Bingkaian Daur Subur

Selasa, 20 juni 2017 adalah hari terakhir Lokakarya dengan tema “Kultur Daur Subur” yang dilaksanakan oleh Gubuak Kopi. Kegiatan lokakarya ini melibatkan beberapa orang partisipan yang mewakili kelompok atau komunitasnya masing-masing. Sudah sepuluh hari kita belajar bersama untuk memetakan perkembangan pertanian dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan melalui praktek media kreatif. Tiba pula saatnya para partsipan mempresentasikan hasil risetnya dan apa yang diperoleh selama lokakarya. Setelah sholat Dzuhur, partisipan bersiap untuk presentasi.

Ogy Wisnu Suhandha yang akrab dipanggil Ogy, merupakan partisipan pertama yang akan mempresentasikan hasil risetnya terkait tema lokakarya. Ogy merupakan salah seorang anggota kelompok seni Ladang Rupa, sebuah kelompok seni dan budaya, yang berbasis di Kota Bukittinggi. Selama lokakarya dan melakukan observasi di lapangan bersama fasilitator, Ogy tertarik untuk membicarakan beberapa persoaan yang terdapat di lokasi Taman Bidadari. Selain taman yang tidak ter-urus persoalan lain yang menonjol adalah persoalan “Komposter” di Taman Bidadari. Komposter adalah alat sederhana untuk membuat pupuk kompos. Hal ini sudah dipilihnya sejak pertama melakukan observasi di seputaran Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Setelah didiskusikan di hadapan fasilitator dan partisipan lainnya di hari ke dua lokakarya, berbagai masukan ia dapat untuk memperdalam isu ini. Terutama soal komposter tadi, tidak hanya itu setiap perkembangan terbaru juga didiskusikan setiap harinya bersama fasilitator. Hal serupa juga dilakukan oleh partisipan lainnya untuk memerdalam riset dan keterkaitannya dengan visi lokakarya.

Seperti yang disampaikan oleh Ogy, berkaitan dengan rumah-rumah warga yang suka berkebun, komposter sebenarnya menarik untuk dikembangkan untuk kepentingan bersama maupun untuk kepentingan eduksi publik di taman. Ogy juga memberikan beberapa perbandingan dengan apa yang ia ketahui tentang pengembangan taman di Jepang. Tapi kenyataannya, taman ini hanya ramai di awal pembukaannya saja, sedikit sekali yang memanfaatkannya sebagai tempat berkreativitas dan sejenisnya. Kini taman itu tidak terurusu, sampah dan tong sampah berserakan, tidak ada penjaga, tidak cukup cahaya pada malam hari. Sempat malam hari, taman ini menjadi tempat tongkrongan dan tempat mojok pacaran anak muda. Ada pula para pengunjung yang mengatakan Taman Bidadari ini angker, dan banyak lainnya. Sempat Gubuak Kopi beberapa kali membuat kegiatan performance di sana, termasuk di pertengahan lokakarya ini. Para partisipan diajak secara performatif merespon situasi taman. Hari ini, Taman Bidadari terkesan sebagai proyek fisik yang telah selesai dan terbangkalai.

Ogy Wisnu saat mempresentasikan bingkaian isunya dihadapan fasilitatr dan partispan lainnya, yang juga disiarkan lansung melalui facebook Solok Milik Warga.

Rizaldi Oktafisrim Rizky yang akrab dipanggil Rizaldy. Ia adalah salah seorang anggota dari Komunitas Seni Rantai yang berbasis di Kota Sawahlunto, sebuah kelompok yang aktif memberi pendidikan seni alternatif untuk anak-anak di Sawahlunto. Dia tertarik pada inisiatif warga yang gemar berkebun dan membuat taman di perkarangan rumahnya. Salah satu warga yang Rizaldy temui adalah Ibu Maida. Ia senang mengembangkan tanaman hias dan sayuran di teras rumahnya. Banyak pengetahuan-pengetahuan menarik tentang kebun rumahan yang dikembangkan warga. Dari Ibu Maida salah satunya kita tahu, pupuk kandang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman, sementara untuk perawatan ia memakai pupuk dari pembakaran kayu atau ranting-ranting kecil (arang) yang ia buat sendiri. Selain itu Rizky menemui Pak Suardi di RT 01 RW 06, diantarnya ia mencari jawaban atas rasa penasaranya melihat ketidak-seimbangan antara ruang privat dan ruang umum di Kelurahan Kampung Jawa. Seperti yang terlihat di sebagian besar rumah warga kita tahu bahwa wagra senang sekali berkebun dan mengelola taman, namun beberapa ruang umumnya, seperti langan, pos ronda, dan beberapa titik pinggiran jalan terlihat semak, banyak sampah, dan tidak terurus. Tapi menurut Pak RT Pos Ronda sudah masuk dalam agenda pembenahan yang akan di lakukan pada bulan Agustus nanti.

Rizky Intan Nasochi yang akrab dipanggil Intan, adalah perempuan kelahiran Jakarta, besar di Riau, dan sudah dua tahun tinggal di Kelurahan Kampung Jawa. Ia kini menempuh pendidikan manajemen akutansi di Universitan Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY) Kota Solok, selain itu juga aktif sebagai atlit karate di Inkanas Kota Solok, Dojo Kampuang Jao. Intan tertarik menjelaskan tentang pemberdayaan lingkungan oleh warga di sekitar Kampuang Jao. Ia manarik isu ini dari beberapa aktvitas warga yang memanfaatkan lahan PT KAI, yang sudah lama tidak aktif dan menjadi semak. Secara hukum barang kali tidak boleh, tapi inisiatif beberapa warga yang memafaatkan rel, yang sudah lama tidak berfungsi ini, memberi  keindahan dan kenyaman tersendiri. Ada juga warga yang memanfaatkan selokan tepian re untuk Budi daya ikan, tanaman-tanaman herbal, dan kandang ayam.

Rizaldy saat mempresentasikan bingkaian isunya dihadapan fasilitatr dan partispan lainnya, yang juga disiarkan lansung melalui facebook Solok Milik Warga.

Amatiha Rizqyani akrab dipanggil Rizqy, adalah salah seorang mahasiswa Jurusan Hukum di UMMY Kota Solok. Ia juga merupakan warga asli Kelurahan Kampung Jawa, yang kini berdomisili di Tembok, Kelurahan Nan Balimo. Selain sibuk kuliah ia juga aktif di organisasi Mapala kampusnya. Selama lokakarya ia tertarik membicarakan isu tentang dampak buruk dari sampah. Selama observasi ia menemukan banyak limbah rumah tangga, sampah-sampah plastik, kayu-kayu maupun kulit pinang yang dibuang ke sungai. Pertama ini, mengakibatkan pendangkalan sungai, karena terjadi penumpukan sampah di dasar sungai tersebut. Hal ini sejalan dengan hilangnya kebiasaan warga yang dulunya suka di sungai, mencuci pakaian, dan lainnya. Sekarang sungai sudah tercemar dengan sampah-sampah rumah tangga. Plastik-pastik tidak larut, sementara yang oranik menjadi zat-zat yang tidak baik untuk kesehatan. Padahal papan peringatan sudah ada dipampangkan di tepi-tepi sungai tersebut, sepertinya warga tidak menghiraukan tanda peringatan itu. Hal ini mengkin berkaitan dengan kebiasaan dan ketidak tersediaan tong sampah umum di sekitaran rumah warga.

Presentasi dilanjutkan oleh Arif Kurniawan, akrab dipanggil Arif, ia adalah partisipan titipan atau partisipan termuda. Ia baru saja menyelesaikan bangku SMA-nya dan sekarang tengah mencari kampus yang tepat untuk melanjutkan studinya. Materi untuk Arif hampir sama dengan partisipan umumnya, namun tuntutan capaiannya sedikit lebih ringan dibanding partisipan umumnya, yang sudah terbiasa bekerja di organisasi. Selain itu Arif juga tidak bisa intens hingga larut malam di Gubuak Kopi. Namun, apa yang ditulis Arif sebenarnya tidak kalah menarik dari apa yang dibahas partisipan lainnya. Ia mejelaskan tentang “Gang Rambutan”. Nama gang tempat tinggalnya di Kelurahan Pasar Pandan Airmati, Kota Solok. Kebetulan Gubuak Kopi sempat beberapa kali mampir di gang ini.

Menjelang masuk Gang Rambutan, kita akan disambut oleh gapura yang unik, tanaman hias dan tumbuhan yang tersusun rapi di sepanjang got gang, dan kita juga akan bertemu taman mini kreatif milik salah seorang warga. Di sepanjang got itu selain tanaman hias ada juga tanaman jahe, kunyit, dan sayur-sayuran. Tanaman, itu tidak ada kepemilikan individu, hasil panen dari tanaman ini bisa diambil warga sekebutuhannya. Seandainya gang tersebut sudah kotor, maka warga tersebut secara spontan melakukan gotong royong untuk membersihkan dan menanam tanaman baru. Baru-baru ini bantuan Komposter sudah sampai di gang tersebut, tapi belum dipergunakan oleh warga di situ karena persedian tanahnya masih banyak. Yang paling menarik sebenarnya inisiatif warga yang melakukan gotong royong. Hal ini sedikit berbeda dengan kebanyak tempat di Kota Solok, yang hanya goro pada program “Jumat Bersih” yang diinisiasi oleh pemerintah. Dana anggaran “Jumat Bersih” memang sangat baik untuk dimanfaatkan, namun goro hanya karena ada dana, sangat disayangkan. Dana tersebut sebenarnya sangat menarik untuk membeli bunga-bunga bagus atau bahan-bahan lainnya, tapi ada juga beberapa kelurahan yang lebih banyak memanfaatkannya untuk konsumsi dan transportasi.

Terakhir, M. Yunus Hidayat biasa dipanggil Datuak atau Joe Datuak. Memberi judul presentasinya “Bagai Pinang di Belah Kering”. Datuak mencari informasi tentang usaha dan distribusi pinang ke beberapa rumah warga. Salah satunya rumah Buk Yen. Biasanya pinang dicari oleh anaknya, karena Buk Yen tidak memiliki ladang pinang sendiri. Pola ini biasa juga dilakukan oleh beberapa warga di sini. Mereka membeli pinang segar dari orang lain. Menjual pinang muda untuk jus  dan pinang tua dikupas untuk dikeringkan. Pinang kering kemudian dijual kembali pada penadah di Payakumbuh, ada juga yang dijual ke pasar Solok untuk diolah lebih lanjut. Di Kampuang Jao sendiri tidak ada kebun pinang, ia memang ditanam satu-satu di rumah, atau menjadi pembatas tanah kepemilikan seseorang. Untuk  itu dalam distribusi pinang, orang-orang seperti Buk Yen lah yang berperan mengumpulkan pinang-pinang yang tersebar itu.

Demikianlah beberapa isu yang dibingkai oleh para partisipan, dalam Lokakarya Kultur Daur Subur kali ini. Sekalipun  riset dan lokakarya telah selesai, namun setelah lebaran nanti, tepatnya tanggal 7-8 Juli 2017 nanti akan digelar pameran multimedia dalam format Open Lab, di Galeri Gubuak Kopi, sebagai ruang presentasi publik lokakarya ini. Terakhir Albert Rahman Putra, selaku ketua fasilitator menutup lokakarya ini, dan berpesan agar para partisipan terus mengembangkan apapun yang didapat selama lokakarya di organisasi masing-masing.

 

Postingan Terkait

Muhammad Riski (Solok, 20 November 1995), adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *