Category Archives: Jurnal

Sensus Taman Warga

Sejauh mata memandang menembus pagar-pagar rumah warg di Kelurahan Kampung Jawa, atau yang biasa disebut Kampuag Jao ini, hampir setiap rumahnya memiliki sebuah taman. Berbagai macam tanaman tumbuh di sini, seperti tanaman hias, tanaman obat, maupun tanaman yang bisa dikonsumsi. Bagi saya ini menarik, karena kesadaran masyarakat terhadap lingkungan telihat dari bagaimana masyarakat itu sendiri mengelola lingkungannya. Ketertarikan saya dengan taman-taman ini, mengantarkan saya untuk menggali lebih jauh tentang taman warga di Kampung Jao. Continue reading

Postingan Terkait

Sepenggal Kisah di Gang Rambutan

Saya menulis tentang “Gang Rambutan” ini berawal ketika saya mengikuti kegiatan lokakarya di Komunitas Gubuak Kopi yang bertempat di  Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Dalam lokakarya ini kita belajar mempergunakan media untuk kepentingan bersama dan kemajuan kampung halaman kita. Di antaranya, terdapat pelatihan menulis, fotografi, dan membuat video. Tentunya yang paling menarik, adalah diskusi-diskusinya yang sangat baru bagi saya. Continue reading

Postingan Terkait

Membaca Kembali Pertanian Dulu dan Kini

Editorial Kumpulan Tulisan: Daur Subur

Ibaraiknyo tanah: nan lereng tanami padi, nan tunggang tanami bambu, nan gurun jadikan parak
nan bancah jadikan sawah, nan padek kaparumahan, nan munggu jadikan pandam, nan gauang ka tabek ikan, nan padang tampek gubalo, nan lacah kubangan kabau, nan rawang ranangan itiak
. Continue reading

Postingan Terkait

Bingkaian Daur Subur

Selasa, 20 juni 2017 adalah hari terakhir Lokakarya dengan tema “Kultur Daur Subur” yang dilaksanakan oleh Gubuak Kopi. Kegiatan lokakarya ini melibatkan beberapa orang partisipan yang mewakili kelompok atau komunitasnya masing-masing. Sudah sepuluh hari kita belajar bersama untuk memetakan perkembangan pertanian dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui praktek media kreatif. Tiba pula saatnya para partsipan mempresentasikan hasil risetnya dan apa yang diperoleh selama lokakarya. Setelah sholat Dzuhur, partisipan bersiap untuk presentasi. Continue reading

Postingan Terkait

Memperdalam dan Mengalami Persoalan

Minggu, 18 Juni 2017 merupakan hari kesembilan kegiatan lokakarya Kultur Daur Subur berlangsung. Tidak jauh berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, partisipan masih melanjutkan riset mereka memperdalam bingakain isu yang didapatnya di sekitaran Solok. Selain itu para partisipan kini melanjutkan tulisan dengan revisi yang intens bersama Albert Rahman Putra. Para partisipan selama kurang lebih 30 menit secara bergantian memperdalam isunya bersama Albert. Sementara yang revisi satu per satu, yang telah selesai atau belum mendapat giliran melanjutkan kegiatan di lapangannya untuk menambahkan data-data yang dibutuhkan. Continue reading

Postingan Terkait

Singgah ke Rumah Kincie

Sabtu, 17 Juni 2017 adalah hari kedelapan lokakarya “Kultur Daur Subur”. Sebelumnya kita telah mengumpulkan beberapa narasi yang berkembang di antara warga terkait lingkungan hidup dan pemanfaatan lahan pertanian di Solok. Sementara para partisipan terus memperdalam tulisannya, mereka juga diminta untuk mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi dan pengetahuan pertanian tradisional di Solok bersama para fasilitator. Data ini nantinya akan diarsipkan dan didokumentasikam secara kreatif, salah satunya dengan mentransfernya ke bentuk sketsa gambar. Continue reading

Postingan Terkait

Kuliah Perkembangan Pertanian Solok

Jum’at, 16 Juni 2017, lalu lokakarya Kultur Daur Subur di Gubuak Kopi sudah memasuki hari ketujuh. Tiga hari lagi lokakarya akan selesai, dan akan dilanjutkan dengan presentasi publik open lab pada 07 Juli 2017 nanti, di Galeri Gubuak Kopi. Siang itu seperti biasa para partisipan mulai mencari informasi lanjutan tentang isu yang akan mereka tulis persentasikan, terkait visi Kultur Daur Subur. Continue reading

Postingan Terkait

Enam Hari Belajar Bersama

Kamis pagi, 15 Juni 2017 ini, adalah hari keenam Lokakarya “Kultur Daur Subur” di Gubuak Kopi. Para partisipan memulai kegiatannya seperti biasa, membahas perkembangan observasi, dan mencari data-data tambahan. Hari sebelumnya, kita melakukan kegiatan produksi film di Taman Bidadari, seluruh partisipan maupun fasilitator turut terlibat dalam pengerjaannya. Kegiatan bermedia sambil bermain ini, secara performatif merespon situasi taman, fasilitasnya, kolam yang suda kering, tempat sampah, wc, kantor kosong yang kotor dan lainnya. Malam harinya, seluruh peserta kegiatan, partisipan dan fasilitator, diundang untuk berbuka bersama di rumah salah satu pegiat Gubuak Kopi, yakni Albert Rahman Putra. Di sana kita sempat berbincang dengan bapak Elhaqi Effendi, orang tua dari Albert, mengenai sejarah perkembangan pertanian di Solok, sebelum ia dimekarkan menjadi tiga kabupaten atau kota. Continue reading

Postingan Terkait

Mengendus dan Mengelola Sampah

Senin siang itu, 12 Juni 2017, saya bersama fasilitator beserta partisipan Lokakarya Kultur Daur Subur lainnya  , kembali mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kota Solok, di Ampang Kualo, Kelurahan Kampung Jawa. Saya sendiri baru pertama kali mengunjugi lokasi ini, Muhammad Risky, selaku fasilitator lokakarya meminta izin kepada satpam yang berada di kantor. Dengan senang hati satpam ini menemani kami melihat keadaan area TPA ini. Kesan pertama yang saya dapati waktu itu adalah bau sampah yang sangat menyengat. Continue reading

Postingan Terkait

Bermain Kisah Bidadari

Kali ini, di hari ke lima kegiatan Lokakarya “Kultur Daur Subur” dilaksanakan oleh Gubuak Kopi, tepatnya di hari Rabu tanggal 14-06-2017, teman-teman fasilitator mengajak partisipan lokakarya ke Taman Bidadari untuk menanggapi taman tersebut. Taman Bidadari adalah salah satu tempat rekreasi atau ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Kota Solok. Beberapa bulan sebelum kegiatan lokakarya ini berlangsung, Taman Bidadari sudah menjadi bahan diskusi di Gubuak Kopi, dan itu adalah salah satu potensi yang ada Kelurahan Kampung Jawa. Sebelumnya di bulan Maret, kita juga melakukan kegiatan workshop singkat bersama Oliver Hussein, dia adalah salah seorang seniman video dan performance asal Toronto, Canada. Dalam workshop itu, dipandu oleh Oliver kita juga melakukan kegiatan ‘video performance’ di Taman Bidadari ini. Continue reading

Postingan Terkait