Equality: Titik Awal Pembacaan

Sabtu malam, 04 November 2017, di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, yang terletak di Kota Padang, telah berlangsung pembukaan pameran Equality yang diusung oleh sejumlah kelompok seni di Sumatera Barat. Kelompok-kelompok yang terlibat ini menginisiasi lahirnya sebuah proyek bersama, yakni: Minang Young Artist Project (MYAP), sebuah wadah untuk memetakan dan membaca perkembangan seni rupa yang diprakarsai generasi muda di Sumatera Barat.

Kelompok-kelompok yang terlibat antara lain: Komunitas Seni Belanak (Padang), Komunitas Gubuak Kopi (Solok), Komunitas Seni Rantai (Sawahlunto), Rumah Ada Seni (Padang), Takasiboe (Solok Selatan), Ladang Rupa (Bukittinggi), Villa A (Padang), Kelompok Seni TERAS (Padangpanjang), PKAN (Sijunjung), Minang Typers (Padang), Rumah Coretan (Padang), Pena Hitam, Doodle Art, dan Begundal Rupa (Padang). Proyek seni ini diketuai oleh Muhammad Risky, salah seorang seniman dan pegiat media di Gubuak Kopi. Dalam sambutannya, Risky menyebutkan, proyek ini diharapkan berkelanjutan dan menjadi milik bersama yang dikelola oleh kelompok-kelompok seni yang aktif di Sumatera Barat.

“inisiatif ini awalnya muncul dari sejumlah kelompok seni, yang merasa perlu adanya sebuah pengembangan wacana tentang perkembangan seni terkini di Sumatera Barat, memang masih ada beberapa kelompok yang belum terjaring, untuk saat ini kita baru mendeteksi kelompok berdasarkan jaringan masing-masing dan yang keaktifannya terdengar di sejumlah media massa ataupun media Sosial”

IMG-20171105-WA0013

Muhammad Risky menyampaikan sambutannya dalam rangkain pembukaan pameran Minang Young Artist Project: EQUALITY, di pelataran Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, Sabtu, 04 November 2017. (Foto: Arsip MYAP)

Risky berharap, melalui pameran pertama yang menjadi titik awal ini, dapat menjadi wadah para kelompok untuk saling memperkenalkan diri dan meng-update perkembangannya masing-masing. Di samping itu Risky juga berharap pameran ini membuka kemungkinan kerja kolaboratif antar komunitas ataupun seniman, serta kemungkinan produksi lintas disiplin. Untuk mewujudkan visi MYAP, proyek ini mengundang Albert Rahman Putra sebagai kurator dalam rangkaian pameran ini.

Albert merupakan salah seorang pegiat seni lintas media yang berbasis di Solok. Dalam pameran ini Ia menghadirkan 21 karya yang dipilih berdasarkan seleksi dan undangan, baik itu karya-karya dari individu maupun kelompok. Dalam pengantarnya, Albert menegaskan, bahwa selain pertimbangan estetika, pemilihan karya juga memperhitungkan konsitensi dan intensitas senimannya; kemungkinan keberagaman bahasanya; dan kesegaran ide yang ditawarkannya.

“karena dengan label Minang Young Artist Project tadi, kita membayangkan para seniman kelompok yang terlibat ini nantinya akan disorot sebagai orang-orang yang bertanggung jawab untuk meneruskan wacana ini,” Ujar Albert.

IMG-20171105-WA0011

Albert Rahman Putra menyampaikan pengantar kuratorial dalam rangkain pembukaan pameran Minang Young Artist Project: EQUALITY, di pelataran Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, Sabtu, 04 November 2017. (Foto: Arsip MYAP)

Statement ini menurut Albert perlu dipertegas, karena ketika kita mengklaim diri sebagai seniman muda, kita juga sedang mengakui keberadaan seniman ‘tua’. Lalu, apa itu seniman muda? apakah ini diukur berdasarkan usia saja, kebaharuan bahasa visual, upaya keluar dari pakem/kelaziman sebelumnya, atau kemungkinan lainnya untuk menyesuaikan diri diperkembangan seni dunia.

“terlalu terburu-buru kalau kita mendefinisikan seniman muda atau seni Minang muda sekarang, kita perlu merunut kembali sejarah seni rupa yang pernah berkembang di Sumatera Barat dan mengkajinya dengan kesadaraan akan perkembangan budaya terkini atau yang sedang berjalan, belum lagi kita disulitkan untuk mengumpulkan arsip-arsip seni rupa sebelumnya,”

Albert menambahkan, kita baru meriset ini sejak Maret 2017, sejak insiatif ini muncul. Sembari membaca dan memetakan perkembangan seni rupa di Sumatera Barat, karya-karya yang dihadirkan dapat dijadikan asumsi yang mewakili generasi kini. Untuk itu Albert menegaskan dalam kuratorialnya, ia sangat mepertimbangan konsistensi dan intensitas para seniman muda, serta kepekaannya membaca isu-isu terkini.

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa karya yang dipamerkan. (foto: Arsip MYAP, 2017)

Dalam risetnya, tidak sedikit ia menemukan seniman-seniman muda turut sibuk membicarakan isu-isu yang tidak mereka alami, dan tidak membuatnya related (red-terhubung) dengan situasi sekarang. Sehingga banyak karya yang terkesan beraneh-aneh, dan berjarak dari publik persoalannya.

“selain itu, sejauh yang kita lacak, kencenderungan lainnya, yang cukup lazim di berbagai daerah, — terlepas dari ukuran usia, adalah banyaknya seniman yang senang mengeksklusifkan dirinya, sehingga jarak antara seniman dan masyarakat semakin tegas. Serta, banyaknya seniman yang bercita-cita ingin dilirik oleh konglomerat seni di ibu kota, akhirnya komunitas diperlakukan sebagai batu loncatan semata,”

Hal tersebut pada dasarnya adalah sebuah pilihan, namun masih banyak tidak sadar akan banyak pilihan lain dalam merayakan kesenian. Untuk itu dalam pameran ini, juga menarik menyadari karya-karya berada dalam satu ruang yang sama, terlepas dari apakah itu karya berpotensi dikoleksi ataupun tidak, apakah itu komersil ataupun tidak. Demikian menurut Albert, esensi Equality dalam konteks berkesenian di Sumatera  Barat.

This slideshow requires JavaScript.

Suasana kunjungan pameran Minang Young Artist Project 2017: Equality. (foto: Arsip MYAP, 2017)

Karya-karya yang dihadirkan di antaranya karya-karya multimedia seperti instalasi benda-benda teknologis, televisi, proyektor, telepon genggam, sampah plastik, instalasi mural, serta karya-karya murni seperti lukisan dan patung. Kehadiran karya-karya tersebut di ‘Galeri Taman Budaya’ juga perlu dibaca. Galeri yang selama ini cukup sakral dan eksklusif — dalam konteks Sumatera Barat, kemudian dapat menjadi cair untuk membicarakan sebuah wacana.

“kita percaya, galeri ruang kebudayaan sebenarnya tidak hanya showroom atau ‘toko’, tetapi ia juga ruang pengembangan wacana kebudayaan,” tegasnya.

Selain itu, Albert juga menyinggung persoalan pihak Galeri Taman Budaya yang komplain ketika bagian ruang pajang dijadikan medium berkesenian, bahkan pihak Galeri Taman Budaya mengucapkan kata-kata kotor ketika salah seorang seniman mencoba mempertanggung jawabkannya. Menurut Albert, memang, karena ini masih sesuatu yang baru, idealnya pihaknya penyelenggara juga mengkomunikasikannya terlebih dahulu kepihak pengelola Taman Budaya. Tapi menyadari respon yang kasar itu, menyebut karya merusak, meneriaki penyelenggara yang sudah minta maaf dengan sebutan ‘tidak ber-etika’ dengan cara yang ‘tidak ber-etika’ pula, serta mengancam menghapus karya, dan sebagainya, malah menggambarkan betapa tabu dan haus hormatnya orang-orang di institusi kebudayaan kita. Serta memang juga terdengar pihak penyelenggara sebelum MYAP mencat dinding luar galeri dan belum dinetralkan sampai sekarang. Hal ini biasa dilakukan dalam kuratorial, galeri adalah ruang statement, menggarap ruang tidak hanya sekedar menempel-nempel karya untuk memenuhi galeri, ada banyak pertimbangan artistik lainnya. Kalau ternyata dinding pajang perlu dicat, ya, maka harus kita cat, dan tentu akan kita netralkan kembali setelah pameran selesai.

Kejadian ini, menjadi pembelajaran penting bagi kita penyelenggara MYAP dalam mendobrak, menegosiasikan, dan memperbaharui pandangan berkesenian yang selama ini cukup kaku. Pameran ini, masih akan berlangsung hingga 18 November 2017 nanti. Selain pameran, proyek seni ini juga diisi oleh kegiatan seperti penayangan film, pertunjukan musik, dan workshop. Selain itu, untuk memperkaya pembahasan wacana, kuratorial ini juga menghadirkan simposium yang terdiri dari dua panel, yang akan diisi oleh empat narasumber untuk membicarakan posisi kesenian di masyarakat dan perkembangan wacananya.***(Hms/MYAP)

___________

Artikel ini di-repost dari blog MYAP: Equality: Titik Awal Pembacaan

Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *