Moribou

Selasa, 9 Januari 2018, siang itu aku berjalan-jalan mengitari Pasar Nagari Padang Sibusuk, Kabupaten Sijunjung. Pasar ini adalah pasar pekan atau pasar mingguan, yang jatuh pada hari Selasa. Niat hati hanya hendak membeli tembakau tradisional, yang dua puluh kali lebih irit daripada membeli rokok pabrikan di warung-warung.Tembakau ini meski lebih murah dan produk lokal Sumatera Barat, ternyata cukup sulit juga ditemukan.

Saya dan seorang kawan dari Gubuak Kopi, Volta namanya, sudah berkali-kali hilir mudik diantara deretan dagangan kebutuhan sehari-hari, yang dijejer rapi menurut tempatnya. Sepertinya setiap pedagang sudah paham jatah lapak masing-masing dan posisi yang tepat sesuai jenis dagangan.

Jika kau ingin mencari ketenangan, tidak akan kau jumpai di sini. Kecuali momen ketika harus fokus mensortir barang-barang yang hendak kau bayar. Riuh-pikuk itu sejenak buyar, sebab perhatianmu mesti dialihkan sebaik-baiknya untuk memilih buah, lauk, sayur, ataupun kain yang paling baik kualitas dan kondisinya, diantara setumpukan kawannya yang tidak.

Tapi jika kau coba tajamkan telingamu, gombal-gombalan dan tipu-tipuan dari segala ujung negeri seperti sedang bereuni di sini. Mulut-mulut berkomat-kamit, berteriak-teriak, menghimbau siapa saja diantara kalayak yang sudi singgah melihat atau menawar dagangannya.Di beberapa lapak terlihat orang ramai berkerumun. Datang dan pergi silih berganti.

Salah satunya menarik perhatianku, dari kerumunan itu, aku dengar suara yang agak kontras.

“moribou, moribou, moribou” (lima ribu, lima ribu, lima ribu).

Suara itu berasal dari mulut seorang pedagang salak ,yang lapaknya ramai dikerumuni ibu-ibu berbaju kurung sedang memilah-milah buah terbaik yang disukainya dengan kantong kresek di tangan. Terlihat tangan pedagang itu sigap sekali menimbang antrean kresek, menerima dan memberikan uang kembalian. Seperti tangan dan mulutnya yang sangat tidak kompak, matanya tak pernah diam. Pandangannya berpindah sangat cepat dari orang didepannya, ke onggokan salak, ke orang disampingnya, melesat kedepan, ke seberang kerumunan, dan ke siapa saja yang mungkin jadi pelanggan. Kadang juga memperhatikan jinjingan orang yang lewat, atau ke gadis-gadis yang ikut serta bersama ibunya. Pandangan mata itu melihat dan berpindah sekejap saja.

Di antara orang yang mengerumuni onggokan buah salak itu, ada yang bertanya:

“Sekilo lima ribu ya da?”tanya orang itu.

“Setengah” Jawab si pedagang dengan ekspresi tetap acuh. Sesaat kemudian bersorak lagi “moribou, moribou, moribou. Pondoh, manih, pondoh, manih. Moribou, moribou” (lima ribu, lima ribu, lima ribu. Pondoh manis, pondoh manis. Lima ribu, lima ribu)

Ibu yang menanya itu tampak merungut. Memandangi salak-salak dengan perasaan agak kecewa. Setelah agak sesaat mengumpulkan pikiran-pikiran dalam kepalanya dia berkata lagi. “Kantongnya tolong”.

Dijawab si pedagang dengan memberikan satu buah kresek transparan. Seketika tangan ibu itu mulai berseliweran menggapai-gapai buah salak yang bagus kelihatannya.

Aku ikut juga di kerumunan itu. Telah terpanggil oleh sorak-sorai moribou itu. Ikut juga memunguti sekawanan salak ke dalam kresek dengan gerutu di dalam hati. Bedanya aku sedikit memperhatikan sekeliling yang tampak lebih fokus ke salak saja.

Aku lihat pecahan rupiah berwarna biru dan merah lebih kontras, dan baik kelihatannya dibandingkan kawanan sesama uang, di dalam plastik transparan yang tergantung dengan seutas tali yang diikatkan di jari-jari payung kaki lima si penjual salak. Bisa jadi uang itu sengaja  dipamerkan disana, agar terpantau jelas oleh mata pemiliknya, atau sebagai iklan yang menyiratkan bahwa barang dagangannya berkualitas baik, laku keras dan disukai pembeli.Atau bisa jadi ini bentuk aktualisasi diri dan dominansinya ke pedagang lain yang mengisyaratkan bahwa dia adalah pedagang yang hebat.

Kami masih ingin mengitari pasar. Tembakau yang dicari juga belum ketemu. Sudah kami periksa bagian utara itu pasar itu, sepertinya bukan di bagian sini.Aku berhenti ketika melewati lapak seorang ibu-ibu. Jengkol yang dionggok diatas meja di depannya itu gendut-gendut berisi. Jauh lebih tebal dari jengkol yang dulu pernah ku panen dari ladang seorang kawan.

Aku ingat kala itu, kami dibayar Hanif, kawanku yang jadi toke, sebanyak dua ratus ribu rupiah untuk tiga setengah karung jengkol yang beratnya tidak pernah ditimbang. Berat jengkol itu hanya diingat oleh sepeda tua bapakku, yang berderik-derik mengangkutnya dan sendal jepit, yang terpaksa ikut menahan laju sepeda yang tidak terkendali di turunan. Sebab rem saja ternyata tidak cukup kuat mengimbanginya. Satu batang jengkol itu memodali kami berpoya-poya untuk beberapa malam. Toh, hanya satu batang, bapak kawanku juga takkan jadi pusing.

Ku coba bertanya iseng “Jengkolnnya sekilo berapa bu?”

“Yang mana?”

Aku bingung harus jawab apa, karena niatku bertanya hanya untuk mencari tau berapa harga jengkol dijual oleh petani kepadanya.

“Yang mana ya?” saya bingung. Kebiasaan garuk-garuk kepalaku tiba-tiba datang, “hmmm, aku niat menjual jengkol sebenarnya.”

“Batangnya dimana?”

“Di Padang Sibusuk,” jawabku. Seketika itu aku juga tersadar sudah ceroboh. Pasar ini juga berada di Padang Sibusuk. Jawaban posisi batang di Padang Sibusuk sudah menyatakan kalau aku tak hapal lokasi.

“Padang Sibusuk mana?” Tanyanya heran. Ada sedikit curiga di matanya.

“Di dalam” jawabku sambil menghadapkan wajahku ke arah selatan. Dalam hati aku bergumam, sialan, kenapa aku bisa lupa nama jorong tempat PKAN berada. Padahal baru tadi malam Fadlan kasih tahu. Makin jelas aku berbohong.

“Buah jengkolnya sudah sebesar apa? Kira-kira sudah sebesar ini?” Tanyanya sambil menunjuk jengkol gendut-gendut yang sedari tadi ku perhatikan.

“Tidak tahu juga bu, kata paman sudah bisa dijual, kebetulan jengkol itu paman yang rawat,” kataku berusaha menutupi kebohonganku. Semoga dia menyimpulkan bahwa aku memang bukan tinggal disini, tapi punya paman dan batang jengkolnya disini.

“Hmmm. Kalau begitu ibu tidak bisa mengira harganya. Lagipula kalau jengkol itu masih muda seperti yang itu, adek bisa rugi menjualnya,” jelasnya sambil menunjuk onggokan jengkol milik kawan sebelahnya yang warnanya hijau pucat dan lebih kecil dari jenglol di hadapannya.

“Kalau seperti itu memang harganya berapa, bu?”

“Kalau seperti itu, harganya lebih murah dan adek bakal rugi. Lebih baik tunggu dia masak dulu”

“Oo begitu ya bu, makasih” jawabku  menghentikan perbincangan, seraya beranjak meninggalkan lapak ibu itu.

Aku mengalah karena sepertinya ibu itu memang tak berniat memberitahukan harga yang dikeluarkannya ketika membayar jengkol petani di ladang. Mungkin ia tidak mau orang lain tahu modal barang dagangannya. Harga dapurnya harus dirahasiakan.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya penjual tembakau itu ketemu juga. Di bagian timur gedung pasar, tampak bapak-bapak yang sudah putih rambutnyanya sedang bercengkrama dengan bapak-bapak yang juga tidak jauh beda umurnya. Di sampingnya, terjejer beberapa gumpalan daun enau dan nipah kering yang diikat karet gelang di atas plastik berwarna biru. Tembakau pabrikan bermacam merek dalam bungkus-bungkus plastik juga ada disana. Agak dibelakangnya terlihat beberapa tembakau iris yang dilipat serupa kain. Kalau diperhatikan berbeda-beda warnanya. Sebenarnya semua warnanya coklat, hanya saja, beberapa lebih pekat dan sebagian lebih cerah. Perbedaan kontras warna itu sepertinya juga membedakan cita rasa tembakau. Tiap warna mewakili tiap level. Semakin gelap semakin ‘keras’ tembakaunya.

Aku bergumam dalam hati, “Ini yang aku cari”. Tembakau rakyat, tanpa pajak, tanpa penambahan ongkos produksi. Lebih irit, jadi aku bisa selamat dari ejekan Kak Caus, bosku, yang selalu bilang biaya temabakauku lebih mahal dari biaya nasi.

“Ini tembakau mana, pak?” Tanyaku

“Payakumbuh”

“Ada yang dari Siguntur juga?”

“Ada,” tangannya mulai meraih lembaran tembakau paling cerah yang seperti lipatan kain batik itu.

“Ini lunak atau keras, pak?”

“Ini yang paling lunak. Silahkan dicoba dulu, cocokkan dengan selera,” sambil mengulurkan kertas gulung dan sejumput tembakau.

Tak susah melinting tembakau itu. Seratnya saling berikatan, sehingga tidak ada potongan-potongan kecilnya yang berceceran atau tumpah dari lintingan. Ku nyalakan dan kurasai cita rasanya.

“Sepertinya ini terlalu lunak, Pak. Agak kurang kadar nikotinnya. Saya biasa menghisap rokok filter.”

“Bagaimana rasanya Zak?” Volta bersuara.

“Lunak seperti rokok mild

“Coba yang ini?” Bapak itu menawarkan lagi. “Yang ini dari Taram”.

Volta menerima dan melintingnya. Ternyata dia lebih mahir dari saya. Dengan sigap dilinting dan dibakarnya.

“Coba Zak, kayaknya pas” menyodorkan lintingan itu ke saya.

Saya hisap dalam-dalam “Ya, ini saja,”

“Mau berapa?” Tanya bapak, “Lima ribu?” sambil mengarahkan mata gunting ke ukuran potongan yang sudah sangat dihapalnya.

“Sepuluh ribu, Pak.”

“Sepuluh ribu ya!?” Langsung menggunting tembakau.

Dahiku sedikit mengernyit. Seingatku ketika bapak itu menawarkan limaribu, posisi guntingnya di dekat lipatan disitu. Ketika ku jawab sepuluh ribu, posisi guntingnya tidak berubah. “Bagaimana sih bapak ini” aku bertanya-tanya dalam hati. Tapi, ya sudahlah. Ku ikhlaskan saja. Apakah aku sudah dikerjai bapak ini? Aku tak ambil pusing. Toh, cuma limaribu rupiah.

“Pak, kabarnya di Siguntur ada tembakau seharga limaratus ribu sekilonya. Apa bapak punya?” Tanyaku melanjutkan percakapan.

“Ooh itu. tidak ada. Cina biasanya yang beli,

“untuk dijual lagi?”

“Iya. Tapi diperam dulu beberapa tahun. Diberi nomor dan tanggal” jawab bapak dengan suara meyakinkan.

“Kok gitu pak? Apa gunanya? Emang rasanya beda ya kalau diperam”

“Saya tidak tau juga”

“Emang tidak jamuran tembakaunya?”

“Enggaklah, kan setiap beberapa hari sekali dijemur.”

“Emang bapak tidak mau coba-coba jemur tembakau dagangan bapak, terus rasakan bedanya seperti Cina yang bapak maksud?”

“Ah tak mungkinlah. Mana sempat aku. Kalau Cina itu ada gudang dan ada anak buahnya” jawab bapak sambil tersenyum.

“Apa bapak tidak penasaran?” Tanyaku bercanda

“Buang-buang waktu,” senyumnya semakin lebar menyeringai.

Sebenarnya aku masih ingin lama-lama memperhatikan pasar ini. Tapi karena tembakau sudah ditemukan, aku tidak lagi punya cukup alasan untuk berada disana. Volta pun sepertinya merasakan begitu. Lagi pula ini waktu sudah menunjukkan ciri-ciri memasuki jadwal kegiatan wajib lokakarya Daur Subur di PKAN. Makan siang! jangan sampai kawan-kawan dapat porsi lebih karena keterlambatan kami.

Postingan Terkait

Seorang aktivis di organisasi masyarakat sipil di bidang penyelamatan ruang hidup dan sumberdaya bagi kelangsungan kemanusiaan, tertarik untuk mengkaji respon manusia terhadap ruang hidupnya dan kearifan yang lahir dari interaksi keduanya. Alumni Fakultas Pertanian Unand ini kini aktif sebagai bergiat staf kajian dan analisis lingkungan di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat. Ikut bergabung dan mengukuti Lokakarya Daur Subur di Padang Sibusuk, yang digelar Gubuak Kopi berkolaborasi dengan PKAN Padang Sibusuk, dengan tujuan memutakhirkan kemampuan menggagas metode yang lebih baik dari kerja penyelamatan ruang hidup, yang saat ini melaju malas dan membosankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *