Bertandang ke TPA

Senin, 12 Juni 2017 lalu, kita memasuki hari ke tiga Lokakarya Media: Kultur Daur Subur  di Gubuak Kopi. Sekitar pukul 13.20 WIB, saya bersama rekan fasilitator lainnya menemani teman-teman partisipan pergi meninjau keadaan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang lokasinya tidak jauh dari sekretariat Gubuak Kopi.

Setiba di lokasi, kami disambut dengan pemandangan sampah yang bertumpuk dan berserakan di mana-mana, ya ini memang tempatnya. Beberapa orang terlihat memunguti sampah-sampah ini, mereka memilih sampah-sampah karah (plastik keras), lalu memasukannya ke dalam karung untuk diolah kembali atau dijual pada pengolah nantinya. Menurut salah seorang warga ini, tidak jarang pula mereka mendapatkan kalung emas, handphone, dompet, dan barang berharga lainnya sebagai bonus.

Selain warga yang menyeleksi sampah-sampah ini, lokasi ini juga dipenuhi puluhan sapi, baik itu yang tengah santai maupun ikut memunguti sampah. Sapi-sapi ini merupakan sapi ternak salah seorang warga di sekitar sana, namun tidak terlihat ada orang yang mengembalakannya. Setelah itu kami meminta izin kepada petugas kemanan, serta menanyakan beberapa informasi yang dibutuhkan partisipan.

Salah seorang petugas tersebut memiliki nama yang sama dengan saya, yakni Uda Rizky. Ia mempersilahkan kami untuk melihat suasana yang di TPA ini lebih dekat. Saya melihat beberapa alat berat untuk meratakan tumpukan sampah. Menurut Uda Rizky, alat berat ini difungksikan setiap hari, tapi siang itu kami tidak sempat melihat mesin itu bekerja, sepertinya sedang istirahat. Di sana juga terdapat tempat khusus yang di dalamnya ada  alat penguraian sampah. Namun, alat ini sudah lama rusak, dan tidak diperhatikan lagi. Menurut saya, pihak pemerintah sebaiknya juga memperhatikan dan memanfaatkan alat ini lebih jauh, ini penting menanggulangi sampah khususnya sampah-sampah plastik yang sulit terurai secara alami.

 

Drum bertiang pipa untuk membantu sirkulasi udara tumpukan sampah di TPA Regional Solok.

Setelah itu saya berjalan ke bawah, untuk melihat beberapa tiang besi yang menancap ditumpukan sampah itu. Menurut Uda Rizky tadi, benda itu berfungsi untuk mengeluarkan hawa panas sampah yang telah menumpuk, dan membantu sirkulasi udara sampah yang berada di kedalaman tanah, agar tidak terjadi peledakan.

Luas lokasi di TPA Kota Solok lebih kurang lima hektar, dan hanya sebagian yang baru terisi oleh sampah. Entah beberapa tahun lagi TPA Kota Solok ini akan dipenuhi oleh sampah menjadi pebukitan. Melihat sekelompok sapi yang berkeliaran tanpa pengawasan tadi, saya terbayang peternakan sapi di New Zealand yang sering tampil di media, dengan ratusan sapi di pebukitan yang hijau. Tapi ini tentu saja kontras.

Setelah berbincang-bincang beberapa lama dan melihat keadaan lokasi tersebut, kami berpindah ke lokasi lain. Kami singgah ke Taman Bidadari, yang tidak jauh dari TPA. Situasi saat itu kebetulan sedang sepi dari pengunjung. Biasanya sore hari nanti tempat ini akan ramai didatangi oleh pengunjung. Sebenarnya ada beberapa informasi yang dibutuhkan oleh beberapa partisipan terkait lokasi Taman Bidadari ini, tapi sayang sekali tidak ada pengawas atau penjaga di situ, sama seperti beberapa kali kami mampir ke sana. Barang kali memang tidak ada orang yang ditugaskan di lokasi itu.

Setelah itu kami kembali ke kantor Gubuak Kopi, para partisipan menyiapkan poin-poin yang mereka dapat dilapangan untuk didiskusikan secara santai nantinya.

Postingan Terkait

Muhammad Riski (Solok, 20 November 1995), adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *