Author Archives: Komunitas Gubuak Kopi

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Balega Group

Pada rangkaian pameran multimedia: Lapuak-lapuak Dikajangi, tanggal 6-8 Oktober 2017, di Galeri Gubuak Kopi, kuratorial juga menghadirkan beberapa presentasi khusus untuk memperkaya isu. Salah satu di antaranya, yang diundang untuk hadir adalah kelompok musik Balega atau juga dikenal dengan Balega Group.

Balega Grup adalah satu kelompok musik yang aktif mengembangkan kesenian tradisi Minangkabau ke bentuk yang lebih segar. Kelompok ini didirikan oleh Admiral bersama sejumlah mahasiswa ISI Padangpanjang sejak tahun 2012. Kelompok ini telah mempresentasikan karya-karyanya di festival musik nasional dan internasional, seperti pelatih workshop musik di Central Conservatory of Music, Beijing (China, 2013); Brave Music Festival (Polandia, 2014); pelatih workshop musik di HKU Roterdam, (Belanda, 2014); Pasa Harau – Art & Culture Festival (Indonesia, 2016).

Menarik menyimak karya-karya Balega, yang memberikan kesegaran dan kemungkinan garap yang beragam terhadap musik tradisi. Selain itu, kecendrungan Balega untuk mencari titik kawin antara perbedaan latar karakter, latar budaya, musikal membuat ia menjadi menarik untuk disajikan di konteks, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Kampung Jawa adalah salah satu kelurahan di Kota Solok yang di dalamnya hidup berdampingan sejumlah etnis seperti, Jawa, Minang, Batak, dan Keling (India).

Andalas Film Exhibition – Denyut Baru

Andalas Film Exhibition (AFE) 2017 adalah salah satu festival atau ajang apresiasi sinema berskala nasional, yang digagas oleh kelompok RELAIR Cinema FIB Unand. AFE pertama ini digelar pada tanggal 18 November – 3 Desember 2017, di Kampus Universitas Andalas, dan tour kuratorial di sejumlah kampus di Sumatera Barat. Ajang apresiasi ini mengangkat “Denyut Baru” sebagai tema sentralnya. Dalam perayaan ini juga terlibat sejumlah pegiat Komunitas Gubuak Kopi, antara lain: Albert Rahman Putra, selaku kurator film mahasiswa dan umum; dan Delva Rahman selaku pembicara dalam Simposium yang bertajuk Komunitas dan Ruang Apresiasi Alternatif. Continue reading

Postingan Terkait

Presentasi Publik GSMS: SELF-CRITICAL

Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) adalah salah satu program yang digagas oleh Direktorat Kesenian, Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan ini membuka peluang seniman dan sekolah bersinergi dalam pendidikan kebudayaan melalui kesenian. Dalam program ini salah satu seniman yang terlibat adalah Albert Rahman Putra, salah seorang pegiat seni di Komunitas Gubuak Kopi. Dalam kesempatan ini Albert, mengajak siswa mengenal praktek seni multimedia, serta mengalami proses produksi, hingga pameran. Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak 27 kali pertemuan, bersama 20 siswa di SMA N 2 Sumatera Barat. Continue reading

Pameran Multimedia: SELF-CRITICAL

Pameran Multimedia: Self-Critical
Sabtu, 2 Desember 2017
09.00
di SMA N 2 Sumatera Barat Continue reading

Postingan Terkait

Minang Young Artist Project: EQUALITY

Minang Young Artist Project adalah inisiatif merangkum perkembangan seni rupa terkini di Sumatera Barat melalui kegiatan pengarsipan, kolaborasi, pameran, diskusi dan simposium berkala. Proyek ini digagas oleh sejumlah kelompok seni di Sumatera Barat, antara lain: Komunitas Seni Belanak (Padang), Komunitas Gubuak Kopi (Solok), Rumah Ada Seni (Padang), Ladang Rupa (Bukittinggi), Rumah Coretan (Padang), Teras (Padangpanjang), Villa A (Padang), Begundal Rupa (Padang), Komunitas Seni Rantai (Sawahlunto), Minang Typers (Padang), Pena Hitam (Padang), Doodle Art (Padang), dan PKAN (Sijunjung). Proyek seni ini dipresentasikan dalam pagelaran seni Minang Young Artist Project – EQUALITY, yang terdiri dari pameran seni rupa, simposium, pertunjukan, workshop, kolaborasi, dan penayangan film. Diselenggarakan pada tanggal 4-18 November 2017, di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat.

Dalam kegiatan ini turut terlibat sejumlah pegiat Komunitas Gubuak Kopi, antara lain: Albert Rahman Putra, selaku kurator; Muhammad Riski, selaku Direktur Artistik; Volta Ahmad Jonneva selaku seniman; Delva Rahman, selaku seniman; Zekalver Muharam, selaku seniman. Continue reading

Equality: Titik Awal Pembacaan

Sabtu malam, 04 November 2017, di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, yang terletak di Kota Padang, telah berlangsung pembukaan pameran Equality yang diusung oleh sejumlah kelompok seni di Sumatera Barat. Kelompok-kelompok yang terlibat ini menginisiasi lahirnya sebuah proyek bersama, yakni: Minang Young Artist Project (MYAP), sebuah wadah untuk memetakan dan membaca perkembangan seni rupa yang diprakarsai generasi muda di Sumatera Barat. Continue reading

Postingan Terkait

Gerakan Seni Lukis di Sumatera Barat

Teks ini merupakan arsip ceramah Oesman Effendi pada tahun 1976, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Artikel yang berjudul Gerakan Seni Lukis di Sumatera Barat ini dipublikasi kembali oleh Komunitas Gubuak Kopi, mengingat sebagian besar isu yang dibicarakan masih relevan untuk mengkritisi perkembangan seni rupa dan persoalan kebudayaan di Sumatera Barat saat ini. Continue reading

Postingan Terkait

Merawat Tradisi di Era Digital

Sabtu, 28 Oktober 2017 lalu, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Harian Kompas hadir dengan tampilan yang berbeda. Dalam edisi itu, Kompas mengajak para generasi muda untuk terlibat dalam proses produksi. Tidak hanya itu, Kompas juga menyajikan konten-konten yang menggali kiprah generasi muda Indonesia. Kompas di antaranya memuat perjalanan Albert Rahman Putra, pendiri dan pegiat literasi media Komunitas Gubuak Kopi, pada rubrik Sosok, dengan judul Merawat Tradisi di Era Digital. Continue reading

Postingan Terkait

Human Rights Youth Camp

27-28 Oktober 2017 lalu, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, bersama Komnas HAM dan International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) menggelar kegiatan Human Rights Youth Camp 2017, tepatnya di Taman Purbakala. Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah pelajar, mahasiswa, dan komunitas pemuda di Lampung Timur. Kegiatan yang diselenggarakan dalam bentuk kemah remaja ini, diantaranya menghadirkan sejumlah tamu seperti, M. Khoiron (Komisioner Eksternal Komnas HAM), Mugiyanto (Aktivis INFID), Albert Rahman Putra (Pegiat Media/Komunitas Gubuak Kopi), Melani Subianto (Seniman/aktivis HAM), dan Kak Seto (Aktivis Anak). Dalah hal ini, Albert menyampaikan orasi untuk mengembangkan gerakan literasi media sebagai salah satu alat dalam menghadapi segala tantangan di era milenal. Continue reading

Generasi Milenial Tentukan Arah

“Kami mengajak warga, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, untuk mengenal cara kerja media melalui kegiatan kreatif atau kesenian,” ujar Albert.

Senin, 23 Oktober 2017, Harian Kompas mengusung headline bertajuk Generasi Milenial Tentukan Arah. Dalam headline muncul enam nama yang dianggap sebagai bagian dari generasi muda yang telah menentukan arah, melakukan perubahan, serta memberikan makna bagi organisasi dan masyarakat. Mereka antara lain, Chief of Operation & Data Science OLX Doan Lingga (35), Head of Business Go-Food Nadia Tenggara (28), Ketua Bidang Eksternal Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia Tsamara Amany Alatas (21), Vokalis Giring Ganesha (34), pendiri Komunitas Gubuak Kopi Albert Rahman Putra (26), perintis Jawara Banten Farm Nur Agis Aulia (28), Social & Brand Activation Lead Bank BTPN Dimas Novriandi (36), dan Head of Marketing Koin Works Jonathan Bryan (29). Continue reading

Postingan Terkait