Observasi Awal Partisipan Lapuak-lapuak Dikajangi

Kamis, 21 September 2017, masih dalam rangkaian lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, yang kali ini dimulai dengan kegiatan turun lapangan untuk mendapatkan isu-isu lokal sekitar Solok, yang berhubungan dengan tradisi maupun praktek pelestarian itu sendiri. Lalu, pada malam harinya dilanjutkan dengan presentasi hasil observasi  lapangan. Presentasi pertama dimulai oleh Joe Datuak. Siang itu, ia bersama rekan-rekan partisipan lainnya, Vera, Zekal, dan Hafiz mengunjungi rumah Buya Khairani, salah seorang tokoh masyarakat di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Buya juga sering memberi kuliah-kuliah adat dan kebudayaan di Gubuak Kopi, selain itu ia juga aktif memberi ceramah adat di salah satu radio swasta di Solok.

Pada presentasinya, Datuak mulai menjelaskan bakaua dan gamaik, yang diceritakan oleh Buya Khairani. Bakaua adalah tradisi turun ke sawah, pada masa panen dan menanam. Biasanya, setelah panen bersama, masyarakat menyisihkan hasil panen untuk membeli seekor kerbau. Kerbau ini nantinya bantai dan dihidang dalam rangka merayakan dan ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Selanjutnya gamaik atau juga dikenal dengan gamad, salah satu kesenian musik lokal yang menyamarkan karakter kuat musik Minang dan Melayu menjadi karaktek tersendiri. Gamaik menjadi favorit masyarakat Ampang Kualo dan Kampuang Jao, yang sebagian besar masyarakatnya suka berladang. Gamaik biasanya dihadirkan pada perayaan nikahan maupun pesta dari kegiatan yang diusung oleh pemuda. Masih banyak hal yang belum terbahas dalam observasi ini, namun beberapa poin yang telah dipaparkan Joe Datuak menarik untuk didalami oleh teman-teman lain. Datuak sendiri lebih tertarik mendalami pelestarian Silek Tuo di Sinapa Piliang, yang kita kunjungi di malam sebelumnya. (baca juga: Yang Usang Diperbarui, 2017)

Joe Datuak saat memaparkan hasil observasi awalnya terkait lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi.

Joe Datuak saat memaparkan hasil observasi awalnya terkait lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi.

Siang itu, Datuak bersama Vera melanjutkan perjalanan mereka ke Pulau Belibis dan Taman Pramuka. Mereka mencoba mencari bunyi-bunyian yang menarik untuk direkam. Selanjutnya presentasi oleh Kiki. Ia mempresentasikan hasil observasinya, yang kebetulan waktu itu di lapangan bersama saya sendiri, di Pandan Puti, Solok. Di perjalanan kami beberapa kali berhenti, di antaranya, Kiki mendokumentasikan tentang aktivitas warga yang sedang menyuci motor mereka di tepian parit, dan juga mengambil vlog kegiatan warga hingga ke persawahan, serta mengambil audio saluran irigasi dari parit ke sawah warga. Lalu kami melanjutkan ke ‘heler’ (huller atau tempat penggilingan padi), kiki masih melakukan hal yang sama dengan yang tadi, mengumpulkan bunyi-bunyian yang menarik untuk mendeskripsikan lokasi tersebut. Hal yang sama kemudian kita lanjutkan ke ke pabrik tahu yang berada di Aro, Kota Solok.

Dari hasil presentasi Kiki, Albert selaku ketua fasilitator, memberi saran Kiki untuk fokus pada isu yang ia sebut ‘kultur dapur’. Dalam diskusi tersebut ia melihat Kiki memiliki ketertarikan pada aktivitas ‘dapur’. Selain itu sebelumnya Kiki pernah menceritakan tentang tradisi bakureh di tempat tinggal di Kampung Karambia, KTK, Solok. Menurut Albert, ini sangat menarik dan sangat berhubungan dengan isu lokakarya ini. Tradisi bakureh sangat kaya akan nilai-nilai sosial lokal. Ia terselenggara di tempat yang tidak terlihat oleh orang banyak, namun dampaknya cukup signifikan. Dalam hal ini kita dapat membongkar posisi perempuan dalam tradisi itu serta melihat perkembangannya dari dapur-dapur masal terkini. Kalau dulu ketika salah satu tetangga kita menyelenggarakan pesta, maka kita sebagai tetangga akan menyediakan hidang bersama-sama (masak bersama), sedangkan kini, pesta-pesta cendrung memanfaatkan jasa catering. Perkembangan ini menarik juga, lebih efesien sekarang tetangga kita sibuk bekerja pagi hingga sore, di pemerintahan atau perusahaan, yang tidak akan ambil pusing dengan urusan tetangga kita. Sedangkan, jika kita terus terikat dengan julo-julo masak bersama ini, tentu tidak segampang itu tetangga kita dipersekusi orang luar, seperti yang sempat menegangkan situasi di Solok beberapa waktu lalu[1]. Kiki setuju dengan masukan Albert, karena hal ini juga cukup dekat dengan ia sendiri, selain itu ia juga pernah bekerja di restoran.

Kiki saat memaparkan hasil observasi awalnya terkait lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi.

Vera saat memaparkan hasil observasi awalnya terkait lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi.

Hafiz saat memaparkan hasil observasi awalnya terkait lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi.

Kiki saat memaparkan hasil observasi awalnya terkait lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi.

Selanjutnya Hafiz, ia tertarik pada aktifitas yang terjadi di persawahan. Ia tertarik pada alat yang dikembangkan warga untuk manggaro buruang (menghalau burung) yang dianggap menjadi hama padi. Dari benda-benda yang ada di sekitar, para petani menyusunya sebagai instalasi, yang mana ketika sebuah tali digerakan dari satu titik – biasa di satu pondok di sekitar sawah – maka benda-benda tadi atau orang-orangan sawah yang telah dipasang, bergerak mengagetkan si burung. Selain itu alat ini juga menghasilkan bunyi-bunyian yang menarik. Ibu tersebut menggunakan kaleng susu bekas, dan didalamnya berisi batu; serta teradapat seng bergandeng stik, yang digantung pada kayu, yang terhubung pada tali instalasi tadi. Ketika tali tersebut digoyangkan ataupun diterpa angin, ia akan bergesek/berbenturan mengeluarkan bunyi. Biasanya alat-alat yang ia gunakan tersebut disimpan di dekat gubuk. Jika biji padi sudah mulai tampak, barulah ia memasang alat-alat tersebut.

Selanjutnya Vera, ia mempresentasikan audio, video, dan foto yang ia dokumentasikan selama observasi. Vera bertemu sama seorang warga yang menyediakan jasa sewa kuda. Banyak hal yang ia bahas dengan warga tersebut mengenai kuda yang ada di dekat mereka. Menariknya, ternyata obat-obatan herbal bisa menyembuhkan penyakit si kuda, seperti luka yang ada dekat mata kuda tersebut. Si pemilik juga mengobatinya dengan kunyit, karena menurutnya kunyit mempunyai anti-biotik yang tinggi. Lalu, ia mengoleskannya minyak goreng dan bawang pada luka tersebut, supaya tidak dihinggapi lalat. Menurut, si pemilik kuda, alias Uda Indra, obat-obatan kimia seperti kapsul kurang ampuh untuk mengobati luka tersebut. Namun, dalam presentasi ini, ia juga tidak yakin untuk mendalami temuan-temaun yang ia presentasikan. Vera lebih memilih untuk fokus pada tradisi Bakaua yang sebelumnya dipresentasikan Joe Datuak. Dalam hal ini latar belakangnya selaku mahasiswa pengkajian seni karawitan, tentunya sangat cocok dengan isu itu.

Malam itu, para fasilitator dan partisipan mulai mendapatkan gambaran tetang isu-isu yang menarik dikembangkan dan diriset lebih lanjut.

_____________________

[1] Beberapa bulan lalu, di Solok terdapat kasus persekusi terhadap seorang dokter oleh beberapa orang yang mengaku dari organisasi Islam. Selain itu, ia juga diteror dengan hujatan di media sosial oleh warga lokal ataupun warganet lainnya. Ia akhirnya memilih untuk meninggalkan Solok. Selain itu kasus ini juga mengakibatkan pencopotan Kapolres Solok Kota.

Postingan Terkait

Delva Rahman (Solok, 29 April 1993) adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam loakarya literasi media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan "Perempuan Membaca Kartini" karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *