Menanam Arsip

Ramadhan tahun 2017 ini, Gubuak Kopi kembali menggelar lokakarya dengan tema “Kultur Daur Subur”, kegiatan ini dilakukan dari tanggal 10-20 Juni 2017. Partisipan pun yang mengikuti lokakarya kali ini terdiri dari perwakilan kelompok ataupun individu dari lintas disiplin. Hari pertama kegiatan ini berlangsung, Albert selaku ketua fasilitator dalam lokakarya kali ini, membekali tentang Sejarah Perkembangan Media kepada partisipan. Albert menjelaskan apa itu media, bagaimana perkembangannya di dunia maupun di Indonesia sendiri. Bagaimana kita mengelola media sendiri dan praktek bermedia. Ia juga menjelaskan bahwa media dan seni berjalan seiringan jauh dari zaman peradaban sebelumnya. Albert juga memutarkan beberapa karya film-film penting dalam sejarah perfilman dunia maupun Indonesia.

Pada hari keduanya Albert selaku pamateri juga memberikan kuliah tentang Sejarah Perkembangan Pertanian di Sumatera Barat, khususnya Solok. Pada saat itu Albert memperlihatkan catatan Sir. T.S Raffles kepada partisipan, bagaimana kekagumannya terhadap Minangkabau yang cara-cara bertaninya sudah sangat maju. Albert juga menjelaskan bagaimana hubungan media dengan praktek pertanian, bagaimana sebagian warga sekarang yang menganggap profesi petani adalah status sosial yang rendah. Karena itu Gubuak Kopi mengangkat tema “Kultur Daur Subur” yang bertujuan mengarsipkan, memetakan, bagaimana mendistribusikan pengetahuan terkait kultur pertanian dan lingkungan.

Jauh sebelum kegiatan lokakarya ini berlangsung, Gubuak Kopi telah melakukan riset ke beberapa tempat yang ada di Kelurahan Kampung Jawa, karena kantor kami pun berada di kelurahan ini. Kebanyakan dari warga sekitar Kelurahan Kampung Jawa memiliki taman-taman pribadi, dan juga banyak terlihat beberapa kebun pepaya, coklat, jagung, durian, rambutan, singkong, buah naga, dan masih banyak lagi yang lain. Di sini partisipan menggunakan medium yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti smartphone (telepon  pintar). Partisipan bisa mendokumetasikan apa saja yang berhubungan dengan tema lokakarya kali ini  dengan handphone pribadi mereka. Seperti memfoto tanaman, sungai atau pun lingkungan sekitar, dan merekam video diary (vlog). Setelah partisipan mendapatkan berbagai foto, mereka disarankan mengupload foto tersebut dengan akun instagram masing-masing dengan #solokmilikwarga, yang nantinya akan repost oleh akun @solokmilikwarga yang dikelola Komunitas Gubuak Kopi. Begitu juga dengan vlog, setelah partisipan merekam kejadian di lapangan mereka akan menyetorkan video tersebut ke fasilitator, video tersebut diupload melalaui kanal youtube Gubuak Kopi. Selanjutya, apa yang mereka dapatkan di lapangan pun ditulis dalam kertas, gunanya untuk mengingat poin-poin penting selama di lapangan, setelah itu dilanjutkan dengan menulis dalam bentuk word, setelah tulisan tersebut diedit dan diupload melalui web www.gubuakkopi.id.

Kebanyakan dari  taman-taman yang ada diakun #solokmilikwarga adalah inisiatif dari per- warga itu sendiri. Mereka memanfaatkan lahan kosong yang ada di perkarangan rumah mereka masing-masing.

Pada tanggal 16 Juni 2017, kami kedatangan pemateri yang dulunya kerja di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Solok yaitu bapak Elhaqki Effendi. Beliau menjelaskan tentang Perkembangan Pertanian di Solok. Selain bekerja pada pemerintahan beliau juga wartawan di salah satu koran di Sumatera Barat, sejak tahun 1985. Dengan dua profesi bapak El, ia meninggalkan salah satu profesinya tersebut yakni wartawan, ia fokus pada pekerjaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Walaupun aktif di pemerintahan Bapak El masih aktif menulis artikel pada satu kolom. Lebih dari 80 artikel yang beliau pinjamkan kan kepada kami, yang beliau tulis dan disusun dalam bentuk kliping, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan yang ia simpan dengan rapi di rumahnya. Selama bekerja di pemerintahan beliau juga banyak menceritakan tentang pengalaman beliau turun langsung ke lapangan. Bagaimana kecintaan warga maupun beliau terhadap pertanian, bagaimana ke akraban antara petani dan pemerintah, dan begitu juga sebaliknya. Bagaimana warga atau pihak pemeritahan bersama-sama meningkatkan produktivitas hasil dari pertanian. Karena pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pangan salah satu dari kebutuhan pokok kita.  Selain itu Bapak El juga menceritakan kedekatan antar sesama warga pada satu kampung dengan kampung lainnya. Seperti pembuatan jalan Taratak dengan Tanjung Gadang, Buluah Kasok, Kabupaten Sijunjung. Seperti yang kita lihat di foto milik Bapak El bagaimana kedekatan antar sesama warga, mereka saling bantu membantu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Begitu juga dengan pembangunan surau Buya Burhanudin di Katialo, Kecamatan X Koto di Ateh (atas) pada tahun 1978. Pada foto tersebut juga bisa kita lihat bagiamana antusias warga dalam membangun tempat ibadah di sana. Tidak hanya orang dewasa yang ikut membantu, anak-anak juga ikut dalam pembangunan tersebut.

Selain itu, Bapak El juga menunjukkan koleksi arsip tulisan dan foto karyanya tentang tanaman, salah satu tulisan beliau yaitu tentang “Bunga Bougainville Sebagai Tanaman Hias”. Di dalam artikel itu ia menjelaskan bahwa bunga bougainville (bunga kertas) mempunyai nilai sosial yang cukup tinggi, karena bunga tersebut memiliki keindahan dengan bermacam-macam warna (merah, kuning, nila, orange, dan lain-lain). Bahkan dalam satu batang tanaman terdapat variasi warna. Selain mememiliki keindahan, bunganya pun tahan lama dan bisa dibentuk sesuai keinginan si pemiliknya. Kalau kita lihat dari segi nama, bunga ini tentu saja bukanlah tanaman asli Indonesia, yang menemukan bunga ini pertama kalinya Philbert Commerson, seorang ahli pegetahuan alam berlayar dengan seorang kapten kapalnya. Betapa kagumnya Commerson akan keindahan bunga tersebut sehingga ia tidak percaya. Bunga tersebut diberikan kepada kapten kapalnya, seorang navigator pada zaman raja Loius XVI yang bernama Lois Antoine De Bougainville. Bunga bougainville atau biasa kita sebut dengan bunga kertas ini adalah jenis tanaman perdu sedikit berduri pada batangnya, tumbuh ditanah baik dan subur. Biasanya tanam dan sangat cocok apabila ditanam pada tempat  seperti terurai di atas, namun juga bisa ditanam pada pot, dan cara menanamnya sangat mudah. Albert juga pernah membawa beberapa tanaman ke kantor Gubuak Kopi, dan salah satunya bunga kertas. Sekarang bunga tersebut ada dalam pot dekat kamar santai kami, dan beberapa rumah warga pun juga pernah saya lihat memiliki bunga tersebut.

Melihat koleksi arsip Bapak Elhaqki Effendi

Selain itu juga ada artikel beliau tentang “Penangan Cara Panen Untuk Meningkatkan Produksi Padi”. Dalam artikelnya kali ini Bapak El membahas tentang aktivitas petani pasca panen. Banyak padi atau beras yang terbuang pasca panen, baik itu ketika menenteng, dijemur, dibangkit, dan lainnya, yang sebenarnya cukup berharga dan bisa dimanfaatkan. Penanganan lepas panen yang baik, dapat menekan kehilangan logistik pada produksi, yang berarti pula dapat menigkatkan produksi, baik secara kwalitas maupun kuantitas, sehigga hasil pengorbanan petani di saat panen lebih  maksimal.

Bapak El menunjukkan beberapa koleksi foto pribadinya kepada kami. Beberapa koleksi foto tersebut didapatkan dari warga yang ingin beliau tulis di koran tersebut. Dari foto-foto yang saya lihat bagaimana kedekatan antara pemerintah dan warga, adanya gotong-royong sesama warga.

Pada era yang modern ini, tidak terlalu banyak gotong royong di kampung-kampung maupun di kota. Hal itu bisa saya rasakan sendiri, karena kepadatan rutinitas warga. Jika ada panggilan gotong-royong, penjagaan keamanan pada malam hari setiap RT (Rukun Tetangga), dan dasawisma orang tua saya lebih memilih membayar denda dari pada menghadirinya. Dan pada akhirnya kegiatan gotong-royong itu dilakukan oleh jasa pembersih lingkungan. Pos ronda dekat rumah saya pun sekarang dibongkar dan digantikan dengan tempat sampah warga, begitu juga dengan dasawisma (taman RT) digantikan dengan tempat sampah. Saya baru menyadari hal seperti gotong-royong ataupun berkumpul bersama pun sangat penting, karena dari sana warga bisa menimbulkan ide-ide yang positif dan saling berhubungan baik.

Hal-hal yang saya sebutkan di atas adalah beberapa pengetahuan dan kesan yang saya dapat setelah membaca beberapa arsip. Mengarsipkan memang tidak kerja yang tidak mudah, tapi harus kita mulai dari sekarang, karena apapun yang kita arsipkan berpotensi menjadi pengetahuan nantinya. Begitu juga inisiatif yang dilakukan oleh Bapak El, koleksi tulisan maupun fotonya, cukup mempermudah kita membaca perkembagan pertanian di Solok pada masa lampau. Hal ini, saya kira sama pentingnya dengan apa yang dilakukan oleh para partisipan maupun pengguna media sosial lainnya, dan kemudian dirangkum oleh @solokmilikwarga.

Postingan Terkait

Delva Rahman (Solok, 29 April 1993) adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam loakarya literasi media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan "Perempuan Membaca Kartini" karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *