Tag Archives: Daur Subur

Terkait lokakarya kultur daur subur, kultur pertanian, dan lingkungan hidup

Dinamika Kultur Tani

Sore itu, setelah melihat beberapa aktivitas pertanian di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, saya kembali ke kantor Gubuak Kopi. Di sana telah duduk Bapak Elhaqki Effendi. Ia hadir untuk membagi memberi kami sedikit materi dan berbagi pembacaannya tentang perkembangan pertanian di Solok. Sebelumnya, memang kami sudah mengundang beliau untuk mengisi diskusi kali ini, dan Jumat ini adalah hari yang tepat. Bapak Elhaqki atau yang akrab disapa Pak El adalah pernah bekerja di Dinas Pertanian sejak tahun 1976, dan sempat pindah ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan, lalu pada 2015 ia pensiun sebagai pegawai Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Continue reading

Postingan Terkait

Mensketsa Teknologi Pertanian

Sebelumnya memaparkan terkait sejarah perkembangan media di hari pertama. Di hari kedua, Albert Rahman Putra mengerucutkan materi pada apa yang menjadi tema utama lokakarya itu sendiri, Kultur Daur Subur. Topik ini pada dasarnya membahas keterkaitan media sebagai sebuah aktivitas kebudayaan, perantara pesan, maupun teknologi, serta kaitannya dengan perkembangan pertanian terkini. Albert mengawali materi dengan mengutip catatan kedatangan bangsa Eropa pertama di dataran tinggi Minangkabau, yakni Sir. Thomas Stamford Raffles di tahun 1818. Dikatakan bahwa ia sangat kagum akan cara-cara pertanian di dataran tinggi Sumatera Barat, yang sangat maju. Kekayaan alam yang melimpah serta pengetahuan tentang pertanian yang baik kemudian membuat Eropa dan Belanda yang sebelumnya hanya berkedudukan di pelabuhan, berkeinginan kuat ingin menjajah di dataran tinggi. Continue reading

Postingan Terkait

Perjalanan Pinang

Siang itu, 16 Juni 2017, sehabis shalat Jumat, saya bersama seorang rekan berkunjung ke beberapa rumah warga penjemur pinang, yaitu rumah Da Eng dan rumah Buk Yen. Saya bertujuan melanjutkan observasi terkait proses pemetikan pinang, mulai dari batang sampai ke rumah si pengolah, dan berlanjut pada tempat penjualan oleh pengepul, serta observasi terkait pembuangan limbah pinang dan seterusnya. Rumah pertama yang saya kunjungi adalah rumah Buk Yen. Kebetulan siang itu Buk Yen sedang tidak di rumahnya, meskipun ada pinang yang dijemur di halaman. Jarak rumah Buk Yen dengan rumah Da Eng tidak terlalu jauh, saya langsung menuju ke rumah Da Eng. Beberapa waktu lalu, saya pernah melihat Da Eng menjemur pinang di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 13 Kampung Jawa, Kota Solok, yang juga tepat berada di depan rumahnya. Continue reading

Postingan Terkait

Kita, Sungai, dan Masa Depan

Solok adalah salah satu kota yang dianugerahi tanah yang subur. Hal ini tercermin dari citranya yang melekat diingatan banyak orang sebagai Kota Beras. Selain padi, berbagai macam jenis tumbuhan sebenanrya juga hidup subur di Solok. Beras merupakan komoditi utama di Solok, juga diimbangi dengan berbagai pertanian lain seperti jagung, sayuran, dan tumbuhan keras seperti cokelat dan kopi. Sesuai juga dengan tema Lokakarya yang diusung oleh Komunitas Gubuak Kopi kali ini yaitu ‘Kultur Daur Subur’ yang kemudian mengantar ketertarikan saya membahas persoalan lainnya di balik kesuburan. Continue reading

Postingan Terkait

Sepi di Taman Bidadari

Siang itu, 15 Juni 2017, saya melanjutkan observasi terkait keberadaan komposter di Taman Bidadari. Taman ini merupakan salah satu taman yang berada di Kota Solok, yang sebelumya sering disinggahi pengunjung. Seiring berjalannya waktu dan fasilitas taman yang semakin banyak rusak, taman ini pun mulai sepi. Taman kota seharusnya menjadi poin penting dalam perencanaan sebuah kota, karena selain berfungsi untuk menjaga kualitas lingkungan perkotaan yang padat aktivitas, taman kota juga berpotensi menumbuhkan rasa sosial yang kini kebanyakan mengarah pada sikap individual. Menumbuhkan rasa toleransi, tidak hanya terhadap sesama manusia melainkan juga terhadap mahkluk hidup lainnya. Hal itu dapat tercermin dari taman kota yang baik. Taman yang baik merupakan cerminan kota dengan warga yang baik. Continue reading

Postingan Terkait

Trik-trik Pak Irwin

Beberapa hari setelah lebaran, beberapa kawan-kawan Gubuak Kopi, mampir dan bersilaturahmi di Gang Rambutan, Kelurahan Pasar Pandan Aia Mati, Kota Solok. Selain mendapat kue-kue lebaran, kita juga dapat beberapa ‘THR’ berupa bibit dan pupuk dari beberapa warga di Gang Rambutan. Selain itu, tidak lupa Pak RT atau Pak Irwin memberi beberapa tips tentang berkebun. Continue reading

Postingan Terkait

Taman Rel

Minggu, 11 Juni 2017 lalu, sekitar pukul 15:00 WIB, saya dan teman-teman Lokakarya Kultur Daur Dubur, bercerita tentang penggunaan barang bekas sebagai wadah bercocok tanam yang berada di sekitar warga Kampung Jawa, Kota Solok. Hal ini menarik untuk diberdayakan untuk ruang privat maupun publik. Karena selain segar, ini dapat memberikan nalar positif kita dalam merespon persoalan lingkungan. Saya sendiri tinggal di Kampung Jawa atau yang lebih suka saya sebut Kampuang Jao ini sekitar dua tahun. Memang sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan situasi taman-taman warga, maupun persoalan lingkungan umum di sini, tapi dalam lokakarya ini, pikiran saya tertarik untuk mengenal lebih jauh kondisi lingkungan di sini.   Continue reading

Postingan Terkait

Timbangan Sampah

Vlog Kampuang – Timbangan Sampah

Juni 2017 lalu, Datuak, Ogy, dan beberapa teman lainnya berkunjung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Solok. Salah satu hal menarik perhatian mereka adalah proses penimbangan mobil truk sampah yang masuk ke TPA. Sembari menggali informasi, mereka dipersilahkan untuk melihat langsung cara kerja penimbangan itu bersama petugas. Sambil mencermati proses itu, sejumlah pertanyaan juga dilemparkan Datuak untuk memancing pandangan-pandangan petugas sampah sendiri tentang persoalan sampah di Solok. Continue reading

Postingan Terkait

Sensus Taman Warga

Sejauh mata memandang menembus pagar-pagar rumah warg di Kelurahan Kampung Jawa, atau yang biasa disebut Kampuag Jao ini, hampir setiap rumahnya memiliki sebuah taman. Berbagai macam tanaman tumbuh di sini, seperti tanaman hias, tanaman obat, maupun tanaman yang bisa dikonsumsi. Bagi saya ini menarik, karena kesadaran masyarakat terhadap lingkungan telihat dari bagaimana masyarakat itu sendiri mengelola lingkungannya. Ketertarikan saya dengan taman-taman ini, mengantarkan saya untuk menggali lebih jauh tentang taman warga di Kampung Jao. Continue reading

Postingan Terkait

Sepenggal Kisah di Gang Rambutan

Saya menulis tentang “Gang Rambutan” ini berawal ketika saya mengikuti kegiatan lokakarya di Komunitas Gubuak Kopi yang bertempat di  Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Dalam lokakarya ini kita belajar mempergunakan media untuk kepentingan bersama dan kemajuan kampung halaman kita. Di antaranya, terdapat pelatihan menulis, fotografi, dan membuat video. Tentunya yang paling menarik, adalah diskusi-diskusinya yang sangat baru bagi saya. Continue reading

Postingan Terkait