Yang Usang Diperbarui

Catatan hari ketiga lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Rabu, 20 September 2017, merupakan hari ketiga lokakarya literasi media yang diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Kali ini, kita memajukan jam diskusi menjadi jam 11.20 WIB. Lalu, setelah makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan penjabaran materi ”Pelestarian  Seni Media Trasdi Melalui Platfrom Multimedia” bersama Albert Rahman Putra. Albert merupakan lulusan dari Seni Karawitan, ISI Padangpanjang, yang memiliki ketertarikan dalam pengkajian seni-seni tradisi, terutama dalam melihat kemungkinan perkembangan terkininya sebagai kekuatan sosial. Materi ini pada dasarnya merupakan poin utama dari kegiatan lokakarya ini, sebagai kelanjutkan dari program-program Komunitas Gubuak Kopi sebelumnya.

Dalam kesempatan ini, Albert mengajak kita untuk membaca kembali kesenian tradisi pada masyarakat pertanian, bagaimana posisi kesenian itu di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, baik itu pada masa lampau, maupun perkembangan terkininya. Serta mengkritisi kembali praktek pelesetarian, yang sebagian besar terlihat sebagai jualan semata atau agenda pariwisata. Di antaranya, ia menjabarkan bahwa kesenian dapat kita lihat sebagai penyerapan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat pendukungnya, refleksi adaptif, dan social power. Di Sumatera Barat, khususnya di wilayah budaya Minangkabau, kesenian biasa disajikan dalam perayaan, syukuran, ritual atau religius, dan seremoni.

Albert, saat menjabarkan materi: Pelestarian Kesenian Tradisi Melalui Platform Multimedia, di Kantor Komunitas Gubuak Kopi. (foto: Arsip Gubuak Kopi, 2017)

Di Dunia modern, tradisi pada dasarnya mendapatkan tantangan keras. Seperti kalimat yang dikutip Albert dalam materinya, bahwa: pikiran modern sering kali menghantarkan kita pada hal-hal yang mapan dan tunggal dalam menerjemahkan kemajuan, dan semua itu terpusat pada sudut pandang elite. Keberagaman identitas manusia dan kelompoknya yang tampak dari sebuah tradisi seolah-olah lenyap, dan ditenggelamkan oleh entitas modern ini.[1] Jadi dalam hal ini, melestarikan tradisi penting menurut Albert untuk mengembangkan identitias lokal itu sendiri. Namun tentu tidak sesederhana melestarikan seperti yang selama ini dilakukan pariwisata ataupun sanggar-sanggar. Karena dalam hal ini bukan hanya kulit atau bentuk-bentuk yang eksostis semata. Di dalamnya tumbuh semangat gotong royong, dan nilai-nilai sosial lainnya. Pelestarian yang dalam prakteknya hanya mengabadikan ‘bentuk’ sering kali membuatnya seperti tubuh antik yang dipaksa hidup, untuk pariwisata. Hal ini sebelumnya juga dibahas dalam kegiatan “Merawat Tubuh Tradisi”[2]

***

“…adaik dipakai baru,
baju dipakai usang…”

Kalimat  di atas adalah potongan petuah tentang adat di Minangkabau, yang sangat berkaitan dengan isu  pelestarian ini. Kalimat tersebut dalam Bahasa Indonesia bisa kita artikan “adat yang terus dipakai menjadi baru, sedangkan baju yang terus dipakai menjadi usang”. Hal ini menarik merespon praktek yang memposisikan adat sebagai suatu yang terpisah dari kebudayaan yang sedang berlangsung. Adat dan tradisi sering kali dibicarakan sebagai sesuatu yang telah lampau, sementara seharusnya adat dapat relevan dalam mengatur persoalan sosial hingga saat ini. Hal ini tentu menuntut pembaharuan, dan kajian sosial terkait perkembangan terkini. Demikian kini kita punya lembaga-lembaga seperti KAN (Kerapatan Adat Nagari), LKAAM (Lembaga Kerapan Adat Alam Minangkabau), BMN (Badan Musyawarah Nagari), dan lainnya yang seharusnya memungkinkan negosiasi antara perkembangan terkini dan nilai utama adat lokal.

“usang-usang dipabarui,
lapuak-lapuak dikajangi…”

(yang telah usang diperbaharui,
Yang telah lapuk, disokong kembali…)

Kalimat di atas adalah potongan petuah adat yang kemudian menjadi dalil kita kali ini dalam melakukan pelestarian seni tradisi. Bahwasanya, pelestarian pada dasarnya tidak sekedar mempertahankan tubuh tradisi, atau merawat tubuh yang antik, tetapi turut mengembangkan nilai-nilainya dan membuat kesenian itu tetap hidup dengan nilai-nilai terkini yang kita yakini. Gubuak Kopi sebagai salah satu organisasi yang berfokus pada pegembangan pengetahuan seni dan media, dengan tetap sadar akan perkembangan terkininya, melalui lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, dengan tema pelesterian seni tradisi melalui platform multimedia, mencoba membaca posisi kesenian tradisi di masyarakat pertanian, membaca pratek pelestarian terkini, dan kemungkinan perkembangan terkininya melalui platform multimedia. Seperti yang telah dibahas dalam materi lokakarya sebelumnya, kehadiran media dan segala teknologinya hampir tidak dapat kita tolak. Hal ini juga memungkinan pesebaran informasi secara global. Untuk itu kita juga perlu menyadari cara kerja media dan memberdayakan media itu sendiri untuk kepentingan pengetahuan dan pengembangan kebudayaan lokal.

***

Albert, saat menjabarkan materi: Pelestarian Kesenian Tradisi Melalui Platform Multimedia, di Kantor Komunitas Gubuak Kopi. (foto: Arsip Gubuak Kopi, 2017)

Tidak terasa dikusi sudah menghantarkan kita pada pukul 05.30 sore. Partisipan siap pergi ke lapangan untuk mencari data yang dibutuhkan dalam lokakarya ini, seperti bunyi-bunyian, video, foto, dan narasi-narasi terkait situasi kebudayaan lokal. Fasilitator dan partisipan  berangkat ke pasar bersama-sama, setibanya di pasar, kita memutuskan untuk berpencar guna mencari informasi tadi. Ada yang pergi ke pasar ikan ada yang ke toko baju dan banyak lainnya, setelah beberapa jam mengelilingi pasar, kita kembali ke markas Komunitas Gubuak Kopi untuk mendiskusikan hasil orbeservasi tadi bersama-sama.

Sekitar jam 09.10 malam, sesuai dengan agenda, para partisipan bersama fasilitator diarahkan untuk melihat proses latihan silat (silek) di Sinapa Piliang, Kota Solok. Sebelumnya kami telah membuat janji dengan Da Ajo, dia salah satu anggota senior di perguaruan silek tuo (silat tua) yang bernama Sinpia ini. Kunjungan kami ke sasaran (tempat latihan/perguruan) silat ini untuk mencari data dan pandangannya terhadap pelestarian kesenian tradisi, dan melihat langsung proses pelestarian yang dilakukan oleh Sinpia.

Setiba di lokasi, kita disambut dengan senang hati oleh guru atau pelatih, dan anak-anak yang belajar silat di sana. Banyak anak-anak yang antusias untuk latihan silek. Pada latihan kali ini, latihan dimulai oleh tingkat anak-anak, setelah itu baru disambung oleh anggota senior. Sebenarnya ini bukan jadwal latihan untuk anak-anak, namun kebetulan besok harinya adalah hari libur. Merekapun latihan bersama anggota senior, sebenarnya latihan untuk anak-anak pada Sabtu malam, kalau dewasa Rabu malam. Latihan silek untuk anak-anak dalam satu kali pertemuan biasanya sekitar jam 8 sampai jam 11 malam, kalau anggota senior tidak ada batas waktu.

Sasaran silek tuo di Sinapa Piliang ini bernama Sinpia (atau langkah ke samping, dalam istilah silek) atau juga bisa berarti singkatan dari nama kampung tempat tersebut: Sinapa Piliang. Sasaran silek ini, dimainkan secara terbuka sekitar dua tahun belakangan. Sebelumnya silat ini dimainkan di tempat tertutup. Namun, kali ini bapak Asraf Daniel alias Dt. Tan Panggak, selaku guru tuo di sasaran Sinpia ini, memutuskan untuk berlatih di tempat terbuka, dengan harapan dapat menarik minat pemuda lain maupun anak-anak di sekitar sana untuk ikut. Dan usahanya, malam itu kami lihat cukup berhasil, peminatnya terus bertambah, mulai dari usia 4 tahun, sampai dewasa. Anggotanya kini kurang lebih mencapai 40 orang, yang merupakan warga sekitar dan beberapa dari kampung lain.

Tan Panggak menceritakan sejarah singkat tentang permainan anak nagari atau Silek kepada kami. Dulu zaman ayahnya kita mungkin zaman kakek kita silek tidak ditampilkan kepada orang banyak, hanya di dalam rumah atau di halaman belakang rumah, karena dulu ada pandangan buruk terhadap orang yang latihan silek, selain itu memang kemampuan silat tidak untuk dipamerkan, karena pada masa dahulu banyak orang yang bermain silat. Di tempat latihan silek tuo ini pandangan buruk tentang silek ini, perlu dijelaskan, bahwa silat yang dikembangkan bukanlah untuk hal-hal syirik melainkan untuk mengajarkan kita agar lebih sabar dan rendah hati.

Risky (penulis) ikut berlatih silat di sasaran silek tuo Sinpia.

Beliau juga menjelaskan kalau silek Solok ini memiliki keunikan, karena silek  Solok merupakan perpaduan antara langkah tigo  yang datang dari Agam dengan langkah ampek yang datang dari Kumango, bertemu di Solok dan dikembangkan menjadi gaya baru. Selain itu, yang paling menarik bagi saya adalah silat di dalam kain sarung. Dua orang saling bersilat sementara diri mereka terikat/terkurung dalam lingkaran kain sarung. Setelah itu, saya berkesempatan untuk latihan bersama dengan anggota senior di sana, setelah sekian lama tidak mencobanya lagi.

Tidak terasa waktu sudah berlalu, sekitar pukul 2 subuh kita pulang ke sekre untuk membahas dan merangkum tentang penjabaran yang telah disampaikan oleh guru silek tadi menurut pandangan masing-masing. Dan dilanjutkan dengan pembahasan tentang tugas atau agenda yang akan kita laksanakan nanti sekitar jam 11.10 siang.

____________

[1] Agatha Danastri Dian Pertiwi, Tradition (Forced to) Fade Away Rus, ARKIPEL.ORG (http://arkipel.org/tradition-forced-fade-away-rust/)

[2] Albert Rahman Putra, Pengantar Merawat Tubuh Tradisi, Gubuak Kopi, 2016. (http://gubuakkopi.id/2016/06/03/pengantar-merawat-tubuh-tradisi/)

Postingan Terkait

Muhammad Riski (Solok, 20 November 1995), adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *