Kuratorial Open Lab: Mamboncah

Mamboncah: Membasahi yang kering, memulai kembali. Demikian kami generasi kini memahami aktivitas yang biasa dilakukan petani setelah panen dan hendak menanami sawahnya kembali. Bagi kita, ia adalah kerangka filosofis yang merujuk pada aksi untuk terus berbenah dan memperbaharui ruang, atas nama masa depan yang lebih baik serta keseimbangan yang berlanjut.

Daur Subur adalah sebuah paltform yang digagas oleh Gubuak Kopi dalam mengarsipkan dan memetakan kultur pertanian di Sumatera Barat melalui pendidikan media berbasis komunitas. Kegiatan ini digagas pada tahun 2017, melibatkan sejumlah partisipan dari beragam disiplin dan komunitas. Para partisipan yang terlibat diajak untuk mengikuti lokakarya dan berkolaborasi memproduksi karya teks, gambar, dan audio visual. Kali ini, Daur Subur digelar di Nagari Padang Sibusuk, Kabupaten Sijunjung, bekerja sama dengan komunitas PKAN Padang Sibusuk.

Lokakarya ini mengembangkan pembacaan dari pola alih-fungsi lahan di Padang Sibusuk dan penyeledikan sejumlah arsip sejak awal 1990-an. Negeri yang dulunya dikenal memiliki ratusan kincir air ini, sempat beberapa kali meperoleh penghargaan sebagai desa teladan dan diyakini sebagai daerah lumbung padi, kini tidak sedikit lahan sawahnya beralih pada pertambangan emas. Terlepas dari apakah ini baik atau tidak, sebagian besar pertambangan telah menyisakan lahan-lahan tidak aktif, dan menimbulkan dampak konflik, peluang kolusi, serta perubahan sistem sosial dan ekonomi. Di sisi lain, beberapa pemilik lahan dengan pola pertambangan terkini tetap yakin bisa disawahkan kembali.

Lokakarya ini melibatkan sejumlah partisipan /kolaborator dari berbagai latar disiplin, dan sebagian besar anggota PKAN. Sebagai bagian dari studi pengembangan kerja seni dan media dalam aksi pemberdayaan dan mengkritisi diri sendiri, serta upaya mendalami kebudayaan pertanian di Padang Sibusuk, dengan tetap sadar akan kearifan lokal, sejarah, dan perkembangan kontemporernya.

Pameran yang disajikan dalam format open lab, pada dasarnya tidaklah menampilkan hasil, atau sesuatu yang telah selesai, melainkan sketsa awal, serta tampilan proses kerja studio maupun lapangan oleh kita generasi kini memahami kebudayaan pertanian di Padang Sibusuk. Selain itu, pameran ini sengaja dibuka untuk publik, sebagai upaya mengajak keterlibat publik dalam kesinambungan dan proses membaca persoalan terkini di lokasi tersebut.

 Albert Rahman Putra

26 Januari 2018

Biasa disapa Albert, adalah seorang penulis, kurator, dan pegiat budaya. Merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, dengan fokus studi pengkajian seni karawitan. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di akumassa.org. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat. Baru-baru ini ia bersama Forum Lenteng menerbitkan buku karyanya sendiri, berjudul Sore Kelabu di Selatan Singkarak (2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *