Sepenggal Kisah di Gang Rambutan

Saya menulis tentang “Gang Rambutan” ini berawal ketika saya mengikuti kegiatan lokakarya di Komunitas Gubuak Kopi yang bertempat di  Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Dalam lokakarya ini kita belajar mempergunakan media untuk kepentingan bersama dan kemajuan kampung halaman kita. Di antaranya, terdapat pelatihan menulis, fotografi, dan membuat video. Tentunya yang paling menarik, adalah diskusi-diskusinya yang sangat baru bagi saya.

Sebelumnya, kakak-kakak dari Komunitas Gubuak Kopi telah melakukan kunjungan ke tempat di mana saya tinggal. Menurut mereka gang ini cukup unik dan perlu menjadi contoh bagi gang-gang lain, karena gang ini terlihat berbeda, barik dari segi tampilan, maupun semangat gotong royong yang terihat dari tampilan yang bagus itu. Semangat gotong royong kini sudah mulai pudar di sebagian besar tempat di Kota Solok, tapi masih tetap ada sebagian kecil kelompok yang tetap aktif dan mungkin kurang terdengar. Dari riset kakak-kakak di Gubuak Kopi, maupun yang saya lihat, di Solok memang banyak rumah-rumah dengan taman  bagus, tapi kebanyakan itu hanya di pekarangan rumah saja. Tidak di ruang terbukanya, atau ruang bersama, seperti pos ronda, dan lainnya. Tempat-tempat di luar ruang pribadi warga itu jarang sekali dibenahi. Beruntung sekarang pemerintah membuat program semacam ‘Jumat Bersih’, tapi sayangnya sering kali terdengar orang-orang yang ikut goro Jumat Bersih ini diberi iming-iming dana juga.

Memang dana dari pemerintah itu harus kita manfaatkan juga, misalnya untuk membuat gapura yang baik, membeli bunga-bunga yang bagus, pupuk, dan lainnya. Tapi terdengar juga, bahwa dana itu lebih banyak dibeli untuk konsumsi dan mengganti transportasi orang-orang yang ikut goro. Saya tidak tahu ini salah atau tidak, tapi bagi saya ini menjanggal. Gotong royong bagi saya, akan lebih menyenangkan ketika kita lakukan tanpa bergantung pada ada atau tidaknya dana.

Suasana lokakarya di Gubuak Kopi, para partisipan salaing mendalami dan mengkritisi isu yang akan dibingkai selama lokakarya. Foto: Arsip Gubuak Kopi 2017

Saya menulis ini karena saya ingin menceritakan apa yang saya pahami, dari apa yang pernah saya dan tetangga-tetangga saya lakukan di Gang Rambutan. Dan ini cukup sesuai juga dengan tama lokakarya: Kultur Daur Subur.

Gang Rambutan ini terletak di daerah Pandan Baru, Kelurahan Pasar Pandan Air Mati, masih di sektiaran pusat kota. Daerah ini dinamakan Pandan karena di sini dulunya banyak daun pandan. Saat bercerita-cerita dengan orang tua saya, konon dulunya lokasi yang kini menjadi Gang Rambutan ini adalah area persawahan yang luas. Rumah warga letaknya berjauhan, dipisahkan oleh hamparan sawah dan semak belukar. Di sekitar sini awalnya hanya ada beberapa tetangga yaitu Ibuk Opet, Ibuk Pik, dan Ibuk Eli Yus. Sekarang mereka pun sudah pindah rumah. Waktu itu menurut ayah saya, walaupun letak rumah berjauhan, tetapi rasa persaudaraan sangat erat, Setiap permasalahan diseleaikan bersama-sama. Contohnya, tentang kebersihan lingkungan. Jika lingkungan di daerah kami tampak kotor, warga lainnya dalam lingkup RW (Rukun Warga) akan bergotong-royong membersihkannya, walaupun jaraknya jauh-jauh. Kegiatan gotong royong kala itu bukan dalam ruang lingkup RT(Rukun Tetangga) seperti sekarang, tetapi dalam cakupan yang lebih luas karena jumlah penduduk masih sedikit.

Warga di sini turut serta dalam merintis pembangunan jalan di samping rel menuju Gang Rambutan. Mereka juga terlibat langsung dalam proses pembangunannya, karena warga sadar ini untuk kepentingan bersama juga. Salah satunya Pak Uwo Ali, yang merupakan tetangga sebelah rumah saya. Mereka selalu bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan ini. Jika dikerjakan beramai-ramai, tidak ada pekerjaan yang terasa berat. Semenjak sudah ada akses jalan, jumlah penduduk semakin bertambah, perlahan-lahan tempat ini semakin padat, seperti sekarang. Kawasan yang dulunya area persawahan beralih fungsi menjadi bangunan rumah warga.

Salah satu titik pemandangan di Gang Rambutan. Foto: Arsip Gubuak Kopi, 2017

Dari cerita ayah dan beberapa tetangga, di zaman mereka masih muda, warga sekitar sering bermain voli setiap sorenya. Persaudaraan sangat kuat, tidak ada yang merasa sendirian, dan saya senang sekali mendengar cerita-cerita pada masa itu.

Tempat ini dinamakan Gang Rambutan karena di depan gang terdapat sebuah pohon rambutan, yang sampai sekarang masih ada dan menjadi ciri khas gang ini. Saya dilahirkan dan dibesarkan di tempat ini. Sudah banyak warga atau tetengga saya yang hijrah ke tempat lain dan begitu juga sebaliknya, banyak juga yang datang. Waktu kecil saya sering bermain dan berkumpul dengan teman-teman di sekitar sini. Di sini kami bebas bermain di jalanan karena gang ini adalah gang buntu dan tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang kecuali masyarakat sekitar.

Sore hari adalah saat-saat yang sangat kami senangi karena merupakan waktu untuk kami bermain. Permainan yang kami mainkan waktu itu cukup banyak. Ada main kartu gambar, main kasti, sepak bola, caktum, cakbur, mancik mancik (petak umpet), kejar-kejaran, ketapel, layang-layang, dan masih banyak lagi. Sering kali kami berebut untuk memenangkan permainan, terkadang samai berkelahi, tapi selalu segera baikan lagi.

Hal yang paling saya senangi adalah ketika bermain sepak bola di saat turun hujan. Kami bermain di lapangan dekat rumah. Dalam bermain sepak bola, berapapun skornya, tapi yang terakhir mencetak gol selalu jadi pemenang. Adzan magrib lah yang menjadi tanda permainan selesai dan kembali ke rumah masing-masing. Saat pulang kami merasa was-was takut dimarahi karena pulang basah kuyup dan penuh lumpur seperti orang pulang dari sawah. Tapi, sekarang tempat itu telah menjadi tembok, aspal, dan rumah warga. Betapa indah masa-masa itu, memiliki tempat bermain yang nyaman.

Dahulu, di gang ini jalannya masih dari tanah dan berbatu, banyak rerumputan. Jika hari hujan, air menggenangi jalanan yang berlubang. Malamnya terasa sangat gelap, karena belum ada lampu jalan. Menjadi terang ketika bulan purnama saja. Malam hari saya dan teman-teman memang jarang ke luar juga, mungkin karena kami takut kegelapan. Tapi di situ saya memiliki waktu berkumpul dengan orang tua, setelah hampir seharian bermain di luar.

Jalan di gang saya ini mulai diperbaiki ketika saya masih di bangku sekolah dasar dan juga pemasangan lampu jalan baru dilakukan ketika saya di bangku SMP, dan tidak terasa sekarang saya telah menamatkan bangku SMA.

Kebun jahe, kunyit, dan pisang milik Pak Irwin alias Pak RT 03/RW 01 Kelurahan Pasar Pandan Aia Mati, Kota Solok. Foto: Arsip Pak Irwin, 2017

Di awal tahun 2017 ini telah dilakukan pemilihan ketua RT, karena ketua RT lama telah beralih jabatan menjadi ketua RW (Rukun Warga). Hasil musyawarah warga di RT kami, maka terpilihlah ayah saya sebagai ketua RT baru. Selain sebagai ketua RT, ayah saya juga bekerja sebagai pegawai di kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dikarenakan beberapa tahun lagi ayah saya akan pensiun, beliau mencari-cari kegiatan lain dan akhirnya mulai menanam bunga dan sayur-sayuran di lahan kosong depan rumah. Tanaman  yang ditanam seperti jahe gajah, kunyit, cabe, kacang-kacangan, pitulo, dan lain sebagainya.

Kegiatan berkebun itu baru pertama kali yang dilakukan ayah saya. Tanaman yang paling banyak ditanam adalah jahe gajah. Beliau cuma bertanya-tanya tentang bagaimana proses berkebun jahe kepada orang yang telah berpengalaman di bidang itu. Bibitnya dibeli di Pasar Pagi, di area Terminal Bareh Solok. Satu kilogram jahe dibeli seharga enam ribu rupiah saja, waktu itu ayah saya membelinya sebanyak 30 kilogram. Dari 30 kilogram jahe, bisa ditanami sekitar sembilan ratus polybag. Dan yang sekarang tinggal sekitar delapan ratus polybag, sisanya gagal tumbuh.

Prosesnya sederhana, menurut ayah saya dimulai dengan menyiapkan media tanam seperti polybag dan karung. Selanjutnya mengolah tanah dan memberi pupuk, lalu dibiarkan selama kurang lebih satu minggu. Setelah itu, baru ditanami bibit jahe yang telah muncul tunasnya. Empat bulan pertama adalah saat untuk memotong indukan jahe dan menambah tanah. Pemotongan indukan dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan jahe, tepatnya perkembangan akar, batang, dan daun baru. Sehingga setelah dilakukan pemotongan indukan, rimpang jahe akan tumbuh semakin cepat, dan rimpang jahe akan cenderung naik ke atas. Dari situlah proses vertikultur dimulai. Vertikultur artinya budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Ini juga pernah saya pelajari di sekolah, cara ini menghasilkan jahe yang bertingkat-tingkat.

Menurut ayah saya, setelah indukan dipotong, kita harus terus memantau perkembangannya. Terutama bekas pemotongannya, karena rawan menjadi busuk dan berjamur. Bahkan menurut ayah saya, pisau yang akan digunakan untuk memotong disterilkan dulu. Setelah beberapa minggu rimpang jahe akan terlihat dipermukaan. Pada saat itulah harus menambahkan tanah kira-kira setinggi 10 cm.

Proses yang sama juga dilakukan setelah umur jahe sekitar delapan bulan. Setelah kurang lebih satu tahun, jahe baru bisa dipanen. Satu polybag jahe diisi dengan dua rimpang jahe. Jika pertumbuhan jahe bagus, dalam satu polybag bisa menghasilkan lima kilogram jahe. Sekarang umur tanaman jahe ayah saya sekitar empat bulan, dan akan segera dilakukan proses pemotongan indukan dan penambahan tanah pertama. Hasil panen jahe ini nantinya rencananya akan dijual.

Melihat tanaman ayah saya mulai berseri, ibu-ibu di sekitar rumah saya juga berinisiatif untuk menanam tanaman di depan rumah mereka. Hal ini tentunya juga didukung oleh ayah saya selaku RT. Satu truk tanah, beberapa polybag, tanaman hias, dan sayur-sayuran dibeli dari dana dasawisma. Awalnya tanaman tersebut hendak dibagi ke setiap rumah, namun bunda saya sebagai ibu RT atau ketua Dasa Wisma, menyarankan tanaman tersebut tidak dibagi-bagi, tetapi disusun saja di sepanjang got gang ini menjadi mlilik bersama. Ibu-ibu yang lain setuju, maka bergotong-royonglah ibu-ibu di gang rambutan waktu itu. Tanaman yang dideretkan di sepanjang got ternyata menghasilkan pemandangan yang cukup indah. Hasil dari tanaman tersebut pun  bisa digunakan untuk kebutuhan warga sehari-hari.Artinya, warga sekitar bebas mengambil secukupnya.

Ibu-ibu di Gang Rambutan, bergotong royong dan menata tanaman di sepanjang gang. Foto: Koleksi Pak Irwin, 2017

Melihat antusias ibu-ibu di gang kami, bapak-bapak juga bersemangat untuk memperindah gang. Timbul ide untuk membuat gapura di depan gang dari seorang warga. Menanggapi akan ide itu, masyarakat sekitar mulai bergotong-royong mencari bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat gapura. Masyarakat sekitar gang sepakat untuk membeli pohon bambu yang ingin digunakan sebagai tonggak gapura. Lalu di waktu yang disepakati, beberapa warga mencari akar pohon di sebuah hutan di daerah Sarasah Aia Batimpo, yang lokasinya kurang lebih 5 km dari tempat saya. Akar ini digunakan sebagai hiasan. Warga juga membeli tumbuhan anggur plastik yang ditempelkan ke akar tadi bersamaan dengan lampu hias. Hal ini membuat gapura kami terlihat seakan menjalar tanaman anggur asli dan bercahaya.

Sinaran cahaya yang dipancarkan oleh lampu ‘kelap-kelip’ ditambah catnya yang warna warni, memancing mata orang-orang yang lewat untuk memperhatikannya. Ide kreasi gapura ini dipelopori oleh Pak Anto, atau yang biasa saya panggil Pak Uncu. Bagi saya, Ia merupakan seorang seniman. Ketika gotong royog terlihat beragam ide kreatifnya muncul. Selain itu memang, sebelumnya ia sering terlihat membuat rangkaian bunga-bunga, memanfaatkan barang-barang bekas, dan merawat taman menjadi lebih bagus.

Gotong royong ini dilakukan secara swadaya oleh warga Gang Rambutan, warga menyumbang untuk membeli bahan-bahan. Sementara untuk pendirian gapura, sempat sedikit kekurangan dana, dan beruntung waktu itu dibantu oleh Uda Bobby. Dia merupakan salah seorang warga Gang Rambutan juga yang kini maupun saat itu tengah di perantauan, ibu dan keluarganya masih di sini. Ia sangat senang mendengar kalau warganya sedang bergotong royong, dan ia pun  tidak ragu untuk menyumbang lebih untuk kepentingan bersama.

Taman milik Pak Anto. Foto: Arsip Gubuak Kopi, 2017

Saat gotong-royong membersihkan dan mengias gang, yang puncaknya adalah pendirian gapura, saya sangat terkesan dengan rasa kebersamaan di antara kami, dan hubungan kekeluargaan pun semakin erat. Warga bekerja dari sore sampai malam. Dan malam itu, di saat bapak-bapak dan pemuda mendirikan gapura, ibu-ibu memasak untuk kita konsumsi bersama, sementara anak-anak bermain di sekitaran gang yang sudah mulai rapi. Ada juga salah seorang tetangga yang menyumbangkan ayam miliknya sebagai lauk-pauk saat itu. Setelah gapura berdiri dengan bagus, kami pun makan bajamba di tengah jalan gang, berpiringkan daun pisang. Hal itu merupakan makan bajamba yang pertama kali saya rasakan bersama warga Gang Rambutan. Suasana saat itu penuh canda tawa dan menjadi kenangan yang takkan terlupakan.

Beberapa hari setelah itu, bunda saya maupun ibu-ibu di RT kami, terpikir hendak membuat sebuah taman bersama. Tapi belum ada tempat yang cocok. Bunda juga berbicara kepada Pak Anto untuk merancang sebuah taman yang bagus, biar nanti bisa diaplikasikan ketika telah datang waktunya. Tapi Pak Anto sepertinya sudah tidak sabar, langsung saja membuat taman mini di depan rumahnya. Taman itu ia buat sendiri menggunakan barang dan bahan yang ada di sekitarnya. Untuk mengisi tamannya, istri Pak Anto atau yang biasa kami panggil Ucu Ema mencari tanaman-tanaman yang berbeda dan lebih unik. Alhasil, tamannya terlihat sangat bagus dengan tanaman hias itu maupun sayur-sayuran.

Hal terbaru yang dilakukan Pak Anto adalah membuat pagar-pagar kecil yang diletakkan di dekat tanaman depan rumahnya. Melihat pagar yang cukup unik, warga sekitar gang juga meminta tolong kepada Pak Anto untuk membuatkan pagar-pagar kecil serupa. Kini, Gang Rambutan dari depan hingga ujung terlihat lebih asri dan menyejukkan mata orang-orang yang berada di sekitarnya. Begitu juga pendapat kakak-kakak Komunitas Gubuak Kopi yang datang berkali-kali ke gang kami. Di sana saya sadar, gotong royong ternyata tidak hanya meningkatkan rasa persaudaraan kita, tetapi juga menambah keluarga baru.***

 

Postingan Terkait

Biasa disapa Arif, lahir di Solok, Januari 1999. Arif baru saja menyelesaikan sekolah menengah atas, dan sekarang sedang mencari perguruan tinggi yang cocok baginya. Arif merupakan partisipan titipan atau partisipan paling muda dalam Lokakarya Media: Kultur Daur Subur oleh Gubuak Kopi (2017). Sebelumnya, ia juga aktif dikegiatan OSIS di SMA N 1 Kota Solok. Saat ini ia sedang meminati aktivitas tulis menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *