Bermain Kisah Bidadari

Kali ini, di hari ke lima kegiatan Lokakarya “Kultur Daur Subur” dilaksanakan oleh Gubuak Kopi, tepatnya di hari Rabu tanggal 14-06-2017, teman-teman fasilitator mengajak partisipan lokakarya ke Taman Bidadari untuk menanggapi taman tersebut. Taman Bidadari adalah salah satu tempat rekreasi atau ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Kota Solok. Beberapa bulan sebelum kegiatan lokakarya ini berlangsung, Taman Bidadari sudah menjadi bahan diskusi di Gubuak Kopi, dan itu adalah salah satu potensi yang ada Kelurahan Kampung Jawa. Sebelumnya di bulan Maret, kita juga melakukan kegiatan workshop singkat bersama Oliver Hussein, dia adalah salah seorang seniman video dan performance asal Toronto, Canada. Dalam workshop itu, dipandu oleh Oliver kita juga melakukan kegiatan ‘video performance’ di Taman Bidadari ini.

Sebelum kegiatan lokakarya “Kultur Daur Subur” dimulai, seperti biasa partisipan selalu meng-update tentang perkembangan riset hari sebelumnya. Biasanya diskusi ini dilakukan di Kantor Gubuak Kopi, karena berhubung dengan adanya kegiatan yang akan dilakukan Taman Bidadari, bersama-sama kami memutuskan untuk mengunjungi Taman Bidadari. Sebelumnya teman-teman lokakarya telah melakukan riset ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kota Solok, yang letaknya tidak jauh dari Taman Bidadari. Berbagai materi yang didapatkan oleh partisipan dan fasilitator yang langsung lokasi tersebut. Seperti pandangan mereka terhadap TPA, dan rata-rata mereka mempunyai pandangan yang sama. Di sana juga ada ratusan sapi yang digembalakan, dan beberapa mesin untuk menimbun sampah-sampah dari mobil truk yang jalan setiap hari kerumah warga.

Setiap mobil truk yang menyetor sampah datang, sapi-sapi itu pun mendekat ke arah mobil itu, biasanya sapi-sapi tersebut memakan makanan yang bisa ia makan seperti sayuran atau buah-buahan yang sudah busuk. Selanjutnya juga ada pemulung yang mengambil barang-barang bekas, yang bisa mereka jual kembali. Setelah sampah itu diuraikan, lalu mesin tersebut menimbun sampah-sampah ini. Di sana juga terlihat pipa, gunanya untuk sirkulasi udara yang ada pada sampah-sampah tersebut, serta terdapat kolam pembuangan air sampah. Di tempat pembuangan tersebut kita juga menemukan para petugas yang kesulitan memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Poin-poin utama dari diskusi siang itu, meliputi sikap objektif dan kritis dalam menyikapi persoalan yang ada, dengan cara mengkritik diri kita sendiri, kita sebagai warga dan kesadaran akan posisi pemerintah. Lalu, apa yang bisa kita lakukan mengkritisi ini dengan praktek media.

Setelah diskusi, kami melanjutkan untuk membuat film tentang Taman Bidadari. Partisipan dan fasiltator mencoba untuk merespon medium-medium yang ada disekitar taman tersebut. Dimulai dari permainan anak-anak seperti panjatan dan seluncuran, bak penampungan air, tempat sampah, tempat refleksi kaki, gantungan gembok, tempat parkiran hingga gurun yang ada di sana. Melihat kondisi taman tersebut, bagaimana kondisinya dan bagaimana ia difungsikan, menarik atensi kami untuk mereseponnya. Fasilitas taman terlihat tidak lagi utuh, ada yang tidak difungsikan atau rusak, dan ada yang tidak jelas gunanya. Lalu kami bertanya-tanya, apa hubungan taman ini dengan ‘bidadari’? Kami mencoba mencari tahu, tapi tidak ada keterangan yang bisa kami dapat. Tidak ada pula penjaga yang bisa kami tanyai.

Dengan kenyataan itu, kami sepakat membuat film yang singkat berhubungan dengan kondisi taman tersebut. Dalam hal ini, terkait antara lokakarya literasi media dan isu Kultur Daur Subur, maka kami memilih meresponnya dengan menyoroti keadaan lingkungan di sana melalui praktek bermedia atau produksi film. Film yang kami buat secara performatif ini, adalah sebuah fiksi spontan sambil bermain, yang barang kali dapat menjadi alternatif sejarah kontemporer taman bidadari itu sendiri. Suasana siang itu tidak terlalu ramai, dengan yang sebelum-sebelumnya, hanya terlihat beberapa orang yang sedang bersantai di taman tersebut, kemungkinan sedikit lebih ramai sore hari nanti.

Sambil bermain-main dengan fasilitas sekitar, kita mempercayakan alur cerita pada bagasi pikiran masing-masing, baik itu partisipan maupun faslitator,– yang juga sudah mendapat pemahaman secara teori terkait cara kerja media, serta isu Kultur Daur Subur. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan proses mengalami pada seluruh partisipan dan faslitator tentang produksi media, dengan cara bermain. Bahwa dengan media yang kita tenteng setiap hari itu, seperti handphone, salah satunya berpotensi untuk memproduksi informasi maupun mengacaukan informasi. Tapi dengan menyadari cara kerjanya, ia bisa menjadi counter dari segala dampak buruknya. Jadi silahkan tonton nanti filmnya, dengan menyadari ini hanya permainan.

Sebagai penutup dari kegiatan kami disana, kami menari bersama di gurun. Setelah menari kami kembali ke kantor Gubuak Kopi. Sama hal nya dengan malam-malam sebelumnya partisipan sibuk dengan diskusi dan memperdalam tulisannya.

Postingan Terkait

Delva Rahman (Solok, 29 April 1993) adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam loakarya literasi media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan "Perempuan Membaca Kartini" karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *