Author Archives: Muhammad Riski

Muhammad Riski (Solok, 20 November 1995), adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua.

Sawah atau Tambang

Pak Pono adalah salah satu pemilik sawah di Padang Sibusuk, yang sawah di sekelilingnya telah beralih fungsi menjadi area pertambangan emas. Pak Pono juga menyebutkan kalau sawah yang baru ia tanami itu merupakan penaman yang terakhir musim ini. Setelah ini di panen, ia akan segera menjadi area tambang emas pula, menyusul lahan di sekitarnya. Pak Pono sempat ragu mengalih fungsi lahan pertaniannya, melihat kerusakan yang terjadi di sekelilingnya. Tapi ia juga yakin bisa mengatasi persoalan itu, dengan mepersiapkannya. Pak Pono yang juga merupakan pembuat kincir air ini, semakin yakin mengalih fungsi lahannya, mengingat lahan di sekitarnya, yang telah dikeruk itu cukup banyak emasnya. Continue reading

Postingan Terkait

Oto Sate Pak Man

Sate Pak Man, adalah salah satu sate yang cukup sering ditemui oleh warga Padang Sibusuk. Ia berjualan di bangunan mobil kijang super miliknya, mengitari kampung ke kampung. Ia datang dari Solok, dengan beberapa unit mobil lainnya. Khusus yang satu ini berjualan di Padang Sibusuk. Continue reading

Postingan Terkait

Hari Ketiga di Padang Sibusuk

Catatan hari ke­tiga Lokakarya Daur Subur di Padang Sibusuk

Selasa, 09 Januari 2018 adalah hari ketiga Lokakarya Daur Subur yang diadakan di Padang Sibusuk oleh Gubuak Kopi bersama PKAN. Lokakarya ini mengundang beberapa partisipan dari kelompok dan latar belakang pendidikan yang berbeda, guna memberi keberagaman pandangan dalam membaca isu di Padang Sibusuk. Continue reading

Postingan Terkait

Tradisi Marindu Harimau

Catatan hari keenam lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi dan membaca tradisi marindu harimau bersama Rika Wirandi

Minggu, 24 September 2017 adalah hari ke-6 lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, yang diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Sekitar jam 11.20 siang, para partisipan dan fasilitator siap untuk pergi ke lapangan, mencari data yang dibutuhkan terkait minat isu masing-masing. Kiki, salah satu pertisipan, mencari informasi yang ia butuhkan ke rumah datuak Tan Ali. Beliau adalah salah satu tokoh adat di Solok, atau tepatnya ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Solok. Pada beliau, kiki mencari lebih jauh isu tentang bakureh, yakni tradisi masak bersama yang biasa dilakukan oleh masyarakat KTK untuk sebuah pesta di kampungnya. Baik itu pesta penikahan ataupun pesta yang diselenggarakan oleh pemuda atau pesta adat lainnya. Selain Kiki, Apis dan Zekal pergi ke salah satu sawah yang memiliki alat panggaro (alat untuk mengusir hama burung yang memakan padi). Continue reading

Postingan Terkait

Yang Usang Diperbarui

Catatan hari ketiga lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Rabu, 20 September 2017, merupakan hari ketiga lokakarya literasi media yang diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Kali ini, kita memajukan jam diskusi menjadi jam 11.20 WIB. Lalu, setelah makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan penjabaran materi ”Pelestarian  Seni Media Trasdi Melalui Platfrom Multimedia” bersama Albert Rahman Putra. Albert merupakan lulusan dari Seni Karawitan, ISI Padangpanjang, yang memiliki ketertarikan dalam pengkajian seni-seni tradisi, terutama dalam melihat kemungkinan perkembangan terkininya sebagai kekuatan sosial. Materi ini pada dasarnya merupakan poin utama dari kegiatan lokakarya ini, sebagai kelanjutkan dari program-program Komunitas Gubuak Kopi sebelumnya. Continue reading

Postingan Terkait

Dinamika Kultur Tani

Sore itu, setelah melihat beberapa aktivitas pertanian di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, saya kembali ke kantor Gubuak Kopi. Di sana telah duduk Bapak Elhaqki Effendi. Ia hadir untuk membagi memberi kami sedikit materi dan berbagi pembacaannya tentang perkembangan pertanian di Solok. Sebelumnya, memang kami sudah mengundang beliau untuk mengisi diskusi kali ini, dan Jumat ini adalah hari yang tepat. Bapak Elhaqki atau yang akrab disapa Pak El adalah pernah bekerja di Dinas Pertanian sejak tahun 1976, dan sempat pindah ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan, lalu pada 2015 ia pensiun sebagai pegawai Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Continue reading

Postingan Terkait

Bingkaian Daur Subur

Selasa, 20 juni 2017 adalah hari terakhir Lokakarya dengan tema “Kultur Daur Subur” yang dilaksanakan oleh Gubuak Kopi. Kegiatan lokakarya ini melibatkan beberapa orang partisipan yang mewakili kelompok atau komunitasnya masing-masing. Sudah sepuluh hari kita belajar bersama untuk memetakan perkembangan pertanian dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui praktek media kreatif. Tiba pula saatnya para partsipan mempresentasikan hasil risetnya dan apa yang diperoleh selama lokakarya. Setelah sholat Dzuhur, partisipan bersiap untuk presentasi. Continue reading

Postingan Terkait

Kuliah Perkembangan Pertanian Solok

Jum’at, 16 Juni 2017, lalu lokakarya Kultur Daur Subur di Gubuak Kopi sudah memasuki hari ketujuh. Tiga hari lagi lokakarya akan selesai, dan akan dilanjutkan dengan presentasi publik open lab pada 07 Juli 2017 nanti, di Galeri Gubuak Kopi. Siang itu seperti biasa para partisipan mulai mencari informasi lanjutan tentang isu yang akan mereka tulis persentasikan, terkait visi Kultur Daur Subur. Continue reading

Postingan Terkait

Bertandang ke TPA

Senin, 12 Juni 2017 lalu, kita memasuki hari ke tiga Lokakarya Media: Kultur Daur Subur  di Gubuak Kopi. Sekitar pukul 13.20 WIB, saya bersama rekan fasilitator lainnya menemani teman-teman partisipan pergi meninjau keadaan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang lokasinya tidak jauh dari sekretariat Gubuak Kopi. Continue reading

Postingan Terkait

Gang Rambutan

Vlog Kampuang – Gang Rambutan adalah Rekaman suasana suatu sore di Gang Rambutan, RT 03 / RW 01 Kelurahan Pasar Pandan Airmati, Kota Solok. Di sini, kita bertemua sebuah gang yang sedikit mencolok dari gang-gang lain pada umumnya di Solok. Gang terlihat cukup bersih dan asri, beberapa waktu warga penghuni gang bergotong royong, menghias, dan menanam beberapa tanaman sayur, buah, dan bunga di gang ini. Continue reading

Postingan Terkait