Membajak Teknologi Di Hari Kedua

Selasa, 19 September 2017, tepat di hari kedua lokakarya Lapuak Lapuak Dikajangi berjalan. Kali ini Muhammad Riski salah satu pegiat Komunitas Gubuak Kopi, selaku pembicara memaparkan materinya: Seni Membajak Teknologi sebagai umpan diskusi.  Ia juga menyinggung kembali materi yang telah dibahas di hari sebelumnya, tentang apa itu media, tujuan media, manfaat media, serta dampak media. Untuk menggambarkan situasi bermedia di Indonesia, Ia menggambarkan perang media antara pemilik modal atau orang-orang yang berkepentingan, seperti kasus lumpur di Sidoarjo yang diakibatkan oleh kelalaian kontraktor Lapindo Brantas Inc.  Kasus ini mengakibatkan sekitar 90 hektar sawah tertimbun lumpur panas[1]. Dalam hal ini kita tahu, siapa saja pemilik modal yang harus bertanggung jawab untuk kasus ini. Mereka juga merupakan konglomerat media dan politikus. Misalnya, di media miliknya, kita akan  mendengar ini sebagai Lumpur Sidoarjo, konten berita secara umum mengabarkan kemajuan dan usaha penanggulangan. Sedang di media raksasa lainnya yang kebetulan lawan politik memberitakan ini sebagai Lumpur Lapindo dengan segala konten kritiknya. Begitu pula menanggapi isu plagiat budaya oleh negara tetangga, beberapa media yang merupakan lawan politik presiden waktu itu, membangun citra agar pemerintahan kala itu terlihat lemah, walaupun kita sadar tidak ada yang namanya plagiat budaya (tradisi).

Riski juga memberikan gambaran media di Indonesia, pada era Orde Lama (Soekarno) dan upaya-upaya kebudayaan untuk membangun identitas negara baru. Lalu berlanjut pada masa Orde Baru, masa-masa kontrol ketat media oleh negara. Di masa yang lebih dari 30 tahun ini, kita di daerah, hampir tidak sadar kalau kita harus dan berhak mengkritisi media. Beberapa dampaknya yang bahkan masih terasa hingga sekarang, yakni kita terbiasa menerima informasi dari media sebagai kebenaran. Setelah Reformasi, kita berlanjut pada era kebanjiran informasi. Media-media baru bermunculan, di sinilah para pemangku kepentingan, baik itu dalam segi bisnis atau politik saling memberdayakan media untuk mengelola kepentingannya.

Sebagai tambahan menggambar situasi di masa Orde Baru, Albert memberikan sebuah contoh dampak media yang ditulis oleh Ugeng T. Moetidjo denngan judul Diorama Suaka[2]. Pada 1983 Pemeritah mengeluarkan seruan untuk melarang warga untuk menatap gerhana matahari total (GMT) secara langsung. Seruan ini disampaikan melalui saluran televisi, dengan melarang masyarakat untuk keluar rumah dan menutup rapat semua jendela. Larangan ini menjadi legitimasi untuk kemungkinan ketidak-patuhan. Untuk memastikan larangan ini dijalankan, pemerintah juga menurunkan aparaturnya untuk memastikan berjalan. Larangan ini disampaikan dalam skala nasional, seterusnya kalau ingin melihat GMT, bisa dilihat melalui TVRI. Singkatnya, lantas semua orang tidak keluar dari rumah, bahkan di daerah yang tidak dilewati GMT. Di sini, pemerintah membuktikan bahwa media TVRI dapat menjadi media komunikasi vertikal antara masyarakat dan pemerintah.

Pada masa lengser Soeharto, saluran televisi ataupun media massa semakin banyak, kita malah mendapat kebanjiran informasi. Lalu berlanjut pada masa, yang bahkan kita tidak bisa lepas dari telepon genggam pintar (Smartphone), dan semua informasi tersebut dengan gampang masuk kedalam kehidupan sehari-hari, baik itu melalui koran dan tv online, maupun media sosial. Dan banyak juga berita-berita yang tidak pasti (hoax) kita dapatkan. Sayangnya, banyak dari kita yang tidak mendapat pendidikan media dan gambaran kerja media membuat kita sering kali tidak selektif dan kritis terhadap informasi tersebut. Dan sayang sekali juga, seperti yang digambarkan sebelumnya, informasi yang tersebar di media sosial itu kita terima begitu saja dan kita jadikan referensi dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali  pada materi yang disampaikan Riski, ia kemudian juga memamparkan gambaran praktek membajak teknologi. Hal ini, sederhananya dapat kita mulai dengan mengenali sifat dan cara kerja teknologi itu sendiri, kemudian melupakan fungsi awalnya atau memberi fungsi baru sesuai kepentingan kita. Riski menyebut beberapa nama yang pernah melakukan ini dalam kerangka kesenian, diantaranya Nam June Paik, salah seorang seniman video asal Korea Selatan, yang kemudian juga dikenal sebagai tokoh seni video, beberapa karyanya bisa kita akses di YouTube. Kemudian, contoh yang paling dekat adalah Minang Kocak, salah satu praktek membajak media melalui aplikasi media sosial seperti dubbing dan sebagainya. Karya-karya itu kemudian didistribusikan melalui akun instagramnya @minang.kocak. Ia berkarya cukup konsisten dan memanfaatkan rekaman-rekaman yang pernah ada untuk kita tertawa bersama, bahkan sering juga merespon isu-isu viral dengan menggelitik. Lalu, Riski juga memberi contoh apa yang dilakukan Steve Reich, khususnya pada karyanya yang berjudul Pendulum (1968), ia mengayunkan beberapa microphone dengan tidak serentak, sementara, di bawahnya terdapat speaker aktif yang membuat setiap kali mic bertemu speaker mengeluarkan bunyi khas atau yang biasa kita sebut storing/noice. Lalu, Pierre Schaeffer, yang mengembangkan musik concrete dan elektroakustik. Stomp Percussion, yang membuat karya-karya musikal menggunakan instrumen non-konvensional atau alat yang akrap dengan aktivitas sehari-hari. The Instrument Builder Project, Senyawa, Bottle Smokeer dan masih banyak lagi yang lainnya.

Albert saat memberi beberapa tambahan materi

Kiki, salah seorang partisipan saat menanggapi presentasi Riski

Albert juga menambahkan beberapa karya performance Abi Rama, yang menarik untuk disimak, The Absence Of Body Itself  (2016) Abi yang secara fisik tidak ada dilokasi perfomance dijadwalkan, namun memanfaatkan tubuh-tubuh yang ada di sana untuk mewakili kehadirannya, ketika para orang-orang yang ada di sana ia kirimi pesan, dan membacakan pesannya secara bergantian. Lalu, Eye Contacting My Self (2016), Dalam karya ini, Abi Rama menggunakan aplikasi semacam skype dengan dua laptop dan dua proyektor yang mencitrakan tubuhnya di dinding seperti sedang bercermin. Abi bermain dengan gerakan tubuhnya sendiri. Menarik menyimak Abi yang memperhatikan geraknya yang ‘terlambat’ (delay) di dinding tersebut dibandingkan gerak ia sebenarnya. Kelemahan teknologi seperti ini memungkinkan menikmati fenomena lain yang tidak kita dapatkan di cermin.

Albert juga menunjukkan beberapa video karya musik, John Cage, seperti karya 4’33 (1952) yang mana selama pertunjukkan Cage tidak memainkan alat musik selama 4 menit 33 detik. Para permain standby di panggung menyimak partiturnya yang kosong. Dalam hal ini selain kita membayangkan bunyi-bunyi gaduh dari para penonton pada masa itu, menarik menyimak karya ini membawa kita pada kesadaran untuk mepertanyakan apa itu musik? Apakah ia bunyi? Lalu apa itu diam? Lalu pada karya Water Walk (1960) – John Cage ia menggunakan beberapa peralatan dapur dan peralatan mandi dari pertunjukannya. Cage sejak itu sering kali bermain dalam takaran conceptual art di saat yang sama ia mengajak kita untuk mengkritisi apa itu musik. Selain itu Albert juga membahas grup Senyawa yang sebelumnya ditayangkan oleh Riski, dalam hal ini mereka (Senyawa), duo musisi yang menyajikan musik dengan menggabungkan kerja ekplorasi suara (vokal manusia) dan kemungkinan intrument baru yang juga sadar akan kerja teknologis.

Setelah diskusi tentang membajak teknologi, pada malam harinya dilanjutkan pemutaran salah satu film karya Lars Von Trier, yakni Dancer In The Darks (2000). Film ini sengaja ditayangkan untuk memberikan gambaran, musik yang berangkat dari bunyi-bunyi nan akrab di situasi lingkungan ataupun sosial ia diciptakan. Selain itu, juga mengajak para partisipan menyoroti persoalan gambarnya dan situasi politik yang diresponnya.

___________________

[1] Wikipedia, Banjir Lupur Panas Sidoarjo (https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo)

[2] Ugeng T. Moetidjo dalam katalog ARKIPEL – Jakarta International Documentari and Experimental Film Festival: Penal Colony, Forum Lenteng, Jakarta, 2017.

Postingan Terkait

Delva Rahman (Solok, 29 April 1993) adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam loakarya literasi media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan "Perempuan Membaca Kartini" karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017).

3 comments

  1. Its very educational…
    Banyaknya media yang bekepentingan sepihak dan mentahnya informasi menjadikan masyarakat seolah dibutakan oleh informasi sembarangan. Dan untuk menyikapi tema dalam tulisan ini, saya rasa memang sangat diperlukannya teori dan implentasi “bajak teknologi” dengan cara yg lebih bijaksana serta pemikiran-pemikiran yang cerdas seperti kalian.
    Lanjutkan terus !!!

    1. Berita hanya untuk kepentingan, sekarang bagaimana kita membaca dan mencermati berita yang simpang siur itu, mungkin upaya itu yang sedang kita lakukan sekarang, Terima kasih.

  2. Berita hanya untuk kepentingan, sekarang bagaimana kita membaca dan mencermati berita yang simpang siur itu, mungkin upaya itu yang sedang kita lakukan sekarang, Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *