Tag Archives: Kultur Daur Subur

Presentasi Publik & Open Lab: Daur Subur

Jumat, 7 Juli 2017 lalu, di Galeri Gubuak Kopi terselenggara pameran dengan tajuk: Daur Subur. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengembangan media dalam mengarsipkan dan membaca perkembangan kultur pertanian di lingkup lokal. Program ini digagas oleh Gubuak Kopi dengan mengembangkan pembacaan melalui pendekatan jurnalisme warga, aksi performatif, serta praktik media alternatif dengan memberdayakan teknologi yang dekat dengan kita. Continue reading

Postingan Terkait

Open Lab: Daur Subur

Daur Subur adalah pengembangan praktek media kreatif berbasis komunitas yang digagas oleh Gubuak Kopi, dalam mengarsipkan dan membaca perkembangan kultur pertanian di Solok, secara khusus dan Sumatera Barat secara umum. Program ini dikembangkan melalui lokakarya dengan melibatkan para partisipan dari beberapa komunitas dan beragam latar pendidikan. Para partisipan selama lokakarya mendapat kuliah-kuliah umum dari lintas disiplin untuk memperkaya pembacaan isu. Continue reading

Postingan Terkait

Memperdalam dan Mengalami Persoalan

Minggu, 18 Juni 2017 merupakan hari kesembilan kegiatan lokakarya Kultur Daur Subur berlangsung. Tidak jauh berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, partisipan masih melanjutkan riset mereka memperdalam bingakain isu yang didapatnya di sekitaran Solok. Selain itu para partisipan kini melanjutkan tulisan dengan revisi yang intens bersama Albert Rahman Putra. Para partisipan selama kurang lebih 30 menit secara bergantian memperdalam isunya bersama Albert. Sementara yang revisi satu per satu, yang telah selesai atau belum mendapat giliran melanjutkan kegiatan di lapangannya untuk menambahkan data-data yang dibutuhkan. Continue reading

Postingan Terkait

Singgah ke Rumah Kincie

Sabtu, 17 Juni 2017 adalah hari kedelapan lokakarya “Kultur Daur Subur”. Sebelumnya kita telah mengumpulkan beberapa narasi yang berkembang di antara warga terkait lingkungan hidup dan pemanfaatan lahan pertanian di Solok. Sementara para partisipan terus memperdalam tulisannya, mereka juga diminta untuk mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi dan pengetahuan pertanian tradisional di Solok bersama para fasilitator. Data ini nantinya akan diarsipkan dan didokumentasikam secara kreatif, salah satunya dengan mentransfernya ke bentuk sketsa gambar. Continue reading

Postingan Terkait

Gudang Daur Subur

Vlog Kampuang – Gudang Daur Subur

Masih dalam rangkaian Lokakarya Media: Kultur Daur Subur, Ogy dan Zaekal bertandang ke Bank Sampah Rizky dan tempat pengolahan pupuk kompos yang berada dalam komplek Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kota Solok. Di sana kita bertemu Ibu Rizky. Dengan senang hati ia berbagi cerita tentang pengolahan sampah ini. Continue reading

Postingan Terkait

Kuliah Perkembangan Pertanian Solok

Jum’at, 16 Juni 2017, lalu lokakarya Kultur Daur Subur di Gubuak Kopi sudah memasuki hari ketujuh. Tiga hari lagi lokakarya akan selesai, dan akan dilanjutkan dengan presentasi publik open lab pada 07 Juli 2017 nanti, di Galeri Gubuak Kopi. Siang itu seperti biasa para partisipan mulai mencari informasi lanjutan tentang isu yang akan mereka tulis persentasikan, terkait visi Kultur Daur Subur. Continue reading

Postingan Terkait

Enam Hari Belajar Bersama

Kamis pagi, 15 Juni 2017 ini, adalah hari keenam Lokakarya “Kultur Daur Subur” di Gubuak Kopi. Para partisipan memulai kegiatannya seperti biasa, membahas perkembangan observasi, dan mencari data-data tambahan. Hari sebelumnya, kita melakukan kegiatan produksi film di Taman Bidadari, seluruh partisipan maupun fasilitator turut terlibat dalam pengerjaannya. Kegiatan bermedia sambil bermain ini, secara performatif merespon situasi taman, fasilitasnya, kolam yang suda kering, tempat sampah, wc, kantor kosong yang kotor dan lainnya. Malam harinya, seluruh peserta kegiatan, partisipan dan fasilitator, diundang untuk berbuka bersama di rumah salah satu pegiat Gubuak Kopi, yakni Albert Rahman Putra. Di sana kita sempat berbincang dengan bapak Elhaqi Effendi, orang tua dari Albert, mengenai sejarah perkembangan pertanian di Solok, sebelum ia dimekarkan menjadi tiga kabupaten atau kota. Continue reading

Postingan Terkait

Mengendus dan Mengelola Sampah

Senin siang itu, 12 Juni 2017, saya bersama fasilitator beserta partisipan Lokakarya Kultur Daur Subur lainnya  , kembali mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kota Solok, di Ampang Kualo, Kelurahan Kampung Jawa. Saya sendiri baru pertama kali mengunjugi lokasi ini, Muhammad Risky, selaku fasilitator lokakarya meminta izin kepada satpam yang berada di kantor. Dengan senang hati satpam ini menemani kami melihat keadaan area TPA ini. Kesan pertama yang saya dapati waktu itu adalah bau sampah yang sangat menyengat. Continue reading

Postingan Terkait

Bermain Kisah Bidadari

Kali ini, di hari ke lima kegiatan Lokakarya “Kultur Daur Subur” dilaksanakan oleh Gubuak Kopi, tepatnya di hari Rabu tanggal 14-06-2017, teman-teman fasilitator mengajak partisipan lokakarya ke Taman Bidadari untuk menanggapi taman tersebut. Taman Bidadari adalah salah satu tempat rekreasi atau ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Kota Solok. Beberapa bulan sebelum kegiatan lokakarya ini berlangsung, Taman Bidadari sudah menjadi bahan diskusi di Gubuak Kopi, dan itu adalah salah satu potensi yang ada Kelurahan Kampung Jawa. Sebelumnya di bulan Maret, kita juga melakukan kegiatan workshop singkat bersama Oliver Hussein, dia adalah salah seorang seniman video dan performance asal Toronto, Canada. Dalam workshop itu, dipandu oleh Oliver kita juga melakukan kegiatan ‘video performance’ di Taman Bidadari ini. Continue reading

Postingan Terkait

Buya Khairani: Cancang Tadadek Jadi Ukia

Selasa siang lalu, 13 juni 2017, adalah hari ke empat Lokakarya “Kultur Daur Subur” yang diselenggarakan oleh Gubuak Kopi. Seperti hari sebelumnya partisipan memulai aktivitas dengan mengulas dan mempersiapkan buku-buku catatan hasil observasi di lapangan hari sebelumnya. Lalu, hari itu kita diperkaya dengan kedatangan Buya Khairani. Beliau adalah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Ia juga aktif memberikan ceramah adat di salah satu radio lokal. Pertemuan ini memang sudah diagendakan, sebelumnya teman-teman dari Gubuak Kopi memang sering berdiskusi dengan Buya, termasuk terkait isu yang diperdalam melalui lokakarya ini. Continue reading

Postingan Terkait