. Mungkin akan berbeda kalau “bioskop” lebih dikenal dengan “taman budaya” atau “taman belajar” atau “gedung kebudayaan” dst.

 

Doc. Sinema di Pojok Pasar Kita. (foto: Rony Daiel)

Doc. Sinema di Pojok Pasar Kita. (foto: Rony Daniel)

Doc. Sinema di Pojok Pasar Kita. (foto: Rony Daiel)

Doc. Sinema di Pojok Pasar Kita. (foto: Rony Daniel)Sulit pula menyalahkan pemangku kebijakan begitu saja. Di sini bioskop atau kebudayaan sinema memang semata-mata hanya dipahami sebagai “industri komersil” semata. Hal ini juga dipahami serupa oleh sebagaian besar masyarakat dan pemangku kebijakan di berbagai daerah di Indonesia. Di sini pemahaman mengenai sinema sebagai sebuah “kebudayaan” hampir tidak mendapat tempat. Pendidikan sejarah dan perkembangan sinema, itu barang kali yang kita tidak dapat selama itu. Infrastruktur, barang kali ada, namun prakteknya selalu mendahulukan kepentingan komersial semata. Hal ini tentunya berkaitan pula dengan tradisi rezim sebelum reformasi yang sangat lama membungkam kritik dan hal-hal yang bersifat aktivisme. Seiring dengan itu, kita sadar kebudayaan yang tidak eksotis, menjual, membangun mental kritis, hampir tidak mendapatkan tempat. Bahkan latah itu masih kita rasakan hingga sekarang.

Sengaja kita memilih Hari Film Nasional, untuk mengkampanyekan kesadaran ini: terlepas dari term film komersil atau tidak, film dan sinema juga harus kita sadari sebagai sebuah kebudayaan. Setidaknya pada kesempatan ini, kita bicarakan kembali cita-cita mulia “bapak perfilman” kita Usmar Ismail, tentang apa itu film Indonesia. Di antaranya, cita-cita mengembangkan sinema sebagai pembangunan kebudayaan dan persatuan. Kita bisa melihat kondisi saat itu, Indonesia sebagai negara baru membutuhkan yang namanya “kebudayaan bersama” yang bisa meningkatkan rasa persatuan kita. Lebih dari itu, kita sangat mengapresiasi kesadaran Usmar Ismail yang melihat dan mengkampanyekan sinema sebagai kebudayaan. Dari sini kita bisa tarik kembali secara runut apa itu sinema, film, dan perkembangannya di berbagai belahan dunia. (baca juga: Kurangnya Budaya Diskusi Film di Kota Kami, 2015)

Berangakat dari kesadaran itu, Komunitas Gubuak Kopi melalui program penayangan ‘bioskop alternatif’: Sinema Pojok, berupaya menghadirkan ruang berbagi pengetahuan sinema itu. Di sini kita menayangan sinema-sinema yang akui secara kritik maupun riset sebagai sinema-sinema penting di dunia. Selain itu kita juga berupaya mengembangkan kebudayaan sinema atau kebudayaan menonton kita dalam bentuk “layar tancap” yang memberi kita peluang untuk berakrab-akrab dan bertemu. (baca juga:Nostalgia Kultur Sinema di Batu Kubung)

Malam itu, di depan pasar semi modern Kota Solok, diseberang RTH Kota Solok, ratusan masyarakat mampir, mampir untuk menonton, sekedar beramai-ramai, mencari hiburan, dan sebagainya. Tidak lupa, selebaran dan orasi film sebagai kebudayaan selalu kita galakan.

Daftar dan pengantar film yang ditayangkan, baca disini: (Poster) Sinema di Pojok Pasar Kita

Sampai bertemu di penayangan reguler kita berikutnya, maupun di perayaan tahun mendatang.


Koleksi foto lainnya:

Doc. Sinema di Pojok Pasar Kita. (foto: Rony Daiel)

Doc. Sinema di Pojok Pasar Kita. (foto: Rony Daniel)

12439441_208671079509694_1019947303066623476_n

Sinema di Pojok Pasar Kita, Merayakan Hari Filem Nasional

12472450_208671126176356_8704009580733779629_n12495091_208671402842995_5587602572770735194_n12512402_208671212843014_5145640093917254537_n12512672_208671892842946_3307136200522977463_n12919873_208671112843024_2898393481506900537_n12923223_208671059509696_447543117575641457_n12923238_208671609509641_465643295559716328_n12928431_208671646176304_5344149188955099201_n12936733_208671096176359_4433226739973927311_n

Koleksi Foto: Roni Daniel


12885980_593193500845485_5271279836998687727_o12891149_593193507512151_447930775805996813_o12440605_593194807512021_810362862850346923_o

Koleksi foto dari Papa Dzaki

Baca juga: hariansinggalang.com: Komunitas Gubuk Kopi Adakan Nonton Bareng

Postingan Terkait