Video Performance Bersama Oliver Husain

Pada Senin, 13 Maret 2017 lalu, Komunitas Gubuak Kopi menggelar workshop Video Performance bersama Oliver Husain, seorang pembuat filem, seniman video, dan performer asal Kanada, yang fokus pada gagasan-gagasan sinematik dalam karyanya. Workshop ini, dimulai pukul 11.00 WIB, di Galeri Gubuak Kopi dan diikuti oleh 11 orang partisipan. Para partisipan sebelumnya diajak untuk menonton dan berdiskusi dari beberapa karya Oliver Husain sebagai rujukan gagasan berkaryanya. Kemudian, Oliver dan para partisipan berdiskusi untuk menentukan praktek video performance yang akan dilakukan sore itu. Oliver dan para partisipan akhirnya memutuskan untuk memproduksi karya video-performance.

Sebelumnya, Oliver menekankan, bahwa dalam produksi ini, hasil video tidak menjadi soal utama, melainkan yang penting untuk disorot dalam kegiatan ini adalah bagaimana proses ini berjalan. Para partisipan diajak untuk berdiri melingkar, menghadap ke pusat lingkaran, kemudian merekam ke arah sentral lingkaran menggunakan kamera ponsel masing-masing peserta. Para peserta dipandu oleh Delva Rahman, menggerakan kamera, seperti mengangkat, menggeser ke samping, bawah, dan maju ke depan, dengan sorotan kamera tetap tertuju pada sentral lingkaran. Kegiatan performatif ini kurang lebih satu menit dilakukan di beberapa tempat, seperti di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kota Solok, Taman Bidadari Kota Solok, Cafe Van Geluk Pandan, dan Taman Syech Kukut Kota Solok.


Postingan Terkait

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *