Sedikit Tentang Taman Syech Kukut

Tanggal 28 Februari 2017, dimulai dengan perbincangan bersama warga setempat di Kampung Jawa, Kota Solok, tentang bagaimana pandangan masyarakat mengenai Taman Syech Kukut. Dari persepsi beberapa warga yang saya temui, banyak sekali bisa diulas dan itu penting juga bagi warga Solok itu sendiri untuk diketahui. Salah satu warga, bernama Bang Vicky, mengatakan bahwa sebelum nama “Taman Syech Kukut” yang baru diresmikan beberapa bulan yang lalu, taman ini dulunya lebih dikenal sebagai Ruang Terbuka Hijau, atau dikenal juga dengan sebutan “Tamkot” (Taman Kota) di Solok. Kini, taman itu lebih terlihat sebagai area untuk ajang berekreasi keluarga ataupun muda-mudi.

Penjelasan dari salah satu warga lainnya yang saya dengar adalah, jauh sebelum menjadi taman, tempat tersebut dulunya adalah Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Kota Solok. Sekarang ini, Lapas tersebut sudah berpindah ke Laing yang lokasinya di pinggiran kota.

Taman Syech Kukut, selain menjadi tempat rekreasi keluarga dan muda-mudi, juga sering disinggahi oleh orang-orang yang suka berkegiatan tari dan musik beatbox. Taman yang setiap harinya aktif hampir 24 jam itu memang tampak tak pernah luput dari keramaian karena adanya pedagang kaki lima di sekeliling taman, juga pembagian lahan parkir yang cukup luas, serta seniman jalanan (pengamen) yang menambah ciri khasnya.

Suasana orang-orang ber-selfie ria di depan Taman Syech Kukut.

Setelah melewati beberapa waktu, taman yang berlokasi di Jalan Sudirman ini tampak lebih kokoh dengan adanya plang bertulisan “Taman Syech Kukut Kota Solok” yang berukuran setinggi lebih-kurang dua meter dan panjang berkisar limabelas meter. Area tempat tertulisnya nama baru taman ini menjadi lokasi favorit bagi mereka yang senang selfie, dan belakangan menjadi tempat yang sangat populer di Solok, baik di telinga warga lokal maupun warga dari luar kota Solok.

Suasan orang-orang ber-selfie ria di depam Taman Syech Kukut. (Foto: Dokumentasi Gubuak Kopi).

Saya juga bertanya kepada salah seorang warga yang merupakan perantau dari Jawa yang telah lama tinggal di Solok. Di mata Mas Djoko, si pedagang bakso yang sudah tinggal di Solok sejak tahun ’80-an ini, taman yang kita maksud sebenarnya tak mengalami banyak perubahan yang berarti selain dibangunnya plang bertuliskan nama baru itu. “Dan juga dulu di sebelah taman itu, ada rumah sakit,” ujar Mas Djoko yang asli kelahiran Solo itu, menambahkan.

Saya pribadi juga sering meninjau langsung lokasi dan keadaan taman tersebut. Kebetulan, suatu kali saat saya berada berada di sana, taman tersebut terlihat masih sepi karena waktu itu akan berlangsung shalat Jum’at. Tapi di mata saya, keadaan taman memang sudah cukup bersih dan tempat parkir yang ada cukup luas, bahkan terbagi menjadi dua area, yaitu bagian luar (di tepi jalan) dan juga bagian dalam taman. Keberadaan lahan parkir ini, agaknya, bisa dikatakan salah satu perubahan yang ada pada taman itu.

Di dinding plang bertuliskan kalimat “Taman Syech Kukut Kota Solok”, terdapat motif ukiran-ukiran khas Minangkabau. Namun sayangnya, itu bukanlah ukiran tangan, melainkan cetakan. Di bagian kiri dan kanan dari plang itu juga ada lambang bendera Marawa, berciri khas warna merah, kuning, dan hitam. Itu adalah simbol penting di masyarakat Mingkabau, dan sering kita lihat digunakan ketika upacara kematian dan juga acara baralek (pernikahan).

Melihat sekitaran isi taman, kita juga akan mendapati banyaknya wahana permainan anak-anak, seperti mobil-mobilan, kereta-keretaan, dan pesawat mainan serta fasilitas publik lainnya, seperti bangku taman dan juga tempat berteduh bagi pengunjung. Jika kita memperhatikan ke dinding sisi belakang dari plang yang bertuliskan “Taman Syech Kukut Kota Solok”, akan terlihat tanda tahun peresmian oleh Walikota Solok, yakni tanggal 1 Januari 2017.

Di taman waktu saya berkunjung hari itu, yakni tanggal 3 Maret 2017, saya juga melihat banyaknya siswa-siswi seumuran SMA sedang ber-selfie ria. Melihat antusias mereka, saya terpancing untuk menanyai beberapa di antara mereka mengenai nama baru Taman Syech Kukut ini. Ternyata, tidak ada satu pun dari siswa-siswi yang saya tanyai itu mengetahui sejarah area hijau tersebut. Mereka hanya tertarik untuk sekadar berfoto ria.

Pedagang mengisi area di Taman Syech Kukut pada malam hari. (Foto: Dokumentasi Gubuak Kopi).

Salah satu kadai garobak (warung gerobak) yang mangkal di depan Taman Syech Kukut pada malam hari. (Foto: Dokumentasi Gubuak Kopi).

Di dalam area taman ini, selain pedagang yang membuka lapak di halaman rumput, juga ada warung-warung tempat dijajakannya makanan dan minuman. Tidak jarang meja dan kursi yang mereka sediakan menjadi tempat beristirahat warga yang berkunjung ke taman, atau menjadi tempat nongkrong para pengamen. Tapi, saat menelusuri taman, saya juga melihat kekurangan dari taman ini, salah satunya adalah bundaran air yang terletak di tengah taman, yang sudah tidak berfungsi sementara air di bagian dalamnya tergenang begitu saja. Selain itu, di area bagian belakang taman, yang berdekatan dengan daerah Sungai Batang Lembang, kita juga akan melihat adanya taman satwa mini dengan beberapa kandang, tetapi tidak ada hewan unggas di dalamnya. Bahkan, jaring-jaringnya sudah banyak yang bolong, menandakan tidak terawatnya fasilitas tersebut. Area ini menjadi tempat favorit para pengamen untuk berkumpul hingga malam hari.

Berbicara soal pengamen, saya sempat berbincang dengan salah satu pengamen yang mengaku bernama Yudi. “Pendapatan sehari ngamen biasanya cukup buat beli rokok dan minum,” ujarnya, ketika saya tanya. Tapi menurutnya, bagi para pengamen, kondisi buntu dalam menempuh jenjang pendidikan bukan hambatan bagi mereka untuk tetap berkarya dan menghasilkan uang secara halal. Selain mengamen, mereka juga menjaga parkiran sebagai pekerjaan tambahan.

Namun, bercerita lebih jauh tentang suka-duka ngamen, memang benar bahwa nyatanya juga sering terjadi perebutan wilayah lahan antarpengamen dan tak jarang berujung perkelahian. Menurut beberapa pengamen yang saya tanyai selain Yudi, di Taman Syech Kukut sendiri ada satu orang yang paling disegani di kalangan pengamen. Mereka biasanya memanggil orang itu dengan sebutan “ayah”. Bagi mereka, keberadaan “si ayah” membuat mereka menjadi lebih teratur dan tidak banyak membuat masalah.

Suasana di depan Taman Syech Kukut pada larut malam. (Foto: Tiara Sasmita).

Para pengamen ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Tidak semua dari para pengamen ini yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ada beberapa yang justru sekadar ingin menikmati masa muda, menyalurkan hobi bernyanyi, dan ada juga yang memilih mengamen sebagai selingan di tengah-tengah pekerjaan. Dengan kata lain, ada yang memang benar-benar bertujuan untuk menyambung hidup, ada juga yang sekadar mengisi waktu luang saja. Sesekali mereka juga mengamen keluar daerah dengan berjalan dan sambung-menyambung tumpangan angkutan kota. Mereka biasa menyebutnya “ngamen estafet”. Namun, aktivitas mengamen estafet itu sudah jarang dilakukan para pengamen Solok karena belakangan terkendala masalah dengan pengamen di daerah lain, khususnya di daerah yang biasa mereka lalui saat ber-“estafet” tersebut. Karenanya, pengamen di sekitar Taman Syech Kukut kini lebih banyak mengamen di dalam wilayah Solok saja dan menjadikan Taman Syech Kukut sebagai salah satu tempat istirahat mereka selepas mengamen dari pasar.***


Artikel ini sebelumnya telah dipublis di buku/katalog pameran open studioDi Rantau Awak Se”, dengan judul Sedikit Tentang Taman Syech Kukut dan juga dipublikasi www.akumassa.org (http://akumassa.org/id/sedikit-tentang-taman-syech-kukut/)

Postingan Terkait

Zekalver Muharam (Solok, 11 Juni 1994), adalah mahasiswa Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Saat ini aktif sebagai koordinator produksi di Komunitas Gubuak Kopi. Selain itu ia juga aktif membuat karya komik, mural, dan lukisan. Tahun 2017, ia turut terlibat dalam Open Studio: Di Rantau Awak Se, oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *