Makna yang Berkembang Sederhana

Catatan Observasi Awal bersama Bakureh Project

Pada hari ke-empat Lokakarya Daur Subur, dalam rangkaian Bakureh Project, saya bersama Havis, Datuak dan Irfan menuju lapangan untuk observasi awal. Mereka adalah kawan-kawan yang juga merupakan partisipan dan fasilitator proyek seni yang berupaya merespon tradisi bakureh di Solok, dan tradisi serupa di Sumatera Barat secara umum. Lokasi observasinya adalah daerah sekitar sekretariat Gubuak kopi. Di perjalan kami menghampiri seorang bapak. Ia duduk di depan sebuah kedai yang sedang tutup. Kami awali dengan sapaan, memperkenalkan diri dan dengan ramah bapak itu ngobrol-ngobrol dengan kami.

Seperti dugaan saya, bapak itu adalah petani yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di sawah yang bukan miliknya. Tadi ia mengerjakannya secara berkelompok, dan kebetulan yang punya sawah tidak ikut karena sedang bekerja di salah satu perkantoran di Kota Solok. Dalam kelompok tadi terdiri dari 15 orang, di antaranya laki laki dan perempuan. Mereka memulai pekerjaan dari jam 06.30 wib sampai jam 15.30 wib. Saya bertanya tentang sistem upah dan pembagian kerja. Beliau menjelaskan, bahwa sistem upah di sini dibayar dengan padi, jika dirupiahkan sama dengan Rp. 9.000 per-gantang, berisi 2 liter.

Pembagian pekerjaannya tergantung kesanggupan tenaga saja. Biasanya pekerjaan yang berat, seperti manongkang (memukul pada alat tongkang/memisahkan dari  batangnya), maangin (memisahkan padi berisi dan padi hampa), dan manjujuang (mengangkat) itu adalah bagian laki-laki. Manyabik (menyabit) itu bagian perempuan, tapi jika ibu-ibu sanggup mengerjakan pekerjaan yang dilakukan bapak-bapak itu, ya sah saja, katanya. Karena setiap upah yang didapat tergantung apa bagian yang telah dikerjakan.

***

Anisa Nabilla Khairo (penulis) mempresentasikan temuannya di hadapan fasilitator dan partisipan Bakureh Project lainnya. (Foto: Arsip Gubuak Kopi, 2018)

Tradisi yang tengah kita pelajari melalui Bakureh Project, adalah tradisi bakureh itu sendiri. Kata bakureh dalam konteks tradisi ini adalah sebutan lazim bagi aktivitas gotong royong memasak dalam sebuah perhelatan sebagian besar warga Kota Solok. Beberapa narasumber dalam beberapa kelas di Gubuak Kopi, menjelaskan tentang adanya adab gotong royong dalam kegiatan bakureh itu sendiri.

Memang, kebudayaan gotong royong itu sudah menjadi indentitas yang dilekatkan pada masyarakat Minangkabau dulunya, sehingga kebersamaan sudah menjadi sebuah kebiasaan dan rutinitas sebagian besar masyarakat. Dalam kata bakureh saya menemukan adanya proses penjagaan sebuah kebudayaan yang ada di Minangkabau yaitu kebudayaan gotong royong.  Termasuk dalam sebuah acara kematian, perkawinan, dan alek nagari.

Selain itu, sebenarnya dalam bahasa Minang, kata bakureh juga memiliki makna yang beragam. Secara umum ia berarti bekerja atau usaha yang menghasilkan uang. Seperti pekerjaan yang dilakukan bapak tadi juga bisa disebut bakureh. Karena adanya proses usaha mencari upah untuk memenuhi kebutuhannya dengan tenaga.

Lanjut untuk mencari narasumber yang kedua, saya menemukan lagi kelompok petani yang sedang memanen Padi. Saya berkenalan dengan beberapa petani yang ada di sana. Kebetulan salah seorangnya sekampung dengan saya. Bapak itu terlihat senang ketika mendengarkan bahwa asal saya dari Payakumbuh. Ada semacam rindu yang lepas dari matanya. Ia bertanya di daerah mana saya di Payakumbuh? Ia juga menyebutkan daerah asalnya. Ia menyampaikan bahwa orang Payakumbuh banyak merantau ke sini. Kebetulan juga bapak itu pemimpin di kelompoknya. Walaupun Ia orang Payakumbuh tapi tidak jadi masalah bagi warga asli Solok untuk menjadikannya pimpinan dalam kelompok tani.

Keakraban anggota kelompok ini sangat terlihat, ketika saya ikut dalam kumpulan mereka saat beristirahat. Canda tawa, obrolan mereka sangat lepas. Sesekali mereka menertawai (menggunjing) seseorang yang terlihat aneh, “hoi, ndak bajajak kaki bajalan do mah” (hei, tidak ada jejak kakinya kalau berjalan). Ini dia teriakan ketika ada yang pulang tapi tidak pamit dulu kepada mereka.

Salah satu aktivitas pertanian di Solok, kala panen. (Foto: Dyah/Gubuak Kopi, 2018)

Kelompok ini sama dengan kelompok sebelumnya, ada beberapa perempuan yang ikut. Saya bertanya pada salah seorang ibu-ibu di sana, tentang kegotong-royongan mereka dalam mendapatkan upah. Tidak berbeda dari kelompok sebelumnya, Ibu tersebut juga mendapat bagian, kerja dan upah yang sama dengan cara kelompok sebelumnya. Di selang bercerita ada seorang ibu yang kehilangan sabitnya (perkakas).

Ma sabik den tadinyo, tu untuk pakureh dek den tumah!”(Mana sabit saya tadi, itu untuk bakureh bagi saya!), kata ibu itu sambil mencari-cari sabitnya.

Lagi-lagi saya mendengar kata bakureh di sini. Dari penjabaran ibu tersebut bahwa bakureh merupakan salah satu kegiatan penyambung hidup yang ia jalani sehari-hari (suatu pekerjaan). Untuk itu saya langsung kaitkan dengan bakureh masak-memasak dalam sebuah perhelatan.

“Sebenarnya bakureh itu apa buk? saya juga pernah mendengar bahwa orang Solok juga menyebut gotong royong memasak adalah bakureh” tanya saya.

Ia menjawab, ”bahwa memang bakureh disini juga diartikan gotong royong memasak,” ia menambahkan “Selain itu ketika ada tetangga yang akan melaksanakan perhelatan kami sengaja meliburkan hari kerja di sawah untuk gotong royong memasak di sana, katanya menjelaskan, lalu “Ketika kita tidak dapat ikut serta dalam bakureh, maka kita akan merasa tidak enak kepada yang punya perhelatan” tambahnya.

Ketika adat bakureh (gotong royong memasak) ia tinggalkan maka akan  menimbulkan suatu permasalahan antar sosial ibu itu. Secara tidak langsung kebudayaan bakureh (memasak) juga memiliki tuntutan sosial dan menjadi kesadaran individu masyarakat di sana dalam hidup berkelompok.

Terkait dengan perubahan zaman, ibu ini menyampaikan bahwa ada perbedaan dalam sistem bakureh yang dahulu dengan sekarang. Sebagian masyarakat di sini sudah  menggunakan jasa catering dalam membantu konsumsi dalam sebuah perhelatan. Tapi di sela-sela itu perhelatan sistem bakureh harus tetap dijalankan. Tetapi atmosfir gotong royong memasak ini menjadi hambar, beberapa tahapan terpotong, dan dulunya bakureh itu menggunakan sistem julo-julo (arisan) dan murni suka rela.

Menurut saya kebudayaan bakureh ini bisa juga disebut sebagai media. Media yang menjaga atau mempertahankan sebuah kebudayaan ber-gotong royong pada masyarakat Minangkabau. Ketika kebudayaan bakureh itu hilang, dikawatirkan akan berdampak pada ke-tidak-sesuaian identitas masyarakat yang telah terbentuk oleh kebudayaan. Proses sosial antar masyarakat Minangkabau dikawatirkan tidak sesuai dengan jati diri mereka yang sebelumnya, telah diwariskannya kebudayaan gotong royong dalam warih nan bajawek.

Kelas bersama Mak Katik di Gubuak Kopi, dalam rangkaian Bakureh Project.

Warih nan bajawek memiliki peran dalam penjagaan aturan masyarakat hidup di alam Minangkabau. Penyampaian pesan atau aturan menggunakan warih nan bajawek itu bisa melalui kesenian dendang, saluang, pepatah, dan pitaruah. Berkaitan dengan kebudayaan gotong royong sesuai dengan pepatah Minang “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang“ artinya berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Yang bermakna setiap pekerjaan itu dilakukan secara bersama-sama. itulah yang menjadi pedoman masyarakat Minang dalam bersosial.

Untuk menjaga atau mempertahankan adat, kita membutuhkan media sebagai alat penghubung. Bakureh sebagai media bisa menjadi alat penyampai pesan antar generasi melalui kebiasaan atau rutinitas dalam beraktivitas. Dalam kegiatan bakureh terdapat banyak pelajaran, mulai dari bersosialisasi, memasak, bekerja sama, peduli, dan keakraban pun dapat terjaga melalui bakureh. Sebelum kegiatan bakureh  dimulai dalam suatu perhelatan perkawinan di Minangkabau, biasanya dimulai dulu dari  mamanggia (mengundang), bararak (arak-arakan), lalu baru masak basamo (masak bersama) dan biasanya orang-orang yang sedang bakureh juga disuguhi sebuah hiburan, seperti saluang, dendang, rabab. Setiap tahapan itupun juga terdapat adab-adab yang spesifik yang tentunya menarik untuk digali maknanya.

Beberapa daerah di Minangkabau menyebut gotong royong memasak itu dengan manolong mamasak saja. Sedangkan dengan bakureh mereka lebih mengartikan dengan penyebutan pada sebuah kegiatan yang mendapatkan hasil (upah). Ada pertentangan makna dari bakureh, antara diupah dan sukarela. Selain itu, di Solok sendiri yang sebelumnya menyebut bakureh sebagai gotong royong, kemudian juga disegeneralkan sebagai bekerja untuk upah. Terjadinya fenomena pergeseran atau penyempitan makna pada kata bakureh. Fenomena ini dapat dikaji pada perubahan makna kata melalui proses evolusi. Perubahan dalam konteks evolusi, yang diistilahkan dengan diakronis. Diakronis adalah suatu perubahan yang terjadi melalui proses. Kata bakureh mengalami perubahan makna karena adanya proses sosial.

Ada dua sisi disini yang dapat kita kaji, pertama Bakureh sebagai media penyampai pesan gotong royong, dalam konteks memasak bersama pada sebuah perhelatan, juga menjadi wadah bagi media warih nan bajawek (lewat lisan), seperti halnya pantun, dendang, salauang untuk penyampai pesan yang memiliki satu topik, yaitu tentang kebudayaan gotong royong atau kebersamaan. Menurut saya, ketika kegiatan bakureh memasak digantikan dengan kehadiran jasa catering, itu bisa menyebabkan terjadinya perubahan makna kata pada bakureh melalui proses (diakronis), yang akan dikhawatirkan melunturkan sebuah kebudayaan gotong royong, yang mencakup beberapa adab dan tahapan tadi. Suatu waktu ketika peran bakureh sebagai media penyampai pesan hilang, maka itu akan berpotensi terjadinya kekosongan. Di sanalah terjadinya pergeseran makna secara evolusi.

Kedua, Bakureh yang merupakan sebuah usaha untuk mendapatkan hasil, bisa juga disebut sebagai media penyampai pesan terkait kebudayaan gotong royong, sesuai dengan pepatah Minang “sorang bapokok, sorang batanago” satu mempunyai modal, satu lagi mempunyai tenaga”. Seseorang yang memiliki modal bisa menjadi wadah bagi orang yang ingin berusaha untuk mendapatkan hasil demi keberlangsungan hidupnya. Adanya hubungan kegotong-royongan (timbal balik ) di sini. Sebagai contoh, hubungan timbal balik seorang pemilik modal dan petani. Si pemilik modal terbantu dalam memanen hasil sawah miliknya, dan pihak yang berusaha untuk mendapatkan hasil untuk keberlangsungan hidupnya juga terbantu.

Kejadian yang kedua juga bisa dikaitkan dengan salah satu contoh pergeserannya makna bakureh di daerah Kinari, Solok. Di sana kata bakureh dinilai kasar, mereka memaknai bakureh dengan suatu pekerjaan yang memanfaatkan orang lain. Menurut saya berdasarkan contoh yang ada di sana, bakureh  mengalami distorsi makna, sehingga merubah pesan yang disampaikan. Ketika seseorang yang berusaha untuk mendapatkan hasil, merasa tidak ada nilai kegotong royongan dan hubungan timbal balik, atau merasa dieksploitasi oleh pemilik modal, maka proses (diakronis) seperti inilah yang mempengaruhi perubahan makna kata pada bakureh.

Dapat kita simpulkan perubahan makna bakureh dapat dipengaruhi oleh proses (diakronis) sesuai dengan aspek evolusi. Dalam Pengkajian Linguistik, Anton M. Moeliono dan rekan-rekannya berpendapat bahwa makna adalah salah satu persoalan yang dapat dikaji secara mendalam. Penyelidikan makna dalam kajian linguistik disebut dengan semantik. Menurut J.W.M. Verhaar semantik itu ialah teori makna atau  teori erti. Begitu juga dengan J. D. Parera yang mengemukakan bahawa semantik adalah ilmu tentang makna. John Lyons pula mendefinisikan semantik dengan penyelidikan makna. Dalam semantic perubahan makna dapat terjadi melalui dua konteks yaitu evolusi dan revolusi

Untuk perubahan makna pada kata bakureh itu, saya kira dipengaruhi oleh konteks evolusi. Dalam perubahan makna melalui evolusi itu lebih menggambarkan suatu perubahan yang terjadi melalui proses, yang disebut diakronis. Penyebutan pada istilah kegiatan untuk mencari hasil, dan terjadinya perubahan pandangan seperti daerah Kinari yang menganggap kata bakureh itu kasar.

Dalam peristilahan bakureh dalam konteks masyarakat Solok, yang mendefenisikan ini sebagai gotong royong, menarik untuk membacanya kembali sebagai sebuah istilah  yang pada dasarnya sangat kompleks. Bagaimanapun juga istilah yang beragam makna itu, pernah memiliki sebuah kompleksitas yang positif dalam sistem sosial. Bakureh tidak sesederhana bergotong royong, tidak pula sesederhana mencari upah, dalam prosesnya terdapat adab, proses mediasi pengetahuan dan nilai-nilai, dan pendidikan kearifan lokal yang menarik untuk kita bicarakan lagi dalam konteks sekarang, yang serba instan.

Solok, 7 Juni 2018

Anisa Nabilla Khairo (Padang Ganting, 1992), biasa disapa Cayuang. Pernah menjalani program studi Sastra Inggris, Universitas Negeri Padang (UNP) namun tidak selesai. Juga aktif di beberapa organisasi kampus dan komunitas seni di Sumatera Barat. Berkegiatan di Kamart Kost (Padang). Dan juga aktif menggelar lapak baca yang menamai diri Book N Rool, Padang (2018). Ia merupakan partisipan Bakureh Project yang digelar di Gubuak Kopi (2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.