Open Lab: Daur Subur

Daur Subur adalah pengembangan praktek media kreatif berbasis komunitas yang digagas oleh Gubuak Kopi, dalam mengarsipkan dan membaca perkembangan kultur pertanian di Solok, secara khusus dan Sumatera Barat secara umum. Program ini dikembangkan melalui lokakarya dengan melibatkan para partisipan dari beberapa komunitas dan beragam latar pendidikan. Para partisipan selama lokakarya mendapat kuliah-kuliah umum dari lintas disiplin untuk memperkaya pembacaan isu.

Pada pameran multimedia dalam format open lab Daur Subur kali ini, Gubuak Kopi akan mempresentasikan hasil lokakarya “Kultur Daur Subur”, yang telah digelar pada tanggal 10 – 20 Juni 2017 lalu. Konten pameran pada dasarnya bukanlah hasil akhir, melainkan sketsa awal dari persoalan yang dibingkai oleh para partisipan bersama¬†fasilitator selama lokakarya, dengan memanfaatkan teknologi yang akrab dan kesadaran media.

Fasilitator: Albert Rahman Putra, Delva Rahman, Muhammad Riski, Volta Ahmad Jonneva, Zekalver Muharam

Partisipan: Arif Kurniawan Putra, Amathia Rizqyani, M Yunus Hidayat, Risky Intan Nasochi, Rizaldy Oktafiasrim Risky, Ogy Wisnu Suhandha

Mari hadir!

Pembukaan pameran:
Jumat, 7 Juli 2017
16.00 WIB
di Galeri Gubuak Kopi
Jln. Yos Sudarso, No. 427, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok.

www.gubuakkopi.id
ig @gubuakkopi // @solokmilikwarga



____________________________

Poster by @mrisky
video by @albertrahmanp

Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *