Category Archives: Jurnal

Equality: Titik Awal Pembacaan

Sabtu malam, 04 November 2017, di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, yang terletak di Kota Padang, telah berlangsung pembukaan pameran Equality yang diusung oleh sejumlah kelompok seni di Sumatera Barat. Kelompok-kelompok yang terlibat ini menginisiasi lahirnya sebuah proyek bersama, yakni: Minang Young Artist Project (MYAP), sebuah wadah untuk memetakan dan membaca perkembangan seni rupa yang diprakarsai generasi muda di Sumatera Barat. Continue reading

Postingan Terkait

Gerakan Seni Lukis di Sumatera Barat

Teks ini merupakan arsip ceramah Oesman Effendi pada tahun 1976, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Artikel yang berjudul Gerakan Seni Lukis di Sumatera Barat ini dipublikasi kembali oleh Komunitas Gubuak Kopi, mengingat sebagian besar isu yang dibicarakan masih relevan untuk mengkritisi perkembangan seni rupa dan persoalan kebudayaan di Sumatera Barat saat ini. Continue reading

Postingan Terkait

Batampek: Tradisi dan Elektronik

Senin, 25 September 2017, lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi sudah di hari ketujuh. Seperti hari-hari sebelumnya, para partisipan bersama fasilitator paginya sudah mulai mengumpulkan meteri foto, audio, dan video yang dibutuhkan untuk lokakarya, serta melanjutkan riseta terkait isu yang masing-masing partisipan dalami. Namun, hari ini, kita kembali memiliki agenda khusus, yakni kuliah umum “Tradisi dan Elektroakustik” bersama Ade Jhori. Continue reading

Postingan Terkait

Tradisi Marindu Harimau

Catatan hari keenam lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi dan membaca tradisi marindu harimau bersama Rika Wirandi

Minggu, 24 September 2017 adalah hari ke-6 lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, yang diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Sekitar jam 11.20 siang, para partisipan dan fasilitator siap untuk pergi ke lapangan, mencari data yang dibutuhkan terkait minat isu masing-masing. Kiki, salah satu pertisipan, mencari informasi yang ia butuhkan ke rumah datuak Tan Ali. Beliau adalah salah satu tokoh adat di Solok, atau tepatnya ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Solok. Pada beliau, kiki mencari lebih jauh isu tentang bakureh, yakni tradisi masak bersama yang biasa dilakukan oleh masyarakat KTK untuk sebuah pesta di kampungnya. Baik itu pesta penikahan ataupun pesta yang diselenggarakan oleh pemuda atau pesta adat lainnya. Selain Kiki, Apis dan Zekal pergi ke salah satu sawah yang memiliki alat panggaro (alat untuk mengusir hama burung yang memakan padi). Continue reading

Postingan Terkait

Nonton di Simpang Kamboja

Sabtu, 23 September 2017, adalah hari kelima lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi. Pada hari ini para partisipan kembali melanjutkan riset mereka ke lapangan. Kiki seorang Partisipan melanjutkan risetnya di sekitaran Kota Solok, untuk mencari Audio, Video dan juga Foto-foto yang berkaitan dengan ‘kultur dapur’ begitu juga Joe Datuak mengumpulkan bahan terkait silat dan yang lainnya. Sorenya, kami melanjutkan mempersiapkan program penayangan film: Sinema Pojok. Penayangan kali ini dilakukan di Simpang Kamboja, Kampuang Jawa Kota Solok. Lokasinya cukup dekat dari markas Komunitas Gubuak Kopi. Continue reading

Postingan Terkait

Mozaik Isu di Hari Kelima

Catatan hari kelima lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Hari kelima Lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, 22 September 2017, setelah shalat Jumat dan makan siang, para partisipan kembali memulai aktivitas untuk pergi mencari data ke lapangan. Partisipan dibagi menjadi dua tim, yang satu adalah Diva dan Kiki, dan satu lagi adalah saya dan Hafiz. Continue reading

Postingan Terkait

Observasi Awal Partisipan Lapuak-lapuak Dikajangi

Kamis, 21 September 2017, masih dalam rangkaian lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, yang kali ini dimulai dengan kegiatan turun lapangan untuk mendapatkan isu-isu lokal sekitar Solok, yang berhubungan dengan tradisi maupun praktek pelestarian itu sendiri. Lalu, pada malam harinya dilanjutkan dengan presentasi hasil observasi  lapangan. Presentasi pertama dimulai oleh Joe Datuak. Siang itu, ia bersama rekan-rekan partisipan lainnya, Vera, Zekal, dan Hafiz mengunjungi rumah Buya Khairani, salah seorang tokoh masyarakat di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Buya juga sering memberi kuliah-kuliah adat dan kebudayaan di Gubuak Kopi, selain itu ia juga aktif memberi ceramah adat di salah satu radio swasta di Solok. Continue reading

Postingan Terkait

Yang Usang Diperbarui

Catatan hari ketiga lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Rabu, 20 September 2017, merupakan hari ketiga lokakarya literasi media yang diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Kali ini, kita memajukan jam diskusi menjadi jam 11.20 WIB. Lalu, setelah makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan penjabaran materi ”Pelestarian  Seni Media Trasdi Melalui Platfrom Multimedia” bersama Albert Rahman Putra. Albert merupakan lulusan dari Seni Karawitan, ISI Padangpanjang, yang memiliki ketertarikan dalam pengkajian seni-seni tradisi, terutama dalam melihat kemungkinan perkembangan terkininya sebagai kekuatan sosial. Materi ini pada dasarnya merupakan poin utama dari kegiatan lokakarya ini, sebagai kelanjutkan dari program-program Komunitas Gubuak Kopi sebelumnya. Continue reading

Postingan Terkait

Membajak Teknologi Di Hari Kedua

Selasa, 19 September 2017, tepat di hari kedua lokakarya Lapuak Lapuak Dikajangi berjalan. Kali ini Muhammad Riski salah satu pegiat Komunitas Gubuak Kopi, selaku pembicara memaparkan materinya: Seni Membajak Teknologi sebagai umpan diskusi.  Ia juga menyinggung kembali materi yang telah dibahas di hari sebelumnya, tentang apa itu media, tujuan media, manfaat media, serta dampak media. Untuk menggambarkan situasi bermedia di Indonesia, Ia menggambarkan perang media antara pemilik modal atau orang-orang yang berkepentingan, seperti kasus lumpur di Sidoarjo yang diakibatkan oleh kelalaian kontraktor Lapindo Brantas Inc.  Kasus ini mengakibatkan sekitar 90 hektar sawah tertimbun lumpur panas[1]. Dalam hal ini kita tahu, siapa saja pemilik modal yang harus bertanggung jawab untuk kasus ini. Mereka juga merupakan konglomerat media dan politikus. Misalnya, di media miliknya, kita akan  mendengar ini sebagai Lumpur Sidoarjo, konten berita secara umum mengabarkan kemajuan dan usaha penanggulangan. Sedang di media raksasa lainnya yang kebetulan lawan politik memberitakan ini sebagai Lumpur Lapindo dengan segala konten kritiknya. Begitu pula menanggapi isu plagiat budaya oleh negara tetangga, beberapa media yang merupakan lawan politik presiden waktu itu, membangun citra agar pemerintahan kala itu terlihat lemah, walaupun kita sadar tidak ada yang namanya plagiat budaya (tradisi). Continue reading

Postingan Terkait

Pertemuan Pertama Lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Senin, 18 September 2017, sekitar pukul 15.00 Lokakarya denga tema “Lapuak-lapuak Dikajangi” (yang lapuk disokong kembali) dibuka langsung oleh Albert Rahman Putra, selaku ketua Komunitas Gubuak Kopi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelumnya, Albert memberikan sedikit latar belakang terkait hadirnya lokakarya ini, gambaran kegiatan yang akan dijalani hingga 12 hari ke depan, serta capaian-capaian yang diharapkan.  Setelah itu, para partisipan maupun para fasilitator saling memperkenalkan diri. Albert menekankan bahwa penting bagi kita – para partisipan maupun fasilitator – untuk saling berbagi pikiran dan bekerja sama memaksimalkan hasil lokakarya ini. Teman-teman yang diundang untuk terlibat, menurut Albert adalah orang-orang yang sengaja dipilih dan dianggap bisa membicarakan isu ini dari beragam perspektif. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Daur Subur dalam membaca perkembangan kultur pertanian di Sumatera Barat. Kegiatan kali ini, mengerucut membicarakan posisi kesenian di masyarakat pertanian Minangkabau, peran media dalam praktek pelestarian dengan kesadaran akan sejarah kebudayaan lokal dan perkembangan terkininya. Continue reading

Postingan Terkait