Komposter Taman Bidadari

Catatan observasi hari pertama di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok oleh partisipan. Observasi ini adalah bagian dari kegiatan lokakarya Kultur Daur Subur yang diselenggarakan Gubuak Kopi, pada tanggal 10-20 Juni 2017.

Di sini saya menceritakan perjalanan lapangan lokakarya “Kultur Daur Subur”. Pada pencarian kali ini, saya beserta fasilitator dan teman-teman partisipan lainnya memulai dari kantor Gubuak Kopi menjelajahi Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Sepanjang perjalanan saya memperhatikan rumah, halaman, trotoar, taman, dan lainnya yang berkaitan degan tema lokakarya.

Sejauh mata memandang selama di perjalanan, Kelurahan Kampung Jawa cukup segar, asri, dan hijau,  ditambah lagi warga yang banyak memanfaatkan lahan kosong di halaman rumah mereka untuk dijadikan taman, kebun mini, banyak yang ditanami warga mulai dari tanaman hias, tomat, cabai, pepaya, buah naga, jagung hingga tanaman obat.

Saya menelusuri lebih lanjut Kelurahan Kampung Jawa, sedikit dari warga yang tidak menanam tanaman di depan rumahnya. Saya dan teman-teman melanjutkan pengamatan ke Balai Penyuluhan Pertanian  Kota Solok di Ampang Kualo dan sayangnya kantor tersebut sudah tutup. Lalu, kami lanjut ke Taman Bidadari, taman ini sangat populer oleh warga, terlihat dari pengunjung yang datang bergantian ke taman ini, untuk santai sore, ngabuburit bersama keluarga dan teman-teman mereka.

Taman Bidadari dari luar pagar

Seorang penyewa jasa naik kuda di Taman Bidadari.

Di sana saya bertemu seorang joki yang menyediakan jasa rental kuda. Kuda ini disewakan kepada pengunjung yang ingin menghabiskan sore berkeliling dengan kuda. Uda joki sebelumnya pernah merentalkan kuda di kawasan  wisata paralayang Aripan, namun disana ia dikenakan biasa sewa yang cukup mahal oleh pemilik lahan, lalu ia memilih pindah ke kawasan wisata Taman Bidadari  tersebut. Walaupun tidak seramai di Aripan setidaknya di kawasan wisata Taman Bidadari ini uda joki tidak mengeluarkan biaya sewa tempat kuda.

Taman ko lah lamo dibangun mah, dulu lai ado pengurusnyo, masuak mambayia duo ribu untuak parkir se nyo. Kini lah ndak ado nan maurus, lieklah kantua nyo lah cayia, kini ndak ado bayia lai, kalau pitih masuak untak makan jo bali rokok cukuiklah ” (taman ini sudah cukup lama dibangun, dahulunya ada pengurus taman dan pengunjung membayar dua ribu rupiah untuk parkir. Tapi, sekarang tidak ada yang mengurus, terlihat dari kantor pengurus taman yang kumuh tidak terawat, dan sekarang tempat ini bebas dan tidak ada pungutan parkir, tapi untuk makan dan rokok sehari-hari cukuplah), kata uda joki.

Komposter di Taman Bidadari

Beberapa fasilitas taman ini ada yang masih utuh dan dapat dipergunakan oleh para pengunjung, ada juga yang sudah rusak dan tidak ada perbaikan. Salah satu yang masih berfungsi yaitu tempat pembuatan pupuk kompos (komposter), tetapi tidak diberdayakan oleh pengunjung maupun warga sekitar. Uda joki menambahkan bahwa warga kurang tertarik pada pupuk kompos, warga lebih memilih pupuk Urea atau pupuk kandang (kotoran hewan), yang mudah didapat dan tidak membutuhkan proses yang lama.

Melihat situasi di area taman, kita akan mendapati banyaknya fasilitas diantaranya berupa permainan anak, pendopo, pincuran taman, solar werk, bangku taman, komposter, tempat sampah organik dan anorganik, gantungan gembok Kuro-kuro Cinto.  Dari beberapa fasilitas tersebut, ada yang sudah rusak dan ada yang masih bisa dipergunakan.

Saya mengunjungi taman itu 11 Juni 2017 lalu, di samping taman saya menemukan tulisan “Taman Bidadari”. Tulisan penada lokasi atau plang itu berdiri rendah menghadap jalan lintas utama, namun terlihat sedikit rusak dan perlu perbaikan. Taman ini juga disinggahi warga yang membawa jalan-jalan anjing peliharaannya. Saya sempat berbincang dengan pemuda yang bernama Zul.

Taman ko rami jo dulu, mambayia parkir se kalau ka masuak. Dulu anak sakolah rami mambuek tugas disiko, baraja nyo stek se nyo, ujuang-ujuangnyo bagarah-garah jo selpi-selpi…

…taman ko ndak sarami dulu, urang dek lah bosan tu kini banyak lo taman nan lah rancak-rancak”

(taman ini sebelumnya sangat ramai, walaupun dikenakan biaya parkir. Beberapa anak sekolah ada yang berkunjung mencari informasi untuk tugas, walaupun pada akhirnya mereka bersenda gurau dan selfie-selfie…

…taman ini tidak seramai dulu, mungkin dikarenakan warga bosan atau banyak taman yang lebih bagus di Kota Solok, jadi mereka lebih memilih ke situ).

Selama perjalanan pulang saya teringat kembali soal Komposter yang berada di Taman Bidadari itu. Komposter itu sepertinya sudah lama tidak di gunakan lagi. Menurut saya, alat itu seharusnya di berdayakan. Komposter di taman ini berjumlah dua unit, isinya pun sudah salah digunakan, seharusnya komposter itu berisi limbah hijau seperti sisa-sisa sayur, kayu, rumput, dan lainnya. Pupuk kompos mempunyai peran penting untuk mengurangi sampah/limbah organik rumah tangga. Memang, dalam pengerjaan pembuatan pupuk kompos membutuhkan dana operasional yang besar dan waktu yang cukup panjang, karena mengumpulkan sampah organik ke  tempat pembuatan kompos itu sangat sulit, jika kompos digunakan oleh petani dalam skla yang besar, akan tetapi  jika  digunakan dalam skala yang kecil tidak terlalu banyak memakan biaya. sebenarnya banyak cara untuk mengurangi biaya operasional pengangkutan sampah organik, yaitu dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik, tetapi warga masih belum tergerak untuk memisahkan sampah-sampah rumah tangga mereka, padahal ini bisa membantu kesuburan tanah hingga meningkatkan serap air tanah dan yang paling utama membantu pertanian sekaligus mengurangi sampah yang ada di kota Solok khusunya.

Kemudian, pegungunjung seharusnya juga memberdayakan tempat sampah yang ada di Taman Bidadari. Kondisi tempat sampah di Taman Bidadari cukup memperihatinkan, tempat sampah di area itu terbagi dua, organik dan anorganik. Beberapa tempat pembuangan sampah di taman itu ada yang sudah hilang, terutama tempat sampah anorganik sehingga pengunjung membuang sampah basah maupun kering di satu tempat. Dengan demikian keberadaan komposter tidak lagi berfungsi, sebab bahan utama dari pupuk kompos yaitu sampah organik, mungkin ini juga salah satu penyebab pengunjung membuang sampah sembarangan. Keberadaan komposter di taman kini hanya menjadi pajangan semata.

Limbah organik yang ada di sekitar Kampung Jawa, sebenarnya memliki potensi sebagai bahan utama pembuatan pupuk kompos. Sebahagian warga Kampung Jawa adalah petani dan pengepul dari hasil alam, hanya masih sedikit yang menyadari bahwa limbah organik bisa diolah lebih lanjut, mulai dari limbah kulit pinang, coklat, durian, dan lainnya. Dari hasil riset lapangan partsipan “Kultur Daur Subur” lainnya, banyak menemukan sisa-sisa sampah yang tidak diberdayakan. Beberapa warga misalnya, lebih memilih membuang limbah di tempat sampah maupun di sungai. Komposter di Taman Bidadari ini berpotensi untuk sarana edukasi dan pengeloalaan pupuk kompos terhadap limbah rumah tangga, maupun limbah kota, serta diberdayakan oleh warga itu sendiri. Pupuk kompos sendiri berguna untuk menstabilkan PH tanah secara alami. Memang, tidak dipungkiri pula pupuk pabrik mudah didapat dan pertumbuhan tanaman bisa menjadi bagus dan cepat, akan tetapi pupuk pabrik yang mengadung senyawa kimia bisa merusak PH tanah dalam jangka panjang.

 

Postingan Terkait

Biasa disapa Ogy atau Cugik, lahir di Bukittinggi, Desember 1991. Saat ini menempuh pendidikan pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Padang. Aktif berkegiatan di Ladang Rupa Bukittinggi, Pengembangan seni dan budaya Kota Bukittinggi. Ia juga merupakan partisipan Lokakarya Media: Kutur Daur Subur yang diselenggarakan oleh Gubuak Kopi (2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *