Lahan Mati dan Kolam Bekas Tambang

Catatan hari kedelapan Lokakarya Daur Subur di Padang Sibusuk.

Minggu, 14 Januari 2018, kegiatan lokakarya Daur Subur di Padang Sibusuk memasuki hari kedelapan. Aku, Datuak dan Peri salah satu anak Jorong Guguak Tinggi, Padang Sibusuk, mengunjungi salah satu lahan atau persawahan bekas tambang emas yaitu di Lubuak Bungo. Mereka ke sana dalam tujuan dapur sekaligus tugas lokakarya, yakni memancing ikan. Sebelum berangkat ke sana, Peri mencari cacing untuk umpan ikan yang akan kami pancing, sementara Datuak menyiapkan tiga buah pancingan untuk kami. Setelah semuanya sudah siap kami pun langsung meninggalkan kantor PKAN yang menjadi pusat lokakarya Daur Subur kali ini.

Kiri kanan jalan menuju Lubuak Bungo terlihat banyaknya kebun karet. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit kami pun tiba di lokasi tersebut. Ada banyak lubang bekas galian tambang yang tidak diratakan atau ditimbun, di lubang itu pun juga ada genangan air yang berwarn coklat dan hijau. Sebelum memancing, Datuak mengajak kami untuk mengelilingi tempat bekas tambang emas sekalian mencari tempat genangan air yang banyak ikannya. Di ujung perjalanan, kami melihat aliran sungai yang ada kincir air dan seorang ibu yang sedang menaikan batu-batu ke atas mobil. Kami pun berhenti di sana. Aku dan Datuak meninggalkan motor, sementara itu Peri menunggu kami di motor. Aku dan Datuak berjalan menuju kincir air tersebut, putaran kincir air tersebut terlihat masih cepat. Setelah Datuak mengambil beberapa foto, kami kembali ke motor yang sudah ditunggu Peri.

Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat pemancingan yang banyak ikannya, dan kami berselisih jalan dengan Zekal, Zaki, Fadlan, dan Zeki. Di tengah-tengah lahan yang luasnya kurang lebih 1 hektar itu, ada beberapa sawah milik warga. Kami pun berhenti di salah satu lubang bekas tambang dekat sawah milik warga. Di sana juga ada warga yang sedang memancing, aku menyiapkan pancingan dengan bantuan Peri memasangkan umpannya pada kail pancingan. Selama menunggu umpan dimakan ikan, aku melihat aktivitas warga yang sedang manggaro (mengusir burung yang akan memakan padi mereka), juga terlihat aktivitas warga yang sedang mengembala sapi.

Setelah kami mendapatkan beberapa ekor ikan yang tidak terlalu besar dan umpan kami pun habis. Akhirnya kami memutuskan untuk kembal ke PKAN dan membawa ikan dari hasil yang kami pancing tadi. Selain itu Riski dan Ade sudah meninggalkan kantor PKAN sejak pagi hari, mereka diajak Yopi salah satu pemuda lokal untuk berburu ke Aia Angek, Sijunjung. Ada beberapa video dan foto yang mereka dapatkan. Sementera itu, di tempat berbeda, Albert menemani Uul melakukan observasinya. Mereka di antaranya mengunjungi Kobu Tuo, Cocang, Lubuak Bungo, dan Tanlawe. Lokasi tersebut adalah hamparan lahan mati, yang terdapat titik atau kolam-kolam bekas galian tambang emas. Dan sebelum menjadi lahan pertambangan emas, lahan itu adalah persawahan yang produktif. Mereka mengaku menyayangkan lokasi yang lebih luas dari Sawah Solok itu sudah menjadi semak berduri dan mati. Hanya lobang-lobang yang menjadi incaran pemancing.

Di Lubuak Bungom, Albert dan Uul juga bertemu Da Met. Ia adalah salah seorang petani lokal yang tengah bersantai siang di pondoknya. Tidak ramai hanya dia, seorang teman, dan satu orang lain yang ia panggil mamak. Pesawahan sepi. Sebagian besar dan sekeliling pesawahan Da Met telah menjadi lahan bekas tambang, dan tidak diolah kembali menjadi sawah. Beberapa pernah dicoba diolah, tetapi gagal. Da Met, belakangan mengeluhkan burung pipit yang ramai sekali menyerbu padinya, lantaran burung-burung memang tidak ada pilihan lain. Hanya ada sawah Da Met. Selain padi, Da Met baru-baru ini juga mencoba menanam cabe dan terong di sebelah sawahnya. Sebelum kembali ke markas, Uul dan Albert menyempatkan menyimak aktivitas “mambasuah” adalah tahap akhir dari rutinitas tambang emasi di Tanlawe, Padang Sibusuk. Di sana, mereka bertemu ibu-ibu, beberapa pemuda, dan anak-anak yang tengah menggigil dan tetap semangat mendulang pasir sisa-sisa mandompeng (istilah tambang menggunakan mesin sedot don feng). Di sana terdapat sisa-sisa butiran emas, sebagai tambahan untuk para pekerja tambang.

Menjelang magrib semua partisipan telah kembali. Malam hari, setelah makan kami melanjutkan dengan nonton filem Dancer In The Dark karya Lars Van Trier tahun 2000. Setelah usai menonton seperti halnya dilakukan oleh Sinema Pojok, kami mengajak teman-teman mendiskusikan dan memberi tanggapan. Berbagai pendapat yang muncul setelah menonton, mulai dari mengomentari narasinya hingga visual. Setelah itu teman-teman partisipan mengupdate hasil observasi mereka dan melanjutkan tulisan mereka.

Delva Rahman (Solok, 29 April 1993) adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam loakarya literasi media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan "Perempuan Membaca Kartini" karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *