Tag Archives: Daur Subur

Terkait lokakarya kultur daur subur, kultur pertanian, dan lingkungan hidup

Generasi Milenial Tentukan Arah

“Kami mengajak warga, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, untuk mengenal cara kerja media melalui kegiatan kreatif atau kesenian,” ujar Albert.

Senin, 23 Oktober 2017, Harian Kompas mengusung headline bertajuk Generasi Milenial Tentukan Arah. Dalam headline muncul enam nama yang dianggap sebagai bagian dari generasi muda yang telah menentukan arah, melakukan perubahan, serta memberikan makna bagi organisasi dan masyarakat. Mereka antara lain, Chief of Operation & Data Science OLX Doan Lingga (35), Head of Business Go-Food Nadia Tenggara (28), Ketua Bidang Eksternal Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia Tsamara Amany Alatas (21), Vokalis Giring Ganesha (34), pendiri Komunitas Gubuak Kopi Albert Rahman Putra (26), perintis Jawara Banten Farm Nur Agis Aulia (28), Social & Brand Activation Lead Bank BTPN Dimas Novriandi (36), dan Head of Marketing Koin Works Jonathan Bryan (29). Continue reading

Postingan Terkait

Lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi merupakan pengembangan dan pelestarian seni tradisi melalui platform multimedia. Lokakarya ini diselenggarakan oleh Gubuak Kopi melalui program Daur Subur, sebagai bagian dalam upaya membaca dan memetakan kultur pertanian di Solok. Kegiatan yang  juga didukung oleh Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia ini, diselenggarakan di Galeri Gubuak Kopi, Kota Solok, pada 18-30 September 2017. Dalam lokakarya ini, Gubuak Kopi mengundang sejumlah partisipan yang teridiri dari seniman, penulis, dan pegiata komunitas dari beragam disiplin. Selain itu, Gubuak Kopi juga menghadirkan sejumlah narasumber dan pemateri untuk memperkaya pembacaan isu maupun praktek pelestarian tradisi, serta membaca posisi kesenian/tradisi dalam masyarakat pertanian di Solok, secara khusus, dan Sumatera Barat secara umum. Continue reading

Postingan Terkait

Mozaik di Tepian Jalan Bypass

Vlog Kampuang – Suatu sore Hafiz dan Zaekal melintas di jalur bypass Solok, menyusuri daerah sekitar Terminal Bareh Solok. Perhatian mereka tetuju pada sebuah kedai atau studio di sekitar sana. Pemilik studio itu adalah Pak Iwan, di sana ia membuat karya-karya mozaik dari serpihan-serpihan batu. Kerajinan ini cukup jarang ditemui di Solok. Pak Iwan sendiri sudah menjalankan usaha ini kurang lebih 12 tahun. Menarik menyimak aktivitas yang Pak Iwan yang kreatif ini, memanfaatkan material yang ada disekitar untuk diproduksi sebagai kerajinan. Continue reading

Postingan Terkait

Mangipeh Padi

Vlog Kampuang – Mangipeh padi, adalah salah satu proses pengolahan dari padi menjadi beras. Pada proses mangipeh, dengan alat khusus, membantu petani memisahkan padi ampo (hampa/kosong), daun-daun, dan lainnya setelah padi dilambuik (dipukul/dipisahkan dari batangnya). Suatu sore Albert dan Koto, menyimak aktivitas ini di Munggu Tanah, Salayo, dan tertarik mendokumentasikan visual dan bunyi yang dihasilkannya. Continue reading

Postingan Terkait

Riang Kesah Daun Karambia

Vlog Kampuang – Suatu hari di Munggu Tanah, Salayo, Albert dan Henri Koto bertemu dua orang ibu tengah mengambil daun kering yang jatuh di sekitaran pohon-pohon kelapa (karambia). Daun-daun kering ini dikumpulkan sebagai bahan bakar, atau umpan api utama untuk tungku masak. Ibu-ibu tersebut menyebut ini sebagai alternatif, karena lebih hemat memakai kompor gas ataupun minyak tanah, obrolan pun berlanjut pada curhan hati orang tua terhadap anak-anaknya untuk mendapat pekerjaan yang layak. Menarik menyimak bagaimana ibu-ibu ini membicarakan persoalannya sebagai cerminan situasi sosial, politik, dan ekonomi setempat. Continue reading

Postingan Terkait

Manggaro di Ampang Kualo

Vlog Kampuang – Manggaro di Ampang Kualo. Kalau padi sudah mulai berbuah, dan jika musim burung (pipit) tiba, para petani biasanya akan memasang instalasi pengusir burung di sawah mereka. Bentuk instalasinya pun bermacam-macam, orang-orangan sawah, gantungan kaleng, seng, plastik, dan lainnya. Benda-benda ini ditancap di tiang bambu atau kayu, terhubung dengan tali yang mudah untuk ditarik dari satu titik. Di Solok, dan di Sumatera Barat secara umum, aktivitas ini disebut ‘manggaro’. Pada masa sekarang, untuk mengatasi burung yang menjadi hama padi ini sudah beragam, baik itu menggunakan jaring yang mengatapi sawah ataupun teknologi kreatif lainnya. Namun, menarik menyimak praktek manggaro, dengan potensi visual dan bunyi-bunyiannya. Beberapa waktu lalu, Hafizan, salah seorang partisipan lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, bersama Zaekal menyimak salah satu praktek manggaro di Ampang Kualo, Solok. Silahkan disimak.

Vlog by Hafizan
Ampang Kualo, 21 September 2017

Postingan Terkait

Pertemuan Pertama Lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Senin, 18 September 2017, sekitar pukul 15.00 Lokakarya denga tema “Lapuak-lapuak Dikajangi” (yang lapuk disokong kembali) dibuka langsung oleh Albert Rahman Putra, selaku ketua Komunitas Gubuak Kopi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelumnya, Albert memberikan sedikit latar belakang terkait hadirnya lokakarya ini, gambaran kegiatan yang akan dijalani hingga 12 hari ke depan, serta capaian-capaian yang diharapkan.  Setelah itu, para partisipan maupun para fasilitator saling memperkenalkan diri. Albert menekankan bahwa penting bagi kita – para partisipan maupun fasilitator – untuk saling berbagi pikiran dan bekerja sama memaksimalkan hasil lokakarya ini. Teman-teman yang diundang untuk terlibat, menurut Albert adalah orang-orang yang sengaja dipilih dan dianggap bisa membicarakan isu ini dari beragam perspektif. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Daur Subur dalam membaca perkembangan kultur pertanian di Sumatera Barat. Kegiatan kali ini, mengerucut membicarakan posisi kesenian di masyarakat pertanian Minangkabau, peran media dalam praktek pelestarian dengan kesadaran akan sejarah kebudayaan lokal dan perkembangan terkininya. Continue reading

Postingan Terkait

Lokakarya Literasi Media: Lapuak-lapuak Dikajangi

18-30 September 2017
Di Galeri Gubuak Kopi

Lokakarya ini merupakan bagian dari program Daur Subur, yang digagas oleh Gubuak Kopi dalam mengarsipkan dan membaca kultur pertanian dalam lingkup lokal. Kegiatan ini secara khusus membahas posisi kesenian (tradisi) di masyarakat pertanian Minangkabau, serta mengembangkan praktek pelestarian kesenian tradisi melalui kerja multimedia, dengan tetap sadar akan sejarah kebudayaan lokal dan perkembangan terkininya.

Baca juga: Pengantar “Lapuak-lapuak Dikajangi”

Untuk memperkaya pembacaan isu terkait lokakarya ini, Gubuak Kopi menghadirkan sejumlah narasumber, yakni:

 

Delva Rahman, adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam lokakarya literasi media “Di Rantau Awak Se”, oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance bersama Oliver Husain (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan “Perempuan Membaca Kartini” karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017). Ia juga merupakan salah satu pembicara dalam forum komunitas Malang Film Festival (2017). Dalam sesi ini Delva akan memaparkan sejarah perkembangan media dan seni rupa sebagai umpan diskusi kita melihat praktek media yang ideal.

 


Muhammad Risky, adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media “Di Rantau Awak Se”, oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua. Dalam sesi ini, Risky akan mengerucutkan pembacaan pada kehadirkan seni video dan seni media dalam sebagai counter dari sifat konsumerisme dan aksi aktivisme.

 


Albert Rahman Putra, lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat. Dalam sesi ini Albert akan menerangkan kerangka awal munculnya projek ini, serta kesaling-kaitan antara media, kesenian tradisi lokal, dan motif-motif pelestarian.

 


 

Rika Wirandi, penulis lepas dan periset di bidang seni pertunjukan, musik populer, dan musik ritual. Saat ini ia tengah sibuk mengumpulkan dokumen, manuskrip, buku, majalah, koran, foto-foto, poster, alat tukar kertas (terutama uang kertas masa revolusi PDRI dan masa pemberontakan PRRI) dan koin, serta benda-benda audio-visual yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan di Sumatera Barat. Benda sejarah tersebut ia kumpulkan untuk galeri dan pustaka yang didirikannya sejak tahun 2012, yakni: Poestaka Noesantara. Secara khusus juga melakukan pengarsipan literatur-literatur yang berkaitan dengan seni pertunjukan dari masa kolonial hingga reformasi. Penulis dengan titel master kajian seni pertunjukan dari Pascasarjana ISI Padangpanjang ini, baru saja menyelesaikan sebuah tesis terkait tradisi penangkapan harimau di Panyakalan, Solok. Dalam sesi ini, Rika diharapkan dapat memparkan konstruksi kehadiran tradisi ini di tengah-tengah masyarakat yang sangat akrab dengan pertanian.


 

Jhori Andela akrap disapa Ade Jhori, adalah seorang musisi dan komposer lulusan pascasarjana dari ISI Padangpanjang, dengan minat studi Penciptaan Musik Nusantara (2014). Sejak tahun 2008 sampai sekarang aktif menggeluti musik, dengan mengembangkan kekuatan musik tradisional, khususnya Minangkabau dengan kesadaran teknologis dan multimedia. Sehari-hari, ia juga beraktivitas sebagai audio enginner  di ISI Padangpanjang. Dasar ilmu audio dan kesibukannya sebagai soundman di berbagai pertunjukan, memperkaya kemampuannya dan membantunya untuk menciptakan karya-karya baru. Ia tidak hanya sebagai komposer atas karya musiknya, tetapi ia juga aktif sebagai komposer musik tari, musik film, arransemen musik, dan lainnya. Dalam sesi ini, Ade diharapkan dapat menjabarkan motif-motif (alasan/pola) penciptaan karya terkini dengan kesadaran teknologis.


Info
// ig: @gubuakkopi // fb: Komunitas Gubuak Kopi
// www.gubuakkopi.id

Postingan Terkait

Kolam Lindi

Vlog Kampuang – Kolam Lindi

Lindi adalah cairan yang merembes dari tumpukan sampah. Ia adalah hasil dari proses pelarutan dan pembusukan materi yang bisa larut oleh aktivitas mikroba setelah ia terkena air, termasuk air hujan, yang masuk ke dalam tumpukan sampah itu. Kolam lindi biasanya kita temui di komplek Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Cairan lindi mengandung zat-zat yang dapat membantu pertumbuhan bakteri. Jika ia dikelola dengan baik, lindi dapat berfungsi sebagai pupuk cair dan biogas. Juni 2017, lalu Amathia Rizqyani, datang ke TPA Regional Kota Solok, dan menyimak langsung kondisi kolam lindi di sana bersama salah seorang pegawai TPA. Continue reading

Postingan Terkait

Silang Kuliner

Masyarakat Minangkabau ataupun masyarakat timur pada umumnya, yang akrab dengan pertanian, juga terkenal memiliki beragam kuliner. Hal ini tentu berkaitan juga dengan ketersedian aneka bahan yang disediakan alam dan proses medalami sifat-sifatnya. Dengan eksperimentasi dapur, evaluasi lidah, kini ia menjadi tradisi dan milik bersama. Selain itu, tidak dipungkiri pula terbukanya akses karena hubungan dagang masa lalu, kita mendapat kesempatan untuk mengadopsi teknik maupun racikan dari berbagai kebudayaan asing, seperti dari etnis China, India, Bugis, dan lainnya. Seperti lapek bugih, salah satu makanan yang diadopsi dari negeri bugis, atau konon dulu diperkenalkan oleh pelaut-pelaut dari Makasar, yang kini sudah disesuaikan dengan lidah lokal. Continue reading

Postingan Terkait